
Elliott berjalan menemui Ara yang kini duduk sendirian di dapur, setelah sebagian tamu undangan pulang.
" Hai Ara..how are you? We haven't even greeted etch other well this week. Happy birthday friend, may you always be happy " Ucap Elliott sepenuh hati.
" Hai Elli..I,m sorry.... I'm not like myself this week, please understand. I'm sorry I haven't been able to welcome you well..." Balas Ara dengan sedih.
" It's no problem, sure I'm understand, by the way Ra, me and Adam wiil also say goodbye. Tomorrow we have to go back, obviously we are not as genius as Rangga. Would be chaotic if we were slow learns.." Elliott berkata dengan nada yang sedih.
Jujur dia kerasan disini. Denis cs sangat baik pada mereka.
Seminggu ini jamuan dari hotel Rangga luar biasa untuk Elliott dan Adam.
Begitu juga Denis cs, mereka membuat Adam dan Elliott sangat jatuh cinta dengan Indonesia. Denis cs seminggu ini telah membawa Elliott dan Adam kemana-mana, bahkan sampai ke ujung pulau Jawa.
Dan jikalau mereka mundur sehari atau dua hari saja tentu Denis cs dengan senang hati membawa mereka ke Bali.
Elliott menatap Ara dengan tatapan sendu.
Dia suka gadis ini, suka sebagai sahabat. Begitu juga dia suka Rangga. Sama, suka sebagai sahabat.
Dia belum banyak ngobrol dengan Ara, tapi dia sudah harus kembali ke AS.
" Always be happy Ara, dont think to much..."
Ara mengelap air matanya, berterima kasih untuk kebaikan Elliott dan Adam. Ara juga akan menitipkan kembali Rangga padanya dan Adam sebulan lagi.
Ya, Rangga mengambil waktu sebulan lagi untuk tinggal. Alasannya klise..
Belum dapat jatah!!!.
Karena seminggu ini Ara masih nifas, dan itu bisa akan satu bulan lamanya.
...***...
Brak...
Rangga menutup pintu kamar Ara dengan tergesa-gesa.
" Sayang...kamu dimana?"
" Disini..." Jawab Ara di balik lemari pakaian.
" Kamu sedang apa sayang...?" Tanya Rangga dan mendekati Ara yang sedang membuka foto-foto masa lalunya bersama Ardi.
" Sayang, ini Ardi?" Tanya Rangga pada sebuah foto.
" Iya, baru lulus SD itu, marah dan nangis saat itu. Karena Lili harus tinggal di pesantren.." Jawab Ara dengan tatapan jauh kedepan, mengenang masa lalu.
" Kalau fotomu mana sayang?" Rangga membolak-balikan album.
" Buat apa?, Lili masih item waktu itu..." Jawab Ara tegas.
Ara menarik sebuah ponsel dalam kotak tempat album, dan menyembunyikan ponsel itu dibelakang tubuhnya.
Rangga dapat melihat kejanggalan itu.
" Akhhh, ngantuk. Capek nyetir juga..."
Rangga pura-pura membaringkan kepalanya dipangkuan Ara, tapi tanpa Ara ketahui tanganya meraih ponsel yang tersembunyi di balik badan Ara.
Rangga membuat posisinya tengkurap, dengan cepat dia membuka-buka isi ponsel itu.
Dibukanya kontak Ara, Rangga terkejut saat mendapati nama Zeehan di antara kontak Ara. Tapi kenapa kemarin Ara bilang tidak kenal?.
Matanya tertarik dengan galeri, penasaran ingin sedikit mengitip wajah remaja gadisnya.
" MasyaAllah!!!" Seru Rangga.
Pemuda itu langsung duduk begitu saja dengan mata melotot menatap video-video tik tok Ara dengan terkejut.
Ara yang terkejut Rangga menemukan ponsel jaman SMPnya itu langsung menerjang Rangga untuk merebut ponsel itu.
Rangga syok melihat betapa luwesnya Ara memperagakan gerakan-gerakan tik tok, bahkan beberapa gerakan dasar dance K-pop pun ada disana.
" Oh No!!!, Jangan dilihat...siniin...." Teriak Ara histeris.
Tangannya menggapai ponsel, tapi dengan cepat Rangga berdiri.
__ADS_1
Ara tidak tinggal diam, jelas dia malu, kelakuan alay nya diketahui oleh suaminya.
" Ya Tuhan kamu tik tok an juga ternyata !!!, Astaghfirullah..." Desis Rangga dengan terus mengangkat ponsel itu tinggi-tinggi agar tak terjangkau Ara.
" Siniin kak..., balikin.." Ara meloncat-loncat untuk mendapatkan ponselnya.
" Gila, joget-joget kaya gini juga, ckk...ckk.." Rangga menggelengkan kepalanya gemas dengan terus mengangkat tinggi ponsel itu, dan terus membuka-buka kumpulan video Ara. Tangan sebelahnya dengan santai menahan muka Ara yang terus melompat.
" Siniin...." Ara sudah dilevel malu yang teramat. Tak ada jalan lain selain menangis.
" Hikk...hikk...." gadis itu menutup kedua matanya dengan telapak tanganya.
" Eh...kok nangis sih..??" Rangga langsung mengangkat Ara dan didudukan di perutnya, menggendongnya seperti biasa, dan Arapun reflek melingkarkan kaki dan kedua tanganya.
Ara menyembunyikan wajah malunya di pundak Rangga.
" Ngga ada satupun yang dipost kok, itu koleksi sendiri, bareng Natasya, Hana dan Vera.." Bisiknya pelan.
Rangga mengangguk dan sedikit tersenyum, dielusnya rambut Ara dengan lembut.
" Mau tik tok an bareng kakak nggak?" Ucap Rangga dengan tatapan yang lain, tatapan yang ditakuti Ara, tatapan yang tidak pernah dilihatnya berbulan ini.
Tatapan penuh nafsu Rangga telah meluncur, bagai anak panah yang siap melesat mencabik dada Ara.
Melihat gadisnya bejoget seperti itu saja mampu membangkitkan sesuatu dalam diri Rangga.
" Nggak" Jawab Ara spontan.
Dadanya berdentum-dentum bagaikan genderang yang ditabuh dengan keras.
" Sayang...." Suara serak Rangga telah terdengar di telinga Ara. Ngeri..., Ara ngeri mendengarnya.
" Ahhhh...., jangan liat Lili kayak gitu.." Ara menutup mata Rangga dengan telapak tangannya.
" Kenapa?"
" Nggak mau!! jangan liat kayak gitu pokoknya, bisa gila Lili..." Ara kembali menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Rangga.
" Gila?? Ayolah nggak papa lah, kita bisa gila bersama..., udah selesai kan nifasnya?"
" Ih...siapa bilang, belum lah..."
" Tapi kemarin mengaji??, ayolah...." Renyek Rangga.
" Aduhh!!!.., masa sih???" Rangga mendusel duselkan kepalanya di dada Ara.
" Ya maaf, bukan salah Lili juga kan.."
" Huffftttt....sabar Rangga...sabar..." Ucap Rangga pada dirinya sendiri. Dan itu membuat Ara merasa kasihan.
" Emmmm, memangnya nggak ada cara lain gitu kak?" tanya Ara.
Rangga membuka matanya lebar, dan tersenyum nakal.
" Tentu saja ada!!, yuk kakak ajarin"
Dan begitulah, Rangga yang nakal malam ini mengajarkan sesuatu yang bisa memuaskan dirinya tanpa harus naninu seperti biasa. Dan Ara kecil hanya menuruti saja kemauan Rangga.
...***...
Hujan deras di pagi hari menciptakan suasana malas yang luar biasa, tapi tidak di dalam rumah Al Ghifari.
Seluruh anggota keluarga sudah ada di meja makan, kecuali Ara dan Rangga. Entah ngapain mereka belum turun juga.
Azura muncul dari dapur dengan nasi goreng yang mengepul di tanganya.
Tak lama Dianpun muncul dengan ayam goreng dan mie goreng yang juga masih hangat.
Brian terus menatap wajah tertutup itu dengan malu-malu.
" Ekkhemm" Deheman paman mengagetkan Brian.
Sedangkan Marvel mengigit lidahnya untuk menahan tawanya agar tidak meledak di meja makan.
Ardi semakin di buat gila dengan keadaan ini.
Rasa tak rela Azura ditatap orang lain semakin menjadi.
Tapi sang papa sepertinya melihat gelagat aneh putranya.
" Zu, tambahin nasi goreng Ardi nak, petinju kan harusnya porsinya dobel..." Ucap papa.
__ADS_1
Ardi hanya diam tanpa kata saat Azura menuangkan menambah nasi goreng pada piringnya.
" Ayam mau tambah nggak mas?" Tanya Azura lirih.
Ardi hanya menggeleng.
Dan Azurapun duduk kembali di kursinya, disamping Ardi.
Satu persatu meninggalkan meja makan untuk melanjutkan aktivitas mereka masing-masing.
Tapi tidak dengan Ardi dan Azura, keduanya masih betah duduk disana, walaupun piring keduanya telah sama-sama kosong.
Entah kenapa Ardi ingin Azura duluan yang beranjak, tapi ternyata Azura berharap kebalikanya.
" Emmmm, mas... Ini kado ulang tahun dari Zura..." Akhirnya Azura membuka suara.
Azura menggeser kotak kecil berwarna biru pada Ardi.
Ardi membukanya dengan hati-hati,senyumnya menampilkan gigi-giginya yang putih dan rapi, dadanya dag dig dug ser...
Sepasang anting cowok yang keren.
Ardi tersenyum manis, bahkan sampai ingin menangis.
" Tapi hanya satu telingaku yang di tindik.." Ucap Ardi dengan tangan yang tak sabar memakai sebelah anting pemberian Azura pada telinganya.
" Oh..." Desah Azura kecewa, karena anting yang diberikan nya ada dua.
" Ahhh, tapi nggak papa lah, aku tindik satunya juga pulang sekolah nanti..." Ucap Ardi semangat.
" Bay the way, Thanks for all.."
" Sama-sama, tapi nggak harus nanti juga kan tindiknya.."
" Harus cepat, aku ingin memakai pemberian mu..., takut hilang kalau nggak dipakai"
" Baiklah, agar tidak hilang. Satunya untukku, kalau memang nanti sudah di tindik minta aja pada Zura..."
Azura meraih anting itu dan sedikit menyingkap cadarnya dari bawah.
" Kau memakainya dimana?" Tanya Ardi heran. Apa mungkin Azura punya tindikan di lidah?, atau di bibir?.
Kenapa Azura memasangnya di wajah?.
" Di hidung..., aku punya tindikan di hidung, kenapa?" Ucap Azura dengan sedikit melirikan matanya pada Ardi.
Deghhh
" Ahhh, nggak papa. Pasti jadi kaya Kajol dong.."
" Bukan Kajol tapi aku munya mirip Aliya Bhatt" Sahut Azura cepat.
" Kenapa dia?" Tanya Ardi
" Karena dia cantik..."
" Tapi kamu lebih cantik!!!" Sahut Ardi cepat.
Azura melirik Ardiansyah dengan lirikan yang mematikan.
Sumpah demi apapun....
Lirikan mata Azura membuatnya hilang kewarasan. Rasanya Ardi ingin teriak-teriak saking senangnya.
" Jadi anting kita sekarang couplean dong..." Ucap Ardi dengan menahan senyumnya.
" Be...begitu..begitulah.."
" Kalau kita ?, kapan jadi coupleanya??" Tanya Ardi ambigu.
" Mak..maksudnya ap----" Azura tak jadi melanjutkan ucapanya saat suara Hana membuatnya terdiam.
" Di, anterin gue juga ya..., bang Adnan kurang sehat.." Tepukan Hana dipundaknya tiba-tiba membuatnya jatuh terkapar di bumi setelah melayang jauh tinggi ke angkasa.
" Hemmm, iya bersiaplah. Zu, kau juga bersiaplah..."
Mereka membubarkan diri dari sana dan ketiganya berjalan menuju kamar masing-masing.
Papa Syakieb tersenyum melihat apa yang terjadi di depanya beberapa menit lalu.
Sekarang papa Syakieb paham ada apa antara Ardi dan Azura.
__ADS_1
Sedari tadi dua orang itu bahkan tak menyadari keberadaan papa Syakieb yang tertutup koran.