
Setelah cukup beristirahat dan selesai sholat maghrib, Natasha dan Denis kembali dirias sedemikian rupa. Hari ini mereka berdua benar-benar bagai raja dan ratu diatas pelaminan.
Para sahabatnya juga seharian ini sibuk mempersiapkan hadiah berupa kamar terbaik di salah satu hotel berbintang di Yogyakarta.
Saat ini mereka berdiri diatas pelaminan yang indah, suasana begitu khidmat.
" Denis sudah tidak seperti pagi tadi, that's really him..." Bisik Vino pada Rayya.
" Iya.., sepertinya dia telah menemukan kembali jati dirinya.." Sahut Rayya.
" Lantas kamu?, kamu sendiri kapan bisa menemukan jati dirimu sendiri bro?" Tanya Vino.
" Maksudnya?" Tanya balik Rayya.
" Kapan kamu seriusin Hanum?" Ucap Vino to the point.
Rayya terlihat menghembuskan nafasnya kasar lalu menoleh menatap gadis berjilbab panjang yang berada dideretan kursinya.
" Hanum tidak memberikan aku sinyal, aku bingung Vin, mau langsung nyamber pakai wifi gratisan kok kayaknya nggak sopan..."
Rayya mengusap wajahnya pelan.
" Kau tahukan hubungan tidak hanya dibangun dengan cuma adanya cinta?, tapi juga komunikasi dan kejujuran Ray.." Ucap Vino.
"Mumpung dia belum balik ke Kairo, berbicaralah denganya. Ungkapkan apa yang kau pendam Ray, jujurlah padanya apapapun yang kau rasakan saat ini..." Bisik Vino pelan.
Rayya mengusap sekali lagi wajahnya, seolah dia berusaha membangun kepercayaan dirinya.
" Apa menurut mu aku ini pantas untuk gadis secerah Hanum, Vin..." Ucap Rayya, kali ini kedua tanganya berada ditengkuknya, dengan kepala sedikit menunduk.
" Kalau kau tidak bertanya padanya, siapa yang tau isi hatinya Ray.... Inget Ray! Jangan bisanya hanya ngomong MENCINTAI kalau tidak pernah ada AKSI!!, karena itu hanya akan dianggap BASI.." Ucap Vino lagi.
Rayya menatap mata Vino dalam. Sahabatnya ini begitu dewasa sekarang, pandangan kehidupannya begitu luas dan berwarna.
Seperti inikah seorang pria jika sudah menikah, apakah dia juga akan begini nantinya?.
Lihatlah, Vino yang hanya suka bermain basket saja saat SMU kini begitu terlihat dewasa, keren dan macho.
Dan entah kenapa, sepertinya dia dan Rangga semakin terlihat tampan semenjak mereka memiliki istri.
" Kenapa Ray?, ada apa diwajahku?" Tanya Vino, yang heran mendapati Rayya yang terus menatapnya.
" Nggak ada apa-apa diwajahmu Vin, hanya saja kau semakin tampan saja..." Balas Rayya.
" Apa kau tau rahasiaku menjadi tampan seperti ini?" Bisik Vino
" Apa itu?" Tanya Rayya antusias.
" Kepuasaan saat bersama Vera..." Bisik Vino dibarengi dengan tawanya yang disembunyikan dibalik jasnya.
Rayya reflek meninju lengan kekar Vino karena telah di kerjain olehnya.
" Tuh Ray, Hanum mau pamitan ke Denis tuh...dekati, bisikin dan masukin cepetan!" Vino mendorong kedua bahu Rayya untuk segera beranjak menyusul Hanum yang kini mulai naik ke pelaminan.
Hana yang sejatinya juga akan pamit bersama Hanum kembali duduk saat Adnan menariknya lalu mengkode keberadaan Rayya.
" Duduk dulu saja sayang, biar Rayya berusaha.." Bisik Adnan.
" Iya bang, mudah-mudahan hubungan mereka berdua lancar.." Hana duduk kembali disamping Adnan.
" Bun, boleh Sunny ikut tante Vera ke Surabaya?" Bisik Sunny pada Dian.
" Tapi nanti merepotkan sayang..." Ucap Dian sambil mengelus rambut Sunny.
" Sunny janji nggak merepotkan Bun, tiga hari saja Bun..." Rayu Sunny lagi.
__ADS_1
Dian berfikir sejenak, mereka memang sedang libur musim panas saat ini, tapi ada rasa sungkan dan takut merepotkan Vera jika putranya ikut mereka untuk liburan disana.
" Coba kau tanyakan pada ayahmu sayang..." Ucap Dian, dagunya menunjuk pada Marvel yang sedang berbicara dengan Ardi.
" Yah..." Panggil Sunny pelan.
"Hemmm, apa boy?" Marvel menoleh pada putra sulungnya, walau beda tiga menit saja dengan Shine kembarannya.
" Boleh Sunny ikut uncle Vino ke Surabaya untuk liburan?" Tanya Sunny takut-takut.
" What?, kau akan pergi ke Surabaya bro?, dan tidak mengajakku?" Seru Shine yang berada tepat dibalik tubuh Marvel.
Aduh!!, kok ada Shine sih..
Kan gue cuma pengen berdua dengan Shanum..
" Liburan ke Surabaya boleh asal bersama Shine.." Jawab Marvel. Belum juga menutup mulutnya Marvel tiba-tiba berteriak.
" Akkhhh...sakit.." Cubitan Dian dipinggang nya begitu pedih.
" Kok di izinin sih?, biasanya kan kamu larang, hubby...." Ucap Dian pelan.
Sementara Shine dan Sunny sudah berlari ke arah Bianca dan Shanum untuk memberi kabar gembira ini.
Bianca yang juga ingin ikut serta segera mendekati Ardi.
" Bian juga ya dad.., Bian juga ikut liburan ke Surabaya.."
Ardi menoleh menatap Azura untuk meminta pendapat.
" Vera dan kak Vinonya gimana?" Ucap Azura.
" Memang aku yang mengajak mereka, kebetulan disana sedang ada festival dua hari lagi, aku fikir mereka akan senang.." Ucap Vino.
...**...
Natasya dan Denispun sudah berada di dalam kamar.
" Kalau kamu mau mandi dulu, duluan aja Shayang. Kakak mau ngadem dulu di balkon.." Ucap Denis.
" Okey , Nat mandi dulu deh..." Ucap Natasya.
Ditatapnya punggung Denis yang melangkah ke arah pintu balkon dan membukanya.
Angin malam yang dinginpun masuk ke dalam ruangan.
Dia kenapa sih?, kok sepertinya ada sesuatu yang difikirkannya..
Dari tadi terlihat terus melamun..
Natasha menggelengkan kepalanya, menghalau fikiran buruk yang sempat berkelebat di benaknya.
Di balkon Denis menyelonjorkan kakinya di sofa.
Rangga, hanya padanya dia bisa mempercayakan masalahnya saat ini. Hanya Rangga yang pandai menjaga rahasia dan bisa dipercaya.
" Hallo Assalamu'alaikum...., kok lo nelpon gue, bukanya sekarang ini harusnya lo buka segel..." Jawab Rangga dengan langsung nyerocos begitu saja.
" Ya, Waalaikumsalam bro...gimana mau buka segel bro, dia nggak mau hamil. Gue harus gimana?, masa untuk yang pertama kali harus pakai ko*d*m..." Keluh Denis.
" Ck, kau ini!!. Ya di buai dulu lah dia.... Buai sampai ke atas awan, buai terus sampai ke langit kalau dia sudah terbuai baru langsung cus...awwwww akkhhh" Ucapan Rangga terpotong dengan teriakan kesakitanya.
Ara memelintir telinganya dengan geram.
" Lili kan minta tolong kamu bikin susu Bi..., ini Almeer udah nangis karena harus gantian ASI dengan Almaeera, kok malah disini ngomongin hal mesum begitu!!" Seru Ara marah.
" Heran Lili sama kamu Bi..., udah pulang dari kampusnya sering telat. Alasan mulu ada bimbingan dengan mahasiswa...yang inilah yang itulah, alasan doang!!"
__ADS_1
" Kalau kamu nggak mau bantu Lili punya anak kenapa Lili nggak boleh tinggal sama mama saja coba!! kan disana pasti ada yang bantu..."
" Sok-sok an banget bisa di handle sendiri, tau-tau kabur dari tanggungjawab aja kamu...."
Ara mengomel tanpa henti, sebelah tanganya menggendong Almeer sementara tangan kirinya sibuk membuat susu formula.
Baru dua hari ini Ara memutuskan untuk menambah susu formula, karena ASInya tidak mencukupi untuk twins, apalagi Almeer begitu rakus minum susu.
" Kenapa dia?, tumben..." Bisik Denis dari seberang.
" Ntahlah bro, gue juga sampai syok dengernya, udah dulu ya bro...gawat kalau sampai ngambek..." Bisik Rangga.
Ara yang melihat Rangga berbicara bidik-bisik semakin geram.
" Tuh lihat Meera, daddy kamu udah mulai mengabaikan kita, yang dinomor satukan sekarang para mahasiswinya yang cantik-cantik dan modis-modis, mommy mu ini apa atuh? cuma IRT berdaster yang lusuh, bahkan sempet mandi aja nggak!!" Gumam Ara.
Rangga membelalakan matanya mendengar gumaman Ara.
Ada apa ini?
Kenapa dua hari ini dia marah-marah terus?
Rangga mendekati Ara yang terlihat menangis, sambil menyusui Almeer.
" Sayang, kakak salah apa?" Tanya Rangga pelan, diraihnya Almeer dari gendongan Ara lalu dipangkunya untuk diberikan susu formula.
" Nah!!, bahkan daddymu aja nggak tahu dia salah apa nak. Hebat kan?" Ucap Ara pada Meera yang kini gantian digendongnya.
" Sayang, kamu ini kenapa?. Kenapa marah-marah terus dari kemarin hemmm..?" Lagi, Rangga bertanya dengan lembut.
" Trus kamu nggak suka gitu Bi punya istri marah-marah?" Sahut Ara jutek.
" Ya kan masalahnya kamu marah-marah gini nggak jelas karena apa?, siapa juga yang suka, tiap pulang kerja dimarahin istri kaya begini..." Keluh Rangga.
" Oh jadi kamu nggak suka Lili marah-marah kayak gini Bi..??, kenapa nggak kamu jadiin kuntilanak aja istrimu Bi!!, dia kan hanya bisa tertawa, nggak pernah marah-marah juga!!" Sahut Ara disertai tangisan yang semakin terisak.
" Hussssttt!!, kamu ini kenapa sayang??" Rangga nggak tahan lagi. Ditaruhnya Almeer dalam box nya.
Dipeluknya Ara yang terus menepisnya.
" Sanaan!!, jangan deket-deket!!" Seru Ara.
Rangga tetap ngeyel memeluk istrinya yang sepertinya sedang kesal karena terlalu capek itu.
" Jangan! sanaan Bi.... Lili belum mandi...hik..hik, kamu sih pulang lambat terus!!. Mereka rewel nggak bisa di tinggal mandi hik..hikk...." Tangis Ara pecah begitu saja.
Ya, jadi ibu muda baru dengan dua anak kembar jelas sangat berat bagi Ara. Apalagi Rangga tidak mau menggunakan jasa babby sitter dan dia berjanji membantu mengurus putra-putri mereka.
Tapi mungkin Ara lupa, bahwa kantor sedang ditinggalkan oleh Gama dan Denis. Jadi dua hari ini Rangga harus ke kantor menandatangani berkas sepulang dari kampus.
" Sayang, kamu lupa ya?. Denis dan kak Bagas sekarang ada di Jogja. Jadi kakak kan harus ke kantor dulu sebelum pulang.." Bisik Rangga dengan masih memeluk Ara dari belakang. Dagunya menumpu pada bahu Ara.
" Dan lagi apa katamu tadi? Ngomongin mesum?, itu tadi Denis sayang. Dan bimbingan di kampus itu rektor yang bikin jadwalnya sayang, kakak ini pekerja jadi harus nurut dong, nggak adalah kakak buat-buat sendiri..."
" Trus masalah yang cantik-cantik dan modis-modis tadi, sumpah sayang!!, bagi kakak you are is number one to me...., yang cantik dan modis diluar sana lewat dengan yang seksi dan menggairahkan dirumahku ini..." Bisik Rangga dengan menciumi leher Ara.
" Isshhh, Lili belum mandi..." Elak Ara lagi.
" Tuh Almaeera juga udah tidur, sini..."
Rangga meraih Almaeera untuk ditaruh di box, disamping Almeer.
" Yuk kakak mandiin, sekalian kakak pijitin biar ilang capeknya. Kakak minta maaf sayang...., jangan lagi suruh kakak menikah dengan kuntilanak oke..."
Rangga mengangkat Ara dalam gendongannya dan masuk ke kamar mandi.
__ADS_1