
Sehabis sholat maghrib di masjid, mereka segera menuju pasar malam.
Jarak tempuh yang agak terlalu jauh membuat mereka memutuskan lewat jalan alternatif lain.
Tapi baru setengah jalan, Ara terlihat gelisah dalam duduknya. Gadis itu nampak sebentar-sebentar menggeser duduknya. Baik Bianca maupun Rangga merasa ada yg tidak baik-baik saja pada Ara saat ini.
Rangga menghentikan motornya, dipinggir sebuah gardu pos jaga.
" Kenapa.., sepertinya kamu tidak nyaman..?" Tanya Rangga setelah membuka helmnya dan sedikit menoleh kebelakang.
" I..ini.., se..sepertinya Ara lagi dapet..." Ucap Ara sambil tertunduk malu.
" Dapet apa..?" Tanya Rangga bingung.
Ara semakin bingung juga. Rangga mengerutkan alisnya menatap Ara yg nampak cemas dan khawatir. Sesuatu terlintas dari fikiranya.
" Kita ke toilet saja dulu, mau ke toilet mushola?" Tanya Rangga tiba-tiba.
" Itu di depan ada mushola tunggu di sana dulu, kakak carikan sesuatu..." Lanjutnya lagi tanpa menunggu jawaban dari Ara.
Sementara Ara menurut saja dengan tangan yang sibuk menutupi bagian belakangnya.
Tak jauh dari mereka terlihat ada menara mushola, Rangga melajukan motornya kesana.
Ara turun dengan gerakan pelan dan hati-hari. Bianca berdiri disamping Ara dengan bingung.
" Ini dak jadi te pacal malam na?" Tanya bocah itu hampir menangis.
" Jadi sayang, tapi sebentar ya, nty Ara harus ganti dulu..." Ucap Rangga sambil tanganya sibuk menalikan jaketnya pada pinggang Ara. Karena kedua tangan Ara dipakai untuk menutupi bagian belakangnya.
Ara malu dibuatnya, kenapa Rangga bisa langsung sigap, padahal dia tidak mengatakan dengan jelas kalau lagi bocor dan tembus.
Ara syok, matanya terbelalak saat membuka papper bag yg diberikan Rangga beberapa saat lalu. Saat membukanya di kamar mandi mulut Ara ternganga tak percaya.
Bagaimana Rangga tau ini semua. Pembalut night 36cm dengan bungkus hitam, beberapa ****** ***** baru, celana panjang baru, sabun pembersih area wanita, sabun cuci dan yang lebih mengejutkan jamu botolan pencegah nyeri datang bulan pun ada.
Ara terkikik sendiri dalam kamar mandi. Luar biasa, pemuda pilihannya ini sungguh luar biasa. Ara menarik nafas ketika tiba-tiba Ara berdebar mengingat wajah tampan Rangga yg tadi begitu dekat dengannya. Ara meraba bibirnya yang terasa panas.
Walaupun tidak terjadi apa yg ditakutkan, tapi peristiwa tadi membuat Ara beberapa kali terserang tremor jantung.
Ara kini keluar dengan keadaan yg sudah lebih baik. Bianca yang tidak sabaran untuk ke pasar malam pun merengek terus.
Tanpa mengulur waktu Rangga pun segera mamacu motornya dengan kecepatan yang lebih.
Kerlap kerlip lampu warna- warni tampak sangat jelas dari posisi mereka saat ini.
Bianca bersorak sorai dengan sangat ceria. Ranggapun semakin cepat memacu motornya.
Pengunjung yang sangat padat dan ramai membuat Rangga mengambi alih Bianca dari gendongan Ara. Dan dipanggulnya di atas pundaknya.
Bianca terlihat sangat bahagia.
Rangga meraih tangan Ara dan menggenggamnya dengan erat, seolah tak mau terpisah.
Mereka hunting kuliner dulu karena penjual aneka ragam makanan berjajar rapi di kanan kiri pintu masuk pasar malam.
Bianca sibuk menunjuk ini dan itu makanan yang ingin dicicipinya. Dan Rangga menurut saja, asal kedua gadis itu bahagia, Rangga rela melakukan apa saja.
Setelah puas mencoba makanan ini itu, mata Ara menatap stand makanan yang ada diujung lorong, sebuah kedai taekbokki. Ara berlari kesana sambil menggeret tangan Rangga.
Mulut Ara cemot dengan saos taekbokki. Rangga menggeleng kan kepala nya melihat itu semua. Rangga mengusap sudut- sudut bibir Ara dengan jemarinya dan segera dibawa kemulutnya.
__ADS_1
Dengan santai dan tidak ada rasa jijik sama sekali, Rangga menjilati bekas saos Ara yang menempel di jari nya.
Wajah Ara terasa panas membara saat melihat tingkah absurd Rangga. Tangan Bianca menujuk kuda-kudaan yang kini sedang berputar dengan diiringi lagu anak -anak yg membuatnya tak sabar ingin menaikinya.
Mereka memutuskan untuk naik bersama karena tidak mungkin membiarkan Bianca naik sendiri pada saat pengunjung ramai seperti ini.
Puas mencoba ini dan itu Bianca akhirnya tepar juga. Kini gadis kecil itu tampak sesekali menguap dan meletakkan kepalanya di pundak Rangga.
" Mau pulang sayang..." Tanya Rangga pada Ara, jujur sebenarnya dia belum mau berpisah dengan gadis ini.
Kalau boleh dan bisa, Rangga ingin membawanya pulang kerumahnya.
Dan ingin mengantonginya ke Kanada esok hari.
" Mau naik itu..?" Tunjuk Rangga pada wahana berbentuk kincir air dengan banyak keranjang disana.
Ara tersenyum dan mengangguk setuju.
" Takut tidak..?" Tanya Rangga ingin memastikan, bahkan jujur dia sendiri sangat takut.
" Nggak tuh..., apa yg harus ditakuti?" Jawab Ara dengan tak yakin. Ada getaran suara disana, seolah-olah gadis ini menyembunyikan sesuatu.
" Baiklah.., beneran nggak takut kan..?" Ulang Rangga lagi.
Kali ini Ara menggeleng dengan mantap.
Bianca tertidur di pundak Rangga.
Setelah membeli tiket, mereka segera menaiki wahana.
Dada Ara berdebar hebat, umurnya boleh enam belas tahun, tapi seumur-umur baru kali ini dia naik yg seperti ini.
Mereka duduk dengan kaku dan sing berhadapan.
Tubuh mereka terasa seperti robot, ya kaku. Baik Rangga dan Ara sama-sama dilanda takut yg luar biasa, tapi tak satupun dari mereka yg mau mengakuinya.
Saat keranjang yang seperti sangkar burung itu mulai bergerak, tiba-tiba kedua tangan Ara meraih tangan Rangga yg masih bebas dan menggenggam erat.
Kepala Ara ditundukkan dan disembunyikan di atas lutut Rangga yg tepat duduk di depanya.
Hilang sudah rasa takut Rangga. Yang tersisa hanya gemas yg luar biasa.
Subhanallah gadis ini benar-benar...
Apa tadi katanya???. Apa yg ditakutkan??
Lihat sekarang tampangnya itu....
Rangga cekikikan menahan tawanya, takut Bianca terganggu.
Sementara Ara yang memejamkan matanya terkejut saat merasakan tubuh Rangga yg bergetar.
Perlahan gadis itu mengangkat wajahnya.
Tampak Rangga yg menutup erat mulutnya. Sudut matanya terlihat basah karena menahan tawanya.
" Kenapa..?" Tanya Ara sok.
Dengan segenap kekuatannya Ara memberanikan diri untuk tegap duduk seperti semula.
__ADS_1
Baru beberapa menit menata posisi duduknya.
Grek...grek...suara mesin kincir- kincir terdengar nyaring. Dan sangkar burung yg mereka dudukin sedikit bergerak kekiri kanan. Membuat Ara menahan napasnya.
Degh...
Lagi-lagi dengan gerakan cepat dan wajah yg pucat Ara segera melompat pindah tempat duduk disamping Rangga.
Kedua tangannya refleks memeluk Rangga dan Bian. Wajahnya dia jejalkan disambing badan Bianca, di dada Rangga.
Senyum pada wajah Rangga terbit bak mentari pagi yg menyilaukan.
Rangga melingkarkan sebelah tanganya pada pinggang ramping Ara.
Dibawanya gadis itu agar merapat padanya. Ara hanya pasrah saja, yang penting dia berasa terlindungi.
Rangga memejamkan matanya, menikmati rasa yang luar biasa.
Grek..Grek..
Kicir-kicir yg mereka duduki kini berhenti, dengan posisi mereka diatas. Pemandangan malam kota sekitarnya tampak indah dengan kerlap-kerlip lampunya.
Segerombolan lampion tampak membumbung tinggi ke angkasa.
Lampu kerlap kerlip pada lampion-lampion itu tampak seperti kunang-kunang raksasa.
" Sayang, buka matamu...lihat itu.."
Rangga menepuk-nepuk punggung Ara.
Ara duduk dengan pelan, matanya melihat kesegala penjuru.
Tampak lampion-lampion berhamburan di angkasa.
" Wah...MasyaAllah....bagusnya...." Teriak Ara tanpa sadar.
Bahkan kini dengan santainya gadis itu menjulurkan tangannya keluar sangkar demi menggapai lampion yg melintas di dekat sangkar mereka.
" Wah...tantikna..." Teriak Bianca yang terbangun karena teriakan Ara.
Gadis itu merosot turun dan ikut-ikutan menggapai lampion- lampion itu.
Rangga,tersenyum sambil bersedekap. Kepalanya disandarkan ke dinding sangkar, matanya terpejam.
Bianca perpindah dari sudut sini ke situ membuat sangkar yg mereka tempati bergoyang-goyang.
Bruk!!!
Ara terjatuh di pangkuan Rangga demi menghindari Bianca yg sibuk pindah sana sini.
Kesempatan tak datang dua kali. Rangga segera menangkap tubuh Ara yg terlihat akan berdiri.
Bruk!!
Lagi-lagi Ara jatuh dipangkuan Rangga karena tarikannya.
Dengan secepat kilat Rangga menyambar pipi Ara.
Cup.
Kecupan di pipi Ara membuat keduanya saling terdiam membisu.
__ADS_1
Ara yg syok dengan apa yg baru saja terjadi. Dan Rangga yang syok dengan rasa yang pernah dirasakan nya, ya Rangga merasa pernah nencium pipi ini sebelumnya.
Tapi kapan..?. Dan dimana..?