
Setelah selesai mengepang rambut Ara, tangan Rangga membuka resleting belakang baju Ara.
Ara yg terkejut langsung menoleh dan mencekal tangan Rangga.
"Wait! Wait! Mau ngapain hayoo"
"Ngga ngapain ah, cuma bukain baju, kan mau ganti seragam..." Ucapa Rangga bingung.
" Oh...kirain..." Jawab Ara sambil nyengir.
" Kirain apa, kamu mikir mesum ya sayang..., hayo ngaku..?" Tuduh Rangga dengan mencolek dagu Ara,dan tersenyum mengejek.
" Ishh..enggak lah, siapa juga..?" Jawab Ara dengan berusaha menyembunyikan wajahnya yang merah karena malu.
Tapi Rangga tahu itu, pemuda itu melipat bibirnya dan menggelengkan kepalanya pelan.
" Ayo sini ganti, udah setengah enam sayang..." Rangga melanjutkan membuka resleting baju Ara dan membantu Ara berganti baju seragam.
Ara sebenarnya malu, tapi mau gimana lagi, Rangga nggak bisa dilawan.
Bahkan bros jilbab yg akan dipakainya pun tak luput dari pantauan Rangga. Rangga memilih bros kupu-kupu kecil untuk disematkan di jilbab Ara.
" Sejak kapan kamu pakai jilbab sayang?"
" Sejak kelas empat SD, kenapa?" Tanya Ara dengan tanganya sibuk memasukkan buku ke tas nya.
" Syukur deh, kakak bersyukur banget, dapet yang segelan..."
"Segelan apanya, udah koyak segel Ara mah, dari kecil udah nggak virgin pipi Ara sama 'cowok kecil cengeng mesum' yang namanya Aga itu..." Ucap Ara tanpa menoleh ke Rangga.
Tangannya meraih dasi panjangnya dan hanya digenggaman saja.
" Apa kamu bilang sayang, kamu bilang aku apa?" Tanya Rangga sambil melototkan matanya.
Apa tadi dia bilang?, ' cowok kecil cengeng mesum'?, dan maksudnya itu gue???
Gue gitu lho, gue Rangga Bayu Wijaya !
" Kamu ya, berani bilang kakak begitu.." Rangga mencubit geram pipi Ara saat gadis itu mulai membuka pintu.
" Kenyataan kan?, yang suka nangis siapa dulu setiap Lili pulang hayoo?"
"Kakaklah.." Tunjuk Rangga pada dirinya sendiri.
" Yang badanya kecil, bahkan lebih kecil dari badan Ardi siapa hayoo?"
" Ya kakak juga." Jawabnya lagi.
"Yang suka curi cium-cium pipi Lili siapa hayoo..?"
" Iya itu kakak juga sih.." Jawab Rangga lagi tanpa sadar, lalu berikutnya dia menepuk mulutnya sendiri.
"Nah terus?, masih nggak mau dibilang 'cowok kecil cengeng mesum'?"
Rangga hanya mengatupkan tanganya di dada dan menggelengkan kepala pelan.
Mereka tertawa cekikikan berdua sambil menuruni tangga.
Saat melihat Marvel melintas ke ruang TV, Ara menatap nya dan arah pandangannya mengikuti brother nya itu.
"Kakak ke parkiran dulu Lili ada perlu bentar"
Rangga mengangguk, segera melangkah menuju gantungan kunci, mengambil kunci motornya.
Hampir sepuluh menit menunggu di depan Ara tidak muncul juga, akhirnya Ranggapun menyusul masuk kedalam.
__ADS_1
Saat melangkah menuju ruang TV matanya melihat pemandangan yang membuatnya sesak luar biasa, dari kaca aquarium terpantul bayangan Marvel yang sedang menundukkan wajahnya tepat di atas wajah Ara yang tengah menengadah ke atas. Tangan Marvel menunpu dagu Ara.
Mereka berciuman!!!
Asumsi pertama yang terlihat adalah mereka berdua tengah berciuman.
Rangga meremas helm yang ada ditanganya.
Rasa panas dadanya seperti telah mendidih luar biasa.
Saat langkah kakinya hendak menghancurkan semua, Dian menepuknya dari belakang.
" Jangan salah paham dengan apa yang terlihat, perhatikan baik-baik dengan kepala dingin.."
" Mereka seperti itu dan kak Dian diam saja!!" Geram Rangga dengan mata yang memerah dan berkaca-kaca.
" Seperti itu apa Rangga? kamu pikir mereka ngapain?" Tanya Dian dengan menekankan kata-katanya.
"Kissing...." Jawab Rangga pelan.
"Kau gila!!!, apa kau pikir Lili bisa seperti itu?, dan kau pikir suamiku lelaki macam apa Rangga hah!!" Bentak Dian.
Dian memutar punggung Rangga dan menghadapkan pada arah dimana kini Ara dan Marvel berada.
"Lihat itu, suamiku hanya memasangkan dasi pada istrimu itu"
Rangga sedikit lega, tapi hatinya tidak terima karena dia suaminya, kenapa Ara justru minta bantuan Marvel.
Matanya masih menatap nyalang pada kedua orang yg justru malah asik bergurau.
"Kau tidak terima?, maka marahlah!!!, apa yang kau dapat dari kemarahan mu Rangga?, justru Ara yg akan lepas?"
Rangga menoleh menatap Dian.
" Selain cinta, rumah tangga berdiri di atas tiang kejujuran dan kepercayaan, jika salah satunya tidak ada, maka akan runtuh semua, apa kau paham?" Ucap Dian lagi.
" Satu lagi, suamiku bukan orang hina seperti asumsimu, dia mencintai Ara ya...aku tahu, dia menyimpan nama Ara dihatinya ya...aku tahu juga, akupun bahkan tau berapa kadar cintanya buat Ara dan buatku, tapi aku enjoy dengan itu..., karena aku percaya suamiku seratus persen" Lanjutnya.
"Yang pasti Marvel milikku dan Ara milikmu, tidak ada yg bisa membantah itu, aku akan terus mengikat Marvel ku semampuku, tinggal usahamu mempertahankan Aramu bagaimana??, karena bila sampai Ara lepas darimu jangan salahkan suamiku, jika Ara menjadi MADUKU"
"Astaghfirullah kak...please jangan teruskan please..." Rangga bergetar mendengarkan ucapan Dian yang dalam dan tajam. Rangga menutup kedua telinganya.
Rangga menarik nafas dalam dan membuangnya perlahan, membuang semua sesak dan gemuruh yang ada.
" Sayang ayo..., udah setengah tujuh ini..." Ucapnya berusaha menekan rasa sesaknya.
"Ah oke..., I'm coming.., brothy thankful...love you.." Ucap Ara dengan berlari menghampiri Rangga.
Rangga segera meraih tangan Ara dan digenggaman nya erat, dan mereka berduapun berpamitan pergi.
Marvel mendekati Dian yang terlihat gusar.
" Kenapa Wife..., kurang ya yang semalem?, mau lagi..?, hayoo ah...gas.." Bisik Marvel.
"Sayang apa sih.." Ucapnya manja sambil memeluk lengan Marvel yang kokoh.
"Sayang, aku udah telat satu minggu.." Ucap Dian lirih.
"Mak..maksudnya...ha..hamil gitu?" Tanya Marvel speechless.
"Nggak tau deh, di testpack dulu gimana?, aku takut kecewa..." Tanya Dian.
" Oke-oke sayang, kamu istirahat dulu, aku beli dulu okey...ya Allah Alhamdulillah, Alhamdulillah, Alhamdulillah..." Marvel berulang kali mengucap syukur atas kabar yang diberikan istrinya.
Pria muda itu segera melesat ke apotik terdekat.
__ADS_1
*
Di perjalanan menuju sekolah Rangga tak berbicara sepatah katapun, Ara cuek aja karena Ara fikir Rangga sedang konsentrasi dengan ujiannya.
Sampailah mereka ke sekolah, mungkin karena melamun membuat Rangga lupa menurunkan Ara didepan, dan malah dibawanya ke parkiran.
Sebenarnya sudah dari tadi Ara mencolak-colek Rangga tapi pemuda itu nggak notice sama sekali.
Brugh!!
"Dasar lo, siapa suruh lo nebeng sama Rangga , beraninya lo.."
Rhea mendorong Ara hingga lututnya jatuh terbentur pavingan batu.
"Inalillahi wa innalillahi ruji'un.." Teriak Chandra dan berlari menghampiri Ara.
Sedangkan Rangga terkejut luar biasa, tapi karena posisinya sedang membawa motor dia tak bisa berbuat apapun.
" Brengsek Rhea!!!" Bentak Rangga keras, seumur-umur di SMU Bhakti baru kali inilah suara umpatan seorang Rangga.
Chandra membantu Ara berdiri.
Suara bentakan Rangga membuat suasana parkiran menjadi ricuh.
Mereka yg tak pernah mendengar suara Rangga yg mengamuk seperti ini pada bergidik ngeri.
Rangga berlutut di depan Aran dan membersihkan roknya, nampak sesuatu merembes dari lututnya.
" Astaghfirullah sayang, berdarah ini..." Ucap Rangga lirih, tapi masih bisa di dengan oleh Chandra.
Chandra syok luar biasa dengan apa yang di dengarnya.
Sayang?, kak Rangga memanggilnya sayang??, apa mereka pacaran.
Chandra terus saja,mengikuti keduanya sampai masuk ke UKS.
" Chand, kamu keluar, gue mau obatin kaki Ara..." Ucap Rangga.
" Tapi Ara cewek loh, biar Chandra panggil petugas cewek nya deh kak.." Ucap Chandra.
" Nggak usah Chand, gue aja dan lo keluar, lo bukan mahramnya..." Ucap Rangga sambil tanganya sibuk mengambil kotak P3K dan mengeluarkan alat-alat yg diperlukanya.
Nah kan sama juga kaya lo, lo juga kan bukan mahramnya keless...
Batin Chandra, namun dasarnya Chandra anak baik yang tidak mau ada keributan diapun pergi saja cari aman.
" Sakit sayang?..,maaf..ya.." Ucap Rangga lirih, tanganya menyingkap rok Ara.
Kedua lutut Ara terlihat sobek dan darah segar merembes dari luka itu.
"Kenapa lupa turunin Lili tadi?" Ara mengeryitkan dahinya menahan pedih.
" Maaf sayang kakak melamun tadi..."
"Ough..sakit kak..pedih..."
" Maaf, maaf...sayang..." Rangga meniup-niup luka Ara, air matanya jatuh tampa disadarinya.
Lagi-lagi, dia membuat Ara terluka karena kesalahannya. Hasil cemburunya membuatnya diceramahi Dian sebegitu rupa. Dari situ dia galau dan melamun dan tidak fokus, dan hasilnya adalah kejadian ini.
So...be a positive thinking Rangga.
Bersambung...
Like nya yuk....😍😍😍
__ADS_1