Childhood Love Story

Childhood Love Story
Aluna Nada - Part 12


__ADS_3

---Happy Reading---


Drrt!


Benda pipih milik aksa bergetar diatas mejanya. Saat ini aksa berada dikampusnya karena papanya sudah tidak membutuhkannya lagi mengurus kantor. Papanya hanya akan memanggilnya jika ada bantuan lagi, Aksa mengambil ponselnya dan membaca pesan tersebut dibawah kolong meja. Ia melihat siapa yang mengirim pesan kepadanya dijam jam mata kuliahnya.


Dan ternyata Adam yang mengirim pesan kepadanya. Saat ia fokus dengan ponsel ia tidak sadar bahwa dosen killernya sudah memperhatikan dirinya sedari tadi. Dipanggilnya nama aksara bintang, sampai lengan aksa disenggol oleh teman sebangkunya. Aksa menoleh kearah vero dan vero pun langsung menunjuk arah depan menggunakan dagunya.


Aksa meringis pelan kemudian ia mendongakkan kepalanya dan menatapnya kearah depan melihat dosennya sudah berkacak pinggang dengan mata tajam. Jika saja mata itu adalah leser mungkin saja aksa sudah mati ditempat duduknya.


"Bisakah kamu menjawab pertanyaan didepan, Aksara bintang?"


Aksa bangun dengan tegap lalu menggeleng kepalanya pelan. "Maaf pak, saya tidak tau jawabannya."


"Jika tau, mengapa kamu dengan sombongnya memainkan ponselmu didalam kelas saya? Apakah pacarmu lebih penting dari jam mata kuliah saya?"


"Tidak pak, bukan begitu."


"Baik silahkan kamu keluar dari mata kuliah saya jika tidak ingin belajar lagi. Jika masih ingin belajar hapemu taruh disini." Aksa mau tak mau melangkah dekat kemeja dosen lalu menaruhnya ponselnya disana. Dosen itu mengangguk. "Bagus, silahkan duduk. Baik kita lanjutkan kembali."


Aksa meringis dan merutuki Adam. Sedangkan yang berada ditempat negara orang, seorang pria muda bersin bersin disamping kakeknya. Kakenya menatap cucunya dengan tatapan khawatir. "Kamu flu nak?"


Adam menggelengkan kepalanya. "Tidak kek."


"Sepertinya ada yang membicarakan tentang keburukkanmu oleh orang lain." Celetuk Val. Membuat Adam melotot kearahnya, "Siapa yang berani ngomongin tentang keburukkanku?" Val meringis pelan. "Mana ku tahu."


"Sudah sudah, lebih baik kamu beristirahat saja. Kamu kan akan segera pulang ke negara asalmu masa ia kamu kesana bawa penyakit." suruh kakek yang langsungdituruti oleh adam. Adam merebahkan tubuhnya dan menatap layar ponselnya bingung mengapa aksa tidak membalasnya kembali pesannya.


"Mengapa dia belum menjawabnya? Biasanya dia selalu cepat membalas pesanku. Kucoba lagi."


'Hey bro, what are you doing? Why did it take so long to reply to my message.'


'Hey, are you okay?'


'I said, I'll go back there and I hope you can pick me up at the airport, I'll be waiting for you.'


'I'll spam here.'


'If you don't answer me.'

__ADS_1


'Hey, Aksa! Brother!'


'Oh my god! I forget you must be in your college right?'


'Sorry, disturb you.'


'One more, just tell your lil sister. I miss bad her. Okay? Bye~'


Dan pesannya lagi lagi hanya dibaca oleh Aksa. Adam berfirasat yang membaca pesannya ini bukan Aksa melainkan... Ada satu balasan dari aksa. Dan benar saja firasatnya. "Ah! Dirt! The lecturer who replied to my message? On Aksa phone?"


"Ponselnya pasti disita. Tapi kenapa kuliahnya seperti sekolah bocah? Segala disita."


"Aksa, ternyata temanmu ini menyukai adikmu ya?" tanya dosennya dengan memberikan ponsel tersebut kepada pemiliknya. Aksa tersenyum kaku lalu mengangguk. "Ya pak, dia menyukai adik saya sejak masa kecil." Dosen terdiam mengangguk. "Itu bukan urusan saya, kau tidak perlu memberitahu kepada saya." ucapnya lalu keluar kelas aksa dengan santai, aksa menghela nafas lalu membaca pesan dari Adam. Bocah pengganggu.


"Shut up!" send. "Ganggu tuh bocah, heraan."


❣❣


Aksa pulang kerumahnya dengan raut wajah lesu dan menahan kesal. Di dalam ruang tamu sudah ada mamanya yang duduk santai bersama adiknya yang sedang menonton drama korea ditv. Mereka sangat serius sampai tidak menyadari kehadiran Aksa yang sedari tadi menatap mereka dengan malas.


"Seserius itu kalian menonton sampai tidak menyadari keberadaanku?" gumam aksa lalu ia lebih memilih pergi kekamarnya dilantai dua untuk menyegarkan pikirannya dengan air dingin.


Didalam kamar mandi, aksa sedang berendam dibathub miliknya dengan air dingin yang sedikit demi sedikit menghilangkan rasa emosi dan penat dikepalanya. "Ah, segarnya air dingin ini. Kenapa hari ini diriku sial terus."


Pukul 10.00 di kamar Aksa. Sepertinya sedang ada angin topan nyasar kemari, karena kamarnya sangat berantakkan karena si penghuni terbengkalai akibat bangun kesiangan apalagi hari ini ada ujian harian di fakultasnya.


"Hidup kau, Aksa! Kau telat dimata kuliah bu dosen bawel." ujarnya terburu buru mengambil semua buku dimasukkannya dengan paksa kedalam tasnya kemudian ia ambil kunci motornya dan ponselnya.


Di sepanjang perjalanan, aksa panik karena kelas sebentar lagi dimulai tapi jalanan ini masih sangat padat membuatnya kejebak macet. Padahal dirinya bawa motor namun tetap saja motor yang ia miliki tidak bisa menyalip nyalip seperti pembalap.


Sesampai dikampus, ia memarkirkan motornya namun bukan khusus motor melainkan khusus mobil, ia sampai ditertawakan oleh mahasiswa lainnya karena kebodohannya. Tak sengaja ia berpaspasan dengan sahabatnya yang membawa mobil. "Woi! Aksa! Ngapain kau disini? Kau belum bangun dari tidur nyenyakmu itu karena itu kau masih mengigo disini?"


"Berisik kau! Minggir!" Bentaknya dengan kesal membuat sahabatnya terdiam lalu mengerjapkan kedua matanya lalu meringis pelan, sepertinya ia melupakan siapa Aksara Bintang sebenarnya.


Lalu aksa berlari di koridor kampus membuat menabrak seseorang yang sedang membawa setumpuk buku dan yang menabraknya adalah seorang gadis yang ia sukai sejak dulu. "Aduh, maaf maaf. Kau tidak apa apa?" tanya aksa kepada gadis itu. 


Gadis itu mengangguk dengan raut datar. "Kau tidak perlu menolongku, ck, mentang mentang cucu yayasan dengan seenaknya datang siang. Sangat memalukkan." ujar gadis itu membuat Aksa ingin mengubur kuburannya sendiri. 


"Sial! Hari ini benar benar sial!" gerutunya.

__ADS_1


Flash back off.


Aksa menghela nafas, lalu ia cepat cepat menyelesaikan ritual mandinya lalu mengerjakan tugas rumahnya karena terlambat di kelas pertamanya membuat ia harus mengerjakan tugas tugas yang menumpuk. "Semua karena Adam! Salahkan dia Aksa, karena dia, gadis yang kau sukai merasa ilfeel kepadamu."


"Sial kau, Adam!"


*


Diruang tamu, Aluna dengan mamanya yang baru saja mengakhiri nonton drama korea kesukaannya yang tak lain Park shin hye dengan lee minho di saluran tv. Mama merasa ada yang kurang namun ia tidak mengatakannya. "Sayang, kita masak buat makan malam nanti yuk."


"Ayo ma, oh iya papa pulang gak hari ini?" tanya luna kepada mamanya yang sudah berjalan melangkah kedapur miliknya. "Pulang sayang, maka dari itu kita harus masak makanan kesukaan papamu. Oh iya kakamu mana?"


Aluna menghendikkan bahunya, tanda tak tahu. "Coba kamu cek dikamarnya sudah pulang atau belum? Kalau belum pulang telepon."


Aluna mengangguk, "Oke ma." lalu berlari kearah anak tangga. Sesampai depan pintu kamar abangnya luna langsung masuk begitu saja tanpa ada ketuk pintu terlebih dahulu. "Abang?" Panggil luna, dan mendapati abangnya tertidur diatas meja belajarnya dengan setumpuk buku tebal.


Aluna merasa kasihan kepada abangnya yang harus belajar dengan giat agar menjadi pewaris perusahaan papa mereka. Aluna dengan mengintip melihat soal dari buku yang dikerjakan oleh abangnya. Karena ia mempunyai banyak kaka tingkat yang baik, ia langsung bertanya pertanyaan pertanyaan yang berada di soal itu kepada kating yang terkenal pintar.


Setelah sudah, ia langsung membangunkan abangnya untuk pindah ketempat tidurnya. "Abang! Bangun pindah gih ke kasur empuk milik abang. Lehernya kasian itu pegel." ujar luna yang langsung membuat mata aksa terbuka dengan segar. "Oh ada kamu, lun, ngapain?"


Aluna menghela nafas, "Bangunin abang, kalau mau tidur jangan dimeja belajar kasian lehernya pegel. Kalau mau lanjut belajar lanjutin aja tapi sebelum itu cuci muka dulu biar seger."


"Iya adik luna, makasih udah bangunin abang." Aluna mengangguk. "Jangan lupa makan malam ya bang, papa pulang soalnya." ujarnya setelah itu keluar kamar dengan menuju dapur lagi.


"Ada kaka kamu?"


Aluna mengangguk, "Ada ma, lagi ngerjain tugasnya yang menumpuk tapi tadi luna liat abang ketiduran dimeja. Luna bangunin aja suruh pidah tapi dia lebih mau lanjutin tugasnya. "


"Dia udah makan?"


"Pertanyaan itu luna gak nanya, kalau lapar nanti abang juga bakal kebawah ma."


Mama menghela nafas, karena putrinya ini benar benar kurang peka, bahwa kakanya jika sedang sibuk akan lupa waktu dan makan. Bagaimana ia akan mengingat perutnya yang terus menerus berbunyi. "Kamu, benar benar tidak peka ya." ucapnya dengan berbisik membuat luna mengernyit menatapnya bingung.


"Apa ma?" tanya luna, dijawab gelengan oleh mamanya. "Gak ada ayo kita mulai masaknya."


 


---Bersambung---

__ADS_1


Jangan lupa like ceritaku dan mampir keceritaku yang lain.


Terima kasih.


__ADS_2