Childhood Love Story

Childhood Love Story
Saga Vino Malik


__ADS_3

Siang itu kebetulan Rangga pulang cepat. Dengan gesit pria berusia awal empat puluhan itu bergegas merapikan rumahnya. Istrinya selama seminggu ini harus ikut menjadi volunteer kesehatan di daerah yang terkena bencana di pulau terpencil Indonesia.


Rencananya hari inilah harusnya istrinya kembali.


Wajah masamnya beberapa hari ini berubah menjadi cerah bak matahari yang terbit setelah istrinya beberapa jam lalu mengabari bahwa mereka telah memasuki wilayah Jakarta.


Tapi sudah satu jam Rangga menunggu, istrinya tidak juga muncul.


" Mana sih ini?" Gumamnya geram.


Ditatapnya jam tanganya untuk yang kesekian kali.


" Huhh..., berenang dulu lah..."


Rangga yang sudah begitu rindu pada istrinya, memilih untuk merilekskan ototnya yang tegang beberapa hari ini.


Meera dan Maureen beberapa hari ini menginap di rumah kakek Hendrawan Wijaya bertepatan dengan adanya putra putri Janu yang sedang berkunjung ke Indonesia. Sedangkan Almeer memilih melanjutkan kuliahnya di Jerman mengikuti Lenox.


Byur....spashh...spashhh...


Hanya suara kecipak air yang terdengar dirumah yang begitu sepi.


Sempat terpikir di benak Rangga, harusnya dulu buat anak sebanyak-banyaknya agar rumahnya tidak sesepi sekarang ini.


Sementara mobil Ara meluncur menuju jalan komplek perumahan dimana dia tinggal belasan tahun ini.


Didepan gerbang terlihat sesosok pemuda yang duduk diatas motornya, tatapannya tertuju pada bangunan rumah miliknya.


Saat mobil mulai memasuki gerbang, Ara memelankan mobilnya dan membuka kaca, lalu berhenti sempurna.


" Cari siapa boy?" Tanya Ara ramah.


" Ahhh..ehh..i..itu..tante, apa ini benar rumah Almaeera Haura Siddiqi?" Jawab pemuda itu juga tak kalah ramah.


" Benar, dan saya mommynya. Masuk dulu yuk, kita bicara di dalam.." Ajak Ara ramah.


" Ahhh ehhh, nggak usah deh tante. Terimakasih sebelumnya. Saya hanya khawatir, sejak selesai ujian kelulusan, Almaeera tidak terlihat lagi disekolah " Lanjut pemuda itu sopan.


" Oh itu karena putri saya ikut kakaknya tes di Jerman.." Sahut Ara.


Terlihat raut sedih pada wajah pemuda itu.


" Jerman?"


" Iya, di Berlin Jerman. Tapi Almaeera tidak lolos, jadi dia memutuskan untuk kuliah disini kok..." Lanjut Ara lagi.


Pemuda itu terlihat mengusap dadanya lega, dan Arapun hanya tersenyum kecil.


" Ya udah tante saya balik dulu...terimakasih tante, maaf mengganggu tante.." Pamitnya dengan sopan.


" Ya sama-sama..."


Ara menatap gerak-gerik pemuda itu, dan terus menatap sampai motor yang dikendarainya hilang di ujung jalan.


" Pemuda yang sopan dan sepertinya baik. Sudah jelas dari matanya dia suka dengan Meera, tapi lawanya sangat berat, ada Saga.."


" Emmm, anak lanangku sayang.., apa kabarmu nak?" Ara mencolek foto kecil Saga yang selalu ada di dasbor mobilnya, anak laki-lakinya sebelum dia memiliki Almeer.



Ara memasuki rumahnya yang terlihat begitu sepi.


Kak Rangga kemana ya?


Katanya tadi sudah pulang.., kok sepi begini..


Ara melintasi ruang makan, bau masakan masih begitu harum memenuhi ruangan, berarti belum lama Rangga memasak.


Suara gemericik air di arah kolam renang membuat Ara melangkah ke asal suara.


Melihat baju Rangga yang telipat rapi di kursi pinggir kolam, bibirnya menyunggingkan senyum yang begitu manis.


Arapun mulai meloloskan pakaian yang dikenakannya, menyisakan tanktop dan celana pendek selututnya.

__ADS_1


Rangga yang sebenarnya sudah selesai dengan aktivitas berenangnya, saat ini sedang berbilas di ujung kolam.


Pria itu tidak menyadari istrinya mengendap di belakangnya.



Grebb...


Pelukan tiba-tiba dari tangan mulus yang melingkar diperutnya hampir saja membuat jantung Rangga copot. Tapi saat melihat cincin kawin di jari lentik itu, senyumnya mengembang sempurna.


" Astagfirullah..terkejut kakak sayang, hampir saja kakak reflek mau banting tadi..." Ucap Rangga dengan membalik badanya, lalu menarik istrinya mendekat.


Ciuman Rangga yang penuh rindupun di labuhkan dibibir Ara.


" Mau dibanting?, dimana?" Tanya Ara setelah terlepas dari siksaan nikmat Rangga.


" Dikasur...." Ucap Rangga cepat, lalu disambarnya bibir yang dirindukan delapan hari tujuh malam itu lagi dengan rakus.


" Kenapa baru pulang?, tadi katanya udah masuk Jakarta?" Kini tubuh basah Ara sudah berada digendongan Rangga menuju kamar mereka.


"Ya kan kami harus mengecek alat dulu...,membuat laporan mingguan dulu.., dan ya...begitulah..." Jawab Ara.


Mata Rangga terlihat syok akan sesuatu di kulit putih mulus istrinya yang terbuka.


" Kakak juga ingin mengecek sesuatu sekarang.." Ucap Rangga penuh misteri, matanya terus sibuk meneliti kulit tubuh Ara dari atas sampai bawah.


" Apa?"


" Ada lah..." Ucapnya lagi.


Brugghh...


Di turunkannya tubuh istrinya dikasur dengan tergesa-gesa.


" Buka tanktop nya cepat.." Ucap Rangga tak sabar.


Ara melotot terkejut, ingatanya terbang ke puluhan tahun silam, saat Ara pulang ngedate bareng Lenox.


Rangga terjejut, matanya melotot tidak percaya!, istrinya berteriak padanya.


" Loh?, apa yang kau fikirkan sayang?. Lihat ini...., kakak hanya ingin mengoleskan ini untuk bentol-bentol bekas gigitan nyamuk ditubuhmu itu..." Sahut Rangga.


" Astaghfirullahalazim..., ternyata begitu banyak hal buruk yang kulakukan padamu selama ini sayang, sampai-sampai terus tersimpan di memori mu, maafkan aku...." Rangga mengecupi pucuk kepala Ara.


" Tidak, bukan begitu Bi. Kita jarang berpisah setelah kita kembali bersama. Saat kau harus mengajar di Boston seminggu dalam sebulanpun aku selalu ikut, dan baru kali ini kita berpisah lama.."


" Lalu kau tiba-tiba meminta ku membuka baju..., mindsedku langsung kesana..."


Rangga tersenyum dan mengacak rambut Ara sekilas, dengan lembut pria itu mengoleskan obat ke tubuh Ara.


...***...


" Bi...., kalau sempet nanti jemput Meera dan Maureen dulu sebelum pulang. Meera pasti lupa kalau beberapa hari lagi UTBK di Universitas Indonesia" Ucap Ara sambil merapikan dasi suaminya.


" Hemmm, iya sayang. Hari ini kakak juga ada jadwal di SMU Meera sebagai pembicara, bersama Saga"


" Saga?"


" Hemm iya sayang, Saga di kirim UI ke SMU Bhakti sebagai brand ambassador mereka.."


" Wahh..., kalian jadi rival dong.."


" Ya enggak lah, masing-masing universitas kan punya visi dan misi sendiri. Walaupun Meera dan Almeer tidak memilih tempat kuliah dimana daddynya mengajar, itu tidak masalah.." Rangga memeluk istrinya erat bahkan sampai Ara benar-benar terjepit.


" Emmmppp, penyet ini!!" Seru Ara.


" Ha..ha..ha .., gemes banget sama dedek Liliku ini..." Ucap Rangga masih belum melepas pelukanya.


" Dihh...mulai alay..." Ara mencubit pinggang Rangga gemas.


Rangga melipat bibitnya menahan geli.


" Kakak berangkat dulu sayang..., istirahat yang bener. Nggak usah masak!, nggak usah bebersih rumah!. Ingat kata kakak sayang, ISTIRAHAT!!" Ucap Rangga tegas.

__ADS_1


" Iya, Iya...siap pak suami..." Sahut Ara.


...***...


Almaeera sudah berada di aula bersama seluruh murid kelas XII SMU Bhakti, sebenarnya Almaeera malas berangkat pagi ini. Gadis itu merasa tidak perlu mendapatkan pencerahan tentang Universitas yang ingin dipilihnya. Karena dia sudah menentukan pilihan, yaitu Universitas Indonesia.


Alasanya?


Karena ada Saga disanakah?


Jawabannya tidak dan bukan.


Gadis polos itu sampai hari ini tidak memiliki komitmen apa-apa dengan Saga, mereka dekat hanya sampai Meera lulus SMP dan Saga lulus SMU. Walaupun dari kecil mereka selalu dijodoh-jodohkan, tapi semakin kesini Saga terlihat semakin cuek, entah apa yang terjadi. Dan Meerapun tumbuh normal seperti gadis lain.


Saat daddynya naik ke podium sebagai pembicara, Almaeera yang duduk di deretan paling depan tersenyum manis dan melemparkan fingger heart pada kekasih pertamanya itu, Rangga Bayu Wijaya.


Tak disadari oleh Meera, sesosok pemuda gagah dan tampan menatapnya dari samping panggung. Ada rindu yang luar biasa menganak gunung dihatinya saat ini. Ya, pemuda itu adalah Saga Vino Malik.


Walaupun tinggal di Jakarta dan menetap di White Base bersama beberapa boys lainya. Saga dan Meera jarang bertemu karena kesibukan mereka masing-masing. Kadang saat Saga menyempatkan ke rumah mommy Aranya, justru disaat itu Meera tidak dirumah.


Maklumlah, walaupun anak Ara ada tiga, tapi mereka bukanlah miliknya pribadi. Mommy Tara akan selalu menguasai ketiganya dari hari ke hari.


Saat panggilan dari pembawa acara menyebutkan nama Saga Vino Malik untuk naik kepanggung, tubuh Almaeera tiba-tiba tersentak kaget. Senyumnya yang manis beberapa saat lalu karena keberadaan daddynya di panggung langsung lenyap seketika.


Wajah cantiknya berubah menjadi kaku dan sendu. Saat matanya tidak sengaja bertabrakan dengan mata Saga, rasa ngilu yang meremat-remat dihatinya membuat matanya begitu pedih. Gadis itupun membuang pandangan kesegala arah demi menyembunyikan air matanya yang mulai keluar.


Saga Vino Malik, pemuda itu begitu kecewa melihat Almaeera membuang muka saat melihat dirinya. Dia sangat rindu, bahkan hampir gila karena menahan rindu ini.


Saat di minta pihak kampus untuk datang ke SMU Bhakti sebagai pembicara, pemuda itu bahkan melupakan waktu makanya beberapa hari ini. Karena begitu bahagianya membayangkan bisa bertemu Almaeeranya, gadis kecilnya, cintanya..



Tapi lihatlah...


Penolakan yang nyata lagi-lagi didapatkannya dari Almaeera, gadis itu selalu membuang muka saat ingin ditatapnya.


Sebenarnya tidak hanya satu atau dua gadis, tapi puluhan yang telah ditolaknya semenjak dahulu. Dan alasanya hanya satu, yaitu cintanya yang besar pada Almaeera.


Pembawa acara yang adalah teman sekelas Meera sendiri bahkan berkali-kali memberikan pujian dan sanjungan atas begitu tampannya paras Saga Vino Malik. Bahkan para boys genk somplak saja mengakui itu.


Tapi Meera tetap sama, dia hanya terus menunduk selama Saga berada di depan.


Sakit, itulah yang dirasakan Saga saat ini. Rupanya memang benar apa yang di katakan kakaknya bertahun-tahun silam. Bahwa cukuplah kita hanya menyayangi, karena menjaga cinta itu berat dan sakit, seperti yang dirasakannya saat ini.


Rangga Bayu Wijaya yang duduk di samping kepala Sekolah sangat bisa melihat semua, apa yang terjadi antara Saga dan putrinya.


" Sebenarnya apa yang terjadi dengan kalian?, dahulu kalian begitu saling menyayangi, bahkan lengket seperti lem dan partikelnya, kenapa sekarang menjadi seperti ini?" Batin Rangga pilu.


...*...


Acara selanjutnya tinggal ramah tamah, beberapa anak bisa bertanya langsung pada Rangga maupun Saga tentang informasi lebih jauh dari Universitas yang mereka tawarkan.


Seorang pemuda mendekati Rangga dengan berani. Pemuda itu berdiri tepat di depan Rangga yang kini sedang merangkut Saga, karena acara telah usai.


" Selamat siang om, apa benar om daddynya Almaeera Haura Siddiqi, XII MIPA 1?"


" Oh iya betul..." Jawab Rangga ramah.


" Perkenalkan saya Ryan Wicaksana, teman sekelas Almaeera " Pemuda itu menyodorkan tanganya untuk berjabat tangan.


Mau tidak mau Rangga melepas rangkulannya pada Saga dan menyambut sodoran tangan itu untuk dijabatnya.


" Om, kalau diperbolehkan saya ingin datang kerumah om untuk berkenalan lebih dekat dengan putri om, Almaeera. Karena jujur, sejak pertama orientasi siswa sampai hari ini saya menyukai putri om..."


Duarrr!!!!


" OMG beraninya anak ini!!, Gila nih!!, ini titisan Sunny jangan-jangan" batin Rangga syok.


Saga yang juga terkejut tanpa sadar mundur sampai mentok tembok karena kaget yang luar biasa.



Sementara Almaeera sendiri ikut syok dan menutup mulutnya yang menganga, posisinya kini tepat berdiri dibelakang Saga. Dan ketiga pria didepanya tak satupun ada yang menyadari keberadaannya.

__ADS_1


__ADS_2