
Pukul 04.00 dini hari Rangga sudah terbangun, diliriknya Ara di sampingnya. Senyumnya mengembang saat melihat hasil karyanya di leher dan bahu Ara yang memerah.
Sayangku Lili, kau selalu membuatku berg*ir*h terus dan terus.
Capek bangettt...badanku rasanya mau rontok semua, tapi semua sepadan...inilah yang disebut kepuasan tingkat tinggi.
Rangga terkikik sendiri sampai-sampai menutup mulutnya agar tidak menganggu kenyamanan Ara beristirahat. Sepanjang malam, hanya baru satu jam inilah Ara benar-benar nyenyak. Karena Rangga terus saja menganggunya. Dikecupnya pucuk kepala Ara, dan dirapikanya selimut yang merosot itu untuk menutupi bahu Ara yang terbuka.
Tidak melihat twins sejak pulang kerja semalam membuatnya rindu berat pada kedua anaknya.
Setelah selesai mandi Rangga bergegas ke atas, menuju kamar Denis berada.
Tok..tok...
" Den...Denis...." Panggil Rangga dari balik pintu dengan suara pelan, takut membangunkan twins.
Ceklek..
Pintu terbuka, Denis keluar dengan wajah bantalnya.
" Apa bro?, ngantuk gue..... Anak lo rewel semalam..." Keluh Denis.
" Tidur lagi aja, gue cuma mau ambil twins.." Ucap Rangga.
" Ya udah tunggu...."
Denis kembali masuk, beberapa saat kemudian diapun kembali keluar dengan dua keranjang kasur bayi di tangan kanan dan kirinya.
" Nih, mereka baru saja tidur setelah keduanya selesai gue ganti popoknya..." Ucap Denis dengan menyerahkan Almeer lebih dulu, lalu disusul Almaeera pada tangan Rangga satunya.
" Makasih banget bro.." Ucap Rangga dengan mengambil alih twins dari tangan Denis.
Denis mengangguk lalu kembali menutup pintu kamarnya.
Baru saja Almer diletakkan diboxnya, Almaeera justru terbangun. Bayi cantik itu seolah tahu keberadaan daddynya. Tanganya menggapai-gapai minta gendong.
" Mau gendong daddy hemmm...."
Senyum manis, terbit dari bibir mungil Meera. Rangga gemas melihatnya, diangkatnya putri kecilnya itu perlahan.
" Meera kangen daddy ya?, hemmm.., iya sayang?"
Rangga mencium lembut tangan mungil putrinya yang berusaha menggapai rahangnya.
" Emmmhgggg" Suara erangan Ara membuat Rangga segera menoleh.
" Bangunin mommy yuk sayang, mommy...bangun yuk...udah subuh..."
Rangga menepuk-nepuk pipi Ara menggunakan tangan Meera.
" Emmhhggg, eh...Meera, sudah bangun sayang?" Saat membuka mata, Ara mendapati putrinya berada di sampingnya, sementara Rangga duduk dengan mengelus kepalanya.
" Capek sayang hemmm?" Rangga mengecup pucuk kepala Ara.
" Iya..., kamu sih..." Ara mencubit lengan Rangga geram dengan wajah yang tersipu malu.
__ADS_1
Rangga tertawa kecil dan menggelengkan kepalanya gemas.
" Ngeyel sih, udah dibilangin diam aja terima enak, malah ikut-ikutan nyangkul kamu...ha..ha..ha.." Rangga mencubit kecil hidung Ara dengan pelan, tawa kecilnya pecah mengingat betapa kerennya saat Ara meminta untuk memimpin permainan semalam.
Ara yang malu tingkat dewa menutupkan selimut sampai menutupi kepalanya.
" Heii Meera, nah loh...mommy mana?, wiihhh sulap sayang!, mommy ilang..." Goda Rangga pada Ara yang malu dan terus sembunyi.
Bugh!!
Lemparan bantal mandarat di pangkuan Rangga.
" Mandi dulu sayang, sholat... Habis itu tidur lagi nggak papa, kakak libur kok hari ini, bisa full bantuin kamu...." Bisik Rangga ditelinga Ara yang masih tertutup selimut.
...***...
Ayah dan bunda Rayya sedang galau saat ini.
Gadis yang dianggap oleh bunda sebagai penyebab kesedihan putranya ternyata adalah mesin penggerak bagi Rayya.
Ternyata selama ini yang membuat Rayya banyak berubah ke arah kebaikan spiritualnya adalah Hanum.
Yang menjadi pembakar semangat dalam berprosesnya Rayya menjadi pribadi lebih baik seperti sekarang ini rupanya adalah Hanum.
Dan mereka baru mengetahuinya saat Rayya menceritakan semua malam tadi.
Hanum tetap dengan pendiriannya, Hanum tetap mendorong Rayya untuk menikahi Sekar sebagai bentuk bakti nya kepada orang tua yang telah membesarkannya.
Jelas Rayya marah dan menolak dengan tegas. Tapi saat Hanum mengatakan akan tetap bersedia menjadi yang kedua, membuat Rayya justru mati-matian berjuang untuk mengutamakanya.
Dan selepas mengantarkan Hanum pulang, mau tidak mau akhirnya Rayya menumpahkan semua sesak dihatinya, melepaskan semua unek-unek nya selama ini. Dengan bersimpuh dibawah kaki bundanya Rayya menceritakan semua.
Bagaimana hubungan abu-abu mereka yang tidak jelas arahnya.
Bagaimana akhirnya semua kandas karena kurangnya komunikasi antara keduanya.
Bagaimana keduanya terus menyimpan nama dihati masing-masing sampai selama ini.
Puas mencurahkan semua sesaknya, Rayyapun pasrah menyerahkan semua keputusan pada orang tuanya. Baginya Hanum masih bersedia bersamanya bahkan walau menjadi yang kedua saja, sudah lebih dari cukup untuknya.
Flashback on.
" Sekarang semua terserah bunda, jika tetap memaksakan Sekar bersamaku, konsekuensinya adalah Sekar akan terluka. Karena jelas, aku tidak pernah bisa cinta atau memaksakan diri mencintainya.." Ucap Rayya tegas.
" Tapi dengan hidup bersama dan berinteraksi setiap hari dengan Sekar, lambat laun pasti akan juga hadir rasa cinta itu nak.." Ujar bunda pelan, hatinya sudah mulai melunak.
" Tidak akan bun!!, hatiku sudah penuh terisi akan Hanum..." Jawab Rayya cepat.
" Mungkin ayah dan bunda hanya bisa berusaha untuk membicarakan ini semua secara kekeluargaan dengan pelan-pelan agar tidak menjadi perpecahan"
" Karena semua telah selesai dibicarakan, kamipun juga telah mendapatkan tanggalnya nak..." Ucap Ayah Rayya dengan bijaksana, ada nada penyesalan di raut wajah keduanya.
Jika dibandingkan, jelas mereka lebih menyukai Hanum yang sopan dan berpenampilan tertutup. Dari pada Sekar yang tidak mengerti tata krama, bicara pada orang tua atau sebaya baginya sama saja.
Dari segi penampilan juga Sekar tidak memiliki etika, bertemu calon mertua atau pergi bersama teman-temannya penampilannya sama saja.
Menyesal!!
__ADS_1
Jelas mereka menyesal, tapi mau bagaimana lagi sekarang?.
Nasi sudah menjadi bubur. Jalani saja dulu kemana arah Tuhan menggiring.
Yang mereka harapkan saat ini hanya keberhasilan dalam berbicara serius esok hari.
Rencananya ayah dan bunda akan ke Bandung untuk membicarakan ini terlebih dahulu.
Flasback off.
" Bunda dan ayah berangkat jam berapa ke Bandung?, Rayya ikut. Hari ini Rayya ambil cuti.." Ucap Rayya yang tiba-tiba mengagetkan kedua orang tuanya.
" Rayya tidak mau kalian dipersalahkan, biar aku saja yang berbicara dengan mereka.." Lanjutnya.
" Begitu juga bisa, sebaiknya kita berangkat sekarang saja..." Ucap Ayah Raya.
Mobil melaju membelah kota Jakarta menuju Bandung.
Tak ada kendala apa-apa, perjalan lancar sampai ke kota yang dituju.
" Kita cari buah tangan dulu nak, di ujung jalan sana ada bakery yang lumayan...." Tunjuk bunda Rayya pada bangunan didepan mereka. Dan otomatis Rayyapun sedikit memelankan laju kendaraannya.
Bunda dan Rayya turun dari mobil dan segera memasuki toko, sementara ayah menunggu di mobil.
Saat membuka koran yang hendak dibacanya, mata ayah menangkap sosok yang dikenalinya duduk di cafe tak jauh dari mobil terparkir.
Ayah membuka kacamata nya lalu mengusapnya, dan memakainya kembali.
Tapi sosok itu tetaplah sama, sosok yang dikenalinya.
Sosok yang sedang bermesraan bersama seorang lelaki yang terlihat lebih tua darinya itu adalah Sekar, calon menantunya.
Ayah begitu risih melihatnya, matanya tak mampu untuk melihat pemandangan tak pantas itu lebih lama.
Jika lelaki itu atasanya, tak sepatutnya juga Sekar bertingkah seperti itu.
Dan jika kerabatnyapun, seorang keponakan tidak akan mungkin mengelus-elus rahang pamanya semesra itu.
Terlalu dekat, terlalu vulgar dan tidak pantas untuk dilihat.
Ayah merasakan ada yang tidak benar disini.
Diraihnya ponsel yang berada di saku kemeja, ayah mendial salah satu kontak disana.
" Hallo ayah mertua?" Sapa suara wanita dari seberang.
" Iya nak ini ayah, Lagi dimana nak?" Tanya ayah dengan mata masih menatap pada sosok Sekar yang sedang menempelkan ponsel di telinga. Tapi tangan sebelahnya masih mengelus rahang pria disampingnya.
" Di kantor ayah, ada apa memangnya?" Tanya Sekar santai.
" Oh dikantor, repot nak?, soalnya ayah dan kak Rayya mau menuju kerumahmu..." Ucap ayah lagi.
" Begitu ya?, sayang sekali yah. Sekar sedang ada rapat penting tidak bisa pulang..." Sahut Sekar lagi.
" Segitu repotnya nak? Sampai tidak bisa hadir diacara penting begini?" Ucap Ayah sendu masih menatap kearah cafe dimana Sekar berada.
" Ya..beginilah yah, maklumlah wanita karir..." Jawab Sekar.
__ADS_1
" Siapa yah?" Tanya Bunda yang telah berada di samping ayah dengan sekotak kue di tangannya.
" Sekar..." Jawab Ayah singkat.