Childhood Love Story

Childhood Love Story
Aluna Nada - Part 37 (END)


__ADS_3

---Happy Reading---



Aluna memasang sentuhan akhir di wajahnya berupa lipstik berwarna strawberry yang membuat bibirnya tampak merah alami. Lalu dia berdiri di depan cermin tinggi dimeja riasnya sambil memperhatikan penampilannya dari berbagai sisi.


Gaun Navy yang aluna kenakan tampak menonjolkan kulit putihnya. Gaun yang ia gunakan sangat pas dibalik tubuh mungilnya, rambutnya sengaja ia gulung dengan kepang yang posisinya seperti bando. Sedangkan bagian kakinya dia hanya mengenakan sepatu yang warnanya senada dengan gaunnya, bedanya high-heels yang ia kenakan ada sedikit perhiasan berwarna gold.


Pagi ini ia akan pergi menghadiri acara kelulusan dikampusnya sampai ia tidak sadar bahwa suaminya, adam, sudah memperhatikannya didepan pintu dengan jaz yang warnanya senada dengan gaunnya. Adam melangkah mendekat lalu memeluk istrinya dari belakang, aluna sedikit terkejut namun kejutnya terganti dengan senyuman saat adam mengecup pipinya.


"Kamu sudah cantik sayang, tidak ada yang kurang hanya saja mengapa kamu memilih gaun yang memperlihatkan bentuk tubuhmu yang indah ini sayang?" rajuk adam lalu memutarkan tubuh mungil aluna dengan sekali gerakkan.


Aluna tersenyum menatap suaminya yang sudah terlihat tampan seperti biasanya namun dia lebih tampan jika ia menggunakan pakaian formal dengan rambut yang di atur seperti saat ini. "Kamu juga, kenapa semakin tampan saja? Aku juga tidak mau kalah darimu yang memperlihatkan kegantengan dirimu hari ini apalagi setelah menggunakan pakain formal yang hotnya berkali kali lipat dari biasanya." kedip aluna dengan tatapan menggoda.


Adam tersenyum lalu mengecup bibir manis milik istrinya, awalnya hanya kecupa biasa namun lama kelamaan ia sedikit bergerak untuk ******* bibir mungil itu yang selalu menjadi candunya. Aluna memukul dada suaminya berkali kali membuatnya melepaskan ciuman panas itu. "Kenapa?" tanya adam dengan cemberut karena istrinya menghentikan kegiatan panasnya.


"Aku tidak mau lipstikku hancur belepotan karena ciumanmu sayang, dan lagi kita harus cepat jalan agar nanti kamu bisa sepuasnya main denganku." bisik alun dengan mengalungkan leher adam dengan kecupannya berkali kali lalu ia membersihkan sisa lipstik yang menempel disudut bibir suaminya itu.


"Baiklah, tapi kamu harus janji, setelah kita pulang dari acara itu kita harus main." Aluna mengangguk lalu melepaskan pelukannya dileher suaminya diganti menjadi posisi menggandeng adam dengan erat.


Sepanjang diperjalanan, adam dan luna yang duduk bersebelahan pun tidak melepaskan genggaman jemari tangan mereka, adam juga sesekali mengecup pelipis gadisnya, ah tidak maksudnya pelipis wanitanya yang selalu berada didalam benak dan hatinya.


Mereka saat ini memperlihatkan kemesraannya dihadapan sopir pribadi mereka namun sopirnya sudah terbiasa melihat tingkah kedua majikannya yang selalu mengumbar kemesraannya dihadapannya. Sesampai digedung yang tak lain tempat dimana acara wisuda aluna diselenggarakan.


Aluna dan adam keluar dari mobil dengan wajah yang datar, sesekali luna tersenyum menyapa teman angkatannya yang berpapasan dengannya. Semenjak keluar dari mobil sudah banyak orang menatap aluna dengan tatapan mangsa namun adam segera menatap mereka dengan tajam, begitupun dengan aluna yang menatap tajam kepada wanita wanita yang kehausan belaian setelah menatap suaminya.

__ADS_1


Keduanya berjalan santai menuju keberadaan empat sahabatnya yang sudah berkeluarga seperti dirinya. Banyak sekali yang mendekati aluna, rizka, dan citra dengan gaya penjilat karena melihat pria tampan disamping mereka. Seperti saat ini banyak yang mengerumbungi mereka setelah pria yang mereka gandeng pergi sebentar meninggalkan mereka yang asik duduk manis ditempatnya.


Sampai ketiga perempuan itu lebih memilih pergi jauh dari orang orang yang ingin menjilat mereka, aluna langsung menghampiri kearah adam yang saat itu sedang berbincang bersama kedua sahabatnya dan abangnya. Sedikit informasi aluna dan yang lain baru tau bahwa karel, sahabat mereka tidak menikah dengan perempuan bernama ava, karel sudah menikah dengan gadis yang ia temui setelah masalah yang diperbuat oleh keluarga ava.


Aluna tersenyum manis lalu memeluk mesra suaminya, tak lama acara pun dimulai seperti yang sudah ditetapkan yaitu jam 9 mereka akan memulai acara wisudanya. Aluna dan keempat sahabatnya mendapatkan nilai yang bagus namun tidak setinggi yang menjadi peringkat 1 disatu kampus itu, setelah berpesta lamanya acara meriah di akhir acara aluna dan adam langsung pulang karena kelelahan walaupun masih sore tapi adam bisa melihat bahwa istrinya sudah kelelahan, adam pun segera mengajak istrinya untuk pulang karena sudah cukup berfoto bersama teman seangkatan wanita itu.


"Ayo kita pulang." ajak adam kepada aluna yang langsung disetujui wanita itu. "Kalian sudah mau pergi? Padahal acaranya belum selesai." ujar tiba tiba meri yang tak lain teman satu angkatan luna namun sedari tadi adam masuk meri sudah menatap suami aluna dengan tatapan menggoda.


"Maaf anda siapa ya? Saya tidak ingin berkenalan dengan ja-lang seperti anda, kami permisi." ucap dingin dan pedasnya adam kepada meri yang saat itu ingin mendekatinya dan mengajaknya berkenalan, adam dan luna langsung keluar dari gedung meninggalkan meri yang terbengong karena pria itu tidak melihatnya sebagai gadis baik melainkan ja-lang.


Citra dan rizka tertawa saat melewati meri dengan kata sindiran dari keduanya. "Kasihan ya, diabaikan oleh targetnya."


"Salah sendiri berperilaku murahan, mana ada pria yang tampan dan gagah seperti dia tergoda oleh wanita seperti mu?"


Ucap mereka sembari menggandeng tangan pasangannya masing masing lalu meninggalkan tempat acara kelulusan mengikuti aluna dengan adam. "Aluna! Kau ingin langsung pulang?" tanya rizka yang langsung diangguki oleh lunanya. "Iya, memangnya kalian ingin kemana lagi dengan gaun seperti itu?"


"Lama sekali."


"Tidak lama lagi kok, adam mungkin sangat cepat nanti." balas aksa yang sedari tadi masih merangkul pinggang istrinya dengan posesif. Lalu pergi meninggalkan tempat lulusan istrinya, begitupun dengan stefan dan citra yang lebih memilih pulang untuk istirahat.


5 tahun kemudian.


"Raka! Jangan lari lari nanti kecapean!" teriak seorang wanita sembari menggendong anak kecil berumur 3 tahun didekappannya, bocah yang dipanggil raka terus menerus berlari sampai ia melayang karena diangkat tubuhnya tiba tiba oleh seseorang.


"Raka, dibilangin mama tuh dengerin jangan bandel. Gak kasian liat mama kecapean ngejar raka sambil gendong adik?" tanya orang itu yang langsung diteriaki oleh putrinya itu. "PAPA!!" pekiknya lalu memeluk erat papanya.

__ADS_1


"Iya ini papa, raka kangen ya sama papa?" dibalas anggukan oleh putranya. Tak lama ada langkah kecil dari lantai atas dengan pakaian tidur yang menggemaskan sembari tangan mungilnya itu menarik sebuah selimut. "Papa dah pulang, mama?" tanyanya yang masih mengucek matanya yang masih tertutup.


"Sudah sayang, sini turun. Hati hati melangkah." ujar mamanya dengan nada lembutnya.. "Aduh jagoan papa yang satu lagi baru bangun?" tanyanya sambil melangkah mendekat kearah putra sulungnya. "Udah papa, kalau belum Rian gak mungkin berdiri dihadapan papa dan mama."


Papa tertawa sedangkan mama hanya tersenyum dengan manis ia membawa keluarga kecilnya keruang keluarga. Ia membaringkan tubuh mungil milik putrinya yang masih tertidur setelah meminum susu. Ia sesekali tertawa melihat suami dan kedua putranya bercerita dengan ekspresi yang berbeda.


"Luna, sayang.. Kenapa melamun?" Aluna, ya wanita yang dipanggil mama oleh Rian dan raka adalah aluna ibu dari tiga anak. Aluna tersenyum, "tidak, hanya senang oleh kepulanganmu."


Adam tersenyum bahagia, ia merasa kehidupannya semakin sempurna setelah ia mendapatkan hadiah besar dari istrinya yang tak lain sedang menghamili anak kembar, untuk anak pertama mereka. Sampai ia selalu mengisi apa yang harus ia lakukan dan senangkan untuk keluarga kecilnya sebagai suami dan ayah.


Dua tahun kemudian setelah sikembar lahir, aluna memberi kejutan lagi bahwa ia telah mengandung bayi perempuan yang membuat kehidupannya semakin berwarna, ia tidak bisa berkata apa lagi setelah melihat raut wajah bahagia keluarga kecilnya itu.


Semua orang memiliki garis takdirnya masing-masing dan mungkin awal takdirnya harus melewati kepahitan terlebih dulu sebelum dirinya berada dalam lingkar kebahagiaan seperti saat ini.


Terima kasih, Tuhan. Engkau telah menghadirkan mereka semua dalam hidupku. Aku janji akan menjaga kebahagiaan ini agar tidak pergi dariku ..


Mereka keluarga baruku..


Mereka nafasku..


 


---Tamat---


Terima kasih sudah membaca, sampai jumpa kembali.

__ADS_1


See you~ Bye~


__ADS_2