
Akhirnya Rangga mengalah dan membuka satu kamar lagi, dan kebetulan kamarnya ada tepat di depan kamar Ara.
" Istirahatlah dulu sayang, nanti habis sholat ashar kita ke bawah..." Ucap Rangga setelah memilih baju-bajunya yang akan dibawa ke kamarnya.
" Hemmm" Jawab Ara singkat.
Rangga menolehkan kepalanya melihat Ara yang telah membaringkan kepalanya di sofa panjang, bahkan matanya telah terpejam.
Dia masih capek karena yang pagi tadi kah..
Atau marah karena aku bentakin dia??
Astaghfirullah.., ya Alloh ampunilah hambamu ini..
Ya Alloh berikan kelembutan hati padaku agar jadi orang yang sabar...
Rangga sangat menyesal dengan apa yang dilakukannya. Dia menyesal membentak-bentak Ara sampai seperti itu.
Dilihatnya wajah teduh yang sedang terlelap di sofa.
Diangkatnya pelan, dan dipindahkanya ke ranjang.
Ara membuka matanya sedikit.
"Sshhhh, tidurlah yang nyaman sayang..., maafkan kakak..." Rangga mengecup kening Ara dengan sangat dalam dan lama.
" Maafkan kakak..." Bisiknya lagi.
*
Jarum jam masih menunjukkan pukul dua siang.
Rangga mondar-mandir dikamarnya bingung mau ngapain.
Biasanya dia selalu ada aktivitas kalo nggak ngegangguin Ara ya ngapa-ngapain Ara.
Dan sekarang...
" Hufftttt..." Rangga menghembuskan nafasnya kasar.
" Kesana aja deh masih siang juga..."
Rangga melangkah meninggalkan kamarnya dan segera men swap kan kartu di pintu kamar Ara.
" Hiks...hikk..., Lili takut hamil ma.."
Suara dari dalam menganggetkan Rangga. Pemuda itupun urung membuka lebar pintunya.
" Ya...tapi kak Rangga nggak pakai ....Lili takut ma..hikk.hikk."
Suara Ara terdengar seperti sedang menangis.
Dan Rangga tau siapa yang sedang ngobrol ditelfon denga Ara dan pemuda itupun notice dengan apa yang sedang diobrolkan mereka.
Rangga terpaku didepan pintu, ingatannya akan aktivitas tadi pagi membuatnya tersadar.
Ya Tuhan!!! gue emang sempat tidak memakainya tadi....
Ya Tuhan!!! gue gak pakai..
Gue udah memberinya beban fikiran dan bahkan gue juga sudah memarahinya.
Gue juga menyakitinya dengan membentak-bentak nya..
Rangga berdiri di depan pintu dengan mengusap kasar wajahnya.
Kenapa gue selalu seperti ini...
Kenapa gue selalu membuatnya menangis..
Apa ada orang yang membentak kekasihnya setelah kekasih nya menyerahkan diri seutuhnya.
Ada dan itu aku
Itu aku, aku yang bejat ini.
Aku yang brengsek!!, Rangga brengsek
Ceklek.
Ara mematung di depan pintu saat mendapati Rangga berdiri tepat di depan pintu kamarnya. Tatapan mereka beradu sesaat.
" Mau kemana?" Tanya Rangga.
__ADS_1
" Mama ada di bawah, boleh Lili ketemu mama.."
" Ya, ayoo kakak antar.." Rangga meraih tangan Ara dan mengecupnya.
" Sayang maafin kakak ya..." Ucap Rangga, dadanya sesak tiap kali mengingat semua kesalahan nya pada Ara dari sejak pertemuannya dulu.
Ara hanya diam, tidak mengiyakan dan juga tidak menolak, gadis itu tidak merespon apa-apa.
Ranggapun tak mempermasalahkan nya, wajar kalau Ara tak memaafkanya, karena perbuatannya sudah sungguh kelewatan.
****
Singapore pukul 18.00
" Bye sayang...." Mama Nelaa melambaikan tangannya, melepaskan putrinya yang beberapa jam lalu berada di cabang butiknya.
Rangga lekat menatap penampilan istrinya tanpa berkedip. Cantik, sangat cantik. Tapi cantik yang meresahkan.
" Masuklah sayang..." Rangga membuka pintu taxi yang membawanya menjemput Ara.
" Mah...Rangga balik ke hotel ya, terimakasih udah jagain Lili buat Rangga mah..." Ucap Rangga pada mertuanya dan juga meraih punggung tanganya untuk dicium.
" Iya, hati-hati.." Jawab mama Neela dengan menepuk pundak kekar menantunya itu.
" Salam buat papa ya mah..Assalamu'alaikum..." Rangga melambaikan tangan nya dan bergegas masuk ke taxi.
"Hapus...sayang..." Rangga menyodorkan sapu tangannya pada Ara, saat mereka telah berada di dalam taxi.
" Hapus apa?" Tanya Ara bingung.
" Riasanmu itu sayang...hapus..." Tunjuk Rangga pada wajah Ara.
" Kamu nggak suka aku cantik kak? Yang kaya gini nggak suka?" Tanya Ara heran.
" Mama lama lo buat Lili cantik kayak gini, ini juga biar kakak makin cinta lho, biar Lili gak malu-maluin di depan teman-temanya kakak, heran aku tu, ada ya suami nggak suka istrinya kaya gini.." Lanjut Ara sewot
" Su..suka sih, ta..tapi---" Kata-kata gagap Rangga segera disahut Ara dengan nyanyian.
" Yamed kudasi....yamed kudasi...repotnya punya suami...." Ara geram dan segera menghapus riasannya dengan kasar.
Rangga melotot melihat tingkah Ara dan menggelengkan kepalanya.
Malah repot Rangga menjinakkan yang dibawah kan.
"Gemes banget liat kamu sayang..." Rangga mengelus jilbab Ara.
" Tapi aku ngenes banget jadi ayang kamu bang..." Gumam Ara dengan geram.
"Apa!!!" Remuk hati abang dek, mirip kerupuk kegilas ban mobil!!!, adek abang ngenes jadi ayang abang hikk...hikk" Rangga beranting mirip suami yang terdzolimi, sambil berpura-pura mengelus dada.Senyum manisnya terkembang sempurna.
" Lebay..." Ara membuang pandangannya keluar jendela.
****
Singapore Pukul 19.30
" Sayang ayo.., teman-temanya kakak udah ngumpul.." Suara Rangga mengagetkan Ara yang sedang bersiap.
Rangga tak melepaskan tautan tanganya sama sekali pada jemari Ara, mereka menuju tempat yang telah disiapkan.
" Excuse me, are you Rangga?" Seorang gadis bule dengan rambut pirangnya berdiri diantara mereka. Tatapan nya tertuju pada genggaman tangan keduanya. Matanya sibuk menatap penampilan Ara dari atas sampai bawah.
Ara yang tau arah pandang gadis itu segera melepaskan tanganya dari genggaman Rangga.
" Yes I am, who are you?" Rangga berusaha mengingat.
Gadis bule di depanya dengan cepat meraih tangan Rangga untuk bersalaman denganya.
" I am, Sarah. Your classmate when we are olymp in Canada.."
Rangga segera menarik tanganya.
" Really??, Sorry... I am don't remember.."
" Yeah, you do not change much so I can recognize you easily.."
( selanjutnya pakai bahasa Indonesia aja ya, pura-puranya Inggris gituπππ)
" Oh ya Rangga, dia siapa?" Tanya Sarah dengan tatapannya tajam menatap Ara.
" Dia, kenalkan kekasih ku, Ara..." Rangga menarik tangan Ara untuk bersalaman dengan Sarah.
__ADS_1
Tak berapa lama beberapa bule dan teman-temannya Rangga menyerbunya.
Mereka berangkulan dan saling melepas rindu masing-masing.
" Hai ini siapa?, cantik banget..." Teriak salah satu teman Rangga, penampilannya sangat cantik tapi dia seorang pria.
" Hai Elli jangan bilang kamu tiba-tiba normal saat lihat yang cantik gini?" Goda salah satu teman Rangga yang lain.
" Tentu tidak, seleraku malah kamu dan Rangga ha..ha..ha.." Pria cantik itu dengan santainya memeluki tubuh Rangga.
Rangga yang memang akrab dengan pria belok itu santai saja, dan tersenyum manis seperti biasa.
Rangga terlihat canggung mendapati Ara beberapa kali melotot saat Elliot meraba-raba dada Rangga.
" Ellie jangan gila kamu, Rangga udah ada pacar itu!!, bisa gawat kalau mereka putus karena kamu" Ucap teman Rangga yang bernama Adam.
Rangga berhasil melepaskan diri dari Ellie saat seluruh temanya sudah berkumpul semua.
Mereka bercakap-cakap dengan santai seperti halnya reuni pada umumnya.
Ara yang tak begitu paham dengan yang mereka bahaspun hanya diam dipojok duduk dengan tenang. Ara anak IPA juga, tapi kalo ngobrol diluaran gini masih ngomongin rumus ogah banget dia.
Beberapa kali Rangga meliriknya, tapi posisi gadisnya tetap sama.
" Kamu bosen ya sayang?" Tanya Rangga yang melihat Ara hanya diam saja duduk sambil memainkan ponsel.
Pemuda itupun duduk disampingnya, meraih kepalanya dan dikecupnya dengan sayang.
" Ngobrol yuk sama teman-temanya kakak" ucapnya, dengan tangan erat menggenggam jemari Ara dan mengecupnya.
" Mau minum atau makan biar kakak amb---"
" Rangga ayo foto disana...." Sarah menarik lengan Rangga dan membawanya berkumpul bersama yang lain.
" Sayang kakak ke sana dulu ya.." Ucap Rangga dan berlalu mengikuti tarikan Sarah.
Sepeninggal Rangga, Ara kembali ke aktivitasnya kembali, mantengin ponsel.
" Lailia?" Panggil seseorang membuat Ara menoleh.
" Aa?" Ara berbinar- binar melihat seorang pemuda tinggi tegap seusia Adnan, dengan kaos ketat hitam lengan panjang berada di depanya.
" Ya.., ini aa.." Jawab pemuda tampan itu.
Gama Bagaskara, pria itu mendudukan tubuhnya disamping Ara.
" Kok disini?, sama tante ya?" Tanya Gama dengan menolehkan kepalanya mencari-cari sosok mama Neela.
" Enggak, sama......emm..tuh sama dia..." Tunjuk Ara pada Rangga yang sedang tertawa-tawa dengan temanya.
"Rangga Bayu Wijaya?" Tanya Gama memastikan penglihatannya. Wajahnya tiba-tiba pias.
" Yup..." Ara tersenyum manis saat Rangga melambaikan tangan padanya.
"Kalian??" Tanya Gama dengan tatapan penuh selidik. Tiba-tiba jantungnya terasa bagai diremas, sakitnya luar biasa.
Ara menarik sweater nya, mengangkat jemarinya dan menunjukkannya cicin yang melingkari jari manisnya.
" Aa tau ngga?, dia itu narutonya aku a', dialah mas Agaku yang sering Lili ceritakan pada aa dulu...ingat???" Ucap Ara dengan senyum yang sangat manis, dapat Gama lihat pancaran kebahagiaan di sana.
Jadi anak itu Rangga Bayu Wijaya?
Anak yang membuatku cemburu seumur hidup ternyata Rangga?
Dulu....
Hanya Gama lah yang selalu ada saat Ara menangis mencari mas Aganya.
Hanya Gama lah yang dijadikan pengganti atas kepergian Rangga.
Hanya Gama lah yang mendengarkan cerita-cerita Ara tentang Rangga.
Apapun isi hati Ara yang tak bisa dibaginya pada Ardi dan Adnan akan dibaginya pada Gama, teman kecilnya di Bandung setelah perpisahannya dengan Aga kecil.
Dengan kedekatan mereka tentulah timbul benih di hati Gama.
Tapi sekarang...
Benih itu harus dipaksa mati sebelum keluar tunasnya.
Bersambung.....
__ADS_1
...***""""***...