
" Assalamu'alaikum Romo..." Sapa daddy Hen pada kakek Al Ghifari saat mereka telah sampai dirumah keluarga Syakieb.
Sekotak martabak telur, kini disajikan oleh Ara dimeja. Tadi mereka mampir untuk membelinya sebelum kesini.
Rangga dan mommy Tara tidak jadi ikut karena tiba-tiba ada beberapa teman mommy Tara datang mau membicarakan tentang pemesanan desain rumah. Ya, mommy Tara adalah seorang arsitek.
" Waalaikumsalam, Hen...putraku, piye kabarmu le...., sepuluh tahun lali karo romomu iki...., dasar anak gemblung..".
Kakek Ghifari segera merentangkan tangan dan segera disambut oleh daddy Hen.
Mereka menangis tersedu. Sepuluh tahun sudah mereka terpisah.
Daddy Hen adalah putra angkat kakek Ghifari.
" Maaf romo..., itu karena romo dan Syakieb tiba-tiba pindah ke Wonogiri. Dan...."
" Dan karena ponsel ku hilang, membuat komunikasi kita jadi putus, apalagi kau pindah ke Singapura, dan langsung ke Jakarta, tidak kembali ke Jogja." Sahut papa Syakieb ikut memeluk mereka.
Kakek Ghifari memandang putra tertuanya yg kini sedang duduk bertiga dengan kedua putra nya.
" Syahril...le..., sini nak , romo kangen kamu juga, opo kowe ora kangen romo tho le..??" Ucap kakek.
Paman Syahril tersenyum dan ikut memeluk erat romonya itu.
Kini semua saling berpelukan dengan haru.
Bahkan baik Marvel dan Adnan pun nampak mengusap air matanya.
Daddy Hen meraih ponselnya dan menelpon mommy Tara untuk memberitahu bahwa malam ini dia akan menginap disini.
Ya malam ini, baik itu daddy Hen, paman Syahril, papa Syakieb dan putra-putranya semua berencana tidur bersama. Dimana kakek Ghifari diapit oleh paman Syahril dan daddy Hen.
Mama Neela datang dengan membawa susu kesehatan tulang untuk kakek.
"Jadi ini ceritanya kalian sedang buat acara pesta lajang begitu?" Tanya mama Neela dianggukin oleh para pria itu.
" Sejak kapan pesta lajang di hadiri aki aki sih mah?" Ucap Ara yg sedang bersandar dimanja di bahu Adnan. Sedangkan Ardi sibuk membuat kepangan kecil pada rambut saudara kembarnya itu.
Ucapan Ara sontak membuat semuanya tertawa, bahkan kakek melambaikan tanganya memanggil satu-satunya cucu perempuannya itu.
" Sini nduk..., cucuku yg paling ayu iki, tadi ngomong kakek aki-aki...?" Kata kakek pura-pura marah.
" Ayo mrene nduk, kakek hukum kamu..." Lanjut kakek sambil tersenyum penuh misteri.
" Nggak mau..., hukuman kakek pasti ciumin Lili pake kumisnya. Hiii...Lili gak mau ah...." Ucap Ara sambil bergidik ngeri. Tubuhnya disembunyikan di belakang Adnan.
Terbayang sudah kumis tebal kakek yg selalu menciumi pipinya setiap kali mereka sekeluarga berkunjung ke Jogja.
Rasanya jelas geli-geli gimana gitu. Dan Ara benar-benar nggak tahan, waktu kecil saja Ara selalu sembunyi di balik tubuh Adnan setiap giliran akan dicium kakek nya, seperti saat ini.
" Walah gitu yo..wes gede aja ndak mau lagi dicium kakeknya, tapi maunya diciumi mas Aga..."
" Iihhh kakek...." Rona merah kini menguar di wajah cantik Ara. Wajah cantik bersemu merah itu kini semakin terlihat berseri. Cantik sekali. Semua tersenyum penuh makna padanya, bahkan Ardi sampai menggeleng- gelengkan jarinya ke kiri kanan. Jelas saja membuat penegasan bahwa Ara masih boleh begituan.
" Nggak ada ah..., siapa juga, kakek iiihhhh, kesel Ara mah..."
__ADS_1
" Masa???, dulu aja sering..." Kakek masih terus saja menggoda Ara.
" Dulu kan masih jahiliyah kek...kakek ih..." Ara semakin malu dan gemas dengan pria berambut putih itu.
" Tapi masa sih gak pernah dicium mas Aga, dari kecil aja dia udah mesum sama kamu nduk..." Ucap kakek sambil melirik daddy Hen, dan justru dianggukinya.
Ara semakin salah tingkah saat ia mengingat bagaimana agresif nya Rangga setiap bersama nya masa kecil dan sekarangpun.
" Wih...wih...dia malu- malu jangan jangan udah gak perawan tu pipi..." Kini Brian yg ikutan mengolok-olok Ara.
" Kalo pipi Lili sih ya kalian-kalian lah yng merawanin, orang kak Rangga aja malah nggak pernah kok...eh...emph..." Ara menepuk mulutnya segera.
Mereka yang ada diruangan itupun tertawa menggelegar.
Ara segera menyembunyikan wajahnya papa dada papa Syakieb.
" Papa...ih..malas Lili iihhh, kakek tu, brothy juga...." Gadis itu mendusel-dusel di ketek papa Syakieb.
Mereka yg disana tertawa melihat kelakuan permata Al Ghifari itu.
" Gadis yg menggemaskan, pantas saja Rangga ngebet minta kawin terus..." Batin daddy Hen.
Papa Syahril melirik Marvel, ada tatapan yg tak terbaca olehnya di mata putranya itu
" Maafkan ayah nak, ayah pasti menyetujuinya jika gadis itu bukan klan Al Ghifari..., ayah saja bisa sangat menyanyanginya seperti ini, apa lagi kamu nak..." Gumam Paman Syahril pelan, dan hanya bisa di dengar oleh Brian.
Malam ini dihabiskan mereka dengan bercanda dan ngobrol ngalor ngidul.
Bahkan akhirnya mama Neela dan Ara pun ikut-ikutan tidur di depan ruang TV yang luas itu.
Di tambah lagi sisi lain Ara yg cerewet yg hanya diketahui oleh keluarga dekat nya membuat suasana yg tadinya haru menjadi menghangat dan semakin terlihat kompak.
***
Pagi hari formasi tampak amburadul tak karuan, yang tadinya Ara tidur di antara mama Neela dan papa Syakieb. Kini menjadi Ara berada diantara Ardi dan papa Syakieb. Papa Syakieb semalam memindahkan istrinya ke belakang nya, karena daddy Hen masih suka lirik-lirik istri nya itu. Walaupun maksud daddy Hen hanya bercanda, tetap saja papa Syakieb cemburu.
Mama Neela segera menepuk pipi Ara.
Ara segera bangun dan membantu mama membuat sarapan pagi.
Tak lama para pria terbangun saat adzan subuh berkumandang.
Sebagian pergi ke masjid, sedang Marvel, Brian dan Adnan sholat dikamar masing-masing.
Mereka kini telah duduk di meja makan.
Menu simpel sarapan pagi ala mama Neela.
Ada nasi goreng, ayam goreng, mie goreng dan tak ketinggalan telor puyuh saos lada hitam. Marvel dan Brian yg terbiasa sarapan roti dan susu pun tersedia di meja.
"Princess berangkat sama brothy aja ya..., brothy ada acara di blok tiga sebelah SMU Bhakti, dan lo bro, jangan bikin alasan gak dapet cewek karena nebengin Ara terus kamu..." Sentil Brian pada kening Ardi.
Dan Ardi hanya terkekeh geli.
Daddy Hen pulang setelah sarapan. Paman Syahril dan Marvel berencana kerumah bunda kandung Marvel untuk mengundang, sekalian Marvel sudah sangat kangen dengan bundanya itu.
__ADS_1
Motor Brian kini melaju menuju arah sekolah Ara.
Tapi saat melintasi sebuah apotek Brian menghentikan laju motornya.
" Sebentar brothy ada perlu..., tunggu sini.." Ucap Brian sambil melepas helmnya.
Tapi Ara justru mengikuti Brian. Langkah kaki Brian menuju etalase yg menjual alat-alat kontrasepsi.
Ara mendekati Brian dan berbisik pelan di telinga Brian.
" Brothy cari apa..?"
" Kon**m..."
" Hah!!!, buat apaan, hii..brothy gitu ya..mentang-mentang udah lama di Amerika..?" Tanya Ara sambil terbelalak.
" Ye...lo tuh ngeres banget otaknya, ini tu buat Adnan dan Hana..." Ucap Brian sambil menyentil kening Ara dengan telunjuknya.
" Biar mereka gak kecolongan punya anak, kasihan kan Hana masih bau kencur gitu udah momongan bayi.."
" Iya ya..." Ara mengangguk setuju.
****
Hari Senin upacara seperti biasa. Hari ini barisan lintas kelas. Jadi yang penting baris rapi tanpa harus terpisah perkelas.
Matahari sangat terik, padahal waktu masih pukul delapan lagi.
Tampak bulir keringat membasahi kening Ara. Dan dari jarak dua baris dari tempatnya Rangga bisa melihat matahari tepat menyorot wajah Ara. Dan sesekali terlihat Ara mengerjakan matanya karena silau.
Rangga mengkode teman disamping barisanya Ara dan mereka bertukar tempat. Tubuh Rangga yg tinggi bisa menghalangi matahari langsung ke wajah Ara.
Ara yg terkejut tiba- tiba menjadi teduh pun segera menoleh.
Dilihatnya, pemuda tercintanya tersenyum hangat menatap nya.
Rangga mengorbankan dirinya kepanasan agar kekasihnya mendapatkan keteduhan.
" Kau ini manis sekali" Ucap Ara dengan gerakan bibirnya.
Duarrrrr!!!!!!
Rangga benar-benar dibuat tebang melayang tinggi oleh pujian Ara.
Senyum tak surut dari bibir Rangga.
"Gila..., dia bilang aku manis..., ya Tuhan..." Gumam Rangga dengan terus tersenyum. Sesekali dia menggosok muka nya dengan telapak tangannya.
Ara benar-benar luar biasa, hanya sebuah kata manis saja membuat Rangga ngefly persis seperti orang habis nyabu, karena terus saja senyum-senyum sendiri.
Selama upacara berlangsung fokus keduanya tidak di tempat, mereka terus saja saling lirik dan tersenyum.
Jika tatapan mereka saling beradu keduanya segera membuang muka dan menutup mulut demi menyembunyikan senyum yg kembali merekah.
Yah...begitulah jatuh cinta..sejuta rasanya.
__ADS_1