Childhood Love Story

Childhood Love Story
Ke rumah Lenox


__ADS_3

"Ra..aku antar pulang , aku ambil motor dulu! tunggu disini.." Ucap Lenox saat mereka telah berada di pintu keluar mall.


Ara meraih sedikit ujung kaos Lenox dan menahan langkahnya.


" Nggak usah Le, aku pulang pakai taxi aja.." Tolak Ara sehalus-halusnya.


" Aku nggak mau ngerepotin kamu, apalagi arah rumah kita berlawanan, aku udah banyak ngerepotin kamu akhir-akhir ini, aku merasa nggak enak.." Lanjutnya Ara lagi.


" Aku tidak merasa direpotkan, apalagi olehmu. Justru aku sangat berharap repot karenamu.." Ucap Lenox ringan.


" Orang aneh" Gumam Ara.


" Ya sudah kalau gitu biar arahnya nggak berlawanan kita kerumahku dulu aja gimana? "


" Ngapain kerumah kamu?" Tanya Ara heran.


" Kan aku janji mau traktir kamu makan dirumahku, waktu kamu mentraktirku makan dirumah dia..."


" Dia???"


" Serangga!!" Ketus Lenox cuek.


" Ehh!!! Lo ya!!, Rangga. Rangga Bayu Wijaya, suami gue itu. Enak aja manggil dia serangga!!" Bentak Ara dengan tangan berkacak pinggang dan kedua mata melotot.


" Suami??, bahkan ringan banget kau mengucapkan nya.." Lenox berdecih kesal.


" Karena kamu sudah jadi teman baik aku Le, jadi aku nggak mau menyembunyikan apapun darimu.." Ucap Ara cepat.


" Teman??, aku teman baikmu...ha..ha.., sejak kapan?" Lenox menyembunyikan rasa bahagianya dibalik nada ketusnya.


Tapi yakinlah hatinya berbunga-bunga saat ini. Ara telah menganggapnya sebagai teman. Itu sebuah pengakuan yang sungguh membuatnya ingin berguling-guling dilantai halaman mall saking senangnya.


" Sejak kau selalu membantuku, sejak aku memikul hutang budi dipundakku..." Jawab Ara jujur.


" Kau!!!, aku membantumu selama ini karena aku ingin, aku tidak pernah menganggap itu hutang!!, camkan itu!!!" ucapan Lenox kali ini penuh ancaman dan penuh kemarahan.


Ara terdiam dan menunduk. Beberapa orang yang berlalu di dekat mereka menoleh, mengira mereka sepasang muda-mudi yang sedang bertengkar.


" Jadi, mau kerumahku? Teman?" Ucapnya sambil membungkukkan badanya. Ara sangat terkejut dengan cepatnya perubahan suasana hati Lenox, tadi marah seperti itu, dan sekarang seolah tak ada apa-apa.


Ara berfikir sejenak, melirik jam tanganya. Waktu masih pukul sebelas lebih.


" Ngerepotin bunda kamu nggak?"


" Bunda nggak ada, kita bisa masak dulu sebentar..."


" Jadi cuma kita berdua, nggak mau ahh.." Tolak Ara telak.


" Kan ada bibi.., ada mbak tukang cuci juga. Ramai kok..." Sahut Lenox cepat, tidak mau kehilangan kesempatan untuk bisa bersama Ara.


" Emmm, ya deh.." Ucap Ara setelah berfikir sejenak.


Bukan karena apa-apa Ara menerima ajakan Lenox ini.


Pertama Lenox pernah menolongnya saat ditinggal Rangga tanpa dompet dan saat terserempet motor di depan mall malam itu.


Kedua Lenox juga telah menyelamatkannya dari bisa ular dengan memberikanya pertolongan pertama dengan cepat dan sangat membantu menghambat peredaran racun dalam tubuhnya, hingga tidak menimbulkan dampak yang serius sampai hari ini.


Ketiga karena Lenox telah menunjukkan banyak perubahan atas sikapnya semenjak keluar dari Rumah Sakit akibat hajaran Marvel dulu.


Ara merasa Lenox harus mendapatkan apresiasi untuk itu semua.


Kalau cuma memenuhi ajakan makan dirumahnya saja tidak ada salahnya bukan.


Arapun dengan cepat meraih ponselnya dan mengetik sesuatu untuk Rangga, gadis itu meminta ijin sekaligus pamit pada suaminya.


" Sepertinya kita harus masuk lagi ke mall, kita perlu belanja untuk keperluan memasak kita.." Ucap Lenox.


" Kita kepasar aja Le, lebih fresh dan murah...ayo"


" Ckk, ada yang mudah kok nyari yang susah sih..." Lenox berdecak kesal tapi tetap mengikuti Ara.


Lenox terlihat jijik saat melintasi jalan becek dan suasana pasar yang terlihat kumuh. Ara justru ingin tertawa melihat itu.


Berulangkali Lenox menepuk bajunya saat bersenggolan dengan beberapa pejalan yang terlihat dekil.

__ADS_1


Terlihat jelas bahwa Lenox tak pernah menginjakkan kakinya ke sini.


Setelah mendapatkan apa yang mereka butuhkan merekapun segera meluncur ke rumah Lenox.


Ara yang tidak mau bersentuhan dengan Lenox menempatkan barang belanjaan mereka di belakang punggung Lenox, tepatnya di depanya.


Dan itu justru membuat Lenox beberapa kali bergidik jijik.


" Jauhin dikit dari punggungku Ra!!, cih bau amis nanti kaos ku!!" Teriak Lenox jijik.


" Kalo aku mundur lagi jatuh dong!!" Teriak Ara.


" Dihh!!,tau gini bawa mobil !!, brengsek!!, amis lagi..." Umpat Lenox geram.


" Lo sendiri yang mau beli sotong!!, kalau mau nggak amis, kenapa nggak ambil tahu atau tempe aja tadi Le" sahut Ara geram dengan kelakuan Lenox.


Mau tidak mau dia memacu motor dengan kecepatan penuh agar cepat sampai rumah.


Lenox dengan cepat memarkirkan motornya dan membantu Ara membawa barang belanjaan mereka.


Bibi terkejut putra majikanya pulang bersama seorang gadis cantik dan membawanya kerumah.


Bibi menatap Ara dengan pandangan kagum, tanganya membuka pintu selebar-lebarnya.


" Assalamu'alaikum..." Sapa Ara sopan.


" Waalaikumsalam silahkan masuk non, ya Tuhan cantiknya.., pacar aden ya den..?"


" Iya!!, bi...kami mau masak, persiapkan semua.." Ucap Lenox dengan masih terus melangkah ke dapur.


Sementara Ara melotot mendengar ucapan Lenox. Cubitan pedas kini mendarat di pinggangnya.


" Akhhh aaawwww...sakit Raaaa..." teriak Lenox.


Rumah yang sangat besar, dengan desain yang luar biasa mewah. Ruang tamu yang duakali lebih besar dari ruang tamu rumah papa Syakieb. Dan lihatlah ruang keluarga yang seluas lapangan bola, dengan dua tangga melingkar disisi kiri dan kanan, mirip di film-film India. Rumah yang sangat wah!!!.


Lenox meletakkan barang belanjaanya di meja dapur.


Bibi menyiapkan dua apron dan mencuci semua yang telah dibeli tuan mudanya. Sementara Ara tertarik dengan taman bunga milik bunda Lenox disamping ruang keluarga yang tembus ke teras belakang.


" Kau ini nggak punya malu!!" Bentak Ara geram.


Sementara bibi mengulum senyum. Keterkejutan Ara tak sampai situ, Lenox melempar kaos yang dipakainya tadi ke tempat sampah.


" Kok di buang Le..?"


" Bau amis!!" Sahutnya cepat, tanpa rasa bersalah.


Ara hanya menggeleng kepalanya heran, lalu nemungut baju itu.


" Di sini ada keringat orangtuamu Le, ayahmu bekerja keras untuk ini, orang lain yang dibawah kita sana belum tentu bisa membelikan anaknya kaos seperti ini. Apa kau tau?, harga kaosmu ini saja bisa untuk makan satu bulan keluarga diluar sana. Dan kau melemparkan nya begitu saja ke tempat sampah?" Lenox yang resek hanya menggerak-gerakan mulutnya mengikuti Ara yang sedang mengoceh.


"Kau mendengarku atau tidak Lenox!!" Bentak Ara geram melihat Lenox yang tidak peduli dengan ucapannya.


" Iya!!" Sahut Lenox geram.


" Iya apa?, apa yang kau dengar!!"


" Ckk...cerewet!!, mau masak apa enggak nih?? " Sahut Lenox cepat.


" Pakai bajumu dulu, baru masak!, Sana pergi!! Nggak sopan amat kamu!!" Usir Ara pada pemilik rumah.


Bibi melongo melihat Lenox yang menurut pada gadis manis itu. Lenox melangkah pergi menuju kamarnya. Begitu juga pria yang berdiri di balik pilar besar disamping dapur, pria itu tidak habis pikir, seorang Lenox tunduk pada seorang gadis.


Sementara Ara menyerahkan kaos pada bibi untuk dicuci.


" Bi.., ambilkan minum!!" Ucap Lenox saat kakinya telah sampai di anak tangga terakhir.


" Ambil sendiri!!" Teriak Ara dari dapur, gadis itu telah memakai apron dan mengikat jilbabnya ke belakang agar tidak terlalu menjuntai kedepan.


" Kamu punya tangan dan kaki, dispenser air juga ada disampingmu!" Lanjut Ara.


"Jadi cowok jangan manja!!" Ucapnya lagi menohok Lenox.


Pria yang dibelakang pilar mengulum senyum melihat Lenox kalah oleh seorang gadis.

__ADS_1


Melihat Lenox mengambil air sendiri adalah hal langka dirumah ini.


Mereka memasak dengan sedikit kedamaian, karena kali ini Lenox seperti sapi yang telah dicucuk hidungnya.


Dia menurut melakukan apa saja yang selalu diperintahkan oleh istri Rangga Bayu Wijaya.


" Emm..ini sudah sipp!!, pedasnya pas.." Ucapnya mengomentari sambal dan beberapa masakan Ara yang telah siap.


" Wah...wangi banget.... Masak apa kalian?" Suara bunda Lenox yang muncul dari pintu samping mengagetkan mereka berdua.


Ara berlari kecil untuk menyalami pemilik rumah.


" Sudah lama sayang?, kenapa nggak ngasih kabar mau kesini hemm?" Bunda Lenox nengecup kening Ara sayang.


" Tadi nggak sengaja ketemu bun, Lele maksain Ara ke sini.."


" Siapa yang maksa!, lo yang mau sendiri" Bentak Lenox.


Seorang pria masuk dari pintu yang sama beberapa saat berikutnya.


Ara mengangguk hormat pada pria tersebut.


" Kenalkan Ra, ini ayah Lenox.."


" Sa..salam kenal pak..." Ara menyodorkan kedua tanganya untuk bersalaman. Dan tuan Maha Dafran menyambutnya.


" Mari makan bun..., pak..."


Lenox bersedekap tangan dan menggelengkan kepalanya heran. Mereka yang punya rumah, kok seolah-olah malah jadi tamunya. Dan Lenoxpun berlalu untuk berganti celana karena tadi sedikit terkena minyak goreng karena terlalu banyak bercanda.


Ara menyediakan piring di depan mereka dan nengisi nasi masing-masing.


" Silakan dicicipin bun, pak.."


" Panggil saya ayah, kamu memanggilnya bunda kan?, maka panggil saya ayah.." Ucap tegas tuan Maha Dafran.


" Ba..baiklah. A...ayah.."


Lenox menyodorkan piring pada Ara setelah kembali ke meja makan.


" Apa?" Tanya Ara dengan menatap tampilan Lenox yang menggelikan baginya.


" Nasi..." Jawab Lenox jutek.


Ara tertawa kecil. Tapi tetap mengambilkan nasi dan lauk untuk Lenox.


Ara duduk disamping Lenox dengan menunduk, mengurut-ngurut keningnya dengan masih tertawa kecil, bahkan dia menggigit lidah nya untuk mengurangi rasa geli di hatinya.


"Kamu kenapa sih!!, kesambet apa kamu hah?" Tanya Lenox yang heran dengan tingkah absurt Ara.


" Bukan aku yang kesambet...tapi kamu ha..ha..ha .." Ara tak sanggup lagi menyembunyikan tawanya.


Sedari tadi Ara sudah sangat ingin tertawa tapi ditahanya. Melihat Lenox menggunakan celana pendek dengan gambar ikan Lele di belakang bokongnya membuat Ara mati-matian menahan tawanya semenjak tadi.


Ayah dan bunda Lenox ikut mengulum senyum melihat Ara mati-matian menahan ketawanya agar Lenox tidak meledak marah.


Lenox tidak peduli, dia terus menghabiskan makanya dengan lahap.


" Tambahin sambal dan mentimunya.." Dia menyodorkan piringnya didepan Ara begitu saja. Dan Arapun menurutinya.


Mengambilkan sambal dan mentimun.


"Kamu bilangnya mau traktir aku, ini kok aku berasa jadi koki kamu sih!!" Ucap Ara.


Lenox berhenti sejenak dari kunyahanya, dan menatap mata dibalik kacamata yang sungguh cantik itu.


" Nanti aja aku traktir di Ocean Blue Restaurant, aku janji.." Sahut Lenox cepat.


Ayah melirik bunda, dan menyenggol kakinya dibawah meja.


" Dasar !!! putramu memang licik!!" Bisik ayah.


Bunda hanya mengangguk. Beliau sangat tahu putranya sedang tersesat.


Mencintai tunangan orang lain adalah perbuatan yang tidak baik. Tapi melihat putranya berubah menjadi ke arah yang lebih baik semenjak kenal dengan Ara membuat bunda sedikit egois. Dalam hatinya beliau sangat berharap Ara adalah jodoh terbaik untuk Lenox putranya.

__ADS_1


__ADS_2