Childhood Love Story

Childhood Love Story
Galau sampai mati..


__ADS_3

Rangga telah membaringkan tubuhnya dikasur, penat yang dirasakan beberapa hari ini terasa semua.


Lengannya nenumpu pada kedua matanya, pusing menderanya saat ini.


Sampai detik ini usahanya untuk berbicara baik-baik pada Ara tidak membuahkan hasil yang baik.


Ceklek..


Ara keluar dari kamar mandi dengan baju tidur pendeknya.


Sebenarnya bukan untuk menggoda Rangga, tapi memang seperti itulah semua baju tidur Ara.


Saat kaki Ara baru akan naik kasur ponselnya bergetar di atas nakas.


Gadis itupun kembali turun dan menuju ke sofa.


Drrtt....drrtt....drrttt...


" Assalamu'alaikum brothy, Heyy congratulations soon you will be a Daddy.." Sapa Ara saat tahu siapa yang sedang dalam panggilan di ponsel nya.


".........................."


" Iya dong, pasti...." Ucap Ara dengan senyum cerianya.


".........................."


" Sama Lili juga sih, miss you too......."


"............................."


" Ha..ha..bisa aja, iya jemput dong...., iya mau lah kalau brothy yang jemput.."


"........................."


" Ah..iya brothy, salam sama kak Dian ya, jaga baik-baik debaynya, InshaAllah aunty Lili nanti kesana hi..hi....."



Rangga melirik istrinya yang sedang asyik sendiri tanpa mempedulikan dirinya.


Pemuda itu tidak tahu pasti yang mereka bicarakan, tapi sudut hatinya ngilu.


Cemburunya pada Marvel masih sangat besar, karena Marvel adalah saingan terberatnya.


Apalagi melihat Ara yang terus-terusan tersenyum membuatnya semakin geram.


"Ngobrol sama orang lain aja bahagianya kaya gitu, giliran ngobrol sama suaminya juteknya luar biasa..." Gumam Rangga dan jelas terdengar oleh Ara.


Sementara Ara hanya melengos saja.


" Iya brothy, nggak papa, iya nanti telp Lili lagi ya...bye, Waalaikumsalam..."


Ara meletakkan ponselnya di meja nakas, dan segera naik ke kasur tanpa bicara apa-apa.


Sebenarnya mulutnya gatal ingin menyahuti gumaman Rangga, tapi Ara malas, capek berantem terus.


Diapun tengkurap di samping Rangga dengan buku yang diberdirikan diatas kasur untuk dibaca.


Kulit mulus Ara yang kontras dengan baju tidur warna hitamnya membuat Rangga mengusap wajahnya kasar.


Sialan, dia selalu tahu caranya membuatku gelisah.


Dasar gadis nakal.


Rangga dengan cepat mendekap Ara dalam kungkungannya.


" Sayang...., kakak boleh pergi ya..?" Rangga berusaha lagi dan lagi untuk mendapatkan restu Ara.


" Nggak boleh!!!, kecuali kalo Ara ikut..." Kini Ara berusaha melunak, segera dipeluknya Rangga dengan posesif.


" Kita akan terus berantem begini kalau dipaksakan bersama sayang..." Rangga mengelus anak rambut Ara dan memainkanya gemas.


"Nggak lagi berantem kak, Lili janji...,


Lili akan nurut kakak, sumpah!, kakak mau naninu berapa kali semalampun Lili hayuin deh..., kakak mau naninu di bathtub, di sofa dimanapun Lili okein, pokonya Lili ikut, Lili mohon kak..." Ara memeluk erat Rangga seakan tak rela lepas.


" Naninu?? istilah apaan tuh sayang" tanya Rangga sambil menahan tawanya.


Ya jelas Rangga taulah maksud Ara, cuma dia hanya ingin memperjelas aja.


" Naninu ya itu.., yang begituan itu..." Jawab Ara ambigu.


" Yang macam ni maksudnya?"


Rangga segera menaiki tubuh Ara dan mengecupi seluruh tubuhnya.


" Ishhhh, apaan sih..., mulai deh.." Seru Ara gemas.


Tapi Ranggalah yang lebih gemas dengan Ara, buktinya saat ini Rangga sudah diujung inginya.


" Sayang aku pergi sebentar, dihari kelulusanmu aku pasti datang..." desah Rangga dengan terus mencumbu gadisnya, bahkan tanganya sudah aktif *****-***** kemana-mana.

__ADS_1


" Aku sempatkan pulang untukmu, aku janji..." bisiknya ditelinga Ara dengan terus menciumi seluruh leher Ara, dengan tangan yang asyik memainkan squishy kesukaannya.


Sementara Ara hanya diam tak menyahuti apa-apa.


Sentuhan Rangga kali ini begitu lembut dan melenakan. Tak seperti biasanya yang menggebu-gebu. Penyatuan kali ini dilalui dengan perasaan yang entah, ada tangis dihati mereka, karena keduanya meyakini kali ini adalah terakhir kalinya mereka menyatu.


Ara terlihat kacau, Rangga menyalurkan inginnya berulang dan Arapun dengan senang hati melayani keinginan Rangga.


Air mata berderai saat keduanya saling tatap.


" Kakak pergi boleh ya..."


Tak ada jawaban dari bibir Ara, justru gadis itu segera memunggungi Rangga begitu saja.


Dari balik punggung polos yang bergetar itu Rangga dapat meyakini, gadisnya saat ini sedang menangis pilu.


" Cup cup sayang jangan nangis, ya sudah...bobo lah, bobo sayang.."


Rangga menghapus air mata itu dengan jempolnya.


Pemuda tampan yang beratus kali terlihat tampan saat acak-acakan seperti saat inipun segera mendapatkan tubuhnya pada punggung polos Ara.


" Jangan menangis lagi sayang...." Dipeluknya istrinya itu erat dan posesif.


Gagal lagi, pendekatan hari ini gagal lagi. Karena kalau diteruskan akan menjadi pertikaian.


Pengurusan Visa esok hari harus segera diurus, tapi pamit ke istri susahnya bagai memasukan lima helai benang ke dalam satu lubang jarum. Sulit dan mustahil.


Seperti malam-malam yang lalu Rangga selalu mengelus kepala Ara agar gadis nya terlelap.


Setelah dirasa Ara sudah pulas, Rangga segera menurunkan kopernya.


Dan dengan gerakan pelan Rangga memasukkan beberapa bajunya yang akan dibawa ke Boston hari Senin depan.


Pluk!!


Sebuah buku bersampul marron dengan bunga Lili kering sebagai sampulnya, jatuh tepat disamping kaki Rangga.


Rangga ingat, buku ini yang selalu disembunyikan di balik punggung Ara beberapa kali saat kepergok olehnya.


Dengan segala rasa ingin tahunya Rangga membuka halaman pertama buku tersebut.


Untukmu..mas Agaku....🤫🤫🤫


Medio, 13 July


Hari pertama sekolah baru..


Natasha bilang di SMU Bhakti banyak cowok keren...


Apa iya??, coba kita lihat???


Ah..walaupun begitu, bagiku hanya ada satu yang terkeren....dan itu selalu kamu...


...Mas Agaku...😍😍...


Sstttt, aku ada satu rahasia...


Sesorang dengan motor Ninja putih, berhasil mendebarkan hatiku saat pertama kali menginjakkan kakiku di SMU Bhakti...siapa dia??.


Aku harap itu kamu mas Aga...


Tulisan di halaman pertama buku harian Ara membuat Rangga terkesiap tak percaya...


Motor Ninja putih?, hanya ada satu di SMU Bhakti. Dan itu motorku...


Rangga tersenyum membaca tulisan Ara. Seperti mendapatkan harta karun, saat ini hati Rangga dipenuhi oleh rasa bahagia yang membuncah.


Rangga mengecup buku Ara dengan masih menyunggingkan senyumnya, rasa hati Rangga berbunga-bunga, berterbangan tinggi diangkasa luas. Luar biasa bahagianya.


Dengan menekan rasa penasarannya, untuk membaca halaman-halaman berikutnya, Rangga segera memasukkan buku itu kedalam kopernya.


Buku ini akan jadi obat kangenku...


Rangga menatap Ara yang terlelap.


Dan segera membaringkan tubuhnya di samping Ara.


" Aku juga merasakan rasa yang sama saat pertama kali melihatmu, rasanya dadaku mau meledak saat itu..." Bisiknya pada telingan Ara.


" Terimakasih masih setia menyimpanku dalam hatimu, aku harap itu akan tetap sama untuk kedepanya, lima tahun saja sayang..., jangan pernah hempas aku..." Lanjutnya.


Rangga menciumi seluruh wajah Ara.


" Emmmmhhhh...." Lenguh Ara karena merasa terganggu.


Rangga segera mengelusnya agar kembali tidur.


Pagi datang dengan sinarnya yang ceria, setelah sholat subuh Ara membantu mama dan Azura membuat sarapan. Sedangkan Hana dan Adnan semalam memutuskan ke rumah bundanya karena ayah Hana sedang sakit.


Rangga sejak kembali dari masjid jama'ah subuh tadi belum terlihat batang hidungnya.

__ADS_1


Pemuda itu sedang berdiskusi serius dengan papa mertuanya di ruang kerja.


" Kalau itu keputusanmu, papa hanya bisa ikut..., yang penting kalian sama-sama bisa menjaga diri. Putriku itu keras kepala, tapi papa yakinkan seratus persen dia setia..." Ucap papa Syakieb dengan menepuk pundak Rangga.


" Kembalilah jika kau sudah benar-benar siap dan merasa cukup bisa bertanggungjawab. Papa akan jaga putri papa seperti sebelumnya.., gunakan tiga hari yang tersisa ini untuk berbicara denganya, jangan ada yang mengganjal diatara kalian, LDRan itu perlu kejujuran dan kepercayaan.., kuncinya komunikasi.." Lanjut papa Syakieb.


" Baik pah, terimakasih doa restunya, semoga Rangga segera berhasil.."


" Aamiin..Aamiin ya rabbal 'alamiin..." Sahut papa Syakieb.


Ara kembali ke atas untuk segera mempersiapkan seragamnya dan seragam Rangga, hari ini jumat terakhir di semester ini.


Hari ini jadwal sekolah hanya sampai pukul 10.00 pagi, karena sore nanti mereka bertolak ke Bandung untuk acara kemping.


Rangga keluar dari kamar mandi dengan baju kaos santainya, rambut basahnya sungguh mempesona.


" Kakak nggak sekolah hari ini sayang..., kakak ada urusan, kakak anterin kamu yuk..."


" Kakak ada urusan apa?" Tanya Ara kepo, tangannya sibuk mengancing baju seragam nya, tatapannya menunduk, menyembunyikan sesuatu.


Rangga mendekat dan menggantikan Ara mengancingkan baju seragam istrinya itu.


Rangga menatap gadisnya lekat, seolah-olah ingin mengumpulkan kenangan wajah itu sampai terisi penuh dan meluber-luber di memorinya.


Kedua wajah itu kini saling menempel pada kening dan hidung mereka.


Ara mendongak, karena tingginya kalah jauh dari Rangga.


Mereka terpejam, ada sesak di hati Ara, pun Rangga. Mereka sama-sama menangis dalam hati.


Sejak pagi, saat bangun tidur, dengan mendapati koper Rangga yang berada disamping pintu dan lenyapnya sebagian baju Rangga dalam lemari saja Ara sudah menduga apa yang terjadi.


" Kakak pamit sayang...." Bisik Rangga pelan, hembusan mint dari bibirnya menerpa wajah Ara.


" Kakak ada urusan di kedutaan pagi ini, tolong ijinkan kakak pergi sayang..." Lanjutnya dengan lelehan air mata yang meluncur tanpa ia sadari.


" Masih mau pergi juga..., ninggalin aku?" Suara Ara terdengar serak dan putus-putus.


Saking sesaknya sampai-sampai Ara merasa sulit bernafas.


" Sayang, tiga hari ini mari kita buat kenangan indah untuk kita, please pahami kakak..., jangan terus merajuk, ini semua kakak lakukan untuk kebaikan kita..." Rangga membingkai wajah Ara dalam kedua telapak tangannya.


" Kalau masih tetap ingin pergi juga, maka pergilah..." Ara melepaskan kedua tangan Rangga dan segera berbalik badan meninggalkan Rangga keluar dari kamar begitu saja.


Rangga hanya bisa menatap punggung Ara yang bergetar, dada Rangga bagai dihantam batu besar, sakit yang teramat sangat, sampai-sampai membuatnya mematung di tempat.


" Astaghfirullahalazim..., Ya Allah susahnya...." Desah Rangga geram.


Melirik jam tanganya masih di pukul 06.00, maka Rangga kembali duduk di meja belajar Ara.


Tangannya meraih sebuah buku dan menulis sesuatu disana.


Dreekkk....dreekk


Rangga menggeret kopernya turun dari lantai dua.


Ara yang telah duduk dimeja makan bersama keluarga nya hanya bisa menunduk menyembunyikan air matanya yang tergenang disana.


" Pa..ma..., Rangga langsung pamit kerumah daddy setelah urusan di kedutaan selesai, sorenya kami langsung ke tempat kemping, dan Senin pagi Rangga langsung berangkat ke Amerika..." Pamitnya lirih, suaranya terdengar gemetar. Sementara matanya tak lepas menatap Ara yang diam tanpa bicara apa-apa.


Dapat Rangga lihat gadisnya itu hanya mengaduk-aduk nasi goreng di piringnya tanpa berkurang sama sekali.


" Sayang...kakak---"


" Pergilah...., pergi sana dan jangan kembali lagi...hik..hik.." Suara tangis Ara pecah, tangisan yang sangat memilukan.


" Sayang dengarkan kak-----"


" Pergi sana pergi...." Ara bersaha berlari kembali ke atas, tapi Rangga segera menariknya dan meneluknya erat saat kaki Ara baru menaiki dua anak tangga.


" Jangan begini sayang..., jangan buat kakak gila..." Bisik Rangga di telinga Ara dengan diiringi tangisnya.


Semua yang ada di meja makan terlihat mengusap mata mereka.


Ardi dengan cepat menarik sedikit kain baju Azura, dan mengkodenya untuk pergi membawa Bianca dari sana, suasana tak kondusif. Karena jika sampai Bianca tau om Rangganya akan pergi, maka pasti akan terjadi kiamat sugra dirumah itu.


" Liliku...sayang, kakak berharap sangat atas restumu..." Mohon Rangga dengan sangat.


" Nggak...nggak..., sekali enggak ya nggak!!!" Seru Ara lantang.


" Baiklah...kakak akan tetap pergi walau itu tanpa ijinmu sekalipun" Kesal Rangga.


Bagaimana tidak kesal, diajak ngomong baik-baik sudah, sambilan asyik-asyikan juga sudah.


Memohon pengertian Ara dengan berbagai carapun sudah.


Harus bagaimana lagi....


Rangga stress dan pusing sendiri, rasanya galau sampai mati.


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2