
---Happy Reading---
Dipagi hari, adam sudah mendengar suara berisik dilantai bawah, ia keluar kamar lalu mengintip kearah bawah tanpa turun. Ia tersenyum senang melihat pemandangan yang ia lihat, serasa dunianya hidup kembali, kembali berwarna seperti ia masih kecil.
Ia melangkah balik masuk kedalam kamarnya, dengan pelan ia menutup pintu kamarnya dengan pelan kemudian ia mengambil anduk yang telah menggantung disamping depan pintu kamar mandinya. Ia memulai ritual paginya didalam kamar mandi, sesegera mungkin ia menyelesaikan ritualnya agar ketiga orang tua dibawah tidak terlalu lama menunggunya.
Setelah sekian lamanya ia memilih baju yang harus ia kenakan untuk hari santai bersama papa, seperti yang mereka janjikan kemarin bahwa adam akan mengajak papanya untuk berjalan pagi hari di negaranya. Sampai ia sudah dapat pilihan yang pas untuk ia kenakan hari ini.
Adam segera turun dari lantai dua lalu disambut hangat oleh mamanya yang berpakaian seperti anak remaja. Begitupun dengan papa ranz yang stylenya hampir sama dengannya hari ini.
"Morning, little boy! Yaampun baju kalian berdua mengapa seperti kembar? Kalau begini kalian berdua bukan seperti papa dan putranya melainkan adik dan abangnya." ujar mama sambil melihat kedua orang yang berbeda usia itu bulak balik.
Papa ranz tertawa menggelengkan kepalanya. "Dan mereka juga akan melihatmu bukan sebagai mamanya melainkan pacarnya dan itu membuatku jealous."
(Baju papa Ranz)
(Baju mama Anzel)
"Ayo kita mulai makan, papa mau pancake apa nasi goreng?"
"Pankace aja, kasih madu sama potongan stroberinya, yang." pinta ranz yang langsung segera disiapkan oleh Anzel. Setelah mengambil porsi suaminya ia menatap ayah angkatnya. "Ayah mau apa?"
"Samain aja sama Ranz, nak." Anzel mengangguk pelan lalu memberinya setelah nya ia melirik Adam yang sudah tenang melahap nasi gorengnya dengan santai.
Selama sarapan mereka sudah terbiasa sepertinya tidak berbicara sebelum menyelesaikan sarapannya. Adam yang sudah selesai langsung meminum susu yang sudah disiapkan oleh mama anzel begitu papa Ranz yang sudah menghabiskan sarapannya sejak tadi.
Papa ranz menatap adam dengan lembut. "Sudah makannya? Kalau begitu ayuk kita jalan sekarang saja, bagaimana?"
__ADS_1
Adam mengangguk. "Kakek ikutkan?" tanya adam yang baru saj akakeknya ingin menjawab namun dipotong oleh Anzel. "Tentu saja, ayah harus ikut bersama kami, karena dirumah ini kakekmu sendirian aku tidak membiarkan ayah tinggal sendiri dirumah sebesar ini." ujar anzel, lalu tersenyum kearah ayahny. "Ayah ganti baju ditemani oleh adam bagaimana?" Kakek mengangguk begitupun adam langsung menemani kakek untuk menggantikan baju sanati rumahnya menjadi baju pergi.
Sedangkan anzel dan ranz menunggu diluar rumah namun ranz sedikit melirik sekilas dibalik pohon depan dekat rumah tetangga adam. Ranz merasa ada yang sedang mengawasi gerak gerik mereka berempat. Ranz langsung menggandengkan tangan istrinya lalu berjalan kearah mobil yang baru saja datang karena ranz cukup peka bahwa mobil milik ayahnya sudah diganggu gugat oleh seseorang.
Saat adam dan kakeknya sudah keluar rumah dengan mengunci rumah tersebut bingung mengapa mama dan papa berada dimobil hitam yang bukan miliknya. "Papa kenapa memakai mobil panggilan papa?"
"iya, kenapa tidak memakai mobil adam saja sayang?" tanya anzel yang juga bingung terhadap suaminya. Sedangkan kakek hanya terdiam dan masuk kemobil tanpa bertanya apa pun kepada ranz, karena ia juga merasa diawasi oleh seseorang yang bersembunyi dibalik pohon tersebut.
"Sudah adam, lebih baik kamu masuk saja dulu nak." pinta kakeknya yang langsung diangguki oleh adam dan duduk disamping papa ranz, sedangkan kakek duduk disamping mama anzel.
Dipertenghana jalanan, adam baru sadar bahwa mereka sedang diikuti oleh seseorang yang kemungkinan suruhan dari wanita ****** itu yang tidak tau diri dan tidak tau diuntung. "Kita sepertinya sedang diikuti ya pa?" tanyanya kepada sang papa yang langsung diangguki pelan.
Ranz menatap adam dengan mengatakan beberapa kata dengan sangat pelan agar istrinya tidak panik atau khawatir tentang semua hal. Dan untung saja kakek mengerti dan tetap memilih diam biar saja kedua pria yang berada dibelakang itu yang mengurusi orang yang sejak tadi mengikuti mereka.
"Jangan sampai mamamu mengetahui ini." ucap ranz membuat adam mengangguk mengerti. Lalu adam mengetik sesuatu di benda pipihnya agar orang suruhannya melaksanakan apa yang ia perintahkan, dengan segera ia menyenggol lengan papanya dengan pelan membuat papanya menatapnya dan menatap kearah layar hapenya.
Papa sedikit mengernyit bingung, siapa sebenarnya mereka dan disitu adam langsung mengetik ucapan yang ia ingin sampaikan. "Mereka adalah orang yang sudah membunuh bundaku, pa."
❣❣
Aluna yang sedang meminum segelas air putih tak sengaja dikejutkan oleh bingkai foto miliknya yang didalamnya terdapat tiga orang yang ia sayangi. Yang tak lain adalah mama, papa, dan ka adam.
Ia mempunyai firasat buruk tentang ketiga orang itu, luna ingin bertanya kabar orang tuanya namun saat ia menanyakan kabar tersebut ponsel ketiganya tidak bisa dihubungi. Ia semakin panik, aluna langsung menghubungi abangnya yang sedang dikantor yang masih sibuk mengurusi pekerjaannya.
"Semoga mereka bertiga tidak apa apa." doanya sambil memunguti pecahan kaca bingkai foto tersebut. Untung saja tangannya tidak terluka saat mengambil satu persatu pecahan yang sudah menjadi kecil nan tajam itu.
*
Didalam kantor, aksa juga merasa khawatir tentang orang tuanya, sejam yang lalu ia masih bisa menghubungi orangtuanya dan adam, namun dua puluh menit kemudian nomer ketiganya tidak bisa dihubungi. Semakin aksa khawatir dan dengan segera ia menghubungi tangan kanan papanya yang berada dikantornya juga.
"Tolong cari tau apa yang sedang terjadi dengan kedua orang tuaku. Mengapa mereka tidak bisa dihubungi?"
"Baik, tuan. Saya segera akan mencarinya."
__ADS_1
Aksa menghela nafas pelan mencoba mengusir pikiran negatif yang berdatangan keotaknya secara tiba tiba. Dengan memejamkan kedua matanya aksa membatinkan dan mendoakan agar orang yang ia sayangi tidak kenapa kenapa. "Lindungilah orang yang aku cinta tuhan. Semoga firasat ini bukan sesutau yang buruk, amin."
Diwaktu secara bersamaan ada dua orang yang sedang dikejar oleh seseorang didalam hutan sedangkan dua orang lagi sudah aman ditempat yang terjaga. Orang yang sedang berlari didalam hutan ini tak lain papa Ranz dan Adam, mereka memang sengaja menyuruh kedua orang yang mereka sayangi mematikan ponsel begitupun dengan mereka berdua.
Tak sengaja mereka melihat rumah tak terpakai didalam hutan dengan segera mereka bersembunyi dibalik rumah tersebut dan mengintip siapa yang sedang mengejar mereka sebenaarnya dan niat apa yang mereka inginkan. "Sebenarnya apa yang mereka inginkan?" tanya papa Ranz dengan suara nafas yang terputus putus kepada adam. Adam yang juga sedang bernafas terengah langsung. "Mereka ingin nyawa."
"Nyawa siapa?"
"Kakek dan aku." Papa ranz melotot terkejut. Bagaimana bisa adam, putra yang sudah ia anggap mendapatkan kehidupan yang penuh kekejaman. "Mereka sudah lama mengincar nyawa kami berdua, dengan nyawa kami yang sudah melayang mereka akan mengambil harta kami dan membanggakan apa yang mereka peroleh kepada dunia bisni. Bahwa mereka berhasil menghancurkan keluarga Agister. Keluarga kakek dengan adik adiknya, beserta anak dan cucunya." jelas adam sembari mengambil pistol yang ia sembunyikan dibalik kaosnya, lalu memberi satu pistol berserta pelurunya ketangan papa.
"Papa bisakan menggunakan pistol?" Ranz mengangguk. "Ilegal or non ilegal?" tanyanya dengan pertanyaan candaan. Adam tertawa namun tak bersuara. "Of course, ilegal."
"Kau siap?" tanya papa dengan sigap menaruh pelurunya dikantong celana bagian belakang. Saat mereka ingin menembak musuhnya, mereka dikejutkan oleh seseorang yang sudah berdiri ditengah tengah mayat yang tidak mereka ketahui kapan orang itu membunuh musuhnya.
"Hey man! How are you? I'm not late right?" tanya orang itu dengan cengiran bodohnya. Adam menganga tak percaya. "Wow! You're so fast bro! How can you do everything like this?"
"I'm not stupid at all, bro. But who is that?" tanyanya menunjuk kearah papa Ranz dengan dagunya.
"Ah, i'm forget to introduce to you, jack. This is my papa, papa, he is my friend. My best friend, best idiot friend." ujar adam membuat papa ranz tersenyum dan mengangguk. Jack pun mengangguk dan tersenyum sopan. Ya pria yang sudah membunuh musuh yang mengejar adam dan papa Ranz sudah tergeletak ditanah dengan darah yang sudah mengalir ketanah.
"Maaf om, perkenalan kita yang pertama kurang baik. Dengan sekeliling mayat." Ujar jack dengan sopan lalu menyuruh bawahannya untuk membereskan apa yang ia berantakki. Ranz mengangguk paham, teman adam adalah orang mafia yang terkenal kejam didunia pembisnis. Baru pertama kali ia melihat seorang mafia sopan didepannya.
"Pa, ayo kita balik ketempat mama dan kakek. Sepertinya mereka sudah menunggu kita lama." Papa ranz tersenyum lalu merangkul bahu adam dan jack yang sudah berdiri tepat disampingnya. "Kamu juga ikut, agar saya merasa aman." Jack mengkaku, baru pertama kali ia di rangkul begini dengan seorang papa temannya. Ia jadi merasa canggung dengan papanya adam.
"Tidak perlu kaku seperti itu, rileks saja, om tidak akan memakanmu sebelum dirimu memakan om." canda papa ranz membuat jack sedikit rileks dan tertawa bersama dengan adam yang juga mendengar candaan papanya.
"HAhaha om bisa saja." tawa jack membuat bawahannya sedikit terpana melihat bosnya yang selalu menampilkan raut wajah dingin dan datarnya disetiap pertemuan dengan orang luar sana.
---Bersambung---
Jangan lupa like cerita ini dan mampir juga keceritaku yang lain.
Terima kasih.
__ADS_1