Childhood Love Story

Childhood Love Story
Salah sebut nama mempelai..


__ADS_3

Denis membuka matanya pagi ini dengan rasa berdebar yang luar biasa hebatnya.


" Hufff...Bismillahirrahmanirrahim, ya Allah lancarkanlah semua urusanku..."


Denis mengusap wajahnya pelan dan mulai melangkah ke kamar mandi.


Semua keluarga sudah bersiap di ruang tamu.


" Sayang, ayo tante bantu pakaian beskapnya.." Mommy Tara dan mama Neela membantu memakaian pakaian adat Jawa pada Denis.


" Bro...yang tenang, kenapa kau tegang begitu?" Ucap Gama.


" Ntahlah kak, rasanya benar-benar hampir tidak bisa bernafas.." Keluh Denis.


"Kau yang tenang Den, jangan berfikir yang macam-macam, cukup fokuslah pada ijab qobulmu.." Rayya menepuk pundak Denis yang terlihat tegang.


Sedari tadi wajahnya terlihat kaku tanpa senyum.


" Kakak selalu heboh diacara pernikahan kami, tapi lihatlah ini. Kakak sangat tegang dipernikahan kakak sendiri.." Ucap Ardi.


" Sebenarnya apa yang kau fikirkan Den?" Tanya Marvel yang juga begitu heran dengan raut wajah Denis yang tidak ceria seperti biasanya.


" Huffttt.." Denis menghela nafasnya pelan.


" Aku hanya takut membuat kesalahan, aku takut mengecewakan Natasya..." Ucap Denis sambil menunduk.


" Untuk sampai pada hari ini Natasya sudah sangat mengorbankan banyak hal..." Lanjutnya.


"Nah itu...,makanya berusahalah untuk tenang agar tidak mengecewakan Natasya sayang..., istighfar yang banyak. Mohon ditenangkan hati..." Bisik mommy Tara.


Rombongan iringan mobil keluar dari pelataran rumah keluarga Al Ghifari menuju rumah keluarga Natasya.


Rumah joglo yang sangat besar itu telah dihias sedemikian rupa dengan hiasan dari janur kuning.


Semakin mobil memasuki pekarangan rumah Natasya jantung Denis semakin tidak bisa dikondisikan getaranya.


"Astaghfirullah....pah..." Desahnya.


" Tenang nak..." Professor Pramana terus mengusap punggung putranya pelan. Denis ini pria tangguh yang luar biasa.


Insting berbisnisnya sungguh bisa diacungi jempol. Beberapa tender penting dengan mudah dia dapatkan, tapi lihatlah sekarang. Denis si bijak di antara sahabatnya itu kini berubah jadi kucing imut yang lucu.


Dia begitu gugup dan salah tingkah seperti ini. Padahal belum ketemu calon istri.


"Ayo turun, kamu jadi mau menikah atau enggak?" Tanya Vino saat mendapati Denis hanya berdiam diri di dalam mobil saat yang lainya sudah turun.



" Bentar bro..." Ucap Denis sambil mengusap keringat dingin dikeningnya dengan tisyu yang ada di dasbor mobil.


"Hufft...Bismillah.." Gumamnya lagi.


Vino menggelengkan kepalanya heran melihat sahabatnya ini.


" Kau ini macam playboy cap cicak Den, kemana larinya pesonamu saat menengah atas dulu..." Sindir Vino.


" Ck..., pesonaku memang sudah luntur saat ini. Menghadapi romo Natasya tidak berguna pesonaku..." Sahut Denis.


" Kau ini!, " Vino menepuk keras bahu Denis.


Mereka disambut dengan berbagai macam acara keadatan yang begitu asing bagi mereka yang datang dari Jakarta.

__ADS_1


Sampai pada akhirnya mereka kini telah berada di dalam satu ruangan yang disediakan untuk acara ijab qobul.


Denis, didampingi Profesor Pramana dan oma, duduk di depan meja yang telah tersedia.


Tak lama Natasya didampingi Hanum dan Vera keluar dari salah satu ruangan menuju meja ijab.


" Apa kabar kak?" Bisik Natasya saat mereka kini sudah duduk bersisihan.


Natasha begitu terlihat cantik dan segar.


"Alhamdulillah b..baik..." Jawab Denis tanpa menoleh. Ada rasa grogi dan gugup yang menyerangnya saat ini.


Duh Natasya wangi banget...


Bukan bau parfum, tapi wangi.


Duh...jadi nggak konsen gue..


Dag...dug...dag...dug...


Jantung Denis terus terpompa tanpa terkendali.


Matanya sedikit melirik Natasya, tapi justru senyuman manis Natasya membuat jantungnya kembali menggila.


" Bisa kita mulai acaranya?" Tanya pak penghulu.


Dan kedua pihak keluargapun mengangguk mantap, tidak dengan Denis.


Pria muda itu beberapa kali terlihat mengusap keningnya yang berkeringat.


"Baiklah, ayah dari mempelai wanita silahkan menjabat tangan mempelai pria." Ucap pak penghulu.


Romo menyodorkan tanganya diatas meja. Untuk beberapa saat tangan romo hanya menggantung tanpa disambut oleh Denis, membuat suasana sedikit tegang.


" Fokus Den, tenang...." Bisik Oma.


Dengan cepat dan sedikit bergetar, Denis mengangkat tangannya untuk menjabat tangan calon mertuanya.


" Siap Le..?" Tanya Romo pelan penuh kebijaksanaan.


" InsyaAllah Romo.." Jawab Denis mantap disertai anggukanya.


" Baiklah..mari kita mulai, silahkan gusti.." Ucap penghulu menyerahkan waktu pada romo.


" Bismillahirrahmanirrahim, anakku Denis Pramana Putra bin Pramana. Saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan putri tunggal saya yang bernama Natasya Agil Prameswari dengan maskawin seperangkat alat sholat dan emas seberat 500gr dibayar tunai"


Romo menghentakkan genggaman tangannya dengan mantap.


" Saya terima nikah dan kawinya Nirmala Anjani bin-----, Astaghfirullah...."


Denis melepas jabatan tangan romo dan langsung mengusap wajahnya kasar.


Natasya menatapnya penuh rasa sedih, ada gurat kekecewaan diwajahnya.


Denis menggelengkan kepalanya saat menatap Natasya.


" I'm sorry..." Bisiknya pelan penuh penyesalan.


Malu..., malu semalu-malunya itulah yang dirasakan Denis saat ini.


Begitupula para sahabat, kerabat dan keluarga dari Jakarta, mereka saling pandang penuh rasa bingung.

__ADS_1


Mereka telah memprediksikan ini semua, sejak pagi Denis begitu kacau, wajahnya terlihat gugup dan bimbang. Tak ada yang tahu beban berat apa yang sedang ditanggung Denis saat ini.


Para undangan saling berbisik, mempertanyakan nama gadis yang disebut oleh Denis. Mereka bahkan mengutuk Denis akan kesalahannya menyebut nama mempelai.


Tapi tidak pada romo Natasya, justru beliau tersenyum kecil.


" Mohon maaf, maafkan putra saya.... Nama yang disebutnya adalah istri saya, maksudnya nama mendiang ibunya Denis..." Ucap Professor Pramana.


" Iya besan ora popo, lumrah. Calon menantuku mungkin hanya grogi dan gugup..sampai-sampai menyebutkan nama ibunya sendiri..."


"Kita beri waktu untuknya menenangkan diri.." Ucap Romo Natasya dengan bijaksana.


Jelas romo Natasya tahu yang disebutkan oleh Denis adalah nama mamanya sendiri. Karena berbulan lamanya keluarganya Natasya telah menyelidiki seluruhnya tentang keluarga Denis.


" Nih..., biar kembali fokus minum Aq*a..ha..ha .." Olok Vino yang berbisik di telinganya dengan tangan menyodorkan minuman kemasan botol padanya.


" Baru juga ijab saja salah sebut nama, nanti malam takutnya salah masuk ha..ha..." Sindir Marvel dengan tawanya yang tertahan karena cubitan Dian begitu pedih di perutnya.


" Untung aja nama mamanya coba kalau yang disebut itu tadi nama Miyabi. Mati dia.." Sindir Vino yang membuat Denis semakin merah padam karena malu.


" Ternyata berita yang sering ku dengar itu benar. Playboy kita ini benar-benar playboy cap anak cicak" Kini giliran Rayya mengomentari nya pula.


Denis menolehkan kepalanya menatap tajam mata para sahabatnya satu persatu. Denis begitu sedih melihat itu semua, para sahabatnya seolah berbahagia diatas deritanya. Matanya bersibobrok dengan mata Lenox.


" Kenapa lo nggak ngetawain gue?" Tanya Denis pada Lenox.


" Nggak berani gue, takut kualat setidaknya itu yang dipesan Ara.." Ucap Lenox santai.


" Dasar..." Umpat Denis kesal.


" Alasan lainya karena lo kakak gue kak Denis..." Sambung Lenox dengan nyengir lucu.


" Ya deh adek...., Geli gue punya adek lo!!" Denis melempar botol kosong kearah Lenox.


" Kalian semua sahabat durhaka!!, hanya Ranggalah yang pengertian, pasti dia ikut sedih melihatku tertimpa masalah seperti ini.." Ucap Denis garang.


" Kata siapa kak?, lihat ini.." Ardi menunjukkan gambar Rangga yang tertawa terpingkal-pingkal di layar ponselnya.


" Sorry bro..., bukan mauku tertawa diatas deritamu. Tapi akupun tak bisa menghentikan rasa geli diperutku saat kau menyebut nama mamamu...ha..ha..ha.." Rangga sampai-sampai mengusap matanya yang basah.


" Cih!! Kaupun sama saja" Geram Denis pada Rangga dilayar ponsel Ardi yang saat ini masih saja tertawa.


Natasha dan sahabatnya juga ikut tertawa kecil melihat Denis yang begitu menggelikan hari ini.


" Biasanya yang gugup kaya gini malamnya mengerikan loh Nat..." Bisik Vera.


" Ihhh, sok tau..." Sahut Natasha malu.


" Beneran....." Ucap Vera lagi.


" Nggak lah, kalo menurut kak Dian ya..modelan Denis gini ini harus lo yang maju duluan Nat..?"


" Masa sih?" Ucap Vera.


" Tuh...baru baca ijab qobul aja udah grogi kayak gitu, apalagi liat lo tanpa baju...pingsan dia.." Bisik Dian lagi.


" Apa sih kak Dian!!, vulgar banget!!" Natasha mencubit lengan Dian.


" Dihh..., kak Dian udah terkontaminasi brothy deh.... Mesum.." Bisik Hana.


" Iya juga sih, tapi kamu jangan sampai terkontaminasi dengan kegugupan Denis loh Nat, MP lo nanti bisa berantakan...." Bisik Dian.

__ADS_1


" Idih kak Dian...." Wajah Natasha merah padam karena malu.


__ADS_2