Childhood Love Story

Childhood Love Story
Lenox dan Wari


__ADS_3

Lenox membanting tas kerjanya dengan geram di sofa kamarnya.


Dilemparkanya tubuh penatnya dikasur empuk tempat tidurnya, matanya terpejam dengan sebelah tanganya terlipat di atas keningnya.


Foto Warinya dipelukan seseorang yang dikirim oleh Denis membuatnya frustasi.



Dia tahu cowok itu adalah Janu, kakak sepupu Rangga. Tapi setahu Lenox Wari dan Janu tidak sedekat itu, baik dulu ataupun sekarang.


" Brengsek!!!" Lenox segera beranjak bangkit dan menuju kamar mandi.


Bruak!!


Hempasan keras pintu yang tertutup membuat getaran suara yang sangat kencang.


Professor Maha Dafran yang melintas di depan kamar Lenox begitu terkejut sampai-sampai pria baya itu mengusap dadanya.


" Kenapa anak itu?, kumat lagi kah?"


Professor Maha Dafran sangat kenal betul betapa temperamental seorang Lenox. Dan ditangan Aralah singa gila itu tunduk dan patuh.


" Yah, Lenox mau kerumah Ara bentar!" Pamit Lenox sambil berlari ke arah garasi.


" Tunggu, jangan menyetir sendiri jika perasaanmu kurang baik " Nasihat Ayahnya.


" Ha..ha.., memangnya Lenox ini pria apaan yang harus pakai supir, nggak akan" Sahut Lenox.


" Tapi nak...."


" Lenox oke yah!, Lenox baik-baik saja. Tenang yah...." Lanjut Lenox lagi.


Mobil Lenox berjalan begitu lambat menuju rumah Ara. Sepanjang jalan fikiranya terisi penuh oleh Prameswari Mutiara Kalani, gadis yatim piatu yang dibesarkan oleh nenek Ara di panti asuhan Casablanca.


Gadis periang, imut, cantik, lucu dan kepolosannya yang membuat Lenox sedikit-sedikit mampu mengeluarkan nama Ara dari hatinya walaupun tak sepenuhnya.


Wari adalah obatnya saat terpuruk atas penolakan Ara. Wari juga adalah candunya saat tubuhnya sakaw akibat bekas-bekas kenakalanya dahulu.


Lenox adalah si bejat yang belajar insaf sejak bertemu dengan gadis berjilbab seangkatannya di SMU Bhakti hampir sepuluh tahun yang lalu.


Gadis yang menolak cintanya secara terang-terangan. Gadis yang pernah dilecehkan dengan kejam. Tapi bukan Ara namanya yang memendam dendam.


Permintaan maaf Lenox yang tulus membuahkan tawaran persahabatan yang indah, antara dirinya dan Ara sampai saat ini.


Kepada Aralah Lenox bisa berkeluh kesah. Kepada Aralah Lenox selalu mengadukan semua masalah yang menghimpitnya.


Hanya satu orang yang dipercaya Lenox diatas siapapun juga, dan itu adalah Ara sahabatnya.


Kata orang persahabatan laki-laki dan perempuan itu nonsense!!, tapi buktinya mereka bisa sama-sama menjalaninya dengan benar.


Bohong jika Lenox bisa benar-benar mengeluarkan Ara secara utuh, karena akar cinta yang sudah menjalar dan mendarah daging tak akan bisa benar-benar dicabut.


Tapi asalkan persahabatan mereka tidak rusak dan Ara tidak menjauhinya, Lenox mampu dan sangat mahir menyimpan semuanya di dasar hatinya.


Lenox langsung menuju pintu samping seperti biasanya.


" Assalamualaikum..."


" Almeer ganteng, om Nox coming...." Serunya dengan melangkah masuk begitu saja.

__ADS_1


" Waalaikumsalam, darimana?" Tanya Rangga yang duduk bersila di karpet dengan memangku laptopnya, sementara Almeer merambat-rambat ditubuhnya.


" Dari rumah..." Jawab Lenox singkat.


Brugh!!, dihempaskanya tubuhnya begitu saja di sofa, tak jauh dari Rangga. Tanganya lihai mengangkat Almeer yang merangkak mendekatinya.


" Mau gendong om Nox hemmm? sini..sini..." Diangkatnya Almeer lalu didudukan dipangkuanya.


Almeer terus saja menarik-narik kerah baju Lenox, berusaha menarik perhatian Lenox padanya. Karena sejak datang Lenox terlihat banyak diam, ini sangat langka. Karena biasanya Lenox akan terus ngoceh sampai benar-benar dia capek. Almeer menatap mata om Noxnya dengan mata bulatnya yang imut, seolah-olah mencari alasan kenapa omnya begitu diam hari ini.


" Kenapa menatap om Nox begitu.., hemmm?" Lenox menggesekkan hidungnya pada hidung Almeer pelan.


" Kamu sudah makan?" Tanya Rangga.


" Belum.." Jawab Lenox singkat.


Rangga mengamati wajah mantan rivalnya itu dengan serius.


Kenapa dia...


Sepertinya ada yang tidak baik-baik saja..


" Gue keatas dulu kalau begitu, ada yang mau lo bicarakan secara pribadi dengan Lili kan?" Ucap Rangga paham, dan segera menutup laptopnya.


Lenox menghembuskannya nafasnya berat, mengusap kasar wajahnya dengan geram.


" Nggak usah, lo juga boleh denger cerita gue.." Sambar Lenox.


" Ya udah, mending lo makan dulu lah.... Lili masih memberi Asi pada Meera. Biar aku panggilkan." Ucap Rangga lagi.


Lagi-lagi Lenox menghembuskan nafasnya kasar dan langsung berdiri, setelah Almeer berpindah dalam gendongan Rangga yang kini berjalan menuju tangga.



" Pusing..." Jawabnya singkat.


" Lo nggak punya paracetamol?, gue ada nih..." Sahut Ara dengan tersenyum kecil.


" Ck...pusing gue ini nggak ada obatnya tau!!" Sambar Lenox kesal.


" Dihhhh, takut gue.... Pulang sana aja gih!!, ntar ada apa-apa sama lo kami pula disalahin..."


" Ck...nggak peka amat kamu.." Lenox mentoyor kening Ara begitu saja dan menuju meja makan.


Apapun itu asalkan masakan Ara, akan dilahapya. Padahal kalau dirumahnya sendiri Lenox suka cerewet, nggak mau ini, nggak mau itu.


Ara duduk di depanya, terhalang meja makan. Istri Rangga Bayu Wijaya itu terus menatap Lenox yang terlihat memiliki beban pikiran yang berat.


" Sepertinya masalahmu berat..." Ara membuka suaranya setelah mereka terdiam lama, karena Lenox sedang makan.


" Kurasa juga begitu..." Lenox mengangguk setuju.


" Ayahmu lagi?" Tebak Ara.


" Bukan, tapi Wari...." Lenox, meneguk habis air putih yang disodorkan oleh Ara.


" Wari? Kenapa anak itu..." Ara semakin memajukan tubuhnya


" Dia selingkuh..."

__ADS_1


" Hahhh!!!. Nggak mungkin lah.." Seru Ara dengan suara meninggi, Rangga yang baru menuruni tangga setelah menidurkan Almeer segera berlari ke ruang makan.


" Iya, dengan kak Janu!!, si brengsek itu hobbynya mendekati cewek yang sudah termiliki orang lain.." Ucapnya berapi-api.


" Kakak gue nggak begitu!, ya...emang dia pernah salah. Karena dia juga nggak tahu waktu itu Hana sudah menikah!" Sambar Rangga yang berdiri di belakang Lenox saat ini.


" Dan gue yakin kak Janu nggak ada niatan rebut Wari....tapi?"


" Memangnya kenapa kamu begitu risau, kamu kan cuma pacar Wari, bukan suami ini..." Lanjut Rangga, tanganya memundurkan kursi di samping Lenox dan duduk disana.


" Meski begitu dia pacar gue, kak Janupun tahu, masa iya mereka pelukan begini..." Lenox menyerahkan ponselnya, membuka chatnya dengan Denis yang begitu banyak mengirimkan foto keakraban Wari dan Janu.


" Ckck...Lenox!! Yang kayak gini mah biasa disana, yang lebih dari ini juga banyak, gitu aja kok repot.." Rangga menyerahkan ponsel Lenox pada Ara yang juga ikut penasaran.


" Yang kaya gini biasa katamu Bi?, jadi kamu juga biasa beginian dulu saat masih disana?" Ara melotot mengintimidasi Rangga.


" Ya nggak sayang..., kasus kakak beda. Kakak berangkat kesana dengan status beristri..., kakak tau juga lah batasanya seperti apa..." Jawab Rangga, tanganya menjulur mengambil jemari Ara dan mengecupinya.


" Gue berencana ambil cuti dua minggu, gue harus susulin Wari" Keputusan Lenox.


" Yeah, that's good idea.., lo akan bisa tahu seperti apa kebenarannya.. Tapi gue yakin seratus persen kak Janu nggak serendah itu..." Rangga mengangguk setuju.


" Udah malam, gue sama Ara mau istirahat. Kalo lo mau tidur sini, kunciin pintu sekalian, lampu juga matiin..." Ucap Rangga santai sambil menarik tangan Ara untuk mengikutinya ke lantai dua rumah mereka.


...***...


Kalau Ara saat ini sedang berhadapan dengan pelakor yang ingin merebut suaminya, Hanum justru sedang dituding dan dilabrak Sekar sebagai pelakor.


Sekar yang entah darimana mengetahu bahwa Raya telah menikah dengan Hanum langsung berangkat ke Jakarta.


Tentu saja rumah yang ditujunya adalah rumah keluarga Athaya.


" Kenapa paman dan bibi membiarkan Rayya menikah, bukankah paman dan bibi sudah berjanji akan menikahkan Rayya dengan Sekar!" Ucapnya dengan marah.


" Paman dan bibi tidak bisa memaksanya nak, Rayyan sudah dewasa, dia mempunyai keputusan sendiri".


Dia menolak dan tidak mau menikahimu. Disini bukan Rayyan yang salah, tapi kami. Kesepakatan ini kami buat hanya antara paman bibi dan orang tuamu Sekar. Rayyan tidak tahu apa-apa" Ayah berusaha memberikan penjelasan.


Sekar akan kembali membuka mulutnya saat suara halus dan merdu muncul dari pintu samping.


" Assalamualaikum ayah bunda.." Hanum muncul dengan rantangan ditanganya.


Hanum datang sendiri, karena jam segini Rayyan Athaya masih berada di kantor. Dan juga, diapun baru saja dari sana, mengantarkan makan siang suaminya.


Sekar menatap penuh selidik pada wanita anggun yang sedang menciumi takzim tangan paman dan bibinya.


" Tunggu dulu, kau tadi memanggil paman dan bibiku apa?, ayah bunda?, Hei!! Jangan-jangan kamu pelakor yang udah rebut Rayya dari gue!!"


Hanum menatap mata kedua mertuanya seolah bertanya siapa gerangan tamu mereka ini.


" Hanum bukan pelakor, Hanum adalah istri sahnya Rayyan Athaya." Ucap papa dingin dan tegas.


" Halah!!, apalagi namanya kalau bukan pelakor, dia merebut calon suami orang." Teriak Sekar geram.


" Begitu ya?, kak Rayyan itu baru calon kan?, belum jadi suami kamu juga kan?" Ucap Hanum santai.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


__ADS_1


Yuk kepoin yuk....


Cerita tentang Sunny putra Marvel dan Dian bersama Shanum putrinya Vino dan Vera...


__ADS_2