Childhood Love Story

Childhood Love Story
Keputusan Rangga.


__ADS_3

" Ada apa ini?" Ardi yang mendapatkan ijin pulang untuk mengikuti ujian semesteran terkejut mendapati suasana yang tegang di ruang keluarga. Harusnya dia pulang dua hari yang akan datang.


Tapi karena melihat status Azura yang memperlihatkan Bianca dengan kompres dikepalanya maka dia pulang awal.


Sejatinya dia ingin memberi kejutan, tapi justru dia yang terkejut mendapati keadaan yang seperti ini.


Matanya tak berkedip saat menatap keadaan Ara yang mengenaskan.


" Beb...kau kenapa? ini...itu...ka.. karena apa?, kenapa begini HAH...kenapa ini?, ada yang bisa JELASKAN INI!!!" Teriaknya panik.


Jantung Ardi rasanya bagai ditusuk-tusuk duri saat melihat pelipis Ara lecet hampir sampai ke mata. Dari tangan ke siku lebam dan luka lecet yang panjang, pun di kedua lutut ke kakinya. Satu kata yang tepat 'mengenaskan'.


Naluri saudara kembar memang kuat, bahkan sejak dipesawat perasaan Ardi sudah tidak menentu, ada dorongan kuat ingin segera pulang.


Awalnya dia berfikir kegelisahan yang dirasakanya karena rindunya pada Bianca, tapi ternyata ada di Ara permasalahannya.


Rangga makin tak tau harus berkata apa. Tenggorokan nya seret, bahkan untuk menelan ludahnya sendiri saja sulit. Kicep tak berdaya.


Rangga sangat mengingat ancaman Ardi kalau sampai Ara menjatuhkan air mata dan apa konsekuensi baginya.


Ardi melihat Rangga yang berderai air mata disamping Lili sambil bersimpuh langsung konek dengan apa yang terjadi.


" Kau!!, kau...apa yang kau----" Ardi mengayunkan kepalan tinjunya ke arah Rangga, tapi..


" Mas....Bianca mengigau mencarimu.., tolong temui Bianca dulu...,aku mohon...." Azura segera meraih ujung jaket Ardi dan menariknya menjauh dari sana.


Papa Syakieb tersenyum tipis, sangat tipis bahkan tak ada yang menyadari senyumnya, melihat bagaimana Azura cekatan mengambil tindakan sebelum terjadi peperangan.


Azura sengaja, karena dia kasihan dengan keadaan mereka semua, dan gadis itu berusaha menghalangi sesuatu yang buruk terjadi.


" Mas tolong jangan mempersulit keadaan kak Rangga, biar saja dia menyelesaikan sendiri masalahnya, om pasti bisa menyelesaikan ini dengan baik.."Ucapnya saat mereka berjalan ke kamar Bianca.


" Masalah Lili juga masalahku Zu..." Ucap Ardi dingin dan datar.


" Sampai kapan itu?, sekarang Lili itu haknya kak Rangga, Lili istrinya, mereka punya rumah tangga sendiri..." Sahut Azura.


" Kau membela Rangga??, kau siapa berani membela Rangga HAH..." Geram Ardi.


" Aku...,aku... bukan siapa-siapa..., maaf..." Ucap Azura menunduk.


Ardi melirik Azura yang menunduk dalam, sekilas terlihat ada yang mengkilat di sudut matanya, ya...Ardi meyakini itu adalah air mata. Ada sesal yang luar biasa di dalam hatinya karena membentak Azura.


Bahkan apa sebenarnya yang terjadi saja dia belum tau.


Ardi menarik nafasnya dalam-dalam.

__ADS_1


" Maaf Zu..., akau lepas kontrol" Ucapnya penuh penyesalan.


Sementara itu papa sengaja membawa daddy Hen dan Rangga untuk bicara di ruang kerja.


Mereka duduk di sofa, Rangga dan papa duduk berhadapan, sedangkan daddy Hen duduk sendiri di sofa singel.


" Rangga, papa harap kamu mengerti maksud papa, berubahlan menjadi lebih baik, dan jadilah suami yang bertanggung-jawab..."


Rangga menunduk tak berdaya, kata-kata harus berpisah yang didengar telinganya dari mulut mertuanya sungguh membuat semua inderanya lumpuh seketika.


" Lelaki sejati tidak akan pernah membiarkan air mata wanita yang dicintainya jatuh nak, hari ini kamu membuktikan kamu bukan lelaki sejati, kamu sudah membuat mommy mu kecewa, mama mertuamu bersedih dan istrimu terluka..." Papa Syakieb menatap Rangga yang tertunduk, semarah-marahnya beliau, Rangga adalah putra sahabatnya.


" Hen, tolong beri penjelasan pada putramu. Bahwa aku tidak pernah sekalipun membencinya, aku hanya ingin mendidiknya menjadi menantuku yang tangguh. Dimana kelak aku bisa menitipkan putriku dengan tenang padanya..." Saat ini papa Syakieb berusaha menahan emosinya, kedua matanya berkilat-kilat menahan air matanya.


" Apa kamu tau Rangga, Lili dan Ardi..mereka dulu bayi kembar dempet. Bahkan mereka terlahir prematur. Mereka sudah tersiksa sejak dalam kandungan, Ardi yang lemah fisik, dan Ara yang sulit berkembang, membuat mama mertuamu sempat stres dan mengalami babby blues syndrome.


Karena sangat inginnya kami memiliki seorang putri, mama mertuamu memaksakan diri untuk mempertahankan mereka. Kedempetan mereka pada punggung kebawah yang menyatu, kami mengusahakan pemisahan mereka hingga berbulan-bulan di Amerika.." Papa Syakieb menerawang jauh ke masa lalu. Air matanya bercucuran.


Papa menceritakan bagaimana sulitnya mendapatkan donor kulit untuk pemisahan mereka, dan bagaimana akhirnya satu dari anak kembarnya hanya memiliki satu ginjal saja dan itu Ara.


Rangga menangis mendengarnya, akhirnya dia tahu kenapa Ara sangat dilindungi dan dijaga dengan baik.


Rangga merasa kecil dan tidak berarti apa-apa.


Dia sangat malu pada dirinya sendiri, selama ini yang difikirkan hanya kesenangannya sendiri, yang dijunjung tinggi hanya cintanya semata, cinta anak muda.


Ya, semua orang pasti paham pola pikir anak usia belasan sepertinya. Tapi Rangga terlanjur hancur, penyesalanya terlalu dalam, dan Rangga menyadari sesuatu..


Selama Ara bersamanya yang ada hanya air mata. Dia tak cukup mampu membuat Ara bahagia seperti versinya.


" Baiklah pa.., Rangga setuju. Rangga akan meninggalkan Ara untuk menjadi lebih baik lagi, dan Rangga akan buktikan pada papa..., Rangga lah yang pantas menjadi menantu papa..." Ucap Rangga dengan memejamkan matanya yang berderai air mata.


Sangat berat mengambil keputusan ini, tapi ini memang yang terbaik, dengan begini Ara tidak akan lagi bersedih karena sikapnya.


Ara juga tidak akan ketakutan karena pemaksaan nya.


Ara tidak lagi menangis karena tersakiti perasaannya.


" Son..., fikirkan ini baik-baik.... Bicarakanlah ini dengan Lili, jangan membuat keputusan sendiri.." Ucap Daddy Hen.


" Ini sudah yang terbaik Dad..., Rangga akan kembali setelah menjadi Rangga yang bertanggungjawab, Rangga seorang lelaki sejati, Rangga yang seperti papa harapkan.., dan saat itu tiba Rangga akan menjemput Lili kembali, Rangga berjanji." Lanjutnya.


" Son..teruslah belajar dan pahami tentang kehidupan. Jadilah lelaki yang baik dan bertanggungjawab. Jangan khawatirkan dengan masa depanmu kelak, lakukanlah apa saja yang menurut mu baik, teruslah berikhtiar dan berdoa kepada Allah..." Pesan daddy.


"Betul nak, karena hidup ini terlalu berat untuk mengandalkan diri sendiri tanpa melibatkan Allah sebagai sandaran mu.

__ADS_1


Nak ingatlah, dalam hidup ini selalu ada suatu hal yang harus dipilih. Pilihanmu meninggalkan Lili saat ini mungkin sangat berat buatmu, tapi ingatlah seberat apapun itu, semua itu tidak akan melebihi batas kemampuanmu"


Daddy memeluk putranya yang bergetar karena tangisnya.


" Tenang son, jalan yang panjang masih membentang di depanmu. Kamu akan menemukan kesulitan-kesulitan yang tidak kamu sangka sebelumnya, satu kata saja 'Jangan Menyerah', dan teruslah berpegang pada Imanmu son.."


Tok..tok..tok..


" Om...boleh Brian masuk..." Suara Brian menghentikan pembicaraan super melow dan menguras air mata tiga pria itu.


" Masuklah..." Ucap papa Syakieb.


Brianpun masuk dengan masih mengenakan baju dinasnya.


Brian langsung meletakkan laptopnya di meja sofa dan membukanya.


" Brian dan tim, menemukan bukti baru om..."


Tanganya sigap mengotak-atik laptop tersebut dan memutar sebuah video yang membuat semua mata disana terbelalak.


" Kejadian penyerempetan princess bukan kecelakaan om, tapi ini disengaja.." Ucap Brian dengan kedua tangan yang terkepal sempurna.


" Siapa lagi ?, kenapa selalu putriku ?, apa salahnya?, Astaghfirullah...." Papa Syakieb menutup matanya.


Sesak, dada papa Syakieb sangat sesak.


Pelaku penyebaran foto Ara saja sampai saat ini belum ketemu, dan sekarang ada lagi orang yang ingin mencelakai putrinya.


"Ini tidak bisa begini terus, aku akan mengirimnya ke pesantren semester genap ini" Desahnya kalut.


" Itu bukan jalan keluar yang tepat Kieb, kita selidiki dulu siapa dibalik semua ini Kieb, bisa jadi mereka dari lawan bisnis kita.., kita cari akarnya dulu, jangan buahnya yang kita petik, belum tentu juga Lili setuju, sing sabar Kieb ojo grusa-grusu..." Daddy Hen mengusap punggung papa Syakieb yang tertunduk pilu.


" Iya om, tim Brian masih berusaha melacak nomor kendaraan pelaku. Bisa jadi dia saksi kuncinya om.., kita masih bisa berusaha memecah ini semua.." Ucap Brian dengan tenang.


Karena malam semakin larut dan sudah mendekati dini hari, mereka melanjutkan untuk membicarakan masalah ini besok pagi dengan seluruh keluarga besar.


Papa Hen dan mommy Tara akhirnya menginap di sini.


Ceklek...


Rangga perlahan-lahan memasuki kamar dengan dada yang bergemuruh hebat.


Baru siang tadi kebahagian yang meluap terjadi, dimana Ara menunjukkan cintanya yang besar padanya.


Ara yang selalu malu-malu siang tadi terlihat agresif padanya, bahkan tak henti-hentinya dia bermanja padanya. Dan apakah itu adalah pertanda??

__ADS_1


Pertanda perpisahan mereka??


Bersambung....


__ADS_2