Childhood Love Story

Childhood Love Story
5 Tahun Kemudian..


__ADS_3

5 Tahun Kemudian.


Hari ini, hari dimana telah di agendakan untuk para genk somplak berkumpul kembali.


Bisa atau tidak bisa mereka wajib berkumpul.


Telah banyak yang berubah dalam kurun waktu yang cukup lama itu. Kehidupan berjalan sebagaimana yang telah digariskan.


Semua mengikuti arusnya, semua bergerak sesuai kapasitasnya.


Begitupula hubungan dua insan yang terpisah jarak dan waktu, semuanya terasa hambar, peperangan dan egoisme diantara mereka tak kunjung menemui ujungnya.


Rangga yang sangat tahu bagaimana keras kepalanya sifat Ara hanya bisa pasrah saat gadis itu memutuskan untuk saling jaga jarak.


Bagaimana tidak jaga jarak, setiap mereka berkomunikasi selalu ujung-ujungnya pertengkaran dan pertengkaran.


Semua itu jelas ada pemicunya. Ya, pemicunya adalah janji Rangga yang tidak terealisasikan.


Dua setengah tahun lalu, tepatnya saat Ara lulus SMU. Bukankah Rangga berjanji akan pulang?


Tapi nyatanya Rangga tidak datang sampai hari ini.


" Beb..., gue yang antar ke Birdman cafe atau gimana?" Tanya Ardi yang menjemput Ara di kelasnya.


Ya, Ardi telah mendapatkan ingatanya tepat sebelum Azura menerima pinangan paman Syahril untuk putranya Brian.( ceritanya nyusul)


" Aku berangkat sendiri saja bang, ada janji sama Lenox juga sebelum kesana, untuk nyelesain tugas kami..." Ucap Ara.


Ardi, Ara dan Lenox satu kampus, tetapi mereka beda fakultas.


Awalnya Lenox berencana kuliah di Singapura bersama ayahnya, tapi saat tahu Ara mengambil jurusan kedokteran yang sama denganya, maka Lenox langsung mengintil kemanapun langkah Ara.


Ardi akhirnya mengikuti jejak Adnan karena papa memutuskan pensiun untuk membantu merawat kakek yang mengalami stroke beberapa tahun lalu.


Ardi menatap Ara yang terlihat berulang kali menghembuskan nafasnya.


" Apa dia datang?" Tanya Ardi dengan merangkul pundak adik kembanya yang terlihat cemas.


" Iya..., dia bilang di group dua hari lalu, saat berada di bandara Boston" Jawab Ara. Ada getaran dalam suaranya yang lirih.


" Jadi???, gimana??" Tanya Ardi ikut bingung.


" Ntah lah bang..., Lili bingung.." Ara menunduk menatap lantai sepanjang lorong yang mereka lalui.


" Tapi kalian masih suami istri...."


" Suami istri???, siapa yang tahu bang?Bahkan untuk datang di hari pesta pernikahan kamipun dia tidak..." Ara tersenyum kecut, wajahnya penuh kekecewaan.


Mengingat betapa hebohnya mommy dan daddy mempersiapkan pesta pernikahan untuk putra tunggalnya dua setengah tahun yang lalu.


Tapi semua hancur setelah kabar dari Rangga memberitahukan bahwa dirinya tak bisa pulang karena ada program yang sedang di jalankanya. Dan tidak memungkinkan untuk dia meninggalkan nya ataupun mewakilkan nya kepada siapapun.


Dan mulai hari itu juga, papa Syakieb menjemput kembali Ara untuk kembali tinggal di rumah mereka.


Jelas itu membuat daddy dan mommy kecewa.


Tapi Ara tetap meyakinkan mereka, bahwa Ara akan rajin mengunjungi mereka, dan akan tetap menjadi Lili, anak perempuan mereka.


...***...


Birdman Cafe.


Ara datang bersama Lenox, karena kebetulan mereka ada project yang sama.


Rasa bedebar menyerang jantung Ara tiba-tiba. Gadis itu berulang kali meraba pipinya yang terasa panas.


" Ara...." Teriak Natasya yang baru turun dari mobilnya bersama seorang cowok tampan yang tinggi dan terlihat berwajah asing, atau biasa kita sebut bule.


Mereka saling berpelukan meleburkan rasa rindu mereka, dua tahun setengah mereka tidak saling menyapa.


Tepukan lembut di pundak keduanya mengagetkan mereka.


Vera berdiri dengan senyum centilnya, merentangkan tangannya, agar kedua sahabatnya itu masuk kepelukanya.


Suasana haru kental menyelimuti pertemuan antara Vera dan Natasya.


Ara memberikan waktu untuk keduanya saling menangis melupakan rindu.


Tak jauh dari mereka Vino berdiri menggedong balita laki-laki dan menggandeng seorang anak perempuan.


Ara tersenyum dan mendekati Vino.


" Mereka akan lama bernostalgia kak, kita masuk dulu yuk..."Ucap Ara dan meraih balita ditangan Vino.


" Saga gendong mommy yuk..."


Dengan tersenyum lucu balita itu langsung meraih uluran tangan Ara.


Anak-anak Vino dan Vera, keduanya memanggil Ara mommy. Karena terlalu seringnya Ara menghabiskan waktunya di rumah mereka, selama ini.


Dan juga sikap Ara yang memang keibuan membuat mereka nyaman.


Mereka berlima dengan Lenox memasuki Bridman cafe beriringan.


Di sebuah meja bundar yang sangat besar, disana telah duduk seorang yang sangat mereka kenali.


__ADS_1


" Assalamualaikum kak Rayyan, sudah lama?" Sapa Ara ramah.


" Belum Ra, baru saja.... Duduk sini Ra, Saga sama om yuk.." Rayya menggeser duduknya dan mencoba meraih Saga tapi balita itu menolak.


Ara duduk disamping Rayya, dan Lenoxpun duduk disampingnya.


" Hana mana Ra?" Tanya Natasya yang telah ikut menyusul masuk bersama Vera dan pria datang bersamanya tadi.


" Hana dan bang Adnan menyusul, mereka menghadiri acara di rumah Hanum.."


Degh!!!


Jatung Rayya serasa ingin meloncat saat mendengar nama yang tersimpan rapi dihatinya itu disebut.


" Huffft..." Rayya menghembuskan nafasnya.


Ara yang paham hanya bisa menepuk pundak Rayya pelan.


" Ahh, iya... Kenalkan ini Lucas, sepupu gue.." Natasya memperkenalkan bule tadi pada sahabatnya.


Dan memang Lucas yang bawaanya ramah mereka pun cepat akrab.


Saga merengek ingin bermain tetapi Vino sedang menerima telpon dan Verapun terlihat kerepotan mengurus putrinya.


" Biar sama aku aja.." Ucap Lenox.


Saga yang memang juga telah sering berinteraksi dengan Lenoxpun mengangguk mau dan digendong Lenox ke arena bermain.


Natasya sedang asyik mengobrol dengan Vera dan Ara saat seorang pria muda berkharisma dengan pakaian kerja rapi berlarian ke meja mereka.


" Sorry guys.., apa gue terlambat??"


Natasya dan pria yang ternyata adalah Denis ini saling pandang.


Beberapa saat mata mereka saling tatap.


" Ekhemm..." Rayya berdehem dengan senyumnya yang manis.


Membuat keduanya blingsatan tak karuan.


" A..a...apa Rangga sudah tiba?" Ucapnya terbata-bata.


" Belum..." Jawab Vino. Karena baik Vera, Rayya dan Ara sendiri tak ada yang menjawab.


Mereka sudah mengetahui bagaimana keadaan hubungan Rangga dan Ara saat ini.


Denis duduk tepat di depan Natasya, matanya terus menatap Natasya intens.



Mereka tenggelam dalam obrolan yang seru saat pria tinggi tegap dan berambut gondrong mendekati meja mereka.


Ada rasa sesak yang *******-***** hatinya, saat kembali bisa melihat secara langsung wajah cantik yang kini terlihat lebih dewasa.


Senyumnya tetap sama, terkembang indah.


Ada air mata yang mulai menggenang dimatanya. Dengan susah payah Rangga berusaha mengontrol hatinya saat ini.


Jika hubungan mereka menjadi kacau seperti ini, itu adalah salahnya.


Jika dia harus menanggung rasa sakit yang mematikan seperti ini, itu juga adalah karena ulahnya.


" Huhhhhh" Rangga berusaha memantapkan langkahnya untuk mendekati meja itu.


" Assalamu'alaikum...."


Ara mengangkat wajahnya kearah suara yang sungguh-sungguh dirinduinya bertahun-tahun ini.


Dag..dug..dag..du..dag..dug...


Jantungnya berdetak tak terkendali,


Mata mereka saling tatap untuk beberapa saat, tapi saat dirasa air matanya mulai ingin keluar Ara segera membuang pandangan ke arah lain.


Dan tindakan itu semakin membuat Rangga meremas jantungnya.


" Kak apa kabar?" Natasya segera berdiri memeluk Rangga. Disusul Vera dan sahabat Rangga yang lain.


Rangga tak membuang tatapannya pada Ara sama sekali. Sementara gadis itu hanya diam membisu sambil mengutak atik ponselnya.


Sekedar menyapa pun tidak.


Rangga mencoba mengalah untuk menyapanya.


" Sa...emm, Li.., apa kabar?"


" Alhamdulillah " jawabnya tanpa mengalihkan perhatiannya pada ponselnya.


Rangga mengambil tempat duduk disamping Denis. Karena untuk duduk disamping Ara yang kosong dia belum ada nyali.


Lenox kembali dengan Saga yang tertawa-tawa di gendonganya.


Rangga menatap Lenox sekilas lalu kembali menatap Ara.


Ada Lenox disini??


Vino hendak berdiri untuk mengambil alih putranya tapi Saga malah melengkungkan tubuhnya ke arah Ara.

__ADS_1


" Mommy... , men..men.." Balita itu menunjukkan permen ditangannya pada Ara"


Duaaarrrrrr!!!!!


Rangga mematung di tempatnya.


Mommy???


Anak itu???


Memanggilnya apa....


" Lenox!!, kau itu selalu memberinya permen. Gigi Saga semakin rusak nanti" Ara berdiri dan menjewer Lenox.


Deghh


Nyut...


Sedekat inikah mereka??


" Ver, mau diapain dia ini??" Tanya Ara pada Vera.


Sementara Vera dan Vino hanya tertawa melihatnya. Kuping Lenox selalu jadi sasaran amukan Ara dan mereka sudah sangat paham itu, kecuali Rangga.


Rangga tak mampu berfikir apa-apa lagi.


Apalagi di tambah Lenox yang dengan santainya duduk disamping Ara.


Hanya Tuhan yang tahu bagaimana suasana hati Rangga saat ini.


Rasanya hanya ingin menendang dan mencekik pria yang terus-terusan tertawa bahagia bersama Ara itu. Apalagi Saga si bocah kecil itu berulangkali membuat Lenox dan Ara saling menciptakan interaksi harmonis.


Denis yang memang memiliki Intuisisi luar biasa langsung paham.


" Jadi bagaimana kuliahmu Bro?" Tanya Denis.


" Beres.." Jawab Rangga dengan masih terus mencuri-curi pandang pada Ara.


" Dia baik-baik saja, berterima kasihlah pada yang disebelah nya itu.


Dia menjaganya dengan benar" Bisik Denis.


" Begitukah? Anak itu?" Bisik Rangga dengan dagunya menunjuk pada Saga.


" Dia Saga, putra Vino. Sebegitu sibuknya kamu bro, sampai-sampai tidak melihat status teman-temanmu hemmm?"


Rangga terpaku. Dia baru ingat wajah balita itu ada di profil chat Vino.


" Alhamdulilah..." Ucap Rangga penuh kelegaan.


" Aku rasa kau terlalu overthinking dari tadi, bicaralah dengannya bro.... Mungkin hubungan kalian masih bisa dibenahi.."


" Aku takut Den, aku terlalu banyak menyakitinya..."


" Cobalah..., perbaiki semua selagi bisa, sebelum kau menyesal sepertiku.." ucap Denis sendu dengan mata yang melirik Natasya.


" Entahlah..." Rangga mengusap pelan wajahnya. Saat wajahnya terangkat, mata indah yang dirinduinya juga tengah menatapnya.


" Hai..., maaf kami baru sampai.."


Suara Hana memutuskan tatapan keduanya.


" Apa kabar?" Tanya Adnan saat menjabat tangan Rangga.


" Alhamdulilah kak, seperti yang terlihat" Jawab Rangga.


Vino berdiri dan meminta Saga pada Ara.


" Siniin Ra, kamu pasti capek.."


Ara beringsut berdiri, mengerahkan Saga pada Vino, tetapi tetap tak sampai karena Denis ada disamping Rayya.


Dan akhirnya Rayya dan Denis mundur, Arapun sedikit maju, Rangga menatap wajah cantik di depannya ini.


Semakin cantik, semakin dewasa dan sangat keibuan.


Ujung phasmina Ara sedikit menyentuh wajah Rangga membuatnya terpejam menghirup wangi yang dirinduinya.


Dia istriku...


Dia masih istriku...


Dia Liliku...


Sampai kapanpun...


" Lili...bisa kita bicara?" Suara Rangga begitu mengagetkan semua.


" B..b...bica...ra..?" Ara seperti tersambar petir saat ini.


Takut...


Takut Rangga akan memutuskan mengakhiri ini.


Cemas...


Cemas tak tau harus bagaimana menghadapi Rangga.

__ADS_1


Gelisah...Canggung..dan Bingung.


__ADS_2