
---Happy Reading---
Pagi jam 06.15 am, sekeluarga luna sudah berdiri didekat pintu masuk pesawat didalam gedung bandara.
Sebentar lagi keberangkatan adam dan kakek alex ke negara A. Dan sekarang aluna sedang berfoto ria bersama pria kesayangannya dan kecintaannya difotograferi oleh aksa, abangnya sendiri.
Sudah 20 kali lamanya aluna menggandeng adam untuk bergaya dihadapan kamera sampai tidak memikirkan perasaan orang yang sudah memotretnya.
"Wah bagus ini, tapi masa tubuh luna terlihat pendek banget sih bang. Gak niat ya?" tanya luna membuat aksa mendelik kesal saat foto yang ia dapatkan tidak direspon dengan tulus oleh adiknya.
"Kamu benar benar, bisa membuat orang kesal denganmu ya, lun?" tanyanya dengan perasaan gondok.
Aluna menyengir dan menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal. "Maaf abang."
"Maaf maaaf, bukannya bilang terima kasih malah gak tau diri kamu." kesal aksa lalu duduk disamping mamanya yang sedari tadi hanya mendengar dan memperhatikan papanya berbicara bisnis dengan kakek alex.
Ah iya ngomongin kakek alex, beliau sudah meminta maaf kepala aksa karena ucapannya yang mengatakan dirinya adalah orang lain yang tidak boleh membantu masalah keluarga mereka.
Aluna juga baru tau abangnya pernah sekali dibentak oleh kakek alex saat mereka semua pulang kemari dan mengatakan kalimat seperti itu.
"Yaudah abang mau foto berdua sama adam?"
"Maulah! Masa gak mau, enak aja kamu doang yang foto bareng pria yampan satu ini setelah abang." gerutunya lalu merangkul adam dengan santai.
"Ayo dam, foto yang keren buat kenang kenangan."
Adampun langsung merangkul kembali aksa dengan erat seperti yang aksa lakukan terhadapnya. "Ayo, ambil yang bagus lun." pintanya dan luna mengangguk dan tersenyum.
"Baiklah, abang gaya sebanyak banyaknya. Satu dua tiga..." ujar luna tak terasa foto yang diambilnya sudah sangat banyak kemungkinan data dalam ponsel sudah kepenuhan.
"Penerbangan menuju negara A akan segera berangkat.."
"Adam, pesawat akan segera berangkat ayo kita masuk segera!" panggil kakek alex yang sudah siap dengan barang disamping kirinya.
Adam mengangguk lalu ia memeluk gadisnya dengan erat seakan akan ini bukanlah perpisahan terakhirnya. "Jangan nakal, dan jangan lupakan aku." ujar luna.
Adam tertawa kecil, "aku tidak akan nakal harusnya kamu yang disini jangan nakal, jangan mau dideketin sama pria manapun yang mendekatimu. Tunggu aku, aku akan kembali."
"Ayo adam! Buruan!" teriak kakek yang sudah merasa pegal berdiri karena menunggu sepasang kekasih ini.
"Iya kek, aku pamit."
"Dadah! Safe flight, love! I will gonna miss you."
"Me too."
__ADS_1
Adam pun segera menyusul kakeknya setelah sudah berpamitan kepada mama, papa serta aksa teman kecilnya. "Jaga luna ya."
Aksa mengangguk. "Safe flight bro!"
Aluna tersenyum sambil menatap belakang punggung adam serta kakek alex yang sudah menghilang dibalik pintu masuk.
Aluna merasakan tangan mungil mamanya mengelus punggungnya dengan lembut lalu merangkul tubuh mungilnya. "Tenanglah, mereka akan baik baik saja."
Aluna mengangguk lalu membalikkan badannya, melangkah meninggalkan bandara setelah ia mendengar pesawat yang dinaiki adam dan kakek sudah berangkat.
Kutunggu kalian dirumah dan mengajak kakek mika bersama kalian.
Love you, my prince
Sedangkan didalam pesawat, adam yang duduk disamping jendela hanya bisa melihat awan indah disampingnya lalu ia menatap kakeknya yang sudah terlelap karena keleahan berdiri.
Ia tersenyum kemudian ia merapihkan selimut kakeknya sampai menutupi leher agar kakeknya tidak kedinginan.
Balik lagi ia menatap luar jendela cuaca saat ini sangat terang, adam tersenyum mengingat wajah manis gadisnya.
Sampai jumpa kembali keluargaku yang sangat kucintai dan sayangi. Tunggu kami bertiga pulang bersama, love u.
❣❣
Selama sebulan, luna hanya bisa menghubungi adam melewati chat saja karena jika mereka menggunakan telpon nomor adam bisa dilacak oleh orang yang sedang saat ini mengincar nyawanya. Dan sudah sebulan keduanya tidak berkomunikasi lagi.
Aluna merebahkan tubuhnya diatas kasur miliknya dengan nyaman, lalu diambilnya ponsel yang berada dikantung bajunya kemudian dibukanya layar ponsel itu dan ia melihat tidak ada satu notif masuk darinya. Aluna menghela nafas, baru sebulan prianya itu sangat susah dikabari. Bagaimana dengan dua tahun kedepannya?
"Hahh.. Apa kabar dengannya?"
"Apa ia akan menemukan wanita lain disana? dan meninggalkanku yang menunggunya disini?"
Tok! Tok! Tok!
"Masuk." teriaknya dari dalam kamar dan melihat kepala abangnya yang menongol begitu saja seperti hantu tanpa badan. "Ada apa?"
"Abang mau minta pendapat kamu, lun." ujar aksa dengan melangkah mendekat kearah adiknya. Aluna mengernyit dahi, "apa itu?"
"Menurutmu bagaimana, abang melamar rizka saat ini dan menikah dibulan depan?" aluna yang sedang berbaring langsung bangun dan terduduk dihadapan abangnya serta menatap abangnya dnegan serius. "Apa abang sudah yakin?"
Aksa mengangguk. "Sudah karena bulan depan abanng akan wisuda karena abang juga udah selesai skripsinya, jadi menurutmu bagaimana? Apa rizka sudah siap untuk menunjang kehidupan yang lebih serius?"
Aluna mengangkat kedua bahunya. "Luna tidak tau, namun coba saja. Kita lihat jawaban dari rizka, aluna tidak tau karena rizka sangat tertutup orangnya walaupun luna bersahabatan dengannya sejak SMK tapi tetap saja. Hanya abang yang bisa bertanya serius seperti itu, tapi saran luna lebih baik abang lamar langsung orang tuanya baru rizkanya."
"Apa begitu lebih baik?"
__ADS_1
"Bukan lebih baik lagi, namun memudahkan. Jika abang sudha mendapatkan restu dari keluarga rizka abang tidak terlalu kecewa jika ditolak oleh rizka karena abang bisa mendekati keluarganya terlebih dahulu."
Aksa mengangguk lalu mengacak rambut adiknya dengan gemas. "Ternyata adik kecil abang sudah dewasa, makasih ya tuan putri kecil."
"Ih! Jangan diacak rambut luna, nanti kusut." omelnya namun aksa semakin semakin menjaili adiknya dengan membuat rambut luna kusut beneran, walaupun sulit karena rambut adiknya dari kecil sangat lurus dan halus.
"Kau tidak akan kusut rambutnya karena rambutmu lurus dan sangat gampang untuk diatur. Dah, abang akan mempersiapkan waktu untuk segera bertemu dengan keluarga rizka, selamat tidur adik kecil."
"Selamat tidur juga abangku."
Pagi hari luna sudah siap dengan gaunnya, ia hari ini sendiri tidak ada pasangannya karena waktu itu adam yang ingin menemaninya ternyata acaranya diundur dan adam disaat seperti ini tidak bisa menjadi pasangannya yang akan menemaninya disana.
Aluna menghela nafas, "luna kamu pasti bisa, kamu tidak perlu pasangan karena kamu masih bisa sendiri." gumamnya dengan merapihkan sedikit penampilannya tak lama papanya masuk kedalam kamarnya dengan ketukkan dua kali.
Tok! Tok!
"Sayang, apa kamu sudah siap? Wah lihatlah putri siapa ini cantik sekali." ujar papa dengan tatapan terpukau membuat luna malu, "papa bisa aja, ngomong ngomong papa bertanya luna siap kenapa?"
"Sudah ada yang menjemputmu kemari."
"Siapa?" tanya luna dengan mata berharap dan berbinar, papa mendengus dan menggelengkan kepala. "Bukan dia, tapi ada seorang kamu akan tau jika kamu sudah turun."
"Dan jangan buatnya menunggu lama." ujar papa lalu keluar dari kamarnya meninggalkan putrinya yang merasa kecewa berat.
Aluna menepuk kedua pipinya dengan sedang. "Sadarlah lun, dia masih berada disana tidak mungkin datang tiba tiba dan menjemput dirimu."
Aluna melihat penampilannya sekali lagi lalu mengambilan tas tangannya dan keluar dari kamarnya sat merasa penampilannya sudah bagus. Ia menuruni tangga dengan pelan dan melihat tubuh seorang pria yang asing dimatanya saat pria itu menoleh aluna terdiam sebentar karena wajah pria itu sangat mirip dengan..
"Wahh! Ternyata gadis yang dicintai adam sangat cantik layaknya bidadari. Aku cukup iri dengan pria itu." ujar pria itu yang langsung ditertawai oleh papa dan mama. "Aluna sini sayang, kenalin dia yang jadi pasanganmu hari ini menggantikan adam katanya adam sangat sibuk dan tidak bisa ditinggal jadinya ia meminta tolong kepada sepupunya yang bernama Val."
"Perkenalkan namaku Revaldo Bagaskara, sepupu dari Muhammad adam." ucapnya sembari mengulurkan tangan kanannya dan aluna pun langsung membalasnya dengan senyuman. "Salam kenal Valdo."
"Panggil saja Val, agar adam tidak cemburu karena panggilan darimu berbeda kepadaku haha." candanya membuat aluna merasa terhibur sesaat dan sedikit menghilangkan rasa kecewa dalam hatinya. "Kalau begitu berangkat sekarang mau?" tawar val kepada luna, dan dibalas anggukkan olehnya, "tentu saja boleh, ma, pa, aku berangkat dulu ya."
"Ya hati hati ya sayang, val jangan ngebut ya." amanah papa luna kepada val yang dibalas anggukkan. "Iya om, tenang aja, kami berangkat terlebih dahulu."
---Bersambung---
Jangan lupa like ceritaku dan mampir keceritaku yang lain.
Terima kasih..
__ADS_1