
Sepulang sekolah Rangga langsung mencarikan es campur pesanan Ara, dan dengan cepat meluncur pulang ke rumahnya.
Ya, tadi dady dan mommynya membawa serta Ara untuk kembali ke rumah mereka.
Satu gelas es campur telah tersaji di meja makan.
Rangga membawa nya ke atas dengan senyum yang mengembang.
" Sayang, ini udah ada es campurnya..." Ucap Rangga seraya melangkah menuju Ara yang duduk diayunan balkon kamar Rangga.
" Sini kak..." Ara melambaikan tanganya pada Rangga.
" Baca apa?" Tanya Rangga melihat buku yang ada digenggaman Ara.
" Hemmm, rahasia..." Ucapnya dengan menyembunyikan buku di balik punggungnya, lalu berlalu ke kamar untuk menyimpan bukunya.
Saat kembali ke balkon Rangga telah duduk di ayunan dengan es campur yang juga telah tinggal setengah.
" Sini, duduk sini sayang..." Rangga menarik Ara ke pangkuannya.
" Kakak mau bicara serius...tolong dengarkan dengan baik.." Ucapnya dengan tangan melingkar di perut Ara yang ada dipangkuanya.
" Ucapan papa benar sayang..." Kata Rangga dengan tegas.
" Ucapan yang mana?" Tanya Ara dengan meletakkan kepalanya di dada Rangga.
" Kita belum dewasa dan harus banyak belajar, kakak belum bisa jadi suami yang baik untukmu" Rangga menggeliatkan tubuhnya agar ayunan bergerak.
Maka ayunan itupun berayun dengan pelan.
" Suami yang baik ya..?, aku rasa nilainya 8,5 tidak terlalu buruk, kenapa kakak cemas. Aku yang istrimu, kenapa harus papa yang menilai?" Sahut Ara.
" Tapi sayang, aku juga tidak bertanggungjawab, lukamu ini karena aku..." Ucap Rangga lagi.
"Bertanggungjawab atau tidak, itu Lili yang merasakan, bukan papa. Lili sayang kakak, cukup itu sa---"
" Hidup berumahtangga tak hanya masalah cinta dan sayang..., tapi lebih dari itu, dan itu yang kita belum tahu....." Sahut Rangga.
"Keputusan yang diambil papa, kakak juga setuju..." Lanjut Rangga dengan semakin merapatkan pelukanya.
" Keputusan apa?" Tanya Ara.
Dadanya tiba-tiba berdebar tak karuan.
" Kita harus berpisah sementara..." Rangga memejamkan matanya saat mengungkapkan kata-kata nya.
Mata Ara terasa panas, dadanya sesak, mimpinya beberapa malam lalu ternyata menjadi kenyataan.
Ya, beberapa hari lalu Ara bermimpi akan kehilangan Rangga.
Ara segera memeluk erat Rangga bagai anak koala yang menempel erat pada induknya.
" Lili nggak mau..., Lili nggak mau berpisah..." Ucapnya dengan suara bergetar.
Rangga meraih kedua pipi itu dan dibingkainya di depan matanya.
" Dengar sayang, kakak akan berusaha belajar menjadi sholeh agar sepadan denganmu..." Ucap Rangga dengan menatap mata Ara agar gadisnya melihat keseriusan disana.
Ara tersenyum sinis.
__ADS_1
" Kalau Lili inginkan suami sholeh, maka sejak dulu Lili terima cinta bang Hanan. Kalau Lili inginkan suami bertanggungjawab maka sejak dulu Lili terima cinta brothy Marvel. Tapi aku maunya cuma kamu...kamu mas Aga" Desah Ara dengan dibarengi derai air matanya yang mulai luruh.
"Kakaku sayang...apa kamu tahu. Ukuran sholeh atau tidak sholeh seorang lelaki tidak dilihat dia anak ustadz atau bukan, hafalanya banyak atau sedikit, lulusan pondok pesantren atau bukan. Tapi semangatnya belajar ilmu agama dan kemudian mengamalkannya, itulah kuncinya kak..." Ucap Ara sambil mengelus rahang Rangga.
" Selain kakak datang dari masa laluku, dimataku kakak memiliki akhlak yang baik, kakak menyanyangi orang tua kakak, papa dan mama, sayang pada Bianca yang yatim piatu, kakak pandai menjaga lisan kakak, tidak bermudah-mudah dengan wanita yang tidak halal untuk kakak..., kakak itu pulihanku, kakak itu cintaku, kakak itu sayangku, apa kakak tahu??"
Kecupan hangat dilabuhkan Ara pada bibir Rangga.
Digigitnya kecil tahilalat yang berada di bibir bawah Rangga.
" Sayang...." Desah Rangga.
Pelukanya kian erat pada gadis cinta pertama dan terakhirnya ini.
Lagi..
Rangga kalah dengan tekadnya, dia tak mampu menyampaikan keinginannya untuk berpamitan pada Ara.
Ya, semalam Rangga memutuskan untuk pergi ke Boston lebih awal.
Berusaha belajar mandiri dan bertanggungjawab.
Ciuman Ara semakin menjadi-jadi, membuat Rangga tak bisa menahan diri.
Diangkatnya Ara digendonganya, bibir mereka terus terpaut walau saat ini pun Rangga melangkah menuju ranjangnya. Ara sangat rakus membungkam bibir Rangga dengan bibirnya. Entah apa yang terjadi dengan Ara, tapi gadis ini benar-benar beda. Dan Ranggapun semakin menggila.
Brugh!!!
Dijatuhkannya Ara di kasur super lembut miliknya.
Dan terjadilah penyatuan cinta yang menggebu-gebu diantara keduanya. Ara benar-benar tak seperti Ara biasanya, sungguh beda, lebih agresif dan dominan, membuat Rangga semakin mabuk dan tergila-gila.
Cuaca panas mendukung panasnya gelora asmara mereka berdua.
Rambut acak-acakan dan wajah penuh peluh, membuat mereka berdua cekikikan melihat tampang masing-masing.
" Lufyu sayang..." Rangga mengecup kening Ara dan kedua tanganya sibuk merapikan rambut Ara.
" Lufyu too mas Aga..." Ara tersenyum manis, sangat manis...
Berat...
Berat sekali meninggalkanmu sayang..
Sanggupkah aku??? Aahhhhh aku bisa gila...Jerit hati Rangga.
Tak hanya di kasur mereka bahkan melakukanya lagi di bathup. Entah kenapa Ara menggila akhir-akhir ini, sungguh rasa cinta Ara telah terbukti dengan tindakannya akhir-akhir ini, membuat Rangga dilema.
Haruskah tetap pergi???
***
"Ngga SOP camping kita udah beres kan?" Tanya Denis sebelum mereka bersiap pulang sekolah.
" Udah, udah beres. Bus juga udah ready tinggal berangkat aja.." Jawab Rangga dengan kedua tangan yang sibuk mengikat rambutnya.
Jakarta sangat panas akhir-akhir ini.
"Wah...wah..wah..wagilaseh...., gila Ngga!!, istrimu hot juga ternyata.." Ucap Rayya sambil berbisik diantara keempat sahabat itu.
" Apa..?" Tanya Denis bingung.
__ADS_1
Sedangkan Rangga dan Vino saling tatap dan saling mengangkat bahunya nggak paham.
" Lihat nih guys dan itu juga..., masa lo gak paham stempel beginian..." Tunjuk Rayya pada bekas kissmark Ara pada leher belakang Rangga dan beberapa di bawah telinga Rangga.
"Ahhh ****!!!" Umpat Rangga saat lupa akan hal itu. Dengan cepat dia membuka kembali ikatan rambutnya dan membuka rambutnya untuk menutupi stempel itu.
" Gila man!!, badas banget bini lo!!" Tabokan Denis pada punggungnya membuat Rangga tak mampu menyembunyikan senyum bahagianya.
" My Lili's the best ever after..." Ucap Rangga dengan senyum yang terlihat tulus dan cerah.
Ketiga sahabatnya keroyokan untuk memeluknya, mereka ikut merasa bahagia dengan kehidupan rumah tangga Rangga.
Seperti biasa Rangga akan menunggu Ara di depan gerbang. Ara sudah bersekolah seperti biasa, dia harus membantu Chandra mempersiapkan penampilan kelasnya untuk lomba antar kelas di kegiatan kemping sabtu ini.
" Langsung pulang sayang?" Tanya Rangga.
" Nggak mau, mau pelukan dimotor kaya gini yang lama..." Jawab Ara sambil meletakkan kepalanya di punggung Rangga.
" Mau kerumah lama?, ke Bandung?" Tanya Rangga..
" Yah...jauh amat, nggak lah, ke cafe Hyung Nathan yuk kak, lihat kak Vino kerja..." Ajak Ara.
" Vino off hari ini.., dia mau ke Vera dulu pulang sekolah..." Rangga baru ingat akan pamitan dari Vino beberapa menit tadi.
" Ke pantai mau sayang...?" Tanya Rangga.
" Yuk ah...cabut..." Jawab Ara dengan ceria.
Motor melaju dengan santai menuju pantai. Rangga memarkirkan motornya di bawah sebuah pohon.
" Itu toilet, di jok ada baju ganti, kakak pakai kaos tinggal lepas seragam aja nih..." Ucap Rangga sambil melepas kemeja seragamnya.
Ya, mereka sepakat untuk tidak membawa-bawa seragam sekolah kemana-mana. Jadi mereka selalu menyimpan baju ganti dimotor atau di mobil.
Kalau masalah rok atau celana abu-abu semua SMU sama, tidak menunjukkan almamater sekolah.
Saat mereka berkejaran bermain air, mata keduanya menangkap dua pasang muda-mudi yang tengah duduk berdua diatas batu.
" Mereka?" Ara menatap tajam kearah keduanya, berusaha mengenali dengan baik keduanya.
" Kak Denis dan Natasya?" Lanjutnya.
Rangga mengangguk dengan tersenyum.
Mereka berdua saling tatap dan tertawa cekikikan, sepertinya sesuatu yang melintas di otak mereka sama.
" Oke sayang...kita pura-pura nggak tahu aja.." Bisik Rangga.
Mereka menjauh dari tempat kedua sahabat mereka itu, memberikan privasi pada mereka saat ini.
Rangga menundukkan badannya sedikit.
" Mau gendong belakang nggak nih?" Tanya Rangga dengan menoleh pada Ara.
Ara segera mengangguk dan secepat kilat naik ke punggung Rangga.
Tangan Ara melingkar di leher Rangga, sementara tangan Rangga memaut berat badan Ara di punggungnya.
" Sayang, apa kau tidak ingin kakak berubah lebih baik?" Tanya Rangga dengan berjalan menyusuri tepi pantai.
" Ingin lah, apalagi kedepanya kakak akan menjadi abby dari anak kita....." Ucap Ara menggantung...
__ADS_1
Maka ijinkanlah kakak pergi sayang..