Childhood Love Story

Childhood Love Story
Ardi in action..


__ADS_3

Ardi terus mondar-mandir di kamar mandi, padahal pria muda itu telah selesai mandi dari tadi.



Apalagi saking nervous nya dia lupa bawa baju ganti. Ya mau nggak mau pakai kemeja putihnya tadi lagi.


Chat dari Rangga membuatnya gemetaran.


Si Cengsum📩 : MP itu ngapain? Ya buat anak lah bro!!, masa lo nggak ngerti caranya sih!!, lo waktu pelajaran Biologi tidur ya!!!


Si Cengsum 📩 : Main kuda-kudaan Di..., ikuti saja sesuai insting lo...


Si Cengsum 📩 : Auk ah Di..., gue juga dulu reflek tahu sendiri, sekarang jago malah.....


Tok..tok...tok...


" Mas..., mas baik-baik saja kan?" Suara Azura membuatnya terjingkat.


" I..i..ya Zu, cuma mm, cuma sedikit sakit perut...." Ucap Ardi.


Ya Allah mohon ampuni aku, yang telah berbohong, jangan Kau bikin aku benar-benar sakit perut ya Allah...


Ardi memejamkan matanya, menarik nafas sebanyak-banyaknya, dan menghembuskanya pelan.


Pertama, buka penutup cadarnya Di...


Tatap bibirnya..bayangkan rasa manisnya Di...


Rasakan sensasi terbangnya Di...


Nah setelah itu terserah anda bro...selamat menggila...ha..ha..ha


Kata-kata Rangga berputar-putar di kepalanya.


Ceklek..


Ardi keluar dengan masih terbalut kemeja putihnya.


" Ini mas gantinya..." Azura menyerahkan kaos dan celana rumahan pada Ardi dengan menunduk.


Sepertinya Azura telah mandi dan berganti baju santai, Ardi bisa menebak mungkin Azura mandi di kamar Bianca.


" Iya, terimakasih Zu..." Ardi menerima baju ganti itu dan masuk lagi untuk berganti baju.


Azura duduk diam ditepi ranjang yang penuh dengan kelopak bunga mawar.


Dadanya berdentum tak karuan.


" Huufffftttt" Gadis itu menghembuskan nafasnya demi mengurangi rasa nervous nya yang menggila.


Lilin aroma terapi yang di tempatkan oleh Natasya disudut kamar, aromanya membuat Azura merinding.


Apalagi keremangan cahaya lampu yang memang di setting oleh Natasya dan Denis membuat Azura benar-benar di dera rasa tak karuan, bahkan rasanya sulit untuk menelan ludahnya sendiri.


Ceklek..


Azura menoleh kearah suara, dimana Ardi berdiri di depan pintu kamar mandi dan berjalan ke arahnya.


Ardi berdiri di depan Azura yang menunduk.


" Zu...." Panggil Ardi.


Sumpah!!, Ardi rasanya ingin melompat saat mata indah itu menatapnya.


Azura mengankat wajahnya untuk menatap Ardi yang memanggilnya.


Wajah Ardi terlihat tampan dengan rambut basah yang masih menitikkan air yang mengalir melewati mata, pipi dan berhenti di bibir Ardi.


Rasanya Azura gatal ingin menyentuh air yang terus mengalir diwajah tampan Ardi.


Ardi duduk di samping Azura, selama hubungan mereka, baru kali inilah mereka berdekatan seperti ini. Karena biasanya akan selalu berjarak.


" Azura Paramita..." Panggil Ardi lagi.


" Hemmm" Azura menoleh dan menatap wajah tampan itu, tapi hanya sekejab. Karena gadis itu kembali menunduk.


Malu luar biasa saat ini menderanya, wajahnya memerah padam saat Ardi membingkai wajahnya dengan kedua telapak tanganya.


Diangkatnya wajah yang masih tertutup cadar itu untuk menatapnya.


Kepala Ardi sedikit menunduk untuk melabuhkan kecupan sayangnya pada kening gadis yang dinikahinya tadi siang.


Kecupan di kening yang sangat lama, Ardi memejamkan matanya. Membaca doa-doa kebaikan untuk kelangsungan hidup berumah tangganya dengan Azura.


Lagi, Azura kembali menunduk.

__ADS_1


" Kamu tidak mau menatapku Zu?, apa aku kurang tampan?" Bisik Ardi. Hembusan nafas Ardi menerpa wajah Azura yang masih tertutup itu.


Azura kembali menatap wajah Ardi dengan malu-malu.


" Tampan..., mas sangat tampan..." Ucap Azura pelan.


Ardi menatap mata indah itu dengan rasa yang meletup-letup.


Hanya melihat matanya saja rasanya aku ingin gila..


Ardi mengusap pipi Azura yang masih tertutup cadar dengan kedua jempolnya.


Tanganya belum berpindah untuk membingkai wajah Zura.


Perlahan Ardi menurunkan kepalanya, menempelkan keningnya dengan kening Azura.


Dari kening yang menempel, disusul hidung dan...


Cup.


Ardi mengecup bibir Azura yang masih dilapisi kain tersebut.


Gila.., Rangga benar...


Rasanya badanku terasa terbakar...


Panas ya Tuhan...


Aku merasa......ahhhhhh.


Ardi berusaha menekankan rasa jantungnya yang terus berdetak tak kenal situasi dan kondisi.


" Boleh mas membukanya sayang...." Ucap Ardi dengan suaranya yang serak.


Azura mengangguk patuh.


Ardi tersenyum manis, dan kedua tanganya terjulur untuk melepas ikatan cadar Azura yang ada dibelakang kepalanya.


Perlahan kain penutup itu tersingkap dan terbuka..


Mata Ardi tak berkedip melihat kecantikan rupa yang tersaji di depan matanya ini.


Matanya yang teduh, yang selalu membuatnya tenang, pipi berisi yang menggemaskan, hidung mancung dengan batang yang kokoh dan tegak, bibir pink ranum bervolume.


Sungguh pemandangan di depannya ini benar-benar menggoyahkan iman Ardi saat ini.


Tatap bibirnya..bayangkan rasa manisnya Di...


Rasakan sensasi terbangnya Di...


Nah setelah itu terserah anda bro...selamat menggila...ha..ha..ha


Ucapan Rangga terus terngiang-ngiang dan berputar-putar diotaknya.


Ardi mengelus pipi berisi itu dengan jempolnya. Lembut dan kenyal, hingga jempol itu perlahan-lahan turun ke sudut bibir Azura.


Bibir yang sedari tadi memanggilnya untuk mencicipi rasanya, rasa yang kata Rangga bisa membuatnya terbang itu.


Azura gelagapan saat Ardi terus saja menatap bibirnya dan mengelusnya pelan dengan jarinya.


Malu, nervous dan salah tingkah membuat wajah Azura semakin memerah padam.


Debaran jantungnya benar-benar tak terkendali lagi.


Ardi mendekatkan wajahnya, saat ini pemuda polos itu sedang digulung oleh nafsunya untuk mencicipi manisnya bibir wanita.


Cup...


Serrr....


Kedua pasangan pengantin halal itu sama-sama terpaku.


Mereka sama-sama baru merasakan rasa asing yang melenakan. Tubuh keduanya bagaikan tersengat listrik yang menjalar ke tubuh keduanya.


Ardi yang memang baru pertama kalinya bersentuhan bibir dengan wanita cepat merasakan sesuatu yang mengeras dibawahnya. Tubuhnya begitu cepat bereaksi.


Cup..


Lagi, seolah Ardi tak mampu move on dengan rasanya.


Kecupan pelan, lum*ata* pelan..., disesapnya bibir Azura dengan rakus tapi tetap pelan.


Semua dilakukan dengan pelan dan diresapinya.


Ucapan Rangga dipraktekanya.

__ADS_1


" Boleh mas buka hijabnya?" Pinta Ardi dengan mata sendu yang terbakar gairah. Saat ini naluri kelelakian nya bergejolak ingin menggila..


Azura lagi-lagi mengangguk. Ardi dengan pelan membuka kain penutup kepala Azura dengan pelan.


Srett...


Hijab telah terbuka, terpampang nyata didepan Ardi sekarang. Cetakan bidadari yang begitu sempurna, rambut panjang yang dikepang panjang sampai ke pinggang.


Cantik...sungguh cantik...



" Kenapa kamu bisa secantik ini Zu?, kenapa kau sembunyikan...?"


Ardi kembali mendekati wajah cantik Azura, kedua tanganya menelusup ke balik tengkuk Azura.


Pelan Ardi menarik tengkuk itu untuk mendekati wajahnya.


" I love you Zu...." Bisikan Ardi menghembuskan nafas ke wajah Azura, mengantarkan rasa panas pada sekujur tubuhnya.


Bibir keduanya kembali menyatu, kaku, keduanya masih kaku. Tapi tak mengurangi rasa yang meletup-letup diantara keduanya saat ini.


D*cap*n, s*s*pan dan lu*atan terus Ardi lacarkan pada bibir manis yang jelas berstempel miliknya itu dengan sedikit menggebu-gebu.


Birahi telah menguasai dirinya saat ini.


Azura yang juga sangat mencintai Ardi tentu tak diam saja, sebisanya dia membalas decapan Ardi, tanganya meremas rambut Ardi yang kini mulai mendorong tubuhnya hingga telentang di kasur.


Ardi sudah terbungkus nafsunya, tanganya secara reflek mulai menurunkan kemeja Azura, menampakkan leher mulus dan bahu yang putih bersih.


Cup..., Ardi menghisap leher putih itu rakus.


" Emmmmmm" Desis Azura.


Cup..cup..cup... kini Ardi mulai mengecupi bahu yang telah terbuka itu.


Azura menggeliut karena kegelian, justru membuat Ardi semakin beraksi.


Hilang sudah Ardi polos yang ketakutan hingga tidak keluar dari kamar mandi tadi.


Berganti Ardi yang gagah bak singa lapar yang siap mengeksekusi mangsanya.


" Ouhhh, mas..." De*ah Azura tertahan, kedua telapak tanganya menahan wajah Ardi saat Ardi mulai turun mengecupi lehernya kebawah menuju dadanya.


" Mas....kamu sudah sholat isya belum?" Tanya Zura dengan wajah yang sayu, rambut dan tampilannya sudah sangat acak-acakan. Azura pun merasa terbelenggu oleh nafsu, tapi jelas Azura tidak mau menabrak hal wajib sebelum yang sunah.


" Belum sayang....." Jawab Ardi lemah.


Dan segera duduk. Diusapnya wajahnya dengan kedua telapak tanganya, berusaha merunkan hawa panas yang kini telah menjalari tubuhnya.


" Hufft.., ya sudah mas sholat dulu..." Ardi kembali menunduk untuk mengecup sekilas bibir pink Azura dan dengan cepat melesat ke kamar mandi.


Hampir setengah jam Ardi berada dikamar mandi, bukan karena takut keluar seperti tadi. Tapi karena dia harus mandi dulu.


Sesuatunya di pangkal paha sudah sangat tak bisa dikendalikan, dan hanya bisa ditaklukan dengan mandi.


Ardi melirik ranjang yang kelopak bunganya telah terserak kemana-mana setelah keluar dari kamar mandi.


Istri cantiknya tersenyum menatapnya diatas kasur.


" Sholatlah dulu, aku nunggumu.." Ucap Azura dengan bersila di atas kasur.


Ardi mengangguk dan menuju, pojok ruangan yang memang Azura dekorasi sedemikian rupa, hingga menyerupai mushola mini.


Ardi tertegun, sudah beberapa kali memang dia masuk kamar ini tapi selalu sebentar, hanya untuk mengambil Bianca, atau mengantarkan Bianca yang tertidur di bawah.


Ardi beribadah sangat lama, pria muda itu terus bermunajat, menghaturkan seluruh rasa syukurnya pada Tuhan, dengan memberinya istri yang sholehah, cantik dan menggemaskan.


Saat langkahnya kembali ke ranjang, Azura telah terlelap dengan memeluk guling.


" Hemmm, biar sajalah. Masih ada hari esok" Gumam Ardi. Dan ikut membaringkan tubuhnya disisi Zura.


Ardi menatap langit-langit kamar Azura, rasa lega dalam dadanya sungguh membuatnya damai.


" Akhirnya.....tiba dimana aku merasakan rasa lega yang luar biasa. Alhamdulillah ya Allah..."



Diliriknya wajah menggemaskan di sampingnya, rambut berkepang Azura membuat tangan Ardi menjulur mengusapnya.


Tanganya lihai membuka ikatan karet pada kepangan Azura dan membuka kepangan itu pelan.


Mengumpulkan rambut itu keatas bantal dengan sangat pelan juga agar tak mengganggu kenyaman tidur istrinya.


Cup...

__ADS_1


Dikecupnya lama kening itu.....


" Love you mmy Bianca........" Bisiknya.


__ADS_2