Childhood Love Story

Childhood Love Story
Kedatangan Jessica


__ADS_3

" Jess, aku sudah sering bilang padamu, cintaku hanya Lailia Nafeesa Anara.., tidak ada sedikit pun ruang dihatiku untukmu.."


" Tapi kakak yang menawarkan cinta padaku, dan saat aku menerimanya kau seperti ini???" Sahut Jessica.


" Kapan aku!! tidak pernah!!!, kau yang salah mengartikan sikapku padamu!!jangan salah paham Jess, aku hanya merespekmu selama ini karena aku mengira kau dedek kecilku dulu, dan apa kau tahu aku selalu menyesali kebodohananku itu sampai ke sendi-sendinya" Lanjut Rangga.


" Walaupun seandainya kau dedek kecilkupun, aku tetap memilih Lailia Nafeesa Anara.., aku mencintainya tak hanya nama Lili dan kenangannya, tapi memang rasa!!, rasa disini yang selalu tumbuh pada orang yang sama Jess, dan itu hanya padanya.." Rangga meraih kepala Ara dan mendekapnya didada.


Lenox membuang mukanya melihat itu semua, sesak!!, sakit bagai luka basah yang tersiram cuka.


" Le....duduk dini" Ara yang menyadari kehadiran Lenox segera menepuk kursi sofa di sampingnya.


Melihat posisinya yang dekat dengan Ara, Lenox segera beranjak, tapi dengan cepat Rangga mengangkat Ara ke pangkuanya.


Daddy Hen tersenyum melihat tingkah brilian putranya itu.


Dia lebih pintar dariku..., semoga Lili akan selalu menjadi milikmu son..


" Ekhemm..., kalian bicarakan ini dengan kepala dingin, ayo mah.., hon..kita kedalam" Ajak daddy pada dua wanita tercintanya itu.


Mommy Tara yang juga bisa melihat tatapan cinta dari mata Lenox pada menantunya itu sedikit enggan berdiri.


" Hon, pemuda itu tadi...?" Tanya mommy saat mereka telah berada diruang keluarga.


" Iya, dia rival baru Rangga, setelah putramu bisa menghempaskan Marvel, dan putra Ustadz Abqori, si Hanan. Sekarang datang lagi satu, pemuda itu, dia putra Profesor Maha Dafran hon..." Bisik daddy.


" Hah!!!, apa?" Mommy Tara menutup mulutnya tak percaya.


" Ya Tuhan..., menantuku badas luar biasa!!!, mirip mamanya hi..hi.., dan kamu salah satu yang terhempas ha..ha..ha.." Tawa mommy pecah saat berhasil mengolok suaminya.


" Ckkk...kau ini!!!, itu masa lalu..." Daddy mengepit kepala mommy diketiaknya dan menggelitik perutnya, membuat mommy semakin tertawa.


Oma Rima ikut tertawa dan menggelengkan kepalanya pelan, ada airmata di sudut mata keriputnya.


Mengingat bagaimana perjuangan putrinya dulu agar bisa membuat Hendrawan bangkit dari keterpurukannya akibat berpisah dengan Neela, mama Ara.


Yah, mommy Tara adalah teman yang memberikan dukunganya selama daddy terpuruk, dan ternyata disitulah tangan Allah bekerja, dari sana timbul rasa cinta yang tumbuh subur diantara keduanya sampai saat ini. Walaupun kadang daddy masih sering mengigau memanggil nama Neela tapi itu tak masalah, itu semua manusiawi bagi mommy.


Kembali ke ruang tamu.


" Aku nggak mau kau membuangku seperti ini kak!!, kau jahat sekali kak hikk..hik.." Tangis Jessica.


" Aku tidak pernah membuangmu!!!, karena aku tidak pernah mengambilmu Jess!!" Bentak Rangga geram.


" Selama ini aku sudah berbesar hati, aku sudah bersabar dengan sikapmu selama ini Jess, semua yang kulakukan semata-mata bentuk pertanggungjawab atas kebodohanku yang salah dalam mengenali Liliku.."


" Apa semua sikap baikku selama ini tak cukup buatmu Hah!!???" Lanjut Rangga.


" Tidak!!!, pokoknya aku mau kamu kak...hanya mau kamu..hik..hik.." Jessica semakin meraung.


" Ckkk..lebay!!" Ketus Lenox dengan membuang pandangannya keluar.


Ara yang berada dalam pangkuan Rangga menoleh menatap Lenox.


" Sstt!!" Panggil Ara pada Lenox, dan Lenoxpun menoleh menatapnya.


Senyum manis Ara terbit diikuti anggukan setujunya dan acungan jempol Ara untuk ucapan Lenox barusan.


Lenox yang sebenarnya berbunga-bunga karena melihat senyuman Ara, hanya bisa melipat bibirnya dalam-dalam untuk menyebunyikan taman mekar penuh bunga yang ada dihatinya.


Rangga yang menyadari itu semakin mempererat belitanya di perut Ara.


" Maaf Jess, aku yang tidak mau kamu!!, cukup bagiku Ara satu-satunya!!" Jawab Rangga tegas.


" Aku bisa saja melaporkan tuduhan palsumu waktu itu pada polisi, tapi aku tidak lakukan!!, karena aku memandang hubungan baik kita, tapi semakin kesini kau semakin keterlaluan, berani sekali kau melukai Ara sampai seperti ini.." Suara Rangga terdengar semakin dingin.


" Ha..ha..ha, jelas aku berani!!, dan aku akan lakukan lagi dan lagi, sampai kau mau bersamaku!!" Teriak Jessica seperti orang gila.


" Stress ni anak!!" Lenox menepuk keningnya.


" Dan apa bedanya dia dengan lo!!, lo sama stressnya dengan dia!!" Bentak Rangga menatap Lenox jengah.


Ara menutup mulutnya menahan tawanya melihat Lenox langsung diam saat dibentak Rangga.


Lenox hanya mengigit bibir bawahnya gemas melihat Ara yang tertawa kecil.


" Kalau aku tidak bisa bersamamu maka Ara juga tidak, ingat itu!!" Ancam Jessica.


" Tunggu saja Ara, kau akan habis!!" Teriak Jessica dengan meraih asbak dan melemparkan nya pada Ara.


Duak!!!


Dengan gesit Lenox menangkis lemparan itu dengan lengannya.

__ADS_1


Sedangkan Rangga juga sigap memutar tubuhnya agar asbak itu mengenai punggungnya.


" Gila!!, Lili palsumu saiko juga kak" Ucap Ara dengan penuh keterkejutan, perlahan dia beranjak dari pangkuan Rangga.


" Pergi Jessica!!, sebelum gue bunuh lo!!" Bentakan Lenox mengejutkan mereka semua.


Jessica pun menjejakkan kakinya kesal dan langsung menyambar tasnya, lalu keluar begitu saja.


Ara berdiri dan merapikan bajunya yang kusut.


"Kak, ayo makan siang , Le..udah makan siang belum?, makan sekalian yuk..."


" Nggak usah sayang, Lenox udah kenyang kayaknya " Bukan Lenox yang menjawab tapi Rangga dengan tangan yang mendorong-dorong bahu Lenox agar segera pergi. Sementara Lenox justru mengeraskan tubuhnya.


" Wah makasih banget Ra, kebetulan belum makan sejak pagi.." Sahut Lenox cepat.


" Belum makan dari pagi kata lo??, trus dua piring spaghetti di meja cafe tadi bekas siapa? " Tanya Rangga geram.


" Yahhh, itu sih cuma nyankut ditenggorokan doang, nggak sampai ke lambung.." Balas Lenox.


"Yuk kak..." Ara menarik tubuh besar Rangga dengan kedua tanganya agar bediri. Jemarinya menggenggam erat jemari Rangga dan menariknya ke dalam.


" Yuk Le...masuk..." Ajak Ara lagi saat Lenox diam saja.


" Ckk... Lo pulang gih!!, siapa yang suruh lo kesini.." Rangga menutup jalan Lenox untuk masuk semakin dalam kerumahnya.


" Kak, kok gitu sih.., tamu adalah raja. Harus diperlakukan dengan baik, dijamu dengan baik, begitu semestinya.." Ucap Ara sambil menepuk-nepuk punggung tangan Rangga yang masih digenggamannya.


Saat melintas di ruang keluarga, Rangga berhenti dan berjalan menuju omanya berada.


" Oma...maaf Rangga belum sempat menyapa?" Peluk Rangga pada omanya.


" Nggak papa..., oma paham. Nah cepat ajak temanmu makan siang, itu istrimu sudah masak enak banget.."


" Dia bukan temanku, tapi musuhku" Ucap Rangga dengan melirik pada Lenox yang acuh saja mendengar ucapan Rangga.


Rangga melenggang menuju ruang makan tanpa mengajak Lenox yang berdiri mematung di depan sofa oma Rima.


" Sana nak, makan lah dulu, cucu mantuku sudah menyiapkan makan siang.."


Saat kaki Lenox baru melangkah suara dari ruang tamu riuh terdengar.


" Ga!!!, bro!!, kami masuk ya...Assalamu'alaikum..."


" Loh kok ada lo disini" Tunjuk Denis pada Lenox.


" Denis?" Panggil oma.


Denis yang sangat mengenali suara oma segera menoleh.


" Oma...apa kabar?" Serbunya dengan cepat memeluk dan menciumi nenek tua itu.


"Ckkk, pacarku ini makin tua makin cantik aja..." Ucap Denis dengan mencubit pipi keriput oma Rima.


" Dasar kamu, sana-sana...makan barengan sana..., ajak teman-teman mu itu..." Oma Rima mengelus rambut Denis sesaat dan mendorongnya.


Hubungan mereka sangat akrab, karena diantara mereka berempat, Rangga dan Denis memang sudah berteman sejak kecil. Almarhum mama Denis adalah keponakan tersayang oma Rima.


Mereka bereenam saat ini telah duduk dimeja makan.


Rangga tak membiarkan Ara kemana-mana. Pemuda itu terus saja memangkunya. Sementara Ara menyuapinya menggunakan tangan langsung. Keromantisan mereka membuat Lenox jengkel dan menahan geramanya.


Lihat aja besok!!, dia milikku, batinnya.


" Terus kenapa dia ada disini?" Tunjuk Denis pada Lenox.


" Entahlah.., dia kan Jailangkung.." Jawab Rangga.


Denis cs menatap intens pada Lenox yang santai memakan makan siangnya tanpa mempedulikan tatapan Rangga dan sahabatnya.


Melihat Lenox yang lahap membuat Ara mendorong lagi sambalnya ke depan Lenox.


" Ni..tambah lagi..." Ucapnya dengan tersenyum.


" Sayang, jangan murah senyum padanya.." Rangga mencubit gemas pinggang Ara.


Geramnya bertambah saat Lenox dengan santainya menambah nasi dan meraih sambal Ara tadi seolah-olah mengolok Rangga


" Akhhhh kak....." Teriak Ara, wajahnya merah padam karena malu, Rangga yang geram pada Lenox malah melampiaskan pada Ara, dengan kurang ajarnya dia meremas dada Ara dibalik jilbabnya.


" Kalian makan aja dulu, gue sama Ara ke atas dulu.." Pamit Rangga.


" Ihh...nggak!!, orang temanya datang kok malah mau di tinggal sih" Sela Ara.

__ADS_1


" Iya tuh Ra, laki lo kelakuannya laknat amat, kita kan juga pengen kangen-kangenan sama dia sebelum dia pergi " Sahut Rayya.


" Tauk tuh!!!, mentang-mentang punya bini, sahababatnya ditendang, kurang ajar banget" Celetuk Vino ikut geram.


" Btw Ra, ini urapan juga lo yang bikin?" Tanya Rayya.


" Iya kak, mau lagi?, masih ada didapur bumbunya.."


" Ini tahu gorengnya mau lagi gue..." Ucap Denis


" Gue mau urapan lagi deh kaya Rayya" Vino ikut-ikutan.


" Lo kira Ara pembantu apa!!, ambil sendiri sana!! " Bentak Rangga pada sahabatnya.


" Kak..., kok gitu sih..." Ara menepuk paha Rangga pelan.


" Biar ajalah sayang, biasanya juga ambil sendiri kok mereka, kamu sih terlalu baik jadi pada manja mereka tuh" Sewot Rangga dengan mata menatap tajam mata sahabatnya.


" Ya udah nggak papa Ra, kakak ambil sendiri" Denis beranjak menuju dapur.


Mereka berempat sudah terlalu biasa mondar-mandir dirumah masing-masing. Jadi tidak ada rasa kikuk-kikuk lagi.


" Lo kenapa bisa ada disini?" Tanya Rayya kepo dengan keberadaan Lenox sedari tadi.


" Main....." Jawab Lenox cuek.


" Main?, memang dirumah ini siapa yang jadi temanmu ?" Lanjut Rayya.


" Ara....." Lagi-lagi jawaban singkat yang keluar dari bibir tipis Lenox. Bibir tipis yang seksi milik Lenox semakin memerah karena pedas dan nikmatnya sambal Ara.


" Hahh...ha...ha..ha.." Tawa Rayya pecah begitu saja.


" Teman Ara???, elo?? Ha..ha..ha.., yang ada lo tu momok buat Ara..." Sindir Rayya.


Lenox tak menggubris sama sekali ocehan Rayya, bahkan mengabaikan begitu saja tatapan sahabat Rangga yang lainya.


" Ra, gue pulang ya...thanks makan siang spesial nya hari ini, suatu hari akan gue ganti, gue akan ajak lo makan di rumah gue..." Pamitnya pada Ara yang posisinya masih dalam pangkuan Rangga.


" Ha..ha..ha..lucu amat sih Le, harusnya makasihnya sama kak Rangga lah, ini rumahnya--"


" Rumahmu juga sayang.." Ralat Rangga.


" Ya deh, thanks..." Ucap Lenox menatap pada Rangga.


Dan Rangga hanya mengangguk.


Lenox berdiri dan segera berbalik melangkah hendak keluar.


" Le...." Panggil Ara dan Lenoxpun menolehkan kepalanya sesaat.


" Assalamu'alaikum..." Lanjut Ara, sementara Lenox hanya mengangguk.


" Salam wajib dijawab Le, Assalamu'alaikum.." Ulang Ara.


" Wa..Waalaikumsalam .." Jawab Lenox cepat dan segera berlalu keluar.


Ara tertawa kecil melihat kelakuan Lenox.


" Dia itu lucu sekali " Gumamnya.


" Trus???, aku nggak lucu???" Rangga memelototkan matanya marah.


Sementara para sahabat Rangga yang menyadari situasi yang buruk bakalan terjadi segera beranjak dari sana dan berlari ke ruangan PS berada.


Mendingan mereka ngadem disana sambil main game, daripada nonton drama pertengkaran keluarga.



" Ayo keatas " Rangga menarik tangan Ara.


" Gendong sayang...." Bisik Ara manja.


" Ckkk...kalo gini mana bisa aku marah sama kamu sayang....hupp" Rangga mengakat Ara dan mendudukan diperutnya, menghadap padanya, sementara Ara segera melingkarkan tangan dan kakinya.


Cup!! Ara dengan nakal menyambar bibir Rangga sekilas.


" Cckkk...kau ini benar-benar...." Rangga dibuat gemas dengan Ara dan semakin mempererat belitannya. Rangga tak kuasa membendung rasa cintanya yang luar biasa pada Lilinya.


" Love you sayang....love you so much..." Bisik Rangga dengan suara bergetar.


Ara semakin mengeratkan pelukanya dan mulai menangis terisak.


" Jangan pergi hik...hik..." Tangis Ara sedih.

__ADS_1


Rangga membawa Ara keatas dengan perasaan kosong. Jika bisa memilih tentu dia memilih tinggal. Semakin mendekati waktu perpisahan semakin berat untuk melepaskan.


__ADS_2