Childhood Love Story

Childhood Love Story
Lenox dan Rangga


__ADS_3

Sementara itu di Smart cafe.


Lenox yang dihubungi Rangga untuk memintanya bertemu sudah duduk di salah satu sudut meja cafe, dengan rokok di tangannya.



" Lama amat sih lo!!, lo pikir kerjaan gue cuma nungguin lo" Bentak Lenox saat Rangga mulai mendudukkan tubuhnya di depan Lenox.


Dilemparkan nya koran yang sedang dipeganya diatas meja.


" Lo nggak ada sopan santunnya sama kakak kelas ya Lenox!!, gue lebih tua tiga tahun dari lo, panggil gue kak!!" Sahut Rangga geram.


" See, it's me..!ada apa ?, lo mau ngomong apa ke gue!, kakak..?"


" Jauhin Lailia Nafeesa Anara!!!" Ucap Rangga to the point.


Sementara Lenox hanya melebarkan matanya dan tertawa terbahak-bahak.


" Sorry, gue nggak bisa!!" Jawab Lenox dengan kembali menyedot rokoknya.


" Brengsek!!!, gue tau lo ada rasa sama kekasih gue!!"


" Lah emang iya!!, baru tahu lo?" Sambar Lenox cuek.


" Gue minta lo jaga jarak dengan Ara, atau kalo nggak..."


" Kalo nggak?, lo mau apa?, segitu takutnya ya lo, Ara oleng ke gue..." Tantang Lenox, matanya menatap erat Rangga.


Ucapan Lenox bagai petir yang menyambar di siang bolong. Tubuh Rangga tiba-tiba mengigil, ada rasa takut yang menjalarii hatinya kini.


Ucapan Lenox sukses menjadi racun yang siap menggerogoti jantungnya setiap waktu.


Tapi Rangga berusaha menguasai hatinya.


" Ara akan oleng? Ke elo?, mimpi aja lo!!. Ara cinta mati sama gue asal lo tahu..."


" Begitukah?, pede amat lo!!"


Lenox menghembuskan asap rokok nya begitu saja dan menerpa wajah Rangga.


" Sure!! Lenox asal lo tahu.... Lo nggak akan pernah bisa dapetin Ara, karena dia sudah sah jadi milik gue.."


Rangga melempar surat nikahnya kedepan dada Lenox.


Lenox membuka buku kecil itu dan matanya membelalak kaget. Rasa jantungnya tiba-tiba nyeri luar biasa.


" Hah ini nggak mungkin!!, lo picik amat dengan membuat surat nikah palsu begini..., Rangga Bayu Wijaya ternyata kau..."


" Nih, ini juga lihat!!!" Rangga menyerahkan ponselnya yang menunjukkan foto pernikahan mereka.


Lenox memejamkan matanya. Pemuda itu berusaha mengontrol emosinya yang meledak.Dadanya sesak bagai tertimpa batu besar, gadis yang diimpikanya siang malam ternyata adalah istri orang?. Rahangnya terkatup rapat dan kedua kepalan tanganya tergenggam erat. Matanya memerah penuh rasa marah.


" Hufftt...." Dihembuskan nya udara dari bibirnya, mencoba terus tetap tenang.


" Lantas??? lo pikir gue mundur gitu?, orang pacaran bisa putus kan? dan yang sudah menikahpun bisa bercer---"


Rangga yang sangat paham maksud ucapan Lenoxpun menjadi tersulut emosinya.


" Lenox brengsek!!!"


Bugh!!! Bugh!!!


Rangga tak dapat lagi menahan emosinya. Sudah berbagai cara dilakukan agar Lenox sadar kalau Ara itu miliknya, tapi lihatlah. Pemuda itu masih saja bersikukuh.


Dan apa tadi katanya?, bercerai dengan Ara??, mimpi saja dia tidak berani.


" Kubur harapan palsumu itu Lenox. Semakin besar harapan yang kau tanam untuk merebut Ara dariku, maka semakin besar pula kecewa yang akan kau rasakan" Ucap Rangga.

__ADS_1


Lenox menekan rokok di tanganya ke asbak dengan geram, walaupun batang rokok itu masih sangat panjang.


Matanya menatap Rangga, meneliti wajah tampan dan tenang itu.


Inikah tipe yang disukai Ara?


Cowok baik-baik seperti inikah?


Kalau aku jadi baik apakah dia akan suka?


"Jauhi Ara Lenox!!, kau pasti hanya akan dapat KECEWA!!"


Lagi-lagi Lenox menggelengkan kepalanya dengan santai, senyum manisnya yang cenderung menjijikan terbit dari bibirnya yang seksi.


" Aku tidak perduli, kecewaku itu biarlah jadi urusanku, bukan urusanmu. Merubah pagi menjadi malam saja Tuhan mampu dan sangat mudah, apalagi mengabulkan do'aku untuk bisa merebut Ara darimu" Ucap Lenox santai.


" KAU!!! Sungguh menyebalkan Lenox!!" Geram Rangga dengan menggebrak meja.


Pecah sudah emosi Rangga kali ini, seorang Lenox berhasil membuatnya menjadi Rangga yang temperamen hari ini.


Lenox kembali menghidupkan rokok yang baru dikeluarkannya lagi dari bungkus.


" Kau, kau benar-benar brengsek yang pernah ku temui Lenox!!"


" Sure!!, that's me " Jawab Lenox dengan menghembuskan asap rokoknya di depan Rangga begitu saja.


Rangga mengepal kan tanganya geram. Melawan Lenox harus dengan strategi. Yang di bilang papa Syakieb saat di RSUD Bandung itu benar, Lenox adalah pemuda tersesat yang mencintai Ara dengan sangat besar dan tulus.


Papa Syakieb juga benar, Lenox tidak akan bisa di lawan dengan kekerasan.


Papa Syakieb sangat benar, Lenox harus dirangkul sebagai kawan, bukan lawan.


Ya, aku harus memberikan kesempatan dia untuk dekat dengan Liliku, sebagai pelindungnya saat aku tak ada. Karena aku yakin dan percaya Liliku tak akan tergoyahkan.


" Lenox, sejak kapan kau suka istriku?"


" Kenapa?, tentu jauh sebelum dia jadi istrimu..."


" Kenapa malu?, apa aku mengganggumu?, apa aku merepotkan mu?, tidak kan?" Lenox kembali mematikan rokok yang baru beberapa kali dihisapnya itu.


" Aku ini hanya penikmat senyumnya saja. Aku sadar aku bukan pemilik senyuman Ara, apalagi penyebab senyum itu, aku cukup bahagia asalkan bisa melihat dia tersenyum. Bagiku itu cukup!!" Lanjut Lenox dengan mata menatap lurus kedepan.


" Perasaanku padanya cukup aku yang merasakan, tidak perlu aku ceritakan padamu...." lirih Lenox lagi.


" Hanya saja aku tidak bisa berhenti, aku akan terus berjuang dengan rasaku ini, mau kamu setuju atau tidak aku tidak PEDULI!!!, kau pergi meninggalkan nya dan aku akan selalu siap menjadi PENGGANTI mu disisinya..." Lenox menekankan kata-katanya dengan tegas dan mata yang menatap tajam pada mata Rangga.


" Baiklah..., kita akan lihat bagaimana akhirnya..." Ketus Rangga.


Biarlah saat ini dia mundur dulu, situasinya memang membuatnya harus memilih untuk mundur.


Yang dia jadikan pegangan kuatnya hanya rasa percaya sepenuhnya akan cinta Ara padanya.


Sebenarnya sudut hatinya terasa bagai diiris-iris saat ini. Tapi dia bisa apa?, mau tak mau dia harus pergi.


" Ara gadis baik-baik Lenox, jangan ulangi lagi berbuatan biadapmu dulu padanya..., dia masih ada trauma tentang kejadian itu.."


Lenox menerawang jauh ke masa lalu, dimana dia telah menyentuh Ara terlalu jauh. Tapi percayalah, Lenox tidak pernah menyesal!!, bahkan sudut hati iblisnya sangat ingin mengulanginya kembali.


Tapi Lenox sudah berjanji dalam hati. Dia akan jungkir balik mendapatkan Ara, dengan jalan yang benar. Biarlah dia akan dicap sebagai pebinor!! tidak masalah buatnya.


" Lenox..., aku titipkan penjagaan Ara padamu selama aku di Amerika.." Rangga memejamkan matanya pedih saat mengucapkan kata-katanya.


Tak ada pilihan lain, karena Ardiansyah juga sepertinya akan menandatangani perpanjangan belajarnya di Thailand.


Sedangkan Adnan semakin sibuk karena harus membantu perusahaan papa Syakieb dan usaha mertuanya juga.


Brian sedang sangat repot karena ikut terlibat menanganinya kasus pembunuh brigadir yang sedang heboh di televisi saat ini.

__ADS_1


Dan Marvel?, dia sedang happy dengan kehadiran baby di perut Dian, fokusnya saat ini hanya pada baby Dian, Dian dan Dian.


Lenox terperanjat mendengar ucapan Rangga. Matanya menelisik semakin dalam pada mata Rangga.


" Kau tidak perlu memintanya, apalagi memerintah ku!!, aku hanya akan melakukan apa yang aku inginkan!!.


Jawab Lenox.


" Aku percaya kau seorang yang amanah Lenox, aku juga percaya kau bisa menjaganya dengan baik..."


" Apa kau percaya padaku????, ha...ha..ha..kau pasti menyesal!!!, lihat saja!!!


" Aku tidak akan pernah menyesal!!, aku percaya penuh akan kesetiaan istriku seratus persen. Dan kau!!! Bersiaplah untuk kecewa.." Tunjuk Rangga pada wajah Lenox.


Lenox hanya menyeringai dan menatap ponsel Rangga yang bergetar di meja.


Ponsel Rangga terus menerus berkedip di meja cafe.


Diapun menyambarnya dengan cepat.


" Ya momm, Assalamu'alaikum..."


" ...................."


"Hah!!!. Jessica membuat kening Lili bocor??"


" .................."


" Ya mom, Rangga langsung balik.."


Rangga terlihat buru-buru menghabiskan minumanya.


" Gue cabut dulu.." Ucapnya dengan sedikit berlari.


" Tunggu, ada apa dengan Ara?"


" Bukan urusanmu..." Jawab Rangga dengan terus berlari menuju pintu keluar cafe. Lenox mengikutinya dari belakang.


...**...


Tak sampai duapuluh menit motor Rangga telah memasuki gerbang rumahnya.


Pemuda itu memarkirkan motornya dengan asal-asalan dan langsung berlari ke dalam.


" Karena panggilan mas Aga yang gue sematkan padanya dulu waktu kecil, sudah tercemar sama lo!!, dan gue gak suka bekasan!!"


Suara Ara membuat Rangga mematung ditempatnya.


Oh pantas, dia nggak mau lagi memanggilku mas Aga.


" Kau mengaku sebagai Lilinya? Setelah dia mendapatkan Lili yang asli, menggelikan sekali" Lanjut Ara.


" Sa...sayang.., kenapa ini?" Rangga langsung membingkai wajah Ara dan meniup-niup keningnya yang merah dan mengeluarkan darah.


" Tanyakan saja pada Lili jadi-jadianmu itu" Bentak Ara marah.


Selama ini dia mengira urusan Rangga dan Jessica telah selesai.


" Sayang...jangan begini ah.." Kejar Rangga saat Ara melepas paksa tangan Rangga yang ada diwajahnya.


" Selesaikan dulu urusanmu, setelah itu temui aku!!"


Rangga menjambak rambutnya frustasi. Ditariknya tangan Ara dan merapatkan padanya.


" Kita selesaikan sekarang sayang, dan kau tetap disini" Ucapnya tegas.


Mereka kini duduk berenam di ruang tamu, bertujuh dengan Lenox yang datang karena mengikuti Rangga tadi.

__ADS_1


Lenox sangat khawatir karena sempat mendengar Ara terluka tadi.


Tapi pemuda itu tidak ikut duduk, melainkan berdiri bersedekap tangan dan menyender ke pintu.


__ADS_2