
Mata Rangga masih menatap pada bibir Ara yang terlihat merah merekah bekas kecupan singkatnya.
Tangannya masih berada ditengkuk Ara, perlahan didorongnya wajah Ara mendekat pada wajahnya.
Inilah yang ingin Rangga rasakan sejak dulu.
Cup...
Kedua benda kenyal itu kini bertemu, rasa asing yang membuat dada keduanya berdetak hebat, rasa asing yang memabukkan, rasa yang membuat keduanya bergetar, rasa yang mampu membuat mereka melayang..
Rangga bukan remaja polos yang tak tau apa-apa, sisi jiwanya juga seperti remaja lainnya. Tentu saja Rangga remaja normal, layaknya remaja lain yang kepo tentang hal tabu tentu Rangga pun begitu.
Rangga terus melu**t bibir Ara dengan rakus, tangannya bergerak mengusap punggung Ara, membelainya pelan.
Entah kapan kini posisinya sudah diatas tubuh Ara. Kedua kakinya bertumpu disamping kiri kanan tubuh Ara yang terlentang.
Rangga seperti hilang kesadarannya, pemuda itu menyesap, melu**t, menggigit dan menaut lidah Ara dengan lidahnya. Rangga rakus akan rasa baru yg sungguh memabukkan.
Yah..., inilah ujungnya, ujung penantian seorang Rangga.
Yah..saatnya Rangga menggila..
"Emmppp, emmppp..." Ara memukul pundak Rangga saat merasakan sudah tidak bisa lagi bernafas.
Rangga segera melepaskan mangsanya, walaupun enggan.
" Bernafas sayang..., bernafas..., maafkan kakak sayang..." Rangga mengecupi pipi dan kening Ara dengan sayang.
Sementara Ara berusaha mengatur nafasnya yg tersengal-sengal.
" Sudah tenang?, ayo bobo..." Rangga menarik Ara untuk menempel padanya.
Rangga membelai rambut Ara dengan lembut, dadanya masih bedentum-dentum tak karuan.
Matanya melirik jam dinding, waktu menunjukan pukul tiga dini hari.
" Kak..."
"Hemmmm..."
" Maafkan Lili ya..., Lili tadi----"
" Ssttt....iya nggak papa sayang, kakak ngerti.., udah tidur yuk..besok sekolah.." Rangga mengecup kening Ara lalu mengelus kening Ara, berharap Ara segera tidur, karena ada yg ingin dia lakukan.
Setelah beberapa saat Ara pun kembali terlelap. Elusan pada keningnya membuatnya cepat tertidur, tentu saja tidak hanya itu, pelukan Rangga juga nyaman, sangat nyaman.
Setelah meyakinkan Ara benar-benar terlelap Rangga dengan perlahan membuka satu persatu kancing baju istrinya itu. Dengan gerakan pelan Rangga mengecupi leher Ara, mengecupi bekas luka yg terbuat karena ulahnya.
Kecupan nya kini turun ke bawah, bibirnya menyentuh dada yg terdapat liontin naruto pemberian nya sepuluh tahun lalu, dan kebawah lagi, sampailah pada sesuatu yg menonjol.
Rangga menelan ludahnya kasar, bayangan apa yg dilakukan Lenox pada video itu membuatnya geram.
Bersihkan noda pada tubuh Lili dan hanya kau yang bisa.
Ucapan Marvel terngiang-ngiang di telinganya.
Perlahan-lahan Rangga menyusupkan tanganya di balik punggung Ara. Rangga melepas pengait b-ra Ara dengan perlahan.
Deg...deg...deg...
Jantung Rangga terpompa beribu-ribu kali, detakannya sungguh membuat seluruh nadi dalam dirinya menegang.
Sesuatu yg indah tersaji di depanya.
Sesuatu yg menjulang dan terlihat kokoh, putih dan..
Rangga mendekat kan wajahnya dengan ragu, tapi lagi-lagi bayangan Marvel beberapa jam lalu membuatnya ingin mencobanya.
__ADS_1
Cup...
Tak cukup satu kecupan.
Rangga mengecupinya dengan brutal sekitar lereng gunung dengan lembut dan pelan, sangat pelan, agar si korban tidak terganggu.
Puas mengecupi dua gunung kembar yg kenyal dan padat, kini matanya menatap pada puncak gunung.
Tapi tak cukup sampai situ..
Yaa sisi lain Rangga kini keluar, Rangga yang mesum kini mulai beraksi.
Dengan perlahan-lahan Rangga mulai mengecup ujung gunungnya sekilas, tapi ini kurang, masih kurang...
Rangga menghisapnya, menghisap ujung gunung Ara, menghisap bergantian kiri dan kanan, membuat suara lenguhan keluar dari bibir gadis yang tengah terlelap itu.
" Eugh....eugh... Ahh..."
Deg...deg..deg...
Rangga gelagapan seperti kucing yang tengah kepergok mencuri ikan.
Rangga segera merapikan baju Ara, mengancingnya dengan asal-asalan.
Jantung nya berdetak tak karuan. Takut, Rangga merasa ketakutan yang luar biasa.
Pemuda itu mematung saat mengetahui Ara tidak terbangun. Rasa lega dirasakanya , senyum mengembang dari bibirnya yang merah.
"Gila gue, kenapa gue mesti curi-curi kayak gini sih, dia kan istri gue, udah boleh begituan juga..."
Rangga membaringkan tubuhnya disamping Ara dan tertidur dengan pulas dengan wajah tepat di depan dada Ara.
*
Adzan subuh berkumandang mengalun syahdu. Ara menepuk pundak Rangga pelan.
"Kak..nggak ke masjid?" Tanya Ara sambil mengguncang lengan Rangga pelan.
Ara pun masuk ke kamar mandi untuk membersihkan badanya.
" Loh..perasaan nggak dilepas deh semalem.." Ara heran mendapati pengait b-ra nya terlepas, tapi gadis itu cuek saja.
Saat mulai mengguyur badanya di bawah shower Ara mendapati area gunung nya, memerah..
" Ini kenapa.., perasaan nggak gatel deh..kok merah begini.."
Banyak tanya yg tak ada jawab nya. Dan memang sikap cuek telah mendarah daging, gadis itupun tak berfikir apa-apa.
Saat keluar dari kamar mandipun Ara mendapati Rangga belum terbangun juga, Ara mendekatinya dan mengibas-kibas rambutnya yg basah pada wajah Rangga.
"Emmm...sayang, kakak ngantuk.."
" Udah subuh kak, ditunggu papa dan yg lainya nanti.."
Demi mendengar nama papa mertua mata Rangga langsung terbuka dan segera berangkat ke kamar mandi dengan sedikit berlari.
Tak berapa lama Rangga telah terlihat segar, dengan hanya menggunakan handuk sebatas pinggang Rangga mendekati tempat tidur, disana telah ada sarung dan baju koko yg di siapkan oleh Ara.
Rangga menoleh sekeliling kamar, Ara sudah tidak ada.
Rangga menuruni tangga dengan tergesa, saat menuju pintu keluar tangan kekar menepukknya dari belakang.
" Loh kok rambut lo kering, nggak keramas dulu lo" Tanya Adnan sambil tersenyum menggoda Rangga.
Rangga yg ngerti apa yg dimaksudkan Adnanpun hanya tersenyum sinis, tapi bukan Rangga kalau nggak pinter.
"Lain waktu lah..., masih banyak hari esok.." Jawabnya dengan pasti.
__ADS_1
" Bagus.., emang pantas lo jadi adik ipar gue..." Adnan merangkul Rangga menuju masjid terdekat, diikuti Ardi yang berlari-lari kecil mengejar mereka.
"Woy..tunggu gue..."
Adnan dan Rangga menoleh bersama, melihat Ardi yg kini berada tepat di belakang mereka.
Mereka bertiga memasuki area masjid dan disambut kakek, paman dan papa yang masih di area teras masjid.
**
" Hoammm...." Lagi-lagi Rangga menguap.
Hari ini Rangga benar-benar tidak seperti Rangga biasanya, kalau biasanya Rangga fokus ke papan tulis dan terlihat bugar hari ini pemuda ini tampak ngantuk dan lemas.
"Lo begadangnya sampai jam berapa bro??, gila lo sampe lemes begini.." Bisik Denis.
" Bukan begadang lagi bro, bahkan gue nggak rela merem rasanya.." Bisik Rangga.
"Gila.." Bahkan tabokan keras pada pundaknya tak dapat mengusir rasa kantuknya.
"Hooammm"
Suara kantuk Rangga akhirnya terdengar pak Rustam si guru killer.
" Rangga keluar sana, cuci mukamu baru masuk lagi!!"
"Iya Pak, maaf...." Ucap Rangga dengan berlalu pergi keluar dari kelas.
" Tumben Rangga ngantuk..."
" Iya biasanya dia paling fresh diantara kita..."
" Emang ada bola ya semalem??, kayaknya enggak deh..., nonton apa ya si Rangga..." Tanya Rayya pada Denis
" Nontonin bininya lah, lo bego atau apa...?" Jawab Denis tanpa menoleh, tatapanya tetap ke papan tulis.
Rayya bergerak pindah menempati tempat Rangga.
"Tapi tadi gue liat Ara jalanya biasa aja tuh.." Bisik Rayya pada telinga Denis.
" Maksud lo?" Giliran Denis yang kepo.
"Katanya kalo udah gituan, cara jalan cewek agak berubah..." Jawab Rayya.
" Berubah gimana?" Tanya Denis lagi.
Tapi saat mulutnya hendak menuju telinga Denis.
Pluk!!!
Spidol pak Rustam tepat mengenai keningnya.
" Mau ngobrol di depan kelas atau keluar??" Tanya pak Rustam.
" Nggak dua-duanya pak" Jawab Denis tegas.
" Rayyan!!, pindah ke tempatmu!!" Suara petir pak Rustam menggelegar di kelas XII IPA 1.
Perlahan-lahan Rayyapun pindah ke tempatnya dan disambut toyoran pada kepalanya oleh Vino.
Rangga melirik jam tangannya, kurang sepuluh menit jam istirahat. Rangga sedikit berlari menuju toilet kelas XII, tapi saat matanya tak sengaja menatap kebawah, tampak siluet gadis berjilbab berjalan menyusuri koridor sambil membawa beberapa alat peraga IPA.
" Chand, kamu balik ke kelas aja deh, bagiin tugas bu Sasti, aku susun ini dulu, ntar langsung balik.." Ucap Ara saat telah sampai di ruang alat peraga, yang telah ada Chandra disana sedang menyusun alat yg baru dipakai oleh kelas mereka.
"Ah..iya deh, bener juga ide kamu, lebih efektif waktu, aku tinggal nggak papa kan ya..?" Chandra segera bergegas keluar saat melihat Ara menganggukkan kepalanya.
Ara menyusun bejana-bejana dengan rapi dan teliti sesuai ukuran nya.
__ADS_1
Tapi tangan kekar tiba-tiba melingkar diperutnya membuat Ara tersentak.
Saat melihat cincin yg ada di jari tangan itu membuatnya menghembuskan nafas lega.