
" Kak temui aku di halaman belakang.."
Pesan dari Natasya membuat Denis langsung beranjak dari tidurnya. Sampai-sampai sebelah kaki Chandra terinjak olehnya.
" Adohhh, kak Denis hati-hati dong!!" Umpat Chandra kesal dengan mengurut kakinya yang ngilu.
" Sorry Chand, gue buru-buru. Demi masa depan cerah harus ada yang jadi korban, dan itu elo.. Sorry.." Ucap Denis ambigu dan segera beranjak mengambil wudhu dan sholat subuh super cepat. Jelas saja, surat pendeknya dua rakaat Al Iklas semua.
" Kak Denis, ini teh nya..." Teriak Ara dari dapur saat mendapati Denis berlari ke halaman belakang.
" Nanti Ra, nanti dulu... Yang ini lebih penting Ra..." Ucapnya dengan terus berlari.
" Kenapa dia? " Tanya Vino pada Rangga yang terus mengekori Ara yang saat ini sedang membantu mommy dan mama mempersiapkan sarapan.
" Halahhh, paling-paling Natasya..." Sahut Vera dan Hana yang baru muncul dengan menggendong anak-anak mereka.
Ara yang dari kemarin tidak melihat Ardipun mencari-cari keberadaan saudara kembarnya itu.
" Bang Ardi nggak tidur disini ya mah?" Tanya Ara.
" Bang Ardimu masih nungguin Azura, pesawatnya gagal berangkat kemarin. Mungkin sebentar lagi sampai..." Jawab mama.
" Pantesan rasanya ada yang kurang..." Gumam Ara.
" Apa sayang??, kurang??, yuk ke kamar...." Bisik Rangga mesum.
" Ishhhhh" Ara benar-benar geram dengan tingkah dan sifat Rangga akhir-akhir ini. Satu cubitan gemas kini mendarat di dada Rangga dan tepat di buahnya.
" Aaaauggghhhhh" Teriak Rangga frustasi. Aduh kenapa pula harus 'itu' yang dicubit Ara!!!, mampuslah Rangga!!.
Sementara semua justru tertawa dengan derita Rangga saat ini.
Denis melihat ke kiri dan ke kanan saat telah sampai di halaman belakang.
" Kak..." Panggil Natasya dan Denispun segera menolehkan kepalanya ke arah suara.
" Kak, Romo ingin ketemu kakak. Kalau kakak serius, hari ini juga kakak datang ke keraton. Mumpung romo masih ada di sini, karena besok romo dan mommy balik ke Australia.." Kata Natasya pelan.
" Iya.., iya!!. Kakak akan dateng bareng papa" Jawab Denis antusias.
Akhirnya....
Dengan cepat Denis mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi papanya, berharap beliau belum balik ke Jakarta.
...***...
Rangga manyun sedari pagi. Pagi-pagi Lenox sudah menghubungi Ara untuk mempersiapkan diri untuk kencan mereka.
Sebenarnya kalimat kencan sungguh menggelikan bagi keduanya. Tapi ini hanya lelucon keduanya untuk membalas dendam pada Rangga.
" Kamu tega ninggalin suamimu ini sayang?" Rangga berdiri di belakang Ara yang sedang menyisir rambutnya.
" Nggak sih" Jawab Ara jujur.
" Boleh ya kakak ikut, kakak traktir semua mau Lenox deh...sumpah" Rayu Rangga.
" Lili mau aja kakak ikut, tapi Lenox nggak mau ada kakak ya gimana dong?"
" Ckkk, masa minta upah beginian sih!!, mobil aja deh, bilang sama Lenox sayang.... Dia bebas pilih mau mobil yang mana!!" Rangga kembali mengusap wajahnya geram.
" Cuma sehari kak...., kami cuma jalan-jalan..."
" Akkhhhhh, tetap ajalah kakak nggak rela!!" Rangga meremas kepalanya frustasi.
" Jadi??" Ara menatap Rangga bingung, sebagai istri dia sebenarnya juga nggak mau meninggalkan suaminya untuk jalan-jalan dengan Lenox.
Tapi ini sudah janjinya Rangga untuk menuruti apapun mau Lenox asal Lenox amanah menjaga Ara selama dia tidak ada. Dan itu terbukti.
" Masa kamu mau mengingkari janjimu Bi..." Ara mengelus lengan Rangga pelan.
" Huhhffff, sayang...kamu percaya Lenox sudah move on?" Tanya Rangga.
" Sudah Bi....., Lili jamin itu" Jawab Ara mantap.
" Baiklah, tapi tidak ada kontak fisik. Walaupun cuma jewer atau cubit. Oke!!!"
" Ya Bi.....iya..." Sahut Ara.
" Satu lagi, jangan banyak senyum padanya..."
" Ya Bi.....iya..."
" Oh ya sayang.., pakai ini..." Rangga menyodorkan masker pada Ara.
Ara tersenyum dan menerima masker itu. Lalu perlahan berjijit untuk mengecup bibir Rangga.
__ADS_1
Ara sangat percaya akan besarnya cinta Rangga padanya.
Tapi kecupan kecilnya disambut dengan kegilaan Rangga.
" Boleh pergi kan sekarang?" Tanya Ara yang terengah-engah karena ulah gila Rangga. Bahkan dia harus berganti phasminanya karena kini menjadi kusut.
" Cckkkk isshhhhh" Geram Rangga yang sebenarnya sungguh-sungguh tak rela, dia terlihat kacau dan kesal.
" Ya udah deh, tapi... Jangan jatuh cinta padanya!!. Jangan tatap matanya!!. Jangan mau jika dikasih makan ini itu!!. Takutnya kamu diguna-guna!!" Tegas Rangga menggebu-gebu.
" Astaghfirullah Bi....." Ara benar-benar sampai mengusap dadanya melihat kelakuan Rangga ini.
" Ra...Lenox udah ada tuh..." Teriak Hana mengagetkan keduanya.
Ara kembali memeluk Rangga, dan mengecupi pipi dan bibirnya.
" Lili pergi ya Habibiku..., sayangku..., cintaku..., lelaki tangguhku..." Bisik Ara di telinga Rangga dan langsung beranjak pergi.
" What!!!, yang terakhir apa tadi?" Rangga menarik tangan Ara untuk mendekat padanya.
" Apa!!, nggak ada siaran ulang" Ara berlari keluar dengan wajah yang merah karena malu.
" Sayang, ulang yang terakhir tadi..." Kejar Rangga.
" Nggak!!!" Ara semakin mempercepat larinya.
Dan disinilah mereka berada.
Lenox berdiri disamping mobilnya dengan tampilan yang memukau.
" Sialan!!, dia benar-benar berniat kencan dengan istriku!!" Umpat Rangga saat melihat tampilan Lenox.
" Ekhhemm!!, Lenox itu benar-benar keren. Masih muda lagi..." Bisik Natasya pada Ara. Dan jelas Rangga mendengarnya.
Apa gue udah tua ya?
Gue dan Lenox kan cuma selisih 3 tahun doang..
" Iya...." Sahut Ara.
Duarrrrr!!!
Dengan berat hati dan demi memenuhi janji. Akhirnya Rangga melepaskan istrinya pergi dengan Lenox.
...***...
Rangga hanya diam menatap kepergian mobil Lenox yang membawa istrinya.
Rasa kesal dihatinya sungguh diluar batasnya.
Tapi saat mengingat kata-kata Ara sebelum pergi tadi membuatnya sejuk.
Dia bilang gue lelaki tangguh...
Jelas gue denger seperti itu..
Ya Allah, Liliku.....
Kau itu selalu membuatku sejuk sayang....
Aduh...belum-belum gue udah kangen kayak gini..
" Uncle...uncle...." Panggilan si kembar membuat Rangga langsung kembali ke realita.
" Ya..." Rangga berjongkok untuk menyamakan tingginya.
" Kenapa kamu membiarkan pacarku kencan dengan Lele BAYCLIN itu hahh!!" Bentak Sunny.
" Pacar??"
" Iya!!!, aunty Princess. Kenapa kamu memberikannya ijin untuk keluar!!" Teriak Sunny marah.
" Ya itu karena...."
" Kalau uncle tidak bisa menjaga aunty Princess, serahkan pada Sunny!!!"
Rangga menggelengkan kepalanya heran luar biasa. Si Sunny ini benar-benar duplikat Marvel. Sementara Shine terlihat kalem dan murah senyum seperti Brian.
Ya Allah, kalau hamba boleh minta, berikan anak perempuan saja. Yang seperti Liliku....
Dan kalau boleh lagi...
__ADS_1
Seandainya Engkau berikan putra, hamba mohon jangan yang bersifat sepertiku..
" Uncle, are you daydreaming?"
" Yes I do.."
" What's your thinking uncle?"
" You're aunty.." Ucap Rangga dan langsung menggendong keduanya di kedua lengannya.
" Yeahhh...you so strong uncle, we're love it..." Seru mereka bahagia saat Rangga mendudukkan mereka di bahu kiri dan kanannya.
...***...
" Pah, Denis rasanya mau pipis terus nih..." Denis terlihat grogi dan berkeringat dingin saat mobil melaju menuju kediaman keluarga Natasya di Jogja.
" Cckkk, kau ini!!. Playboy cap cicak rupanya!!" Professor Pramana mengulum senyum melihat Denis yang terlihat pucat saat harus bertemu calon mertuanya.
" Ya elah pah.. Playboynya kan buat cari gebetan doang. Ini istri pah...istri loh..."
" Sama aja lah tetap playboy!, tengil pula.."
" Ya elah pah.. Denis tu cuma ngoleksi gebetan loh pah, bukan pacar. Kalo pacar itu baru Natasya dan itupun cuma dua bulan trus break...."
" Son, masalahnya Natasya ini Raden Ayu Natasya Agil Prameswari. Putri Tunggal Gusti Raden Mas Haryo Mandala, apa kamu siap mental untuk itu.."
" Ya elah papah, kok papah malah nakut-nakutin Denis sih!!, beneran mau pipis ini pah!!" Denis merapatkan kedua kakinya.
" Dasar kamu!! Ha..ha..ha.." Professor Pramana sungguh geli melihat kelakuan Denis, beliaupun tertawa terbahak.
" Tapi terus terang pah, Denis nggak merasa kecil, walau sebesar apapun yang akan Denis hadapi ini. Karena dibelakang Denis ada papah. Professor hebat yang menjadi kebanggaan Indonesia..., benar pah. Papah adalah satu-satunya idola Denis" Ucap Denis jujur.
" Cckk, kau ini lebai..." Sahut papa.
" Pah...."
" Hemmmm"
" Kenapa papah tidak menikah lagi setelah kepergian mamah, pah?" Tanya Denis.
" Memangnya kamu mau punya ibu tiri?" Papah malah balik bertanya.
" Nggak!!" Jawab Denis tegas.
" Sama son..., papah juga nggak!!!"
" Terimakasih banyak pah..."
" Untuk?"
" Karena papah setia pada mamah Denis, papah membesarkan Denis sampai seperti ini, papah selalu ada untuk Denis...."
" Hahhhh, sudah-sudah..., persiapkan diri. Kita udah sampai.."
Dag dug...dag dug.
Jantung Denis seolah ingin meledak saat para abdi dalem istana berdiri berjajar menyambut kedatangan mobil mereka.
" Pah tolong pah, Denis benar-benar mau pingsan ini..."
" Ya ampun son!!, jangan malu-maluin lah!!"
" Pahhhh...., astaghfirullah. Tiba-tiba Denis jadi inget mamah...."
" Sudah son!!. Anggap saja mamahmu membersamai kita sekarang. Tenang...." Papah menggosok punggung Denis sayang.
Mereka akhirnya disambut untuk turun dan dipersilahkan masuk ke dalam istana.
Terlihat dari pendopo, Natasya bersama kedua orang tuanya lengkap memakai pakaian adat istana.
Denis menarik nafas dalam-dalam.
Tenang Denis...tenang...
Kamu bisa...
Bisa..yuk...bisa..
Denis terus memberikan semangat untuk dirinya sendiri saat tanpa sengaja tatapan matanya bertemu dengan tatapan romo Natasya yang tajam dan penuh wibawa.
" Sugeng rawuh, professor Pramana calon besan. Dan selamat datang juga calon mantu..." Sapa Raden Mas Haryo Mandala.
Degghhh...
Denis merasakan sesuatu yang menggelitik perutnya. Rasa ingin mengembangkan senyumnya lebar-lebar tapi malu. Jadi Denis hanya bisa melipat bibirnya agar tidak terlihat gila karena ingin sekali terus tersenyum.
__ADS_1