
🍁Prolog🍁
Aluna tidak sengaja bertemu dengan seorang pria yang umurnya
sama dengan abang Aksa. Pertama kali bertemu dengan pria itu saat ia masih
kecil berumur 8 tahun, bocah laki laki yang bernama Muhammad Adam yang selalu
menemaninya bermain.
Tapi entah kenapa adam dan aluna tidak mengingat masa
kecilnya itu. Setelah 12 tahun lamanya mereka berpisah, mereka pun dipertemukan
kembali saat mereka sudah dewasa. Dengan sifat yang berneda, Adam kecil dulu
sifatnya sangat ramah, dewasa, dan sangat menyayangi aluna namun saat ini ia
berubah menjadi dingin, cuek, dan datar.
Bagaimana jika Aluna mengingat kembali kisah masa kecilnya
dengan Adam? Apakah aluna akan mencoba mendekati Adam atau hanya sepintas lewat
tidak peduli?
---Happy Reading---
Gadis kecil yang sedang bermain dengan kakeknya disebuah
taman kanak didalam komplek rumahnya. Dengan riang gadis kecil itu terus
menerus berceloteh dengan suara cadelnya, sesekali gadis itu tertawa dengan
suara menggemaskannya.
"Kakek cini! Deketan ama luna." Ajaknya dengan
suara imutnya membuat sang kakek dengan gemas menyubit pipi tembamnya.
"Iya, kakek deketin luna."
Aluna, gadis kecil yang manis, cantik dan menggemaskan
sedang sibuk membuat istana pasir dengan sedikit air, tiba tiba saja ada bola kecil
gelinding disamping istananya. Jika saja bola itu datang dengan kencang mungkin
saja istananya akan roboh, luna pun melirik bola dan mengambilnya mencari siapa
pemilik benda ini. Tak lama pemilik bola itu datang.
"Maaf, itu bolaku." Ujar bocah laki laki yang
umurnya mungkin sama dengan abangnya. Luna itu melirik sebentar kearah bola
__ADS_1
yang ia pegang lalu berdiri berhadapan dengan bocah laki itu yang lebih tinggi
darinya. "Untung saja bolamu tidak mengenai istana kecilku." Ujarnya
dengan sangat imut.
Bocah itu menggarukkan kepala belakangnya yang tak gatal
dengan pipi merona akibat muka menggemaskan luna. "Maaf, aku tidak tau ada
yang duduk dipasir ini. Bolehkah aku mengambil bolaku?" Tanyanya dengan
ragu.
"Tentu saja boleh, inikan milikmu." Ujar luna
dengan menyerahkan benda bulat itu kepada bocah itu. Dengan uluran tangan
kanan, luna yang tadinya ingin duduk disamping kakanya urung. "Namaku
Adam, Muhammad Adam. Siapa namamu?"
Luna tersenyum manis, "Namaku Aluna, Aluna Nada. Salam
kenal ka Adam." Ucap manisnya luna, membuat adam memerah malu dan mukanya
dilihat oleh orang dewasa yang menonton pembicaraan kedua bocah lucu.
Kebesokkan harinya. Aluna yang sudah siap untuk bermain
"Abang, nanti luna akan ajak untuk berkenalan dengan ka
Adam." Ujarnya dengan semangat.
Aksa yang mendengar itu langsung mengernyit pelan,
"Siapa Adam? Anak mana?"
"ka Adam, anak komplek D. Dia teman baru luna kemarin,
dan luna sudah berjanji akan menjadikannya sebagai teman abang agar abang
temannya bukan hanya buku saja."
"Abang belajar juga untuk kepentingan abang sama luna,
nanti jika suatu saat luna bingung dengan soal pelajaran abang bisa membantu
luna."
"Iya iya, luna ngerti."
"Luna! Aksa! Sayang! Sini makan siang dulu." Suruh mama kepada mereka berdua. "Iya ma!" Teriak Aksa yang langsung menarik tangan luna dengan lembut. "Ayo, mama udah memanggil kita."
"Oke ayo. Luna juga udah lapar."
__ADS_1
Sesampai diruang makan, ternyata kakeknya dan papa keduanya sudah berada duduk manis menunggu makanan siap dimeja makan. "Sini sini, cucu cucu kakek yang ganteng dan cantik." ujar kakek membuat keduanya berjalan beriringan dan duduk disamping kakeknya.
"Abang Aksa mau makan apa biar papa ambilin?" tanya papa kepada putra sulungnya.
"Cucu kakek yang cantik juga mau makan apa? Biar kakek yang layanin?" tanya kakek kepada cucu kesayangannya. Aksa mengangguk. "Aksa mau ayam bumbu merah itu." unjuknya membuat papa tertawa. "Ini namanya ayam balado aksa."
Sedangkan luna, bingung memilih apa yang akan ia makan hari ini. "Luna bingung kek, terlalu banyak untuk dipilih."
Kakek tertawa pelan. "Pilih aja luna mau makan ikan? Ayam atau Daging?"
"Luna mau daging!"
"Ya sudah, kakek pinggirin dulu yang lain. Nah sekarang ada tiga pilihan bumbu dagingnya ada yang Pedas, Asin, dan manis.. Luna mau yang mana?"
"Manis."
"Jadi luna lebih memilih semur daging, sini nasinya kakek ambilkan." ucap kakek sambil meraih lauk untuk cucu imutnya. Setelah selelsai dengan sopan kakek melayani cucunya seperti tuan putri. "Silahkan tuan putri, makanan sudah ada didepan matamu."
"Yey! Terima kasih kakek, kakek juga harus makan." Suruhnya dengan lahap luna memakan semur daging dengan sendok. "Iya sayang, kakek juga akan makan setelah kamu."
❣❣
"Abang! Buruan ka Adam nanti nungguin." ajak luna dengan menarik lengan kanan abangnya yang sebenarnya malas untuk main keluar. "Iya luna, sabar dong, abang juga lagi jalan ini."
"Abang lama, buruan ayo."
"Kalian mau ketaman? Jangan lupa pulangnya cepet ya kalau cuaca udah mulai gelap." Perintah mama yang baru saja keluar dari dapur. Aksa dan luna mengangguk paham. "Siap mama."
Sesampai taman, luna sudah berlari lebih dulu karena lelah menarik abangnya yang sedikit enggan keluar rumah. Luna dengan cepat ia mendekati ka Adam yang sedang asik bermain bersama teman lainnya. "Hai ka Adam, hai semuanya?" sapa luna dengan riang, dibalas dadah dan senyuman oleh yang lain sedangkan Adam membalasnya, "Hai juga, kamu sendiri?" tanya ka Adam dibalas gelengan. "Ngga, luna sama abang. Ayo ka, kita ke abang." ajaknya dengan menarik lengan kanan adam.
Aksa yang melihat adiknya menarik bocah seumurannya itu sudah mengetahui bahwa bocah itu bernama adam. "Abang, kenalin ini ka Adam teman baru luna. Ka Adam kenalin ini abang Aksa, ayo dong berjabat tangan masa diam aja." ucap luna dengan kesal. Dua bocah itupun langsung berjabat tangan dengan menyebutkan naman mereka masing masing.
“Adam.”
“Aksa.”
“Nah kan enak kalau gini, ayo bang kita main bersama.” Ajak luna dengan semangat, Adam yang melihat wajah luna pun tersenyum manis sedangkan Aksa hanya menatap dalam diam kearah Adam. Dalam hatinya ia berperang, “Sepertinya diriku harus cepat besar agar bisa menjaga adik manisku dari hidung belang sepertinya.”
Luna yang sudah jauh berada didepan aksa yang masih asik menatap punggung adam, bocah yang sudah mengambil perhatian adiknya. Aksapun tersadar akan teriakan adiknya yang berada jauh didepannya. “ABANG! Ayo kok malah diam disana?”
Aksapun langsung berlari kearah adiknya dengan sengaja ia memisahkan gandengan tangan adiknya bersama bocah licik itu, dan meraih pergelangan tangan adiknya lalu berlari meninggalkan adam yang hanya diam karena tingkahnya yang sungguh kekanakkan itu.
“Abang kok, ka Adam ditinggal? Ditarik juga dong tangannya seperti abang melakukan itu kepada luna.”
"Ck, iya iya. Dia kan bisa lari sendiri kenapa harus abang yang repot.” Gumamnya dengan kesal ia melangkah kaki kearah Adam yang sedang mengernyit bingung menatapnya tapi diam saja. Lalu berlari mendekat kearah adiknya yang sudah mengulum senyuman kearahnya. “Udah seneng?” luna mengangguk riang lalu tertawa manis. Adam seketika terpana oleh kecantikan dan kemanisan luna.
Aksa yang tau itu langsung menggeram kesal dengan cepat ia mengencangkan pegangannya terhadap pergelangan bocah licik itu. Adam yang merasa genggaman aksa kencangpun langsung menatap aksa dengan kernyitan. “Gak usah liatin adik gua kayak gitu.” Geramnya dengan kesal, dan dibalas menyeringai oleh adam. Aksa pun semakin kesal kepada bocah licik ini, dengan sengaja Adam berbisik ketelinga aksa. “Luna manis, buat gua boleh?” tanyanya dengan menggoda.
“Gak! Apa-apaan lo.” Bentak aksa yang membuat luna ikut kaget dan menatap kedua orang itu dengan bingung. “Kalian kenapa?”
“Gapapa, ayo kita main.” Ucap Adam dengan mengajak luna setelah tangan aksa sudah terlepas dari tangannya. Sedangkan aksa yang masih kesalpun langsung mengejar kedua orang itu.
Merekapun langsung melanjutkan permainan yang luna inginkan, walaupun dipenuhi dengan Aksa yang cemburu dan selalu digoda oleh Adam, kemudian ditertawakan oleh luna yang melihat abangnya sangat posesif kepadanya.
---Bersambung---
__ADS_1
Jangan lupa dilike ya..