
Ara mengerjapkan matanya saat adzan subuh berkumandang, suara syahdu itu menyusup kedalam indera pendengarannya.
Saat matanya terbuka sempurna sebuah tangan melingkar diperutnya yang rata.
Kepalanya menoleh ke samping bantalnya. Tampak pria yang menjadi pemilik dirinya tengah terlelap tidur dengan raut wajah yang sangat lelah.
Pria yang menjadi pelindung sejatinya kini telah ada di sisinya.
Pria yang selalu ada di garis depan saat dia membutuhkan kini ada di hadapannya.
"Papa...." Gumamnya lirih
" Sayang sudah bangun??" Suara bisikan di belakang nya membuat Ara segera menoleh kebelakangnya.
Tampak wajah mamanya berada tepat didepannya kini.
Gadis itu langsung memeluk wanita tercintanya itu.
Sedangkan mama Neela mengecupi semua wajah putrinya dengan deraian air mata.
Kini mereka telah duduk diranjang Ara, bersebelahan dengan ranjang Ardi dimana papa sedang pulas dengan tidurnya. Maklumlah, pria paruh baya itu tidak satu kalipun terpejam sejak di perjalanan. Dan hanya bisa tidur setalah melihat putrinya beberapa saat lalu.
Ara membuka piyama tidurnya, derai air mata membasahi pipinya yg kini sedikit masih membiru.
Tampak ujung dada yang juga tampak memar. Entah sekuat apa Lenox merematnya hingga dada Ara sampai seperti itu.
Mata mama Neela terasa panas, isak tangisnya tak lagi dapat ia tahan.
Mereka saling berpelukan hingga tangan kekar terasa membelai kepala mereka berdua.
Papa Syakieb menatap kedua wanita tercintanya itu dengan mata yang berkaca-kaca.
"Lili...sayang...maafkan papa.., papa adalah papa yang tidak bisa diandalkan"
Ucapan papa Syakieb sangat lirih dan penuh penyesalan. Kepala pria dewasa itu tertunduk di hadapan putri satu-satunya.
Ara menggelengkan kepalanya.
" Pa..., kenapa menyalahkan diri papa sendiri, papa sangat bisa diandalkan, buktinya kebutuhan Lili dan abang semua tercukupi karena papa..., kami sungguh-sungguh sangat bangga pada papa" Ara menggosok punggung papa Syakieb yang bergetar karena tangis dalam diamnya.
"Papa mengorbankan semua waktu papa untuk kami, sumpah pa.., kami anak-anak papa bersaksi bahwa papa adalah papa yg bisa diandalkan.." Ucap Ara dengan terisak-isak.
Mereka saling berpelukan dan larut dalam kesedihan.
Adnan masuk ke kamar itu dan mengajak ketiganya sholat jamaah di mushola kecil rumah mereka, di samping kolam renang.
Disana paman dan yg lainya telah menunggu mereka, bahkan Bianca pun ada.
Sholat jamaah kali ini di imami oleh daddy Hen, karena paman Syahril sedang kurang fit.
Setelah sholat subuh, para wanita bergegas menyediakan sarapan, sedangkan Azura, Ara dan Hana, mempersiapkan diri untuk sekolah.
Sedangkan para pria saat ini tengah fokus berdiskusi untuk menangani masalah fitnah pada Ara yg terlanjur jebol ke media.
Brian dan teamnya segera bisa memblokir video itu dan dengan cepat bisa menariknya. Dan menghapus foto-foto yg dianggap kurang senonoh itu.
__ADS_1
Kini fokus Brian tinggal mencari siapa biang keladinya, dan siapa pengunggah nya.
Karena setelah berjam-jam Brian menyelidiki akun tersebut, ternyata akun itu palsu.
Pagi ini rencananya mereka akan ke sekolah Ara, untuk mengklarifikasi semua, dan membersihkan nama Ara. Mungkin akan tidak benar-benar bersih karena sudah terlanjur diketahui khalayak.
Kini tugas Brian dan Marvel untuk membuat video tandingan yg menjelaskannya duduk persoalan dan cerita sebenarnya dibalik foto-foto itu.
Sebenarnya berat bagi mereka berdua untuk membongkar siapa sebenarnya mereka.
Karena semakin terbukanya identitas Marvel ataupun Brian maka keselamatan keluarga semakin bisa terancam.
Brian yg sangat di benci musuh-musuhnya, karena terlalu susah dijatuhkan, tentu akan menyasar keluarganya untuk bisa menghancurkan Brian bukan.
Sedangkan Marvel, yg terlihat dari luar adalah seorang dokter, tapi apakah benar dia hanya dokter?.
*******
Rayya melambai-lambaikan tangannya pada Rangga yg kini muncul diantara penumpang yg baru turun dari pintu kedatangan luar negeri.
Rangga tersenyum cerah melangkah mendekati sahabat-sahabatnya dengan melambaikan medali emasnya.
" Lili gue nggak ikut kalian bro?" Tanyanya pada mereka.
" Gila bro!!, gue kangen berat sama dia tau nggak!!" lanjutnya lagi dengan wajah merona malu-malu.
Tampak ketiganya salah tingkah dengan pertanyaan Rangga.
" Lihat nih, baru kali ini gue bahagia setengah mati dapat ini, buat oleh-oleh untuk calon istri tercinta.." ucapnya sambil mengecup medali emasnya.
" Gue udah bayangin senyum manisnya yg bikin gue mabuk..." Rangga nyerocos tak henti.
" Kita langsung ke sekolah aja guys, gue gak tahan buat ketemu Lili gue nih, sumpah..gue bisa gila guys, gue kangen berat.." Ucap Rangga dengan mengusap wajahnya kasar.
Ada rasa sesak didadanya selama dia diperjalanan, ada rasa ingin segera secepatnya bertemu Lilinya. Entah kenapa jantungan berdetak tak karuan hanya dengan mengingat Lili saja.
Mereka terdiam seketika mendengar permintaan Rangga agar langsung ke sekolah.
" Kita ke cafe dulu deh, kita bicara dulu..."
Kata Denis dengan tenang.
Rangga mengamati satu persatu wajah sahabatnya ini. Ada sesuatu yg beda, ada sesuatu yg sedang mereka sembunyikan dan Rangga merasakan itu.
"Ada apa sebenarnya ini!!!???" Bentaknya.
Lagi, pesan-pesan Ara yg terlintas di otaknya.
" Ada apa dengan Lili gue hah!!!" Bentaknya lagi karena ketiga sahabat nya justru memilih bungkam dan menunduk, kecuali Denis, karena dia sedang menyetir.
Rayya yg di samping Denis mengkode Denis dan Denispun terlihat mengangguk.
Rayya menyerahkan ponselnya pada Rangga.
Rangga menerimanya dengan kebingungan.
__ADS_1
"Apa???" Tanyanya dengan menatap Rayya, tatapan yg bingung.
" Bukalah..." Ucap Vino yg ada di samping nya. Dia bersiap dengan apapun yg akan dilakukan Rangga padanya.
Rangga memutar video yg ada di layar utama ponsel Rayya.
Prakk!!!!
Ponsel terbaru Rayya kini naas teronggok di bawah kakinya. Bahkan dengan geram Rangga menginjak-ijaknya.
" Akhhh!!!!!, Akhhhh!!!!, Akhhhhh" Teriak Rangga menyayat hati siapapun yg mendengar nya. Kedua tangannya meremas kepalanya dan menjambak rambutnya sendiri dengan kesetanan.
" Brengsek!!!!, brengsek!!!!, brengsek!!!!, akhhhhh" Rangga meninju sandaran tempat duduk Denis seperti orang gila.
Rangga benar seperti orang gila saat ini, bahkan dia mencakari wajahnya sendiri.
Vino dengan susah payah menghentikanya, dan bahkan Rayya pun segera melangkah ke kursi belakang untuk membantu Vino menenangkan Rangga.
Rangga dan sahabat-sahabatnya kini duduk di cafe depan SMU dengan mata yg terlihat sayu. Pemuda itu tampak lemas dan tak berdaya. Tubuhnya terasa lemah seperti tanpa tulang penyangga.
Sahabat-sahabatnya sudah menceritakan semua. Dan kini dia terlihat diam saja, fikiran gila terbersit dalam otaknya.
" Kalo gue bunuh Lenox, gue pasti di penjara, tapi gue puas!!!" Desisnya geram.
Denis menggosok punggung Rangga yg tengah emosi tingkat tinggi.
"Masalah Lenox biar dobel brothy yg urus, masalah mu dan Jessica yg harus segera lo beresin, kalo sampai ketahuan keluarga Ara, lo bisa kehilangan dia selamanya bro" Ucap Denis bijaksana.
"Kami udah ikutin Jessi setiap hari, dan ada titik terang bro.." Ucap Vino.
"Ya dia sering terlihat jalan bareng Lenox akhir-akhir ini.."
Rangga meraup wajahnya kasar, berulangkali dia menggosok wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
" Gue mau ketemu Lili Den...anterin gue, hahhhh....mau pecah rasa kepala gue..." Desis Rangga dengan meremas kepalanya lagi.
****
Sementara itu di SMU Bhakti.
Ara datang kesekolah dengan di dampingi mereka-mereka yg tersangkut dengan fotonya yg tersebar seantero sekolah. Tampak beberapa murid terlongo melihat pria-pria tampan di belakang Ara.
" Gila!!!, gila ganteng banget sumpah!!!!, difoto aja ganteng, ini aslinya lebih ganteng!!!"
" Ya Tuhan!!!, gue mau dong jadi lo Ra..., spill me Ra...."
Marvel yg melihat keganjenan cewek-cewek itu justru tersenyum dan sesekali mengerlingkan matanya membuat beberapa siswi SMU itu berteriak-teriak histeris.
"Mau dong..., jangan cuma Ara yg dikelonin, gue juga mau..." Teriak Jessica diantara siswi itu.
" Gue gak kalah lah sama servicesan Ara" Ucap Jessica sambil menempel pada Marvel.
Marvel mencengkeram kerah seragam Jessica dan mengangkatnya dengan sebelah tangan.
" Tutup mulut busukmu itu!!!" Bentak Marvel dengan menghempaskan tubuh Jessica begitu saja.
__ADS_1
Dengan tanpa bersalah pria muda itu melangkah meninggalkan Jessica begitu saja.
Sedangkan Brian dan Adnan hanya menggelengkan kepala tanpa bisa berbuat apa-apa. Kalo sudah berkehendak, Marvel susah di tangani.