
" Ra, lo udah siapin judul skripsi lo belum?" Bisik Lenox.
" Belum.." Jawab Ara santai.
" Lo jangan santai-santai Ra, kita udah mau masuk semester 7. Ahhh sial gue lupa, ada calon dosen muda dibelakang lo..." Sindir Lenox.
" Ye...nggak lah , gue mampu karena gue emang mampu tau, emmmm tapi..." Ara terdiam saat baru teringat bahwa yang mengerjakan tugasnya pagi ini pun adalah Rangga.
" Kenapa?" Tanya Lenox saat melihat Ara melamun.
" Tugas kita tadi udah lo kirim ke Dr. Rusdi kan?" Tanya Ara penasaran.
" Udah dan udah gue cek juga. Lo ngerjain nya berapa lama Ra, kalimatnya teratur dan teliti banget, bukan seperti kalimat yang biasa....Ahhhh!!!" Lenox membelalakkan matanya, menyadari sesuatu.
"Jangan bilang lo curang!!!, dia yang ngerjain kan?, ngaku lo..." Tunjuknya pada wajah Ara.
Ara menelungkupkan wajahnya di meja, dan mengangguk malu.
" Sialaaaannn..., lo curang..." Bentak Lenox marah.
" Iya-iya gue curang sebagai gantinya gue traktir lo gimana?" Ara mengatupkan kedua tanganya untuk memohon ampun pada Lenox.
" Boleh, tapi cuma kita berdua. Kita kencan untuk terakhir kalinya. Karena setelah ini gue pasti susah nemuin lo lagi. Bodyguard lo udah pulang, saatnya gue pensiun dan fokus dengan Himawari gue..ha..ha.." Ucap Lenox panjang lebar.
" Himawari loe?, lo belum lamar dia ke papa!, jangan sembarangan lo!!"
" Tunggu sebentar, kelar koas gue lamar dia.." Jawab Lenox.
" Jadi semua anak asuh yang disana walinya om Syakieb ya Ra?"
" Iya, Rata-rata mereka tidak punya orang tua.." Jawab Ara sedih.
" Wari itu ditemukan nenek saat usianya delapan belas bulan, di dalam kardus. Saat hujan turun lebat di sepanjang jalan yang sepi, Wari menangis karena kedinginan. Berjanjilah padaku kau akan menyanyanginya Le...."
" Iya Ra, gue janji sama lo.."
" Jangan dicolek-colek dulu!!!, Awas kamu!!" Ancam Ara. Beberapa kali dia mendapati stempel merah di leher Wari akibat perbuatan Lenox.
" Kalau itu gue nggak janji Ra...sorry. Kadang gue nggak bisa menahan diri.." ucap Lenox dengan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
" Ya udahlah!!!, trus jadinya gimana rencana kencan kita nih?" Lenox kembali menggiring Ara ke topik awal. Karena kalau terus ngomongin Himawari takutnya Lenox keceplosan.
" Oke, lo mau kita kemana?, Biar gue reservasi tempatnya.." Ucap Ara.
" Pertama kita makan es krim di Mars Cafe, trus makan malam di Oceania. Lanjut chek in hotel di Bandung selama dua mal---"
" APA!!! Sini lo, gue cekik sampai mati lo Lenox!!" Sahut Ara kesal.
" Ha..ha..ha..ha., gue rasa itu adalah upah yang sepadan jadi bodyguard lo selama ini Ra..ha...ha..ha..." Sahut Lenox dengan tawanya yang menggelegar.
Beberapa mahasiswa yang ada di sekitar kantin benar-benar tidak habis fikir. Lenox itu sungguh dingin dengan siapapun, tapi lihatlah saat bersama Ara. Dia bisa tertawa-tawa seperti itu.
...***...
Ara akhirnya pulang bersama Lenox, karena beberapa saat lalu Rangga mengabari bahwa dia sedang ada rapat penting dengan Gama Bagaskara.
Sebenarnya sih Rangga bersama para sahabatnya dan sahabat Ara sedang sibuk mempersiapkan pesta pernikahan mereka.
Sejak pagi Rangga uring-uringan tidak jelas karena emosi ada yang mengakui kepemilikan istrinya. Dia memutuskan untuk mempercepat acara resepsi pernikahan mereka. Sudah waktunya dia membuka mata para pengagum Ara, bahwa Aranya adalah miliknya.
Saking asyik nya memilih ini itu untuk persiapan pesta bersama mommynya, Rangga sampai-sampai lupa waktu. Dan baru kembali ke apartemen saat waktu sudah menunjukkan puku 22.00 malam.
__ADS_1
Ceklek.
Pintu terbuka, disambut oleh pandangan menyejukkan.
Rangga tersenyum melihat Ara yang tertidur saat menunggunya pulang.
Sebenarnya sudah sejak tadi dia meminta istrinya untuk tidur duluan, jangan menunggunya, tapi lihatlah saat ini. Istrinya memang keras kepala.
" Istriku sayang..., cintaku...., dedek Liliku..." Bisik Rangga dengan mengusap lembut rambut Ara.
" Emmmhhh, sudah pulang..?" Ara mengucek matanya dan duduk, meraih tangan Rangga yang ada di kepalanya untuk dikecupnya.
" Baru saja sayang, maaf ya..." Rangga duduk di samping Ara dengan meletakkan kepalanya di pundak Ara.
" Capek ya?, mandi dulu. Nanti Lili pijitin.." Ucap Ara pelan.
" Nggak usah sayang terimakasih, sebagai gantinya biar kakak yang pijitin kamu, boleh???" Ucap Rangga dengan tatapan mata yang berkilat penuh nafsu.
Haduhhh...mampuslah aku...
Mama...
Besok aku harus ke mama minta jamu..
Dan begitulah, malam-malam sunyi mereka bertahun lalu berganti dengan malam yang penuh cinta kasih.
Malam yang melelahkan penuh peluh..
Malam penyatuan yang halal..
Malam dimana semua bernilai ibadah karena dilakukan dengan pasangan yang sah.
" Hemm....."
Saat ini mereka sedang mengistirahatkan tubuh mereka setelah mendaki gunung melewati lembah beberapa saat lalu.
" Bantu Lili cari judul skripsi dong..."
" Siap sayang, biar kakak yang kerjakan semua, kamu tinggal bersiap saja..." Ucap Rangga dengan mata yang terpejam, tapi tanganya tetap aktif menggrepe kemana-mana.
" Bersiap??"
" Ya, bersiaplah un----" Rangga langsung membuka matanya saat menyadari baru saja dia hampir keceplosan.
" Ah tidak, maksudnya kakak, kamu bersiap untuk Koas saja, biar kakak urus skripsi kamu..." Rangga memiringkan tubuhnya, memeluk Ara dengan erat dan mulai melancarkan aksinya kembali.
" Isshhhh...tunggu! Lili cuma minta bantuin cari judul, bukan minta kakak yang ngerjainnya..." Ara menahan wajah Rangga yang terlihat semakin tampan dengan rambut berantakan.
" Itu nanti aja yang....., kakak cuma mau ngerjain yang ini dulu..." Ucap Rangga dengan suara berat dan kembali mendusel ke dada Ara.
Rangga tetap lah orang yang sama. Walaupun casing dan isinya sudah banyak berubah, tapi sifat mesumnya tidak, malah lebih parah. Dan Ara memahami itu, memang tidak mudah bagi Rangga melewati lima tahun tanpanya. Dan biarkanlah Rangga sekarang berbuka sesuka hatinya. Yang bisa dilakukan Ara hanya melayani suaminya dengan patuh. Karena itulah kodrat alami seorang istri.
Patuh dan patuh, satu lagi...
Jangan mengeluh...
Semua kekurangan suamimu, telanlah...
Semua aib suamimu, kuburlah..
__ADS_1
Setidaknya itu yang dipesan oleh mama Neela agar kehidupan rumah tangga mereka tetap harmonis.
Dimanapun, kapanpun, dalam kondisi apapun jika suamimu menghendaki, menurutlah..
Ara terus memegang teguh pada pelajaran-pelajaran yang telah ia dapatkan, agar keluarganya tetap utuh.
" Akkhhhhhhhh"
Suara de*ahan panjang Rangga menutup sesi panas malam ini.
Keringat mengucur di tubuh keduanya. Rangga ambruk disamping Ara yang juga terlibat acak-acakan tak karuan.
Ditariknya Ara mendekat padanya, dipeluknya dengan posesif.
Tidak akan pernah ku lepas lagi sayang...
Aku berjanji padamu...
Tidak akan ku biarkan kau menangis sayang...
Sumpah..
Hanya maut yang bisa memisahkan...
Janji Rangga dalam hati.
Rangga terus mengelus rambut Ara sampai terlelap. Dan beranjak setelah dirasa istrinya sudah sangat pulas.
Rasa bergegas menuju meja belajar dan duduk disana dengan serius. Dibukanya laptop Ara. Rangga memulai untuk memahami dulu, membaca-baca semua pelajaran Ara dah mencoba merangkumnya.
Begitulah seorang Rangga Bayu Wijaya, otaknya hanya terisi pelajaran, dan Ara, Ara, Ara, Ara, Ara....
***
" Assalamu'alaikum sayang, selamat pagi...." Rangga telah rapi dengan baju koko dan sarungnya saat Ara baru membuka matanya.
" Emmmmhhhh, kakak baru pulang dari masjid?"
" Iya sayang, dan ini susumu..." Rangga menyodorkan susu coklat yang baru dibuatkannya untuk Ara.
" Terimakasih kak..." Ara menerimanya dan meminumnya beberapa teguk.
" Kuliah jam berapa hari ini sayang?" Rangga duduk disamping Ara dan mengecup pipinya gemas, Ara terlihat sangat cantik saat bangun tidur begini.
" Siang kak, hanya dua mata kuliah. Hari ini Lili ada janji ke rumah Vera bawa Bianca..." Jawab Ara.
" Okey kakak antar nanti, ya udah mandi sana udah kakak siapin airnya.." Rangga menarik tubuh Ara dengan kedua tanganya agar berangkat.
" Mau ikutan mandi nggak?" Tanya Ara nakal dengan sengaja mengibaskan rambutnya pada wajah Rangga.
Rangga melotot mendengarnya dan dengan cepat menyambar Ara kedalam gendongannya.
" Dengan senang hati queen...." Bisik Rangga tepat di telinga Ara bahkan sempat-sempatnya dia meniup-niup telinga Ara.
" Ahhhhh, nggak!!!. Lili tadi cuma bercanda. Turunin Lili kak..." Ara mencoba melepaskan diri.
" Nggak !!!, tawarannya nyata tadi, jangan ngeles deh. Umpan udah dimakan sayang..., pancing udah nyangkut ini...." Rangga makin mengeratkan gendongannya.
" Ampun kak...Lili cuma ber--- emmmppppp"
Sudahlah, jangan coba-coba nantangin Rangga. Nggak akan bisa Ara menang dari Rangga kalau udah urusan begituan. Yang ada Ara bakalan habis dibantainya. Apalagi tadi bilangnya Ara kuliah siang, sudahlah...
Persiapkan saja tenagamu Ara.
__ADS_1