
Drtt...drrtt...drttt
Suara getaran ponsel di meja nakas membangunkan Rangga, diliriknya waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi.
Ara dengan tubuh polosnya tertidur nyenyak disampingnya dengan tangan dan kaki yang membelit erat tubuh Rangga.
Disini sangat terlihat posesifnya seorang Ara terhadap Rangga Bayu Wijaya.
Drrt...drrtt...drrtt...
Rangga meraih ponsel Ara yang bergetar sedari tadi itu.
Dia mengucek matanya demi memastikan nama yang tertera di ponsel istrinya itu.
" Lenox???, kenapa dia telpon Lili, ada urusan apa?" Rangga menimang-nimang ponsel Ara, antara diangkat atau tidak.
" Ya hallo..." Sahut Rangga jutek.
" Loh..., kok ponsel Ara sama lo?" Balas Lenox tak kalah jutek.
" Bukan urusan lo!!, mau apa nelpon Ara?"
" Nggak ada, cuma kangen denger suaranya doang" Jawab Lenox santai.
" What!!! Dasar brandal gila!!!"
Tut...tut...tut..
Rangga segera memutuskan sambungan telp Lenox secara sepihak. Bete sendiri meladeni omongan seorang brandal gila macam Lenox.
Rangga memandangi Ara yang masih nyenyak tertidur setelah kegiatan panas mereka pagi ini.
Rangga tersenyum dengan tangan terus membelai rambut Ara.
" Sayang, aku sangat tahu besarnya cintamu padaku, dan aku percaya itu. Sayang...aku bukan takut akan jarak, tapi yang aku takutkan apakah kamu bisa bertahan dengan kerinduanmu padaku..., sementara pengganggu mulai datang..."
Rangga mengecup lama kening Ara, mencurahkan segala rasa disana.
" Sejak kecil kau seperti bayangan yang selalu mengikutiku sayang, meskipun jarak memisahkan tapi wajah dan namamu selalu melekat dihatiku sayang..., aku harap ini tetap sama kedepanya..."
Tangannya perlahan memindahkan tangan dan kaki Ara, karena dia sudah tidak tahan ingin segera ke kamar mandi.
Setelah selesai dengan aktivitasnya di kamar mandi, Rangga telah terlihat segar dan rapi.
Disiapkan peralatan mandi Ara dan beberapa baju gantinya juga, lalu pemuda itu menuliskan memo kecil dan menindihnya dengan ponsel Ara.
Tapi sebelum itu Rangga membuat panggilan dengan menggunakan ponsel Ara pada seseorang.
" Temuin gue, di Smart cafe sekarang!!!" Ucap Rangga pada seseorang di seberang.
*
Ara terbangun saat mendengar suara motor Rangga meraung meninggalkan pekarangan rumah.
Gadis itu menemukan memo kecil bertuliskan pesan bahwa Rangga pergi sebentar untuk mencari keperluan nya yang masih kurang.
Setelah selesai membersihkan dirinya Arapun menuju dapur, disana telah ada nasi goreng buatan Rangga. Arapun segera memakannya dengan cepat.
Jelas Ara sangat lapar, baru beberapa suap makan roti tadi pagi sudah harus menguras tenaga lagi dan lagi.
Ara tersenyum geli mengingat kejadian tadi malam dan juga tadi pagi.
" Lihatlah kak, bahkan sebelum kau pergipun, aku sudah merindukanmu seperti ini. Tak ada yang bisa kulakukan saat rindu ini datang kecuali untaian doaku untukmu..." Lirih Ara.
Setelah menyelesaikan makan pagi setengah siang nya itu, Ara dengan telaten mengeksekusi dapur. Memasak dengan bahan-bahan yang telah tersedia di kulkas.
Hampir satu jam Ara berkutat di dapur dan berhasil menyelesaikan empat menu masakan sederhana.
Drrkk...drrkk...drrkk
__ADS_1
Suara koper digeret dari pintu samping garasi membuat Ara segera menolehkan kepalanya ke arah suara.
" Assalamu'alaikum sayang...." Teriak mommy Tara dan disusul oleh daddy dan seorang nenek dengan rambut putih yang disanggul dengan rapi dan elegan.
" Wa'alaikumussalam mommy, daddy dan..." Ara mematung sesaat dengan spatula yang masih digenggamannya. Penampilanya Ara yang imut membuat mata ketiganya gemas.
Rambut yang dicepol diatas, daster pendek yang dibalut apron, baju yang sedikit terbuka memperlihatkan bekas-bekas sisa pertempuran malam dan pagi tadi.
Mommy dan daddy Hen hanya mengulum senyum, begitu juga wanita tua yang bersama mereka. Mereka yakin gadis ini tidak menyadari keadaan leher dan tengkuk belakangnya yang parah oleh tatto buatan Rangga.
" Sayang perkenalkan ini Oma. Oma Rima ini mamanya mommy..." Mommy Tara mengambil spatula dari genggaman Ara dan melepaskan apronnya juga, lalu memberikanya pada daddy Hen untuk dikembalikan ke dapur.
Didorongnya pelan tubuh Ara kedepan mamanya untuk diperkenalkan.
" Jadi ini mantumu itu Tara, berarti ini cucu mantuku ?" Ucap oma Rima sumringah.
" Iya saya oma.., perkenalkan saya Lili, istri kak Rangga.." Ara segera meraih tangan oma dengan kedua tanganya, lalu dikecupnya takzim.
Oma Rima meraih wajah Ara dan mengecup keningnya sayang.
" Cantik sekali kamu sayang, lebih cantik dari fotonya, sehat selalu cucu mantu, mana suamimu sayang?"
" Kakak keluar sebentar, ada keperluannya yang belum lengkap oma..." Ara membimbing oma untuk berjalan menuju kursi makan.
Sementara daddy Hen langsung menuju meja makan dengan mengendus aroma masakan yang lezat.
" Hemm...baunya harum sekali sayang, kamu masak apa?, wah daddy udah lapar dengan mencium aroma nya aja ini" Ucap daddy Hen dengan langkah kaki langsung menuju ke meja makan.
"Wah...menggiurkan sekali...Ayo mah makan dulu, ini cucu mantumu udah masak..." Mommy Tara membuka tutup saji dan melebarkan matanya. Beliau dengan lincah segera mempersiapkan beberapa piring dan gelas untuk dady dan oma.
Sementara Ara juga melanjutkan membuat puding dan mengupas buah untuk cuci mulut.
" Emmm, enak banget masakan kamu sayang..." Ucap daddy Hen dengan mengacungkan jari jempol nya yang belepotan, karena beliau makan langsung dengan tanganya, tanpa sendok.
" Sini sayang duduk sini " Mommy membawa Ara yang baru saja meletakkan buah pepaya kupas di meja untuk duduk diantaranya dan oma.
" Hon..., kita bisa rembukan itu nanti dengan Syakieb lah..." Sela daddy.
" Rumah akan sepi Hon, Rangga nggak ada dan mantu kita ju---" Sahut mommy
" Tapi masalahnya pernikahan mereka belum published Hon, kan akan jadi aneh kalau Lili disini berhari-hari..." Sela daddy lagi.
" Itu masalah mudah, kalian dan Syakieb kan seperti saudara, anak-anak Syakieb juga seperti anak kalian sendiri mau disini atau disana sama saja.." Oma ikut menengahi.
" Pinter masak kamu sayang, siapa yang ajarin?" Tanya oma dengan sayang.
" Neela!, Nenek!" Ucap daddy dan Ara berbarengan, tapi tidak kompak.
"Jadi?" Tanya oma bingung.
" Ya oma, keduanya yang mengajari Lili masak, baik nenek dan mama mereka guru yang luar biasa. Dan mulai hari ini gurunya akan bertambah lagi, mommy dan oma. Maukan jadi guru Lili.." Todongnya pada kedua wanita di sampingnya itu.
Mereka berdua semakin gemas melihat istri Rangga ini, dan akhirnya masing-masing mencubit pipi Ara, pipi sebelah kiri nenek dan pipi sebelah kanan mommy.
" Aowww sakit dad!!, tolong Lili..." Ucapnya dengan berlari sambil mengelus kedua pipinya yang pedih untuk sembunyi dibalik tubuh daddy Hen.
Setelah selesai makan, mereka bercakap-cakap ringan, oma semakin ingin mengenal lebih jauh cucu mantunya yang telah berhasil mencuri hatinya itu. Sementara daddy dan mommy beristirahat ke kamarnya barang sejenak.
" Sini sayang, oma rapiin rambutnya.."
Oma menyisir rambut Ara dengan telaten, rambut panjang Ara terlihat berkilauan terkena cahaya matahari yang masuk dari jendela kaca yang luas di ruang keluarga.
" Apa cucuku yang jutek itu merepotkan mu sayang?" Tanya oma.
" Jutek??, kak Rangga nggak jutek kok oma, kak Rangga itu manis..." Jawab Ara dengan tawa kecilnya.
Oma mencubit pipinya gemas.
__ADS_1
" Kamu menggemaskan, pasti bocah itu tidak membiarkanmu tidur nyenyak setiap malam..." Ucap oma lagi dengan tawanya yang renyah.
" Ihh kok tahu oma ha..ha..ha.." Sahut Ara.
" Tapi kalian selalu pakai alat kontrasepsi kan?" Tanya oma dengan wajah serius.
" Awalnya sih iya oma, kakak akan pakai awalnya, tapi......." Ara menundukkan wajahnya. Entahlah, kadang semua tak sesuai rencana. Semua terlewat begitu saja, bahkan sejak semalampun mereka melakukannya begitu saja.
Jangankan memikirkan pakai ko*d*m atau tidak, mau bakalan hamil atau tidak saja tidak terlintas sama sekali difikiran mereka saat itu.
Disaat nafsu sudah diujung, disaat hasrat cinta minta tersalurkan apakah masih ada waktu untuk memikirkan yang lainya?.
Saat itu yang ada difikiran Ara hanya bagaimana supaya suaminya tahu, begitu dalamnya rasa cintanya untuk seorang Rangga Bayu Wijaya.
Ara hanya ingin suaminya pergi dengan damai, tanpa fikiran yang terbebani oleh prasangka yang mengambang tidak jelas.
Ara hanya ingin suaminya pergi dengan membawa rasa percaya akan dirinya, bahwa dirinya akan selalu setia menunggunya kembali.
Dan kamu dan aku akan kembali menjadi kita kembali.
Ara menitikkan air mata di pipinya yang mulus.
" Tidak masalah kalau sampai Lili hamil oma, setidaknya ada bagian kakak yang menemani Lili, disaat kakak tidak ada di sisi Lili.." Ara mengelus perutnya dengan pelan. Ada rasa nyaman saat melakukanya, elusan tangan diperutnya sedikit menenangkanyaya.
"Kenapa menangis sayang?, oma juga berharap yang terbaik untuk kalian, oma akan selalu mendoakan kebaikan kalian. LDRan tidak selamanya buruk..., jalani dengan iklhas, berserah kepada Allah.."
Ting..tong..ting..tong..
Bel pintu rumah berbunyi mengagetkan mereka berdua.
Ara segera menyambar jilbab instanya dan mengenakannya dengan cepat.
" Lili buka pintu dulu ya oma.." Pamit Ara.
Oma mengangguk dan mengikuti langkah kaki Ara dengan pelan.
Pintu ruang tamu terbuka lebar. Kedua pasang mata saling manatap dengan tatapan terkejut.
" Kenapa lo ada disini HAH!!!!" Teriak tamu yang ada di depan pintu.
" I..itu..itu.." Ara bingung harus bicara apa, karena keadaan ini belum pernah mereka bicarakan sebelumnya. Apa posisi Ara di rumah ini?, sementara yang tahu posisinya sebagai istri Rangga hanya diketahui oleh beberapa orang saja.
" Minggir gue mau masuk..."
Jessica mendorong pundak Ara dengan keras, hingga membuat Ara yang tidak ada persiapan terjungkal kebelakang, pelipisnya terantuk oleh siku meja kayu jati hingga mengeluarkan darah.
" Akhhh Astagfirullah...Lili cucuku..." Teriak oma mengagetkan daddy yang sedang menuruni tangga.
Dengan berlari daddy segera menuju ruang tamu di susul oleh mommy.
" Lili sayang..." Daddy segera membantu Ara bangkit.
" Om, disini akulah yang Lilinya mas Aga, bukan dia!!" Teriak Jessica tidak terima.
" Kamu???, Lilinya Aga??? Atas dasar apa???, kamu fikir saya nggak tau tentang Lilinya Aga begitu?" Tanya daddy pada Jessica.
Jessica jelas tidak tau cerita di balik Aga dan Lili, yang dia tau awalnya Rangga menganggapnya sebagai Lili tanpa tau asal usulnya.
Semakin kesini obsesinya terhadap Rangga semakin besar, apalagi setelah tahu Rangga dan Ara telah bertunangan dari group sekolah. Berita itubmembuatnya cepat-cepat kesini setelah pulang dari kemping.
" Mas Aga bilang, aku Lilinya bukan dia!!, bahkan dia saja nggak pernah panggil mas ke Rangga..." Tunjuk Jessica pada Ara yang berada dalam pelukan daddy.
Ara ingin tertawa saat mendengar ucapan Jessica, dengan pelan Ara melepaskannya diri dari pelukan daddy.
" Mau tau kenapa gue nggak panggil kak Rangga lagi dengan sebutan mas?" Tanya Ara sinis, dengan menatap tajam Jessica. Ara melepaskan diri dari pelukan daddy dengan sopan, saat daddy mulai meraihnya lagi.
" Ya karna lo Lili palsu!!!" Sahut Jessica percaya diri.
" Jelas bukan!!" Jawab Ara dengan masih tersenyum.
__ADS_1
" Karena panggilan mas Aga yang gue sematkan padanya dulu waktu kecil, sudah tercemar sama lo!!, dan gue gak suka bekasan!!"