
Rangga duduk di kursi Ara tadi dengan memangku gitar, matanya masih terus saja mengikuti langkah Ara.
Sementara Ara berlalu turun dari panggung dan terus melangkah ke kursinya tanpa mempedulikan tatapan heran para teman sekelasnya yang menatapnya penuh tanda tanya.
" Kenapa?, ada apa?"
" Mereka putus ya?"
" Ih sepertinya iya deh..., lihat kak Rangga kelihatan sedih banget.."
" Wah sayang banget..., padahal mereka cocok lho.."
" Wah..kasihan banget kak Rangga, sepertinya dia paling sakit deh.."
" Eh...iya, dia natap Ara terus...tuh..."
" Ya Tuhan mereka yang putus kenapa gue yang mewek...hikk...hikk...sedih gue.., minta ember gue minta ember.."
" Buat apa ember cuy..."
" Ya buat nampung air mata gue lah cuy..."
Bisik-bisik dari beberapa siswa terdengar oleh telinga Jessica.
" Brengsek!!!, awas kamu Ara " Umpatnya.
Teman-teman sekelas Ara yang sudah tau hubungan manis antara Ara dan Rangga merasa sedih dengan semua ini
Apalagi petikan nada dari gitar Rangga saat ini sangat kontroversi. Melow abis..
Dengan perasaan campur aduk Rangga memetik gitarnya.
Tepukan heboh mengguncang penjuru aula. Rangga yang seorang pendiam dan dingin saat ini tengah memetik gitar diatas panggung.
Ngomong aja jarang eh hari ini dia mau nyanyi, benar-benar keajaiban dunia terbaru.
🎶🎶
Aku yang lemah tanpa mu
Aku yang rentan karena
Cinta yang tlah hilang darimu
Yang mampu menyanjungku
Selama mata terbuka
Selama jantung tak berdetak
Selama itu pun
Aku mampu untuk mengenangmu
Darimu, kutemukan hidupku
Bagiku, kaulah cinta sejati
Bila yang tertulis untukku
Adalah yang terbaik untukmu
Kan ku jadikan kau kenangan
Yang terindah dalam hidupku
Namun takkan mudah bagiku
Meninggalkan jejak hidupku
Yang telah terukir abadi
Sebagai kenangan yang terindah
🎶🎶
Suara merdu Rangga menyanyikan lagu Kenangan Terindah dari Samson menghipnotis semua yang berada di ruang aula.
Papa Syakieb dan daddy Hen hanya bisa mengulum senyum dengan keadaan dua insan yang tengah renggang itu. Ara malah menutup telinganya dengan headset yang selalu ada di tasnya.
Membuat Rangga menekan emosinya yang meletup-letup diatas panggung.
Tepuk tangan meriah para siswa diberikan pada seorang Rangga yang keren hari ini.
Casingnya keren badas luar biasa ,tapi hatinya hancur lebur berkeping-keping.
"Dasar cinta monyet!!!" Umpat daddy Hen, gemas melihat kelakuan anak dan menantunya.
" Biar cinta monyet juga situ doyan banget dahulu...." Sindir papa Syakieb.
" Udah tahu aku yang doyan malah kamu yang makan!!!" Sahutnya..
" Lah situ yang buang!!, sayang kan kalau nggak aku putik..., buah segar macam Neela kok di biarin nganggur...sayang dong..." Jawab papa Syakieb tegas.
" Dasar pagar makan tanaman!!" Geram daddy Hen.
" Heh!!!..enggak ya!!, jangan asal bicara, situ yang buang, aku yang putik!!!, ingat itu!!!" Ucap papa Syakieb penuh penekanan.
__ADS_1
Mereka terdiam sesaat, bahkan saling membuang muka.
Namun sejurus kemudian tubuh mereka sama-sama bergetar dengan tawa mereka yang pecah.
Mereka berdua, saling tatap dan tertawa terbahak-bahak, sejurus kemudian merekapun berangkulan kembali.
Sedangkan Ara masih fokus dengan yang didengarkannya di headset yang tersambung dengan ponselnya.
Tak sekalipun matanya menatap Rangga yang sejak tadi menatapnya tajam.
" Syakieb?, Hendrawan? " Sapaan seseorang mengagetkan mereka berdua.
" Sasti???" Ucap daddy dan papa kompak.
Mereka akhirnya terlibat percakapan yang seru. Ternyata mereka teman saat SMU.
" Jadi apa kabar Neela Hen?, pasti tambah cantik dia?" Tanya bu Sasti.
" Ya iyalah cantik, cantik banget malah..." Jawab papa Syakieb berapi-api.
Bu Sasti mengeryit heran, kok Syakieb yang antusias menjawabnya.
" Pa...pulang yuk..." Rengek Ara memeluk lengan kekar papanya.
" Ah...sudah boleh pulang kah Sas?" Tanya papa pada bu Sasti.
" Oh...boleh, acara juga udah selesai, tinggal acara hiburan, Yuda dan Rangga bisa meng-handle nya..."Ucap bu Sasti ramah.
Ara heran kok tumben bu Sasti mengelus kepalanya.
Setelah berpamitan Ara dan papa keluar dari gedung aula, sementara daddy Hen masih melanjutkan ngobrol nya dengan bu Sasti dan beberapa teman lain yang tak sengaja bertemu di situ.
Rangga yang sedang berbicara dengan Yuda segara undur diri untuk mengejar Ara dan papa yang mulai menjauh.
"Lili...tunggu kakak, kita pulang bareng..." Ucap Rangga saat mereka telah berhadapan.
" Ogah..." Jawab Ara geram.
" Sayang, kita harus bicara..." Rangga meraih lengan Ara.
" Pa..., biar Lili pulang sama Rangga..." Pinta Rangga pada papa mertuanya.
" Yah..., baiklah..papa juga harus langsung ke kantor..." Ucap papa Syakieb.
" Pah..., Lili ikut kekantor..." Ara menepis tangan Rangga dan segera memeluk papanya.
" Terus Rangga? " Papa Syakieb gemas melihat keduanya yang sama-sama egois.
" Buang aja ke laut, biar di caplok ikan paus.." Gumam Ara geram.
" Lo kata Rangga Nabi Yunus apa?" Suara Ardi mengagetkan Ara.
" Yup..., abang udah selesai ujian susulan, haduhhh berasap sudah otak abang beb..." Jawab Ardiansyah santai dan dengan tanpa malunya mengacak-acak rambutnya di depan murid cewek SMU Bhakti yang sedang menatapnya dengan tatapan suka.
" Sayang, pulang sama kakak..." Rangga kembali meraih lengen Ara.
" Lo udah dibuang sama adek gue..." Ucap Ardi sebal.
" Beri waktu Rangga bicara pada Lili pa..." Rangga meyakinkan papa mertuanya.
" Ya sudah, Lili bicarakan baik-baik masalah kalian, masalah ada untuk dipecahkan, bukan pecah karena masalah...." Ucap papa Syakieb ditelinga putrinya.
" Baik pa..." Lirih Ara.
Dan disinilah mereka sekarang berada, di kamar Lili, dirumah papa Syakieb.
" Maafkan kakak..., kakak berat untuk berpamitan padamu..." Ucap Rangga setelah mereka membisu hampir setengah jam.
" Kalau Lili nggak mau ditinggal, kakak masih mau pergi?" Tanya Ara.
" Kita harus berpisah demi kelangsungan rumah tangga kita say---"
"Omong kosong..." Sahut Ara.
" Sayang dengar, kita sama-sama belum dewasa, perselisihan seperti ini akan terus terjadi, kita menghindari ini.." Ucap Rangga pelan.
" Berhentilah menghawatirkan masa depan kak, jalani nikmati dan syukuri setiap proses hidup ini dengan baik, berusaha dan berdoa kepada Allah serta tawakal kak itu saja..." Ucap Ara tegas
" Tapi sayang----"
" Kak tenanglah, Allah melihat usahamu, Allah mendengar doamu, dan Allah paham keinginanmu.
Yakinlah Allah akan mempermudah dan Allah akan menunjukkan jalannya.
Kita harus tetap bersama..., Lili nggak mau berpisah..." Tegas Ara.
Rangga mengusap wajahnya bingung, tak akan pernah menang bicara dengan Ara, gadis itu selalu bisa menangkis semua.
" Sayang kalau kakak memaksa bagaimana?"
" Mamaksa gimana?" Tanya Ara.
" Kakak tetap akan perg--"
" Jangan......kumohon..." Ara segera memeluk Rangga erat.
"Jangan kak..please, baiklah...ayang, kakak mau Lili panggil kakak ayang kan?, oke..ayang.." Ara semakin mempererat pelukanya.
__ADS_1
" Sayang jangan begini..., sayang hanya lima tahun..." Ucap Rangga dengan menciumi Ara sendu. Dadanya sesak menghadapi ini semua.
" Nggak mau, jangan! satu bulan saja juga nggak.., nggak mau yang..." Tangkis Ara cepat.
" Sayang..tolong mengerti ini demi masa depan kita.." Rangga membingkai pipi Ara.
" Please sayang, kakak mohon pahami kakak.." Pinta Rangga dengan sangat.
Ara menatap Rangga dengan mata yang telah berkaca-kaca.
" Iya deh iya, Lili paham ..., paling banter Lili gantung diri di pohon toge kalo gak ada kamu disisi aku" Ucap Ara sarkas.
" Kok gitu sih ngomongnya, ck...pusing kakak jadinya.." Rangga menggaruk kepalanya gemas.
Mereka kini saling memunggungi satu sama lain. Ara yang nggak mau ditinggalkan dan Rangga yang berharap pengertian Ara.
Disinilah dasar dari keputusan papa Syakieb untuk memisahkan mereka.
Keduanya masih sama-sama egois, keduanya masih sama-sama keras kepala dan keduanya masih sama-sama ingin menonjol dari salah satunya.
Akan menjadi bencana bila ini akan diteruskan.
Tak ada yang saling bicara sampai malam tiba. Mereka kembali perang dingin.
" Li..ini gitarnya..." Hana menyerahkan gitar Ara yang tertinggal di sekolah tadi.
" Makasih kakak ipar, repot-repot dibawain pulang, yang pinjem aja nggak tanggungjawab..." Sindir Ara pada Rangga.
Sementara Rangga hanya menggelengkan kepalanya.
" Kalian ini kenapa lagi sih?" Tanya Adnan.
Melihat hubungan Ara dan Rangga yang seperti ini membuat Adnan sedih.
" Dia mau ninggalin aku bang, janjinya aja kemarin Lili mau diajak, rupanya PHP doang, sekarang akunya di buang.."
" Sayang!!, nggak ada yang buang kamu.." Sahut Rangga.
" Sama aja, Lili ngerasainnya kok kaya gitu ya..." Sela Ara.
Adnan mengambil kedua telapak tangan mereka dan menyatukannya.
" Dulu...., kalian tidak pernah berantem seperti ini, sekalipun tidak... Lalu kenapa setelah dewasa kalian malah seperti ini...hemmm?" Adnan meremas gemas kedua tangan mereka yang kini terpaut.
" Dulu..., kalian selalu mengakurkan abang dan Ardi kalau kami sedang tidak sepaham, lalu kenapa kalian sekarang yang tidak sepaham, hemmm?" Adnan menepuk pundak Rangga.
Ara segera melepaskan tautan tangan mereka saat mendengar suara Bianca menangis mencari Azura.
" Kau mau tau cara menyelesaikan masalah yang cepat?" Bisik Adnan pada telinga Rangga, dan pemuda itupun mengangguk antusias
" Bicara diatas kasur, sentuh dia tepat dihatinya, dia kan jadi milikmu selamanya, sentuh dengan sepenuh cinta, buat---" Bisik Adnan pada telinga Rangga dengan menyanyikan sebuah syair lagu.
" Hatinya terbang melayang..." Sahut Rangga dengan tertawa.
" Terimakasih bang..." Lanjut Rangga dengan tersenyum tipis.
" Tapi inget pakai sarung, adek gue masih bau kencur..." Ucap Adnan tegas.
Yah.., kalo itu gue gak janji bang..
Awalnya mungkin gue pake..
Tapi pas nambahnya selalu lupa gue, karena saking asyiknya...
Maaf bang...
Rangga menatap Ara yang sedang memangku Bianca dengan membacakan dongen tentang para nabi.
Karena Azura masuk shif malam kerja di cafe Nathaniel.
Selama ini gue sering nggak pakai 'itu'.
Kalau pas gue tinggal Ara hamil gimana?
Gue pasti dicap sebagai suami laknat.
Ya Tuhan, bukanya gue nggak mau dikasi anak.
Tapi kalaupun boleh minta, tunda dulu ya Allah...
Rangga tiba-tiba didera rasa was-was dengan tindakannya yang sering lupa pakai 'itu'
Melihat Ara yang memangku Bianca dengan sayang seperti saat ini, sebenarnya sudut hatinya nyaman.
Bahkan Rangga dapat membayangkan bagaimana kehidupannya kelak dengan Ara dan putri-putra mereka.
" Ngelamunin apa lo bro?, ketawa sendiri kaya orang gila.." Ardi menabok lenganya membuat Rangga kembali jatuh ke bumi.
" Ngelamunin adek lo..." Jawabnya acuh.
" Ya elah lo Ga!, belum halal dilamunin mulu, sudah halal masih lo lamunin juga, berat banget beban hidup lo bro " Ucap Ardiansyah dengan berlalu begitu saja meninggalkan Rangga yang melotot geram.
" Bian..., ayo bobo sama daddy yuk" Ucap Ardi sambil merentangkan tangan pada Bianca, dan disambut pelukan hangat oleh gadis kecil itu.
" Daddy???, daddy tai kucing!!!, duit aja masih minta om...mau dipanggil daddy!!" Umpat Brian kesal.
" Ha...ha..ha.., kok brothy yang sewot sih, suka-suka Ardi lah.." Sahut Ardi dengan tawanya yang menggelegar. Matanya tajam menatap Brian yang sedang serius menatap laptopnya.
__ADS_1
Brothy boleh ambil ummynya, tapi jangan harap ambil Bianca...
Bersambung...