
---Happy Reading---
Makanan malam sudah siap dimeja makan, luna mendengar suara mobil yang sudah terparkir rapih didalam garasi. Luna segera berlari kearah garasi dan melihat papanya yang sudah pulang tersenyum kearahnya dengan membawa tas belanja yang mungkin saja oleh oleh untuknya dan mamanya.
"Papa pulang, nak. Dimana mama mu?"
"Selamat datang kembali papa, mama ada didapur. Ini oleh oleh?" tanyanya sambil menunjuk kearah tas belanjaan ditangan kanan papanya. Papa mengangguk dengan semangat ia mengambilnya lalu membawanya keruang tamu mengobrak abriknya apa saja yang dibeli oleh papanya.
Papa ranz langsung menggelengkan kepalanya melihat tingkah putrinya, ia melangkah kaki kearah dapur dimana istrinya berada. Ia tersenyum sendu, karena saat ini mereka sedang ada beberapa masalah dipernikahannya. "Sayang aku pulang." ucapnya dengan senyum manis namun istrinya hanya berdeham tidak menyapa kembali dirinya.
"Aksa mana?"
"Dikamarnya."
"Aku kekamar dulu ya." Anzel berdehem kembali membuat ranz menghela nafasnya. Ia segera melangkah kaki kearah kamarnya, disana ia langsung segera masuk kekamar mandi dan melakukan ritualnya untuk menyegarkan otak dan tubuhnya kembali. Selama dua hari ia tidak pulang kerumah hanya karena pekerjaan dan memikirkan masalah yang baru saja datang ke kehidupan keluarganya.
Selama Ranz berada didalam kamar mandi, Anzel masuk kekamar dan mengambil pakaian kotor suaminya untuk segera digiling dimesin cuci. Tak sengaja ia melihat ponsel milik suaminya dan disana ada satu pesan masuk yang membuat dirinya bertengkar dengan Ranz.
Isi pesannya itu dari sekertaris suaminya yang tak lain ****** yang sudah mencintai Ranz sejak ia koma. "Kenapa dia selalu menghubungi suamiku sih? Apa maksudnya coba." gerutunya lalu membanting ponsel suaminya kekasur dan meninggalkan kamar dengan amarah.
Sedangkan Ranz yang sedari tadi sudah kelar mandi ia melihat dari dalam apa yang dilakukan oleh istrinya dan ternyata istrinya kesal dengan pesan masuk yang ia tau dari sekertarisnya sendiri yang ia kenal sebagai teman SMA-nya dulu.
Ia keluar kamar mandi dengan celana panjang abu abu tanpa kaos membuat bentuk tubuhnya terlihat. Ranz mengambil ponselnya yang dibanting diatas kasur oleh istrinya tadi dan membaca pesan tersebut. Ranz merasa jijik karena isi pesan itu. Ia pun langsung membalasnya dengan kejam.
"Mulai besok kau tidak perlu datang kekantor, karena hari ini adalah hari terakhirmu dikantor." send.
Lalu ia memblokir nomer mantan sekertarisnya lalu menghubungi sekertaris yang lama. "Jika kau sudah kelar liburan, segeralah kembali! Tugasmu sudah menumpuk. Dan jangan lagi mencari sekertaris lain hanya karena kamu ingin cuti." send.
Tok tok tok!
Pintu kamarnya diketuk dan muncullah kepala putranya nongol begitu saja seperti setan. "Astaga! Aksa kau mengagetkan papa."
Aksa meringis pelan. "Maafkan aku papa, aksa disuruh panggil papa untuk segera makan malam."
Ranz mengangguk lalu segera mengambil kaos putih yang sudah disiapkan oleh istrinya, dan merangkul bahu putranya dengan akrab. "Ayo kita kesana. Masak apa mereka?"
__ADS_1
"Masak makanan kesukaan papa, karena papa sudah pulang dari kerja selama dua hari ini. Oh iya pa, papa sama mama bertengkar ya?" Tanya aksa yang penasaran dengan sikap mama terhadap papanya.
Ranz menggeleng. "Tidak, papa dan mama hanya berurusan dengan kalimat 'Salah pahaman' bukan bertengkar seperti pasangan yang lain."
"Karena apa? Apa karena ada sebuah pesan yang menggoda papa dan membuat cemburu mama?" tanya aksa yang benar benar tepat sekali tebakkannya. Ranz menghela nafas, dan mengacak rambut putranya dengan gemas. "Mengapa kau sangat peka sih? Ya begitulah ada orang masa lalu yang dulu suka sama papa saat SMA dan mengganggu papa lagi."
"Terus papa sudah bertindak?" Ranz mengangguk. "Sudah, papa sudah mengusirnya dari kantor karena itu membuat papa muak dengan tingkahnya yang sangat murahan." Aksa mengernyit pelan lalu mengangguk paham, ternyata orang ketiga dalam hubungan papa mamanya berada didalam kantor milik papanya. Pantas saja mamanya sangat kesal karena wanita itu ada didalam kantor milik papanya.
❣❣
Suasana makan malam sangat sepi dari biasanya. Sepertinya aluna dan Aksa mengerti bahwa ada sesuatu yang terjadi diantara kedua orang tuanya, dengan sengaja aluna menghabiskan makanannya terlebih dahulu lalu meninggalkan orangtuanya begitupun dengan aksa yang lebih memilih langsung kekamarnya dibandingkan duduk diam diantara papa dan mamanya.
Sepeninggalan kedua anak, Anzel langsung berdiri dan membereskan piring piring kotor lalu mencucinya dengan bersih. Anzel lebih memilih menyibukkan diri dibandingkan diam dihadapan suaminya. Sedangkan Ranz sedang berpikir mencari cara bagaimana ia bisa berbaikan dengan istrinya ini.
"Anzel." panggilnya dengan berdiri melangkah kaki dibelakang istrinya yang masih menyuci piring. Saat anzel ingin pergi lengannya ditahan oleh ranz namun anzel masih diam tidak berontak atau apapun itu. "Kita perlu bicara."
"Bicaralah."
"Kau salah paham, dia memang mengganggu tapi aku sudah mengusirnya keluar dari kantor agar ia tidak mengganggu kita dan membuatmu cemburu. Aku juga sudah memblokir nomornya agar kamu tetap percaya kepadaku, aku suamimu, aku setia sama kamu, aku tidak mungkin meninggalkan kamu hanya demi wanita luar sana."
Ranz menyentuh pipi istrinya yang sudah dibasahi oleh air matanya. Diusapnya dengan pelan ranz langsung menciumnya dengan lembut dan penuh kasih sayang disana. "Kamu harus percaya sam aku, bahwa aku sangat mencintaimu. Aku janji aku akan lebih terbuka kepadamu sayang, maafkan aku."
Anzel menangis. "Kamu jahat gak jujur sama aku."
"Iya, maafkan aku. Kemarin katanya kamu melihatku berpelukan dengan wanita itu ya?" tanyanya dan diangguki oleh anzel. "Yang kamu lihat itu hanya salah paham sayang. Dia sengaja menjatuhkan diri dan aku reflek menangkapnya tidak lebih dari itu."
"Di saat aku lihat kamu pelukkan sama wanita lain, aku ingin memberitahumu sesuatu."
"Apa itu?" tanya ranz, anzel pun langsung berjinjit dan membisikkan sesuatu ditelinga suaminya. Ranz yang mendengar bisikan istrinya langsung memekik dan menggendong istrinya dengan sayang.
"SERIUS KAMU?!" pekiknya membuat kedua anaknya datang berlari kearah dapur dan bertanya panik kepada papanya. "Papa kenapa teriak sih? Kaget tau luna dikamar, dikira..." ucap aluna.
"Dikira papa dan mama masih berselisih pahaman." Lanjut aksa.
Papa dan mama tersenyum kearah kedua anaknya dengan senyuman diwajah mereka. "Kami mempunyai berita bahagia buat kalian." Aluna dan Aksa memiringkan kepalanya dengan tanpa bertanya.
__ADS_1
"Kalian akan segera memiliki adik kecil dirumah ini."
Mama mengangguk. Aluna, aksa terbengong sampai mereka serempak melotot dan menganga dengan takdir mereka saat ini. Nasib mereka sebentar lagi akan berubah.
"APAAA!!??"
"MAMA MAU HAMIL LAGI!!!??"
Pekik mereka serempak karena syok dengan berita yang diberitahu oleh kedua orang tua mereka. Seakan keduanya ingin rasanya pingsan dan menganggap ini semua mimpi namun tidak bisa, ini memang takdir mereka yang akan segera memiliki adik bayi lagi dari mama papanya.
Mama tersenyum lalu melirik kearah suaminya dan mengedipkan kedua matanya dengan pelan. Papa tiba tiba mengangguk pelan, dan tersenyum kearah kedua anaknya.
*
Aluna melangkah masuk kekelasnya dengan raut wajah lesu, ia tidak menyangka kehidupannya akan ramai setelah kelahiran adik barunya. Begitupun dengan abangnya yang terlalu syok atas berita mama papanya punya anak kembali diumurnya yang ingin kepala tiga.
Aluna langsung duduk ditempatnya sambil merenung memikirkan sesuatu diotaknya. 'Gak mungkin mama papa akan segera punya anak lagi, pasti ada sesuatu yang sedang disembunyikan oleh mereka, iya pasti ada yang disembunyikan.' batinnya, sampai tidak mendengar sapaan dari kedua sahabatnya itu.
"Pagi Aluna!" teriak rizka membuatnya terkejut karena teriakkan rizka tepat berada ditelinganya. Membuat telinganya pengang dan sedikit memerah. "Apa sih rizka, ngagetin aja deh."
"Habisnya kamu dipanggil dan disapa sama kita gak nyaut, lagi mikirin apa sih samapi serius gitu?"
Aluna menggeleng. "Gak mikirin apa apa, kalian baru dateng apa dari kantin?" tanyanya dengan melirik ketangan citra memegang jajanan.
Rizka menggeleng kepala. "Tadi aku ketemu sama citra yang baru dari arah kantin, kalau aku baru datang masuk kelasnya aja yang barengan."
Aluna mengangguk, lalu ia mengambil buku dan belajar kembali tentang mata kuliah yang akan dijadikan kuis harian. "Oh iya hari ini kuis ya? Aku belum belajar lagi."
"Belajar gih, baca sebentar juga masuk keotak." balas luna dengan santai dan mendapatkan delikkan mata oleh kedua sahabatnya. "Kita gak sepintar kamu, lun." ujar mereka serempak membuat luna tertawa.
---Bersambung---
Jangan lupa like ceritaku ini dan mampir kecerita lainnya ya.
Terima kasih..
__ADS_1