Childhood Love Story

Childhood Love Story
Keberangkatan Ardi


__ADS_3

Minggu pagi dirumah keluarga Syakieb penuh dengan jerit tangis Bianca yg tidak lepas dari gendongan Ardi.


Bahkan Azura pun tak mampu menenangkannya. Mereka berempat bingung menangani Bianca yg mengamuk.


Brian sampai-sampai menggelung rambut gondrong nya. Keringat menetes didahi mereka berempat.


" Cup..cup..Bian..om cuma mau pergi sebentar.." Ucap Ardi dengan suara bergetar. Ardipun sebenarnya sangat berat untuk meninggalkan Ara atau pun Bianca.


Beberapa saat lamanya mereka berusaha, akhirnya Bianca tenang juga. Mungkin capek dan kelelahan karena menangis gadis itu tertidur dalam gendongan Ardi.


Ardi mengecupi seluruh wajah gadis kecil itu dengan sayang.


Seolah-olah mengumpulkan stock obat rindunya kelak.


Ditatap nya gadis kecil yatim piatu itu dengan tatapan yg entah. Rasa sayangnya pada Bianca bukanlah main-main semata.


Seandainya Ardi sudah matang secara financial ada keinginannya untuk mengadopsi gadis kecil ini.


Keluarga Syakieb sudah seringkali menawarkan bantuan pada Azura, tapi gadis bercadar itu selalu menolak.


Azura tetap pada pendiriannya untuk membesarkan Bianca dengan tangannya sendiri, seperti amanah mendiang kakaknya Awan Pramudya. Bahwa Bianca akan menjadi putrinya, tetap putrinya.


****


Brian menggendong Bianca dalam gendongan nya sekembalinya mereka dari bandara mengantarkan Ardi.


Azura, Vera dan Natasya tampak berangkulan untuk menguatkan Ara.


Lima bulan bukan waktu yg sebentar apalagi jarak yg tidak bisa dengan mudahnya ditempuh oleh keduanya.


Kalau dahulu dia pernah berpisah lama dengan Ardi karena harus tinggal dipesantren.


Paling lama dua minggu keluarga nya pasti sudah menjenguknya.


Mobil mereka memasuki pekarangan rumah keluarga Syakieb bertepatan dengan keluarnya sebuah mobil mewah dari dalam. Sosok di belakang kemudi menatap Ara dengan tatapan penuh misteri dari balik kacamata hitam nya.


" Sepertinya ada tamu ya bang" Tanya Ara pada Adnan yg masih berdiri di depan teras rumah mereka.


" Iya, Gama Bagaskara..." Ucap Adnan dengan raut wajah yg mendung.


Hana melihat ada yg disembunyikan oleh suaminya.


Ara mengingat- ingat siapa yg dimaksud kakaknya, keningnya berkerut.


" Itu.., dia yg memberi kan bunga padamu saat di resepsi pernikahan, ingat tidak?" Brian mencoba mengingat kan.


" O...." Hanya O yg keluar dari bibir Ara, kalau cewek lain pasti sudah berjingkrak-jingkrak mendapatkan bunga dari bisnesman muda sukses seperti Gama Bagaskara.


" Ada apa bang...?" Tanya Hana lembut, sesampainya mereka di dalam kamar mereka. Sedari tadi Hana melihat raut wajah mendung pada suaminya.


" Huftt...., aku harus mempercepat keberangkatan ku ke Brunei. Ada masalah di sana" Ucap Adnan dengan tatapan lurus kedepan. Kedua tanganya menopang dagunya, seolah beban berat berada pada kepalanya.


" Terus..?" Tanya Hana bingung, berangkat ya berangkat aja, apa susahnya.


" Huft...." Lagi-lagi Adnan menghembuskan nafasnya. Dan itu membuat Hana merasa ada yg tak beres.


" Kenapa bang?, ada apa?, kenapa terlihat bingung dan cemas..?" Hana duduk disamping Adnan dengan mengelus lengan Adnan pelan.


Adnan menoleh pada istri kecilnya itu, mengulurkan tangan untuk mengelus kepala Hana yg kini tertutup jilbab.


" Aku tak tahan berjauhan denganmu sayangku...." Ucap Adnan dengan lengkungan di bibirnya.


" Ih..abang apaan sih...kirain..." Hana mencubit pinggang Adnan geram...


Mereka tertawa sambil saling menggelitik satu sama lain.


" Sudah-sudah sayang ampun...." Adnan mengatupkan kedua tanganya pertanda menyerah.

__ADS_1


Wajahnya kembali menyiratkan kesedihan dan kecemasan.


Hana lagi-lagi mendekati dan dengan lembut membelai rambut Adnan.


" Sebenarnya ada apa bang...please bicara sama Hana.."


" Aku merasa sesuatu yg buruk akan terjadi.."


Degh !!!


Jantung Hana berasa akan keluar, dia sangat takut kejadian di sekolah jumat lalu terdengar oleh keluarga besar Syakieb.


Mereka masih sepakat untuk menyembunyikan rumor tentang Rangga dan Jessica kepada seluruh keluarga. Karena mereka juga belum tahu kebenarannya seperti apa. Bukti memang ada, tapi saksi belum ada. Dan jangan lupakan sanggahan Rangga dengan segenap sumpahnya.


Brian turun dari kamarnya setelah menidurkan Bianca di atas kasur nya.


Matanya menangkap Azura yg sedang memindahkan barangnya dari kamar tamu ke kamar Ara.


" Bianca biar tidur sama aku malam ini..." Ucap Brian pada Azura yg melintas di depanya.


" He emm.." Ucap Azura dengan anggukan kepalanya.


" Terimakasih.." Ucap Azura selanjutnya.


Brian hanya bisa memandangi gadis bercadar yg mondar-mandir dari kamar tamu ke kamar Ara tanpa kata-kata.


Dalam hati Brian sangat ingin mengenalnya, tapi sayang Azura sangat pelit bicara.


Kring..kring...kring..


Telpon rumah berbunyi nyaring.


[ Hallo...] sapa Brian.


[ Assalamu'alaikum B', Lili ada....] suara Rangga terdengar dari seberang.


Brian menduga pasti Rangga baru sampai di Kanada.


" Bi princess mana..?" Tanyanya pada bi Marni yg baru datang dari ruang tamu. Dengan membawa nampan dan beberapa gelas yg sudah kosong.


" Barusan pergi dengan den Chandra, katanya ada acara kelas, soalnya non Hana juga pergi..." Ucap bi Marni yg juga masih bisa didengar oleh Rangga.


" Kamu udah denger sendiri kan..." Ucap Brian setelah kembali mendekat kan gagang telpon pada telinganya.


" Ya.." Jawab Rangga singkat dan segera menutup telponnya.


Disana Rangga uring-uringan tak jelas. Belum juga sehari dia nyampe di sini, sudah ada lalat yg nengerumuni bunganya.


" Brengsek!!!" Rangga melempar semua barang yg ada dimeja belajarnya.


"Den lo dimana?" Bentak Rangga saat Denis baru saja mengangkat panggilannya.


"Di rumah, emang kenapa ?" Tanya Denis heran.


" Lo tau nggak kalo Lili gue keluar sama Chandra?"


" Tau...kenapa emang???" Jawab Denis santai.


" Dan lo biarin!!!" Sewot Rangga penuh otot.


" Ya kan mereka ada acara di rumah pak Lukman, emang lo lupa kalo pak Lukman wali kelas mereka?" Lagi-lagi Denis menjawab dengan tanpa otot.


" Kenapa harus barengan sama Chandra coba, lo gak bisa nganter gitu?" Rangga masih sewot sendiri.


" Ga..., Chandra itu ketua kelas dan Lili lo wakilnya, apa gue yg dari luar kelas mereka harus ikut campur?" Denis mencoba memberi pengertian.


" Jangan terlalu posesif bro.., biarkan Lili lo hidup normal, jangan dikekang, ingat Ga...Lili lo bukan sapi yang harus lo ikat dengan terlalu kencang..." Lanjutnya.

__ADS_1


Rangga mencoba menghubungi Ara lagi.


Tapi lagi-lagi tidak diangkat oleh Ara.


Geram sudah. Mana waktunya tinggal satu jam lagi untuk nya bisa menggunakan ponsel.


" Ssshhhh, desisnya penuh amarah...."


Rangga bertahan dari kantuknya demi bisa mendengar suara Ara. Tiga puluh enam jam di pesawat membuatnya letih dan bosan luar biasa. Dan berharap suara Ara adalah obatnya.


Rangga tak jenuh untuk terus berusaha menghubungi Ara, hingga panggilan ke 73 baru Ara mengangkat nya.


[Assalamu'alaikum...]


Suara yg dirindukanya kini terasa bagai hujan yg menyirami gersang nya hati Rangga.


[ Sayang kenapa lama angkat telpon ku?]


[Assalamu'alaikum] ulang Ara lagi berharap Rangga menjawabnya.


[ Ah iya sayang Wa'alaikumussalam, maaf...]


[ Ara dari rumah pak Lukman, beliau syukuran untuk kelahiran putri keduanya..] jawab Ara pelan dan lembut.


[ Pergi sama siapa?] Tanya Rangga pura-pura tak tahu.


[Chandra..]


[ Kenapa harus dengan dia...?]


Ara menarik nafas dalam dan menghembuskan nya perlahan.


[ Baiklah, besok kalau kemana-mana Ara pakai motor Ardi saja....]


Rangga terbelalak mendengar nya.


[ Tidak...bukan begitu maksud kakak sayang... ] Rangga menggaruk rambutnya yg tidak gatal.


[ Ya deh, boleh deh..., tapi jangan jatuh cinta sama dia ya....] ucap Rangga dengan nada sedikit memohon.


Ara di sana tertawa cekikikan. Ya ampun manisnya Rangga.


Tapi saat teringat fotonya bersama Jessica senyuman itu surut tiba-tiba.


[ Sayang...kakak rindu...] bisik Rangga.


[ Ishhh..., lebay...] balas Ara.


[ Sayang...kakak cinta...]


Tak ada jawaban dari seberang. Rangga menatap ponselnya. Membolak-balikan dan mengetuk- ngetuknya. Memastikan ada tidak signalnya.


[ Emmm iya...Ara juga...] jawab Ara tiba-tiba.


[ Kok Ara sih...?] protes Rangga.


[ Terus...???] tanya Ara.


[ Lili...seperti dulu...Lili...Liliku..dan mas Aga, bukan kakak...]


[Ishhhh...baiklah...] geram Ara.


Rangga tertawa mendengar geraman Ara.


[Sayang ini terakhir kali kakak pake ponsel ya...soalnya selama lima hari kedepan baru boleh aktifkan ponsel lagi...]


[ Hemmm]

__ADS_1


Bersambung....


Like nya dong๐Ÿ˜๐Ÿ˜


__ADS_2