
Mobil rombongan Pak Kepsek sudah meluncur kembali ke lokasi kemping.
Papa masuk kembali ke ruangan Ara, dan mendapati Rangga yang terlihat menatap Ara tak berkedip, bahkan diapun tak menyadari kehadiran papa Syakieb di sana.
Sebenarnya papa Syakieb sangat prihatin dengan keadaan kedua anaknya ini, tapi biarlah. Ini juga salah satu ujian akan cinta kasih mereka juga, bisa tidakkah keduanya mempertahankan sampai akhir.
" Nak...kamu belum makan siang kan?, mumpung Lili tidur pergilah ke kantin dengan Hana, kasihah kakak iparmu itu juga belum makan siang, sebentar lagi mamamu juga akan datang bersama abangmu..." Ucap Papa Syakieb mengagetkan Rangga yang sedang melamun.
Sementara Hana juga terlihat tertidur disofa.
Untuk kenyamana Ara, papa Syakieb meminta satu ruangan khusus.
" Iya pah.." Jawab Rangga dan langsung mendekati Hana, jujur Rangga sangat lapar saat ini. Tadi pagi saat akan berangkat ke kampung dia hanya makan sebungkus roti bekalnya saja dan hanya minum teh yang dibuatkan Denis untuknya. Dan sampai sekarang belum ada apapun yang masuk ke dalam perutnya, diguncangnya lengan kakak iparnya itu dengan pelan.
" Han, ke kantin yuk makan..."
Hana yang cepat loading pun langsung connect dan mengangguk. Tapi dia butuh waktu untuk mengumpulkan nyawanya dahulu sebelum begerak lebih.
Saat mereka keluar ruangan mereka berpapasan dengan mama Neela dan Adnan.
"Bang...." Hana langsung menghambur ke pelukan Adnan, sementara Rangga memeluk mama Neela yang menenangkannya.
" Sabar sayang ini musibah..." Bisik mama Neela di telinga Rangga.
" Kalian mau kemana?" Tanya Adnan
" Mau ke kantin bang, cari makan..., kami belum makan siang.." Jawab Hana.
" Ya sudah sana.., Abang mau lihat kondisi Lili dulu.." Adnan mengecup pucuk kepala Hana yang tertutup jilbab dengan sayang dan tatapan merindu, lalu mendorong pelan pundak istri kecilnya itu agar segera ke kantin untuk makan.
...***...
Setelah sholat Ashar merekapun sesuai rencana pulang ke Jakarta.
Karena mumpung berada di Bandung, papa dan mama menyempatkan diri berkunjung ke makam kakek dan nenek sebelah mama. Yang mengharuskan mereka berpisah jalur.
Rangga memangku kepala Ara dikedua pahanya, mereka berdua duduk di kursi penumpang, sementara Hana duduk disamping Adnan yang saat ini mengemudi.
" Bang Ardi sudah balik bang?" Tanya Ara.
" Sudah mut, tadi abang antar dia dulu, terus dari Bandara langsung ke Bandung.." Jawab Adnan dengan mata lurus kedepan fokus menyetir.
" Apa Anca tau?" Suara pertanyaan Ara yang bergetar membuat Adnan sedikit menoleh.
" Tidak sayang, kami merahasiakan kondisimu sekarang ini darinya.." Jawab Adnan cepat.
" Alhamdulilah..." Ara bernafas lega mendengar jawaban Adnan.
Karena terus dielus pelipisnya oleh Rangga akhirnya dalam tempo waktu yang singkat saja Ara kembali terlelap tidur, tapi mungkin juga karena pengaruh obatnya juga sih.
Hana juga terlihat menyenderkan kepalanya di bahu Adnan, sementara tangan kiri Adnan mengelus pipi Hana dengan sayang.
" Kamu juga tidur saja bro, mukamu terlihat pucat itu..." Adnan menatap Rangga dari rear spion diatasnya.
" Nggak papa bang, Rangga hanya capek sedikit "
" Makanya tidurlah barang sebentar..."
" Tapi abang....."
" Nurutlah adik ipar!!!" Tekan Adnan tegas.
Dan Rangga akhirnya mulai memejamkan matanya, memang letih, lelah dan mengantuknya dia tahan dari tadi.
__ADS_1
Apalagi saat tahu Ara disuapin oleh Lenox, rasa lelahnya bertambah dua kali lipat dengan ditambah lagi dengan rasa geram yang luar biasa. Belum juga di tinggal pergi, tapi bunganya sudah terancam oleh kedatangan kumbang sialan.
Begitulah kira-kira isi dalam fikiran Rangga kali ini.
...**...
" Kalian langsung ke rumah Wijaya?" Tanya Adnan saat mobil sudah memasuki wilayah Jakarta.
" Iya bang, Rangga juga sudah pamit sama papa dan mama tadi.." Jawab Rangga dan juga diangguki setuju oleh Ara.
Adnan mengangguk singkat dan mengarahkan setir mobilnya ke jalan yang menuju arah rumah keluarga Rangga.
" Ga, abang harap kamu bisa jaga sikap disana, ingat kalau ada hati yang harus kamu dijaga disini, ingat juga status mu susah beristri...." Pesan Adnan, walaupun tanpa mengalihkan tatapanya pada jalan di depannya.
" Lili tidak hanya adik kesayangan abang, tapi juga permata Al Ghifari, tak ada satu orangpun yang boleh membuatnya terluka sedikitpun, INGAT ITU!"
" Sedikit saja hatinya terluka karena kelakuanmu disana, AWAS AJA KAMU!!!..." Lanjut Adnan dengan suara dingin dan tegasnya.
Rangga menelan ludahnya kasar, matanya melirik pada mata imut disampingnya yang justru menatapnya dengan genit. Seketika membuat hati Rangga menghangat.
Lihatlah gadis ini, bahkan disaat gue sedang dalam posisi sulit, dia selalu menenangkan hatiku...
Oh Liliku...istri sholehahku...
Rangga menarik Ara kedalam pelukanya.
Kini mobil hitam Adnan mulai memasuki gerbang rumah keluarga Wijaya.
Setelah menurunkan Rangga dan Ara, Adnan segera pamit pulang karena saat ini dirumah sedang ada tamu yang menunggunya.
"Hup..ah..." Rangga mengangkat Ara dalam gendongannya secara tiba-tiba, membuat Ara yang terkejut reflek melingkarkan tangannya dileher Rangga.
" Ayo mandi sama-sama, udah gerah banget kakak.."Ucapnya sambil melangkah menuju kamarnya yang berada di lantai dua.
" Ih...turunin kak, malu ada daddy dan mommy..."
" Ya udah turunin ihh..., malu sama bibi.."
" Nggak ada juga, bibi cuti..."
" Ya udah turunin ihh pokoknya.."
" Nggak mau, nggak denger kakak mah..." Sahut Rangga cuek dan malah mengeratkan gendongannya
Tap..tap..tap..
Langkah kaki Rangga tidak terlihat berat sama sekali walaupun saat ini sedang menaiki tangga dengan mengangkat Ara di gendongannya.
" Buka pintunya sayang..." Ucap Rangga saat mereka telah sampai di depan pintu kamar, dan Arapun meraih handel pintu itu dan membukanya, dibantu oleh dorongan kaki Rangga.
Melihat kamar yang rapi dan terdapat beberapa koper yang teronggok samping meja belajar Rangga, membuat hati Ara ngilu luar biasa. Wajahnya terlihat pias dengan mata yang telah berkaca-kaca.
Dan Rangga sangat tahu akan perubahan wajah Ara yang tiba-tiba itu.
" Husstttt...., kita sudah sepakat kan?, jangan menangis sayang please..." Rangga mendekatkan kening dan hidungnya.
Membuat hidung dan kening mereka berdua saat ini saling menempel, tanpa Rangga menurunkan gendongannya.
Mereka saling tatap dalam kesedihan, baik Ara maupun Rangga saat ini merasakan air bening yang meleleh dipipi mereka telah deras mengalir tanpa bisa mereka sadari.
Rangga segera menggelengkan kepalanya pelan, tanpa menurunkan Ara sedikitpun mereka menuju kamar mandi.
Rangga memandikan Ara dengan cepat, menyabuni seluruh tubuhnya dengan telaten. Semua dia kerjakan dengan air mata yang terus menitik.
__ADS_1
Begitupun dengan Ara, gadis itu berulangkali menghapus air matanya agar tidak sampai terlihat oleh Rangga.
Tak ada yang lebih pedih selain terpaksa berpisah saat masih sayang-sayangnya seperti keadaan mereka saat ini.
Setelah sholat maghrib berjama'ah yang sudah sangat terlambat, merekapun makan malam dikamar.
" Lusa berangkat jam berapa kak?"
" Dini hari sayang, pukul 03.00 pagi.."
Ara terlihat menunduk tak bersemangat, makanan di depanya juga dari tadi hanya diaduk-aduk saja tanpa sesuapun yang masuk ke dalam mulutnya, pun Rangga.
Saat ini mereka merasakan sesuatu yang entah.
" Sini kakak suap sayang..." Rangga meraih piring Ara dan menyuapinya.
Sementara Ara yang tau dari tadi Rangga juga tidak makan pun meraih piring Rangga dan menyodorkan sendok yang telah berisi nasi dan lauk di depan bibir Rangga.
Mereka mematung saling tatap melihat situasi saat ini. Ara yang menyodorkan sendok di depan Rangga dan Rangga juga melakukan hal yang sama, senyum kecil terbit dari bibir mereka dan membuahkan tawa yang membahagiakan keduanya.
Mereka tertawa geli dengan kekonyolan mereka, dan akhirnya makanan yang sejak tadi cuma dikucek-kucek saja itu akhirnya habis juga.
...**...
Sementara itu di lokasi kemping.
Karena semua bukti dan saksi menyudutkan posisi Lenox, akhirnya pemuda itu di bawa ke kantor polisi untuk dimintai keterangan lebih lanjut.
Kedua orang tua Lenox bahkan sudah hadir disana.
Ayah Lenox, Maha Dafran jauh-jauh datang dari Singapura untuk menyelesaikan masalah putranya.
" Lagi-lagi kau membuat ulah!! Anak s*tan!!!" Bentak Ayah Lenox.
Lenox menatap wajah tampan nan tegas milik ayahnya itu tanpa rasa takut sedikitpun.
Di sebut sebagai anak s*tan membuat Lenox malah tertawa kecil.
" Ya.., dan anda lah s*tan itu..." Jawabnya tenang.
Ayah Lenox mencengkeram kerah baju putranya dengan geram.
" Sekali-kali bersikaplah yang benar, kau tidak bosan jadi berandalan terus begini HAH!!!" Lanjut Ayah Lenox dengan melepaskan cengkraman nya dengan sedikit mendorong Lenox
" Aku tidak bersalah yah, bukan aku!!!" Ucap Lenox tegas.
" HUHH !!!, kau selalu saja mencuci tangan dari kesalahanmu, kali ini ayah tidak akan membantu, sekali-kali kau harus dihukum agar kapok Lenox!!!"
" Tapi yah..., sumpah bukan aku!!, aku tidak mungkin ada niatan untuk mencelakakannya..."
" Ha...ha..ha..benarkah?, bukankah gadis ini gadis yang sama yang kau lecehkan itu?" Tanya Ayah Lenox dengan tepuk tangannya dan tatapan yang mematikan menghunus mata Lenox.
" APA SALAHNYA HAH?, kenapa kau seolah-olah ingin selalu melukainya HAH!!!" Bentak ayah Lenox.
" Tidak yah!!, Ayah boleh bilang aku brengsek dan biadap!!!, tapi jangan pernah bilang aku berniat mencelakai nya!!" Kata-kata Lenox terdengar dingin dan tegas.
" Sayang..., Lenox benar. Tidak mungkin dia ingin melukai Ara.." Bunda Lenox yang dari tadi diam akhirnya ikut bersuara.
" Kejadian waktu lalu itu salah paham sayang..., dan kali inipun bunda yakin Lenox tidak bersalah..." Bunda berusaha menurunkan tensi ayah yang terlanjur naik dengan menggosok punggungnya pelan.
" Istighfar yah..." Pinta bunda pelan.
" Atas dasar apa kau percaya Lenox tidak bersalah bun..." Tanya ayah pelan dengan memejamkan matanya, menarik nafas banyak-banyak dan menghembuskan nya pelan. Ayah berusaha membuang rasa sesak didadanya atas ulah putranya yang terus-terusan membuat keonaran.
__ADS_1
Lenox putra semata wayang nya. Harapan besarnya ada dipundak putranya itu, tapi sejauh ini yang diberikan putranya padanya hanya rasa malu.
Ayah sudah sangat bingung mengatasi kelakuan Lenox yang meresahkan selama ini, dan berencana membawanya kembali ke Singapura, tapi Lenox selalu menolak. Ayah juga sebenarnya sangat menyanyangi Lenox, tapi karena tidak adanya kedekatan antara keduanya membuat jarak antara ayah dan anak ini semakin lebar.