Childhood Love Story

Childhood Love Story
Kekonyolan Denis dan Rangga


__ADS_3


Denis masih lelap dalam tidurnya. Sementara Natasha tengah berjalan tertatih-tatih ke kamar mandi.


Natasha menatap dirinya di cermin wastafel. Wajah yang kuyu dan pucat, leher yang penuh akan stempel merah hasil karya Denis.


Natasha tersenyum malu saat mengingat apa yang terjadi semalam.


Denis begitu seksi dimatanya. Begitu lembut dan menghormati wanita. Tak ada satu bagian tubuhnya yang tersakiti oleh tindakan Denis semalam. Kalau bagian bawahnya sih ya..jelas sakit, karena baru pertamanya.


Tapi wajah bahagianya berubah sendu, saat mengingat begitu liciknya Denis memainkan perannya semalam.


Denis begitu lihai membuatnya melambung ke atas awan, terus dan terus. Tetapi saat Natasha memintanya untuk menggunakan pengaman, Denis justru tidak bersedia dan menghentikan kegiatan mereka begitu saja. Jelas itu membuat Natasha hampir gila.


Natasha yang telah di ujung rasanyapun akhirnya menyerah.


Rupanya tak sampai situ saja. Dua jam setelah aksi pertamanya Denis mulai menggerayangi Natasha lagi, dan dengan kelicikan yang sama, lagi-lagi Denis berhasil menabur benihnya tanpa hambatan.


" Bagaimana ini?" Natasha mengelus perutnya.


Apa aku ke dokter aja pasang KB?, tapi kalau sampai kak Denis tahu gimana?


" Shayang masih lama kah?" Suara Denis di luar pintu mengagetkannya.


Ceklek...


Pintu terbuka dari dalam, tapi Natasha tidak juga keluar.


" Loh, masih disini aja sayang?, belum mandi?" Tanya Denis saat mendapati Natasha yang masih duduk di tepi bathup.


"Kenapa hemmm?, mau lagi?" Goda Denis dengan memeluk tubuh Natasha dari belakang, menciumi tengkuk dan kepalanya.


Lalu dengan pelan dibaliknya posisi Natasha agar menghadapnya.


Natasha menunduk malu, sumpah!! keberaniannya hilang semenjak semalam.


Sentuhan Denis bagai senjata ampuh yang mampu mengalahkan kokohnya pendirian seorang Natasha.


Kelembutan Denis bagai ombak yang mampu meruntuhkan sisi keras seorang Natasha.


Hembusan nafas Denis menderu diwajah Natasha, hangat menerpa pipinya.


" Kenapa?" Tanya Denis lembut, jemarinya mengangkat dagu lembut itu, membawanya untuk menatapnya.


" Nata takut----" Desah Natasha.


" Hamil?"


Natasha mengangguk lemah. Denis tersenyum tipis, memeluk istrinya itu erat.


" Dengar Shayang..., kamu anak satu-satunya, bahkan cucu satu-satunya dari keluargamu. Kakak pun begitu.."


" Kakakpun sama Nath, ngilu dan tidak tega saat melihat Ara harus kesakitan berjam-jam seperti itu, tapi bukankah ada balasan yang sepadan dari Tuhan bagi seorang ibu yang iklas melahirkan keturunan untuk meneruskan nama keluarga.."


" Dari pada memikirkan rasa takut itu, setidaknya kita memikirkan perasaan orangtua kita Shayang. Saat bertemu dengan kolega bisnisnya, akan ada pertanyaan kepada romo, 'kapan punya cucu?'. Saat mommy bertemu teman-temanya, pasti ada juga pertanyaan 'sudah isi belum Natasha jeng?'. Papaku pun sama, di kampus dia akan terus dikerjar pertanyaan tentang keturunan keluarga selanjutnya.."


" Pernikahan kita ini tidak melulu tentang kita berdua saja Shayang. Tapi tentang penyatuan dua keluarga, dua hati, dua kepala, dua idiologi yang berbeda..."


Denis semakin mengeratkan pelukannya.


Senyum tipis terbit dari bibirnya. Ada ide jahil yang berkelebat dibenaknya untuk mengerjai istrinya yang imut ini.

__ADS_1


" Dengar Shayang..., aku tidak masalah jika kamu tidak mau mengandung anakku. Aku jelas masih punya pilihan lain, inseminasi atau---" Denis sengaja menggantung kalimatnya.


" Atau?" Tanya Natasha.


Sebenarnya gadis itu tahu jawabannya, apalagi kalau bukan poligami. Tidak!!. Natasha tidak akan mampu berbagi Denis kepada orang lain. Denisnya harus untuknya seorang.


" Tidak!!, tidak boleh...kakak tidak boleh menikah lagi..." Natasha memeluk erat Denis posesif. Denis melirik wajah istrinya sekilas, pria muda itu tidak meragukan besarnya cinta Natasha padanya.


Tapi saat ini dia harus meluruskan jalan istrinya yang berbelok dari jalan kebenaran.


Senyum licik Denis kembali terbit.


" Jadi tinggal satu cara, agar aku memiliki anak. Yaitu inseminasi...., mungkin besok sebelum kita ke Jerman. Aku akan menemuinya dulu" Ucap Denis, matanya melirik reaksi Natasha yang seolah terkejut.


" Menemui siapa?" Kepalanya mendongak menatap Denis dengan tatapan penuh rasa penasaran.


" Wanita yang mau mengandung anakku..." Ucap Denis santai, lalu menoleh untuk menyembunyikan tawanya.


" Siapa dia?" Natasha meraih kepala Denis agar menatapnya.


" Dia gadis yang baik, lembut, penyayang, sopan. Kalau seseorang belum menandainya duluan. Mungkin aku sudah mendapatkannya dari awal.."


Natasha tidak percaya ini!. Dia tahu gebetan Denis itu berderet panjang, tapi ada yang dicintainya selain cinta pertama yang sudah tiada, itu Natasha jelas tidak tahu.


" Siapa dia?" Tanya Natasha penuh rasa marah.


" Loh, kenapa kamu kepo?. Pertanyaannya adalah, kamu sebagai istriku, bersediakah untuk merawat anak kandungku yang terlahir dari rahim wanita lain?"


Sebenarnya Denis hanya menggertak saja. Tidak adak niatan untuk menyakiti hati istrinya atau apalah. Tujuannya jelas agar Natasha cemburu, jika benar Natasha mencintainya jelas Natasha akan menolak ide gila Denis ini dan bersedia untuk mengandung sendiri anak dari Denis.


" Siapa kak?"


" Ara..., Lailia Nafeesa Anara" Jawab Denis tegas.


Sedari pagi Almeer rewel terus, saat menyusu juga hanya sedikit tidak seperti biasanya. Sebentar-sebentar bayi kecil itu menangis, tangisnya begitu melengking, membuat Almaeera terganggu dan ikutan menangis.


Repot dan kacau pagi ini, sampai-sampai Rangga hanya bisa menyiapkan roti bakar dan susu saja untuk sarapan mereka pagi ini.


" Sebenarnya kenapa dengan Almeer sayang?, kenapa menangis terus dari kemarin?" Rangga yang sudah rapi hendak pergi ke kampus menyempatkan diri untuk menggendong Meera dan menimangnya.


" Mungkin belum nyaman dengan sufor Bi, badanya nggak panas, bab nya juga normal kok..." Ucap Ara dengan terus menimang Almeer agar diam. Sholawat terus terlantun dari bibirnya...


Ada rasa kagum dalam diri Rangga, memiliki istri sehebat Lilinya adalah anugerah yang tidak akan di sia-siakanya.


Inilah yang dilihat para saingannya dulu dari diri seorang Lailia Nafeesa Anara. Selain kecantikannya yang awet dan tidak membosankan, Ara juga penyayang, lembut, sopan dan pokoknya Rangga akan terus jatuh cinta berulang pada gadis yang sama. Lilinya, cintanya..


Tes...


Airmatanya menetes dari sudut matanya. Ingatan akan kebodohannya dimasa lalu berkelebat.


Bagaimana aku bisa mengabaikan wanita seindah ini dahulu...


" Kenapa Bi...?, kamu juga sakit?" Ara meletakkan punggung tanganya di dahi Rangga.


" Kenapa menangis hemm?" Jari jempol Ara mengusap pipi Rangga yang basah.


Rangga hanya bisa menatap penuh cinta pada cinta pertama dan terakhirnya itu.


" Hey..kenapa?" Ara jadi semakin khawatir melihat Rangga yang diam dan hanya menatapnya saja.


" Bi....?, kamu kenap-----emmpppp..."

__ADS_1


Rangga meraih tengkuk Ara dengan sebelah tanganya yang bebas, lalu pria beranak dua itu langsung menyesapkan bibirnya. Menciumi bibir Ara untuk beberapa saat lamanya.


" Kapan bersihnya?" Bisiknya ditelinga Ara.


Ara membelalakan matanya, suaminya ini benar-benar. Anaknya rewel kayak gini bukanya bantu gimana baiknya, eh malah kesana fikiranya.


" Ya ampun Bi...., kamu ini!!" Ara menabok lengan Rangga geram, semburat rasa malu jelas tersirat dari wajahnya.


" Ha...ha..ha..., kan kakak udah kangen dengan mainan kakak..." Tawa Rangga pecah tiap kali melihat Ara malu dan imut seperti itu.


" Biar untuk hari ini Almaeera ikut kakak kerja saja.." Lanjut Rangga.


" Hahhhh, apa?" Ara melotot tidak percaya.


" Kakak hanya tiga jam di kampus. Fokuslah pada Almeer dulu, biar Almaeera bersama kakak. Bawakan susu dan termosnya saja.." Ucap Rangga lagi.


" Tapi..."


" Nggak papa sayang, kalau kenyang juga Meera tidur kok..." Ucap Rangga.


" Tapi Bi...."


" Ssttt nggak papa kok..., Meera lebih tenang dari Almeer, dia juga nggak pernah tantrum, boleh ya? Kamu juga perlu istirahat sejenak...." Rangga mengecup kening Ara.


" Tapi nanti..."


" Tenang, nggak akan ada yang ngomong macam-macam. Mereka juga paham, pak Rangga punya dua anak bayi..."


Rangga dengan cepat mempersiapkan tas Almaeera, memasukkan beberapa diapers, tisu basah, minyak telon, bedak babby dan beberapa baju ganti Almaeera.


Termos, susu dan botol susupun tak luput dari nya.


Ara yang masih bingung dan syok akan keputusan Rangga pun hanya mengikuti langkah kaki Rangga yang sibuk mempersiapkan semua.


" Stroller Almaeera mana sayang?" Tanya Rangga.


" Diatas, kemaren kak Denis menjemur mereka di balkon atas. Belum Lili turunin Bi..." Ara hanya belum tersadar dengan ini.


" Bi..., beneran mau bawa Meera, nanti kalau merepotkan kamu gimana?, nggak usah deh Bi..."


Oee...oee..oee...


Belum juga Ara selesai bicara Almeer sudah kembali menangis dalam gendongannya.


Mendengar brothernya menangis, Almaeera yang sejak tadi diam dengan mengemut jempol tanganya menjadi gelisah dan mulai merengek.


" Tuh kan..., ini akan terus begini sayang. Almeernya nangis, disusul Almaeera nangis juga. Trus kamu jadi ngga sempat mandi, nggak sempat makan, dan akhirnya aku juga yang kamu amuk...ha..ha.." Rangga tertawa keras saat cubitan Ara berlabuh di pinggangnya.


Akhirnya, Rangga benar-benar membawa Almaeera ke kampus.


Beberapa mahasiswa yang berada di area parkir melebarkan matanya saat melihat visual yang tidak biasa di hadapan mereka.


Pintu mobil terbuka, dan keluarlah asdos badas mereka dengan menggendong putri kecilnya.



"Nah loh...kemana istrinya pak dosen?" Sapa salah satu mahasiswa.


" Dirumah, ngurusin putra saya yang satunya" Jawab Rangga santai.


Diturunkanya Almaeera yang tidak tidur ke stroller nya.

__ADS_1


" Wehh..cantik amat putrinya pak..." Puji salah satu mahasiswanya.


" Terimakasih, jelas saja putri saya cantik. Kalian kan belum lihat bagaimana cantiknya istri saya.."


__ADS_2