
Setelah hampir satu jam Ara bercakap-cakap dengan Lenox dan ibunya, Arapun undur diri.
Gadis itu melangkahkan kakinya ke mushola rumah sakit. Beres sholat ashar empat rakaat disana Ara segera keluar dan menuju gerbang rumah sakit.
Taxi kini meluncur menuju perumahan di kawasan elit Jakarta.
Ting..tong..ting..tong..
Bunyi bel rumah membuat mommy Tara berlari-lari kecil menuju pintu utama.
" Sayang, sudah datang ya..." Teriaknya dengan raut wajah yang sangat bahagia saat membuka pintu.
Mommy Tara menciumi putri menantunya dengan sangat sayang.
" Assalamu'alaikum mom...." Ucap Ara sambil meraih punggung tangan mertuanya, dan mengecupnya takzim.
" Iya, waalaikumsalam.., loh kakakmu mana sayang?"
Mommy Tara melihat sekeliling, mencari Rangga.
Degh!!!
Jantung Ara bagaikan tersambar petir.
" Nggak ada mom, Lili sendiri, mommy masak apa?, Lili udah lapar nih...." Ara segera mengalihkan pembicaraan agar dadanya tidak semakin sesak.
" Setelah kamu telp mau kesini tadi, mommy segera buat sesuatu yang spesial buat kamu sayang, ayok..ayok..masuk dulu kita"
Mama segera membawa Ara ke ruang makan dan segera membuka tudung saji yang sangat besar disana.
"Nah Taraaaa, kamu pasti suka.."
" Bakso tahu, sip ini.., ye kok taraaa sih kerasa manggil nama sendiri gak sih mom...Alhamdulilah bakso tahu yummy..." Wajah Ara terlihat berbinar-binar melihat hidangan di hadapannya.
" He..he. iya ya sayang, nah ini sambal bawangnya..." Mommy Tara menyodorkan mangkuk kecil berisi sambal bawang.
Mommy sangat bahagia melihat menantunya makan masakannya dengan lahap, apalagi pipinya yang mengembung saat mengunyah bakso sungguh terlihat imut dan lucu.
" Sudah cukup-cukup, sambelnya cukup sayang..." Ucap mommy Tara syok melihat Ara yg menambahkan dua sendok sambel ke mangkoknya.
Ara hanya tertawa dan mengangguk menurut, padahal baginya sih belum pedas.
Saat mommy Tara pamit ke dapur untuk mengangkat kue buatan nya, Ara meraih ponselnya dengan tangan bergetar.
Tut..tut..tut..
Beberapa kali panggilannya di reject oleh Rangga.
Ara memejamkan matanya, menekankan semua rasa nyesek yang kini menghimpit dadanya.
"Nah ni lihat, brownies coklat spesial buat menantu mommy tersayang.." Mommy Tara muncul dari pintu dapur dengan sepiring brownies di tangannya.
Ara buru-buru mengelap air yg mulai menggenang dipelupuk matanya.
Setelah bercakap-cakap sejenak, mommy Tara memberinya baju ganti miliknya, ternyata pas untuk Ara.
Mommy Tara mewujudkan mimpinya, hari ini Ara benar-benar diuyel-uyelnya tak karuan, mulai dari ujung kaki sampai kepala semua dirombak nya.
Kuku-kukunya dicat, tentu saja dengan nail polish yang halal agar bisa digunakan saat beribadah. Rambutnya juga sedikit dirapikan oleh mommy Tara.
Pokoknya hari ini adalah women day bagi mereka.
Setelah makan malam Ara pamit pulang, dan diantar oleh daddy yang sekalian ada meeting di cafe yang arahnya sama dengan rumah Ara.
*
Saat memasuki rumah rasa sepi yang dirasakan Ara, biasanya ada Bianca yang berlari-lari menyambut anggota keluarga yang pulang, sudah dua hari bocah itu nggak ada, rumah berasa senyap.
__ADS_1
" Baru pulang mut?, Loh Rangga mana?" Saat melintasi ruang TV Adnan yang sedang mengecek beberapa berkasnya menyapa adik kesayangannya itu.
" Hah!!!, bahkan dia belum pulang juga??"
" Astaghfirullah, Astaghfirullah, Astaghfirullah..ya Allah tenangkan hati hamba..."
" Kemana dia??"
" Mut..., kenapa melamun, Rangga mana?" Tanya Adnan lagi saat mendapati Ara justru malah mematung ditempat.
" Ah..., mungkin lagi belajar sama kak Denis dan kawan-kawan, Li keatas ya bang..." Ara mengecupi pipi Adnan dan segera naik ke kamarnya.
Adnan menatap punggung adiknya dengan tatapan mata yang tajam, terus ditatapnya hingga punggung itu kini tak nampak lagi.
Kak Rangga ๐ฉ : Maaf sayang kakak ketiduran di rumah mommy, kakak pulang terlambat๐๐ผ๐๐ผ.
Pesan dikirim oleh Rangga dua jam lalu, bukankah dua jam lalu dia masih ada di rumah mertuanya, tapi Rangga nggak ada tuh, trus Rangga kemana???
Ara melempar ponselnya ke kasur dengan geram.
" Masih juga bohong????"
Gadis itu berlalu ke kamar mandi, membasuh mukanya, menatap dirinya di cermin.
Dia memang temanku dari masa kecil. Itu benar.
Dia cengeng aku sangat tahu itu kenapa?? karena ditinggal teman yang dimilikinya dan dia kembali sendirian itu menyedihkan bukan.
Dia suka marah aku sangat paham itu kenapa?, karena dia anak tunggal yang biasa dimanja, wajarlah dia selalu marah dengan sesuatu yg tidak sesuai dengan inginya.
Tapi pembohong??? aku tak pernah tau kalau dia ternyata PEMBOHONG.
Ara meremat hatinya yang tiba-tiba sakit.
Ceklek.
Pintu kamar mandi terbuka bersamaan dengan pintu kamar yang dibuka dari luar.
Fix, Rangga bohong kalo dari rumah daddynya, pasti kalau dari sana harusnya sudah mandi dan ganti baju bukan??, secara ini sudah pukul delapan malam.
"Sayang..., sini sayang.., kakak kangen banget dari siang sampai malem gini nggak liat kamu..." Rangga menghambur hendak memeluk istrinya, tapi dengan cepat Ara menghindari nya.
" Jangan pegang dulu! bau tau, mandi sana, kalau perlu pake desinfektan yang banyak!!"
Bahkan Ara sedikit menepis tangan Rangga yang hendak meraih rambutnya.
Rangga terlongo di tempat nya. Pemuda itu menciumi kedua pundaknya, mengangkat kemejanya untuk diciumi juga.
"Masa sih gue bau, wangi gini kok..." Gumamnya sambil tanganya menyambar handuk di depan kamar mandi.
Ara meraih tas Rangga, membuka tas itu, isi tas dan bukunya tetap sama seperti pagi tadi.
Karena dialah yang memasukkan bukunya sebelum berangkat sekolah tadi pagi, tentu dia sangat tau.
Rangga keluar dengan jubah mandi dan tangannya menggosok-gosok rambut basahnya dengan handuk kecil.
Melihat Ara yang duduk di sofa, diapun berlari kecil kesana.
Brugh!!!
Dijatuhkannya, tubuhnya di samping Ara dan meletakkan kepalanya di pundak Ara.
"Capek kakak sayang..." Gumamnya, matanya terlihat terpejam.
" Emang dari mana kok capek?" Tanya Ara dengan menekan semua emosinya.
Rangga tiba-tiba segera bangkit dan berjalan menuju kasur, dimana Ara telah meletakkan baju ganti untuknya.
__ADS_1
" I..itu, ya..ya dari rumah mommy lah.." Ucapnya terbata-bata.
"Bohong!!!
Bentak Ara dalam hati.
" Oh..." Ucapnya lirih, Rangga mendekatinya dan membuka tasnya.
Plak!!!
Dengan keras dia menepuk jidatnya.
"Astaghfirullah..buku gue..." Gumamnya lirih. Secepat kilat dia menoleh ke Ara dan menutup mulutnya.
Sebenarnya Ara mendengar gumaman Rangga dan melihat tingkahnya yg canggung itu, tapi dia pura-pura tak tau saja.
Rangga kebingungan, buku itu adalah buku panduan untuknya mengerjakan ujian esok hari.
Sementara Ara dari ekor matanya bisa melihat kebingungan dan keresahan Rangga, tapi dia bisa apa?.
Setelah selesai menyiapkan keperluan dan bukunya untuk esok, Ara segera naik ke tempat tidur, waktu kebersamaan nya dengan mommy Tara membuatnya sangat lelah.
Sementara Rangga masih sibuk belajar di meja belajar. Bibirnya komat-kamit seakan sedang baca mantra, begitulah anak-anak IPA belajar, menghapal dan menghapal.
Waktu sudah menunjukkan pukul dua belas malam saat Rangga menyudahi belajarnya.
Diliriknya Ara yg tidur dengan memunggungi tempatnya, ini tak pernah terjadi sebelumnya, bahkan Ara sendiri yang bilang tidak boleh hukumnya seorang istri memunggungi suaminya.
Rangga masuk kamar mandi dan berwudhu sebelum tidur, ini juga hasil didikan Ara, agar senantiasa bersih dan suci.
Pelan di berbaring di belakang Ara, tanganya meraih pundak gadis itu, Rangga hanya ingin melihat wajahnya. Tapi justru tepisan yang diterimanya.
Rangga segera bangkit dan berjalan kedepan Ara, saat ini gadis itu sedang menutup wajahnya dengan kedua tanganya.
Rangga berjongkok di depan kepala Ara, pelan dia membuka kedua tangan itu.
Wajahnya kian dekat, bahkan hidung mereka telah bersentuhan.
Srekk..
Dengan cepat Ara mengubah posisi tidurnya menjadi kearah berlawanan.
Rangga mengernyitkan dahinya bingung.
Ada apa ini?
Saat Rangga kembali membaringkan dirinya di depan Ara, Ara berulah dengan memunggunginya lagi.Rangga masih sabar.
Dia lingkarkan tanganya diperut istrinya, belum juga menempel sempurna Ara sedah memindahkanya ke badan Rangga sendiri.
"Sayang ada apa ini?" Tanya Rangga emosi dibuatnya.
Capek-capek belajar dari tadi dan ingin sayang-sayangan dengan istri tapi reaksinya seperti ini.
"Kamu kenapa sih, sejak kakak pulang dicuekin mulu, gerem aku tuh!!" Rangga bangkit dari tidurnya dan membawa bantalnya ke sofa.
Bugh!!!
Dilemparkan nya bantal itu di sofa dan diapun membaringkan tubuhnya disana.
Tanganya bersedekah di dada, matanya nyalang menatap langit-langit kamar.
Dilirik nya punggung Ara yang bergetar, ya..Rangga sangat sadar bahwa saat ini Ara sedang menangis, tapi gengsinya setinggi langit.
Enggan dia mendekati Ara, baginya Ara yang salah, Rangga yang capek butuh refresing tapi istrinya malah ngambek nggak tau kenapa.
Bersambung...
__ADS_1
...***...
Likenya ya guys๐๐๐ terimakasih sebelumya...