
Dua siswa SMU berbeda gender itu kini sama-sama duduk di ruang peralatan olahraga dengan saling memunggungi. Ara duduk bersimpuh di atas matras olahraga, sedangkan Rangga duduk memeluk lutut nya di depan pintu yang tertutup. Ara sangat marah dengan perlakuan Rangga yg sudah menyeretnya kesini.
" Jangan ulangi lagi kak, atau tangan kakak patah oleh bothy..." Ancam Ara setelah sekian lama mereka terdiam. Rangga bergidik ngeri, dia sangat tahu siapa Marvel dari Vino. Suasana diruangan itu sunyi bak kuburan.
Ara yang diam karena kemarahan nya, dan Rangga yang tenggelam dalam penyesalan nya.
" Maaf....., maafkan kakak..., kakak tidak bisa mengontrol emosi kakak..." ucapan lirih Rangga terdengar penuh penyesalan.
" Emosi kenapa..?"
" Kenapa kau cuek pada kakak, apa kau tau sakitnya hati kakak Ra..." Ucap Rangga sendu. Kedua tanganya mengacak rambutnya frustasi.
" Kan kakak sendiri yang minta Ara untuk jaga jarak..., Ara hanya nurutin kakak..." Jawab Ara cepat.
Sejujurnya semalam saat Rangga menelponnya dan meminta agar Ara menjaga jarak dengan nya selama disekolah, tentu saja Ara merasa sakit hati dan sedih.
Rangga menarik nafas kasar, dia merasa serba salah.
Rangga menolehkan kepalanya sejenak.
" Hanya jaga jarak....!!, bukan cuek sayang..." Rangga menegaskan kata-kata nya.
" Semua demi kamu Ra..., agar kamu tidak diganggu dan di bully Rhea dan kawan-kawan nya" Lanjutnya lagi
" Fix, kakak belum mengenal siapa Ara...." Ucap Ara sambil tersenyum sinis.
Rangga masih duduk dengan memeluk lututnya.
" Tentu saja kakak mengenalmu Lailia Nafeesa Anara..my sweety, my squirrel...., please jangan marah, jangan membuat kakak gila..." Ucap Rangga saat Ara tak bergeming dari posisinya.
" Ara mau ke kelas kak ..." Pamit Ara seraya berdiri dan merapikan bajunya.
" Siniin coklatnya...." Rangga mengulurkan tangannya saat Ara melintas di depanya.
" Coklat apa...?"
" Coklat yang dikasih Hanan tadi..."
Ara menatap Rangga penuh selidik.
Dia merogoh kantongnya dan menyodorkan coklat itu pada Rangga. Gadis itu berfikir mungkin Rangga ingin meminta sebutir atau dua butir. Tapi dengan cepat Rangga menyambar coklat itu dan melemparkan nya ke luar jendela.
" Loh kok !!!!, kenapa dibuang..???" Sesal Ara dengan berlari ke arah jendela, dan melihat sebuah kolam ikan disana. Sudah dapat dipastikan coklat mahal itu jadi makanan para ikan dikolam.
" Aku bisa memberimu yang lebih dari itu..." Ucap Rangga tegas dan dingin.
" Terserah lah..." Ara segera melangkah keluar, baru saja Ara meraih pintu dan membukanya, suara Rangga menghentikan langkahnya.
__ADS_1
" Jangan terima apapun pemberian cowok lain dan jangan dekat-dekat cowok lain, aku gak suka..." Rangga berbicara tanpa melihat lawan bicaranya, jemarinya sibuk memutar- mutar cincin yang ada di jarinya.
Ara menoleh dan tersenyum tipis, ada sesak didadanya. Apa Rangga lupa bahwa dia saja dekat dengan Jessica.
" Apa kakak fikir Ara juga suka kalo kakak deket dengan cewek lain.."ucap Ara lirih.
Rangga bergegas mendekati Ara, dia sangat berharap Ara memahami posisinya sekarang.
" Tapi Jessica itu bukan cewek lain, dia sahabat kecil kakak..." Rangga berusaha meyakinkan Ara.
Ara menggeleng kecil, bibirnya menyunggingkan senyum kecut.
" Jadi boleh deket dengan sahabat kecil kan?, baiklah..." Ara menjeda ucapan nya.
"Sekedar mengingatkan! Leon, kak Vino dan bang Hanan, mereka sahabat kecil Ara kalo kakak lupa..."
Setelah menyelesaikan ucapan nya Ara segera menutup pintu. Tapi sebelum pintu tertutup dengan sempurna, sepatu Rangga mengganjal nya dan secepat kilat Rangga menyambar jemari Ara.
Sret...
Sebuah cincin kini telah tersemat di jemari Ara. Saat ini posisi Rangga masih di dalam ruangan dan Ara diluar ruangan. Anak SMU Bhakti yang berlalu lalang tak menyadari apa yng terjadi, karena yang terlihat dari luar hanya tangan sebelah Ara yang terulur ke dalam.
Ara menarik tanganya dan melihat sebuah cincin di jari nya.
" Lagi-lagi kau mengikat ku, dahulu di leherku, dan sekarang kau lakukan lagi di jariku, ternyata mengikat orang adalah hobbymu..." Gumam Ara sambil melangkah kakinya meninggalkan ruangan itu.
Rangga mengacak rambut gondrong nya gemas. Kakinya menendang-nendang matras olahraga yg tidak bersalah itu.
Kenapa Ara bilang bicara begitu?, kapan aku..?, ah...mungkin aku salah dengar.
***
Sementara di kantor Ghifari.
" Ini pak, artikel tentang putra kedua bapak yang bapak minta"
Sekertaris papa Syakieb menyerahkan tab yang berisi artikel tentang Ardi.
" Dia selalu berbuat sesuka hatinya..." Gumam papa Syakieb pada dirinya sendiri sambil tersenyum menatap foto putranya yang terlihat gagah dan bahagia.
Dalam hati beliau sangat bangga pada putra nya itu.
Ardiansyah Syakieb Al Ghifari, putra yg sangat disayanginya, tapi karena perbedaan pendapat membuat hubungan mereka merenggang.
Papa Syakieb yg ingin putra- putranya kelak bisa memimpin perusahaan ternyata tidak di sambut baik oleh Ardi.
__ADS_1
Ardi yg sedari kecil sakit-sakitan sangat menyukai olahraga dan selalu mengatakan bahwa cita-citanya adalah sebagai seorang atlet.
Papa Syakieb meminta agar atletik dijadikan hobbynya saja tapi ternyata Ardi tidak menerimanya. Semakin dilarang semakin Ardi menentang. Puncaknya saat Ardi kelas dua SMP, papa Syakieb terkejut saat pihak rumah sakit mengabarkan bahwa putra nya kecelakaan saat balapan. Bahkan beberapa tulang rusuknya patah. Tapi semua itu tidak membuat nya jera. Ardi masih saja suka diam- diam balapan. Ardi tidak bisa dikekang, semakin dikekang semakin melawan.
Hingga papa Syakieb memutuskan untuk membebaskan kemauan putranya asal masih dalam batasnya, sampai saat ini.
Papa Syakieb tersenyum puas sambil mengelus gambar putranya di artikel tersebut. Putra cengeng nya kini berubah menjadi pria muda yg luar biasa.
Tok tok...
Suara pintu diketuk membuyarkan lamunan papa Syakieb.
Seorang wanita cantik berjilbab syar'i masuk ke ruangan dengan membawa rantang ditangan nya.
" Assalamu'alaikum sayang..." Wanita itu segera mencium punggung tangan suaminya dan langsung duduk dipangkuan.
" Lihat apa sayang...?" Mama Neela mengambil alih tab dari tangan suaminya.
" Putra ku terlihat gagah dan tampan, mirip seperti masa mudamu yang...."
Papa Syakieb memeluk istrinya dari belakang dengan sangat erat.
" Apa sekarang aku sudah tidak gagah dan tampan?" Tanya papa Syakieb manja.
" Idih lebay..." Tepukan mama Neela pada lengan papa Syakieb yg melingkar di dadanya.
Mereka tertawa bersama.
" Ardi terlihat bahagia, kita salah jika meminta dia melakukan yg tidak disukainya, sepertinya atletik memang passion nya ma...dan papa sadar sekarang.
Mama Neela tersenyum, tangannya mengelus lengan suaminya.
" Ayo ah makan dulu yuk..." Ucap mama Neela sambil membuka rantang-rantangnya.
" Suapin ya yang...." Ucap papa Syakieb manja. Alisnya naik turun menggoda wanitanya.
Mama Neela tersenyum manis dan mengangguk, karena baginya berbakti pada suami adalah tugas mutlaknya.
" Pernikahan Adnan dan Hana tinggal seminggu lagi, apa persiapan sudah beres yang...?" Tanya papa Syakieb disela makannya.
" Alhamdulillah, besan sangat banyak membantu..."
" Apa kau tahu yang...., Tara terus-terusan minta Lili kita untuk segera menjadi putrinya.."ucap mama Neela dengan tangan yg menyuapkan sendok pada mulut papa Syakieb.
" Lili belum lulus sekolah, dan belum tentu Ardi bisa melepaskan adiknya begitu saja.." Desah papa Syakieb.
" Ardi sangat menyayangi Lili, mama tidak bisa membayangkan mereka terpisah kelak dikemudian hari pa..., pasti akan menyakiti salah satunya..." Raut sendu memenuhi wajah cantik wanita empat puluh tahunan itu.
__ADS_1