Childhood Love Story

Childhood Love Story
Kebrutalan seorang Rangga


__ADS_3

Pagi datang begitu cepat, seperti janjinya Adnan mengembalikan Hana sebelum subuh dan dia sendirilah yang menggendong Hana menyeberangi sungai dan di sambut lagi oleh Hanan.


Pagi menyongsong dengan sinarnya yang hangat.


Semua sudah berkumpul di tanah lapang untuk berolahraga.



Dan beberapa sibuk melakukan kesibukan masing-masing.



Ara dan beberapa guru wanita sibuk membuat hidangan sarapan untuk semuanya.


Ada nasi goreng dan beberapa lauk sederhana.


Bahkan bunda Hanan membawakan sambal yang lumayan banyak.


Rangga yang telah kangen berat dengan penguasa hatinya dengan tergesa-gesa berlari menuju dapur umum, dimana Ara berada.


Gadis manis itu terlihat sedang membolak-balik sosis bakar di depanya. Sedang yang lain sibuk dengan tugasnya masing-masing.


" Sayang..." Bisiknya pelan disamping telinga Ara.


" Kak, Assalamu'alaikum kak...baru bangun ya?" Sahut Ara tanpa menoleh.


" Iya Waalaikumsalam sayang..., habis subuh tadi baru bisa tidur...sini sebentar sayang..." Rangga menyeret Ara ke balik tenda, kepalanya menoleh ke kiri dan kekanan.


Cup...cup...


Dengan cepat di kecupnya pipi Ara yang terlihat besemu merona.


" Ishh..., gitu ya..." Kaget Ara dan segera memutar kepalanya ke segala arah takut-takut kalau ada yang melihat.


" Ikut sebentar yuk....." Rangga meraih jemari dan meletakkan alat penjepit yang dipegangnya ke meja. Diseretnya pelan Ara dan membawanya ke luar area kemping.


" Mau kemana kak...?, nggak usah aneh-anah deh..."


Rangga tetap melangkah, tanpa mempedulikan Ara yang terus menatap kebelakang takut ada seseorang yang melihatnya menyelinap pergi bersama Rangga seperti ini.


" Kak...udah jauh ini, mau kemana sih?." Tanya Ara saat kini mereka semakin menjauh dari camp.


" Sstttt, diem....jangan berisik..." Ucap Rangga dengan meletakkan telunjuknya pada bibir Ara.


Mereka terus berjalan sampai pada tanah berumput yang banyak ditumbuhi bunga lavender yang sedang berbunga.


" Kakak kangen banget sama kamu sayang, udah stadium akhir, rasanya udah mau anfal saking beratnya.."Rangga memeluk erat Ara dari belakang, dan meletakkan dagunya di bahu Ara.


" Kak, ini nggak bener. Nanti ada yang nyari kita gimana?"


" Beres untuk itu Vino udah ngaturnya..." Bisiknya di telinga Ara. Hembusan nafasnya nenembus kain jilbab Ara, dan sukses membuat Ara meremang.


Rangga perlahan-lahan menyingkap kerudung Ara dan memasukkan kepalanya, mengecupi leher Ara dengan gemas. Gigitan kecil-kecil Rangga pada lehernya membuat Ara meremas kuat tangan Rangga yang membelit perutnya.


Ingat, Rangga adalah pemuda berusia labil yang haus akan kesenangan nafsu yang menggebu-gebu. Apalagi gadisnya sudah sah menjadi miliknya. Rangga pria muda yang telah merasakan nikmatnya wanita, jadi akan sulit baginya untuk menahan saat dorongan itu datang. Yang ada difikiranya saat ini hanya satu, semua yang ditahanya sepanjang malam tadi harus dia tuntaskan sekarang.


" Sayang...." Bisiknya di sela-sela cumbuanya di leher Ara, kedua tanganya sedari tadi sudah rusuh meraba-raba perut rata Ara.


" Nggak mau Lili kak.., nggak boleh naninu di tempat terbuka..." Desis Ara tertahan oleh des*hnya yang indah.


Rangga mematung sesaat mendengar ucapan Ara yang menggelikan baginya, dikeluarkannya kepalanya dari dalam kerudung Ara, dan diputarnya tubuh gadis itu agar menghadapnya.


Pemuda itu menatap Ara dengan aneh, bibirnya terlipat kedalam seolah-olah sedang menahan tawanya.


" Kenapa?" Tanya Ara bingung.

__ADS_1


" Apa tadi katamu sayang..."


" Apa?"


" Nggak boleh ditempat terbuka hemmm? memangnya apa yang kau fikirkan sayang, hemmm ?"


Ara tiba-tiba merasakan panas diseluruh wajahnya, entah apa yang ada difikiranya tadi.


" Naninu?" Tanya Rangga dengan tawa kecilnya yang membuat wajah Ara semakin memanas.


" Itu..itu...tentu saja bu..bukanlah" Jawab Ara asal dan sedikit menjauh dari Rangga.


Tapi dengan cepat Rangga menariknya lagi agar merapat padanya.


" Lalu apa sayang, bilang ke kakak..., kamu pengen apa hemm?"


Ara mencubit gemas Rangga dengan tatapan matanya tajam menatap bibir Rangga yang dirundukanya, dan Ranggapun tau arah tatapan Ara. Rangga terkekeh geli dengan cubitan yang lemah itu, apalagi mata imut Ara yang sebentar-sebentar melirik bibir bawahnya.


" Jadi kalau ditempat tertutup mau naninu hemm?" Rangga mengangkat dagu gadis manis di depanya itu untuk menatapnya.


" I..itu..itu..." Jawab Ara grogi.


" Itu apa hemmm?, kamu kangen kakak kan?, jujur, kangen ini?" Tunjuknya pada bibir bawah Rangga yang terdapat tahi lalat.


Ara segera membuang muka menatap ke segala Ara. Malu, tak enak hati dan menyesal karena telah salah bicara yang akhirnya jadi bulan-bulanan Rangga seperti ini.


Rangga tersenyum kecil dengan tingkah menggemaskan Ara. Dengan cepat Rangga meraih tengkuk Ara dan menyambar bibir pink yang di rinduinya sejak semalam.


Dec*p*n dan lum*t*n Rangga bak singa yang kelaparan.


" Emmmpphh..."


Tak sampai disitu tangan Rangga pun sudah aktif kemana-mana.


Brugh..


Rangga menggila tak tau tempat, sementara Ara juga terlihat menikmatinya.


" Emmmpphh...emmmpphh..." Ara menepuk-nepuk punggung Rangga saat dirasa sesuatu yang keras menusuk-nusuk pahanya.


" Sudah..kak....hah..hah.." Pintanya pelan dengan nafas yang ngos-ngosan, karena Ara takut Rangga tak bisa mengontrol diri.


Tapi Rangga tak mendengarkanya, pria muda itu seakan tuli, fokusnya bermain-main pada dada Ara yang kaosnya telah tersingkap keatas. Ara meliut-liut tak karuan dibuatnya.


" Sudah kak please...."


Rangga masih tak bergeming, pemuda ini sangat hanyut dalam gejolaknya.


Ara berulang kali mendorong kepala Rangga menjauh, tapi pemuda itu bak karang yang kokoh, tak hempas oleh ombak yang datang, dec*p*n dan s*sap*nya semakin menjadi-jadi.


" Berhenti kak please...please...hiks..."


Rangga yang mendengar isakan Ara langsung tersadar dari hasrat yang membelenggunya.


Matanya tak percaya melihat tampilan Ara saat ini.


Bibir bengkak karena ulahnya, jilbab yang terlepas, dan leher putih mulus yang kini penuh warna merah biru akibat sesapnya yang brutal. Dan lihat pula kaos olahraga Ara yang tak jelas lagi bentuknya, tersingkap kemana-mana. Dua buah benda kenyal yang putih mulus montok menjulang itu menonjol tak lagi bersarung.


Merah bekas gigitan kecil di sekitar lereng gunungnya dan merah merekah di ujung puncak gunungnya.


Ara merapikan bajunya dengan menunduk, tetesan air mata mengalir di pipi nya yang memerah karena malu, malu pada mahluk-mahluk sekitar yang kini mungkin telah melihat semua.


Air mata bening luruh dari mata Rangga yang terpejam. Penyesalan yang mendalam atas khilafnya yang luar biasa.


" Jika kakak selalu tidak bisa menahan diri seperti ini, bagaimana kakak bisa melewati lima tahun disana?" Ucap Ara di sela isakanya.

__ADS_1


" Aku bahkan tidak yakin kakak tetap akan menjadi Ranggaku yang sa----"


" Stop!!!, jangan teruskan...hiks...hiks.." Rangga membekap mulut Ara dan memeluknya erat. Tangisnya pecah dengan menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Ara.


Malu itu yang dirasakan, dan sesal yang luar biasa menatap hasil perbuatannya yang mengenaskan.


" Maafkan aku...., maafkan aku..., aku selalu lupa diri jika itu kamu sayang..." Bisik Rangga dengan tubuh bergetar dalam tangisnya.


" Kamu selalu menjadi orang lain disaat tenggelam dalam nafsumu kak, Ara takut kakak tidak bisa mengendalikan diri di sana...., Ara bisa mati kalau kakak sampai melakukan hal yang-----"


" Sstttt...., tidak sayang, tidak...., kakak hanya seperti ini jika didekatmu saja, sumpah!!, sumpah sayang!!"


Rangga memeluk Ara dengan erat dan mengecupi pucuk kepala Ara dengan sayang.


Saat matanya menatap hasil karya brutalnya pada leher Ara, Rangga meniupinya dengan air mata yang meleleh.


Ini jugalah yang diperhitungkan oleh papa Syakieb dalam memutuskan untuk memisahkan mereka.


Jika mereka tidak dipisahkan sementara waktu, apa jadinya Ara?.


Setelah mama Nela menceritakan bagaimana dahsyatnya tattoo yang dibuat Rangga pada tubuh putrinya. Papa Syakieb dengan berat hati akhirnya mengambil keputusan ini.


Pertama dengan tujuan agar Rangga menjadi pribadi yang bertanggungjawab.


Kedua karena tujuan pendidikan Rangga yang memang menuntut nya harus kesana.


Dan ketiga adalah bertujuan agar Rangga bisa menaklukkan hasratnya yang menggebu-gebu setiap berdekatan dengan Ara.


Mungkin diusianya saat ini Rangga masih belum bisa mengendalikanya, maka dari itu papa berharap di tahun-tahun berikutnya Rangga akan bisa berlaku lembut di saat itu tiba.


" Maafkan kakak sayang..." Bisik Rangga dengan tangannya membantu merapikan kembali penampilan Ara.


Rangga menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


" Apa kakak akan sanggup berpisah denganmu sayang...?"


" Memikirkan nya saja kakak mau mati rasanya....." Rangga mulai menangis, baru semalam saja dia tidak bersama Ara, rasa badanya seperti lemah tak bertenaga, seperti raga tanpa nyawa. Dan baru semalam juga Rangga menyadari beratnya berpisah dengan pemaisurinya ini yang selama ini tak disadarinya.


" Kak, Lili hanya pesan jangan pernah mendekati minuman keras di sana, karena Lili tidak bisa mentolerir nya lagi bila sampai kakak mabuk lagi, hari itu berarti kita end!" Ancam Ara tegas.


" Kalau untuk kebutuhan biologis......" Ara menjeda ucapanya.


" Jika kakak tak mampu menahanya, maka carilah pelampiasan dan lepaskan saja ak----"


" Diam!!!, kunci mulutmu!!!" Bentak Rangga dengan wajah yang mengeras marah.


Bagaimana dia bisa seperti yang difikirankan Ara itu, sedangkan yang dia tahu otak mesumnya hanya timbul jika itu pada Ara. Otak mesumnya tak akan bereaksi dengan siapapun.


Bahkan saat dia menolong Jessica yang mengancam untuk bunuh diri, malam dimana dia meninggalkan Ara di mall, dia tak bereaksi apa-apa walau saat itu Jessica telanjang di depanya sekalipun.


" Tidak...., kakak bersumpah!!!, kakak bisa menahan, tapi tidak bila itu kamu..., percaya kakak sayang...." Rangga meraih jemari Ara dan mengecupinya dengan penuh kasih.


***


Mereka kembali ke camp setelah beberapa lama menghilang. Dengan dua karanjang kecil berisi dedaunan yang memang telah disiapkan Vino sebagai alibi.


Mendekat ke camp sayup-sayup terdengar alunan lagu dangdut yang diputar oleh oleh beberapa anak, dan terlihat beberapa bergoyang-goyang dengan canda tawa mereka.


"Wah asyik nih..." Ara menumpuk keranjang itu di atas keranjang yang ada dipegangan Rangga, dan melesat berlari menuju kerumunan itu.


" Woi..., ikutan woi..." Teriak Ara dan di songsong oleh Natasya yang kini telah memegang microphone ditanganya.


" Lagu apa Ra?" Tanya Natasya.


" Dari Deni Caknan yuk..., Loss doll asyik juga kayanya..." Sambar Ara cepat.

__ADS_1


Rangga yang mendengar dan melihat itu semua ternganga tidak percaya.


" Ya Allah, MashaAllah istriku nggemesin banget sumpah!!!" Ucapnya lirih pada dirinya sendiri.


__ADS_2