
Ara sedang tertidur saat Rangga masuk ruangan.
Gadis yang dirindukan selama berbulan-bulan ini telah ada di depanya.
Tapi dalam situasi dan kondisi yang buruk.
Rangga menatap mata basah yang terpejam di depannya ini dengan hati yang teramat pilu.
Rangga memberanikan diri mengecup kedua mata basah itu. Dan menghapuskan air mata yang berderai itu dengan jempolnya.
" Kak....." Lirih Ara saat matanya terbuka, demi merasakan sentuhan Rangga yang sangat dikenalinya.
" Sayang....." Rangga menatap Ara dengan mata yang buram karena genangan air matanya.
" Maafin Lili...hik..hik..., Lili tidak mampu menjaga amanahmu....hik...hik..."
" Sudah sayang..., sudah...ssshhhh..."
" Lili bukan istri yang baik kak, Lili juga bukan ibu yang baik..hik..hik..."
" Ssshhhhhh, diam sayang...." Rangga menarik tubuh ringkih Ara ke dalam dekapannya.
" Kakak juga, kakak juga minta maaf.... Kakak juga tidak berguna sebagai suami. Kakak tidak dapat berbuat apa-apa saat melihatmu kesulitan...hu..hu..hu..".
Mereka tenggelam dalam kesedihan mereka. Rangga menarik kakinya keatas brangkar.
Membaringkan badannya disamping Ara, dikecupnya dalam kening Ara dan sangat lama. Hatinya mencelos sakit saat tanganya digenggam oleh Ara dan dibawanya mengusap perutnya yang kembali rata.
" Mereka...mereka...hik..hik..hik..." Ara semakin membenamkan wajahnya di dada Rangga yang hangat.
Dada yang selalu didambanya di setiap malam sunyinya beberapa bulan ini.
Rangga memejamkan matanya tak bisa berkata-kata.
Demi Tuhan!!, berbulan ini dia sangat ingin sekedar mengelus perut buncit Ara, tapi sekarang..
Mereka terdiam lama, mereka sama-sama tenggelam dalam fikiran masing-masing.
Saat pandangan Rangga tertuju pada piring yang masih utuh belum tersentuh di atas meja, ucapan Adnan beberapa saat lalu menyadarkannya.
" Sayang, makan ya...." Rangga mengelus rambut Ara yang jilbabnya telah Rangga lepas beberapa saat lalu.
Ara menggeleng dan menutup mulutnya dengan selimut.
" Kakak mohon....." Ucap Rangga serak.
Ara menatap Rangga yang sangat kacau, tampilan Rangga kali ini benar-benar tidak seperti Rangga yang biasanya ia tahu.
Berantakan tak terurus, kantung mata yang cekung dan wajah yang pucat. Walau begitu ketampanannya tak akan hilang.
Ara bahkan juga yakin, bahwa Rangga juga tidak bisa makan seperti dirinya.
" Iya, baiklah. Tapi kita makan sama-sama..." Ara mengalah...
Rangga mengangguk antusias, senyum tipisnya terukir.
***
Keesokan harinya Ara telah diperbolehkan pulang.
Mereka pulang ke rumah Syakieb. Dan daddypun mengijinkan karena disana juga ada ayah angkatnya, kakek Al Ghifari.
Saat ini Brian mengumpulkan semua pria untuk membahas siapa dalang dibalik ini semua.
Rangga masih ada di kamar, karena lagi-lagi Ara kembali depresi.
" Sayang..... Jangan seperti ini sayang. Istighfar..." Bujuk Rangga. Sejak subuh tadi Ara hanya menangis dan menangis.
" Ayo...hupp" Rangga tak sabar lagi. Sudah berbagai cara dilakukan untuk membujuk Ara agar keluar dari alam bawah sadarnya, tapi sia-sia.
Dengan cepat diangkatnya tubuh Ara dan dibawanya ke dalam kamar mandi.
Ara hanya diam saat Rangga mendudukanya di kloset, tatapan kosongnya, gadis itu pasrah saja saat Rangga mandikanya dan mencuci rambutnya. Bahkan saat Rangga menyikat giginya juga tidak ada perlawanan ataupun reaksi dari gadis itu.
Rangga menarik nafasnya berat.
__ADS_1
Ini sulit, sangat sulit. Bahkan kalau ingin dituruti, dia juga ingin seperti ini!!!. Tenggelam dalam alam bawah sadarnya, menolak kenyataan bahwa twins telah tidak ada.
Tapi Rangga sadar, dia kepala rumah tangga sekarang. Aranya adalah tanggungjawab dunia akhirat nya.
Dia punya tanggungjawab untuk membimbingnya kembali disaat Ara sedang terjerumus seperti ini.
" Nah, ayo sayang. Mau di kepang, atau di kuncir saja?"
Setelah memakaikan baju pada Ara, Rangga mendudukkan Ara didepan meja rias dan mulai menyisir rambutnya.
Ara menggeleng kan kepalanya lagi.
Rangga mengacak rambutnya frustasi.
Kepalan tinjunya berulang kali di lampiaskan pada dinding samping pintu.
" Kenapa seperti ini?, kenapa kau jadi seperti ini sayang???, please sadarlah..." Rangga menangis dipangkuan Ara.
Setelah drama-drama penolakan Ara yang terus menerus, akhirnya Rangga tidak sabar lagi.
" Masih nggak mau makan sayang hemmmm?" Rangga sedikit meninggikan suaranya.
" Baiklah kalau itu maumu, jangan salahkan aku jika kau adalah anak burung mulai detik ini" Setelah berbicara seperti itu, Rangga menyupkan beberapa sendok bubur kemulutnya.
Di raihnya tengkuk Ara dan dengan cepat mengambar bibir Ara.
" Emmmmppp" Ara terkejut tak percaya.
Rangga menggigit bibir Ara agar terbuka dan glup...
Bubur yang terkumpul di mulut Rangga kini berpindah ke mulut Ara.
" Telan!!" Paksa Rangga.
Dan begitu terus menerus sampai bubur dimangkuk habis tak tersisa.
Rangga membuka sebuah obat dan membukanya.
" Mau minum sendiri?, atau maunya memang dari sini saja?" Tunjuknya pada bibirnya dan malah mengetuk-ngetuk bibir bawahnya.
" Ckkk..." Ara membuang muka dan berdecih.
Rangga tersenyum melihat ini, suara merdu istrinya kini kembali mengalun memasuki ruang dengarnya.
Setelah memastikan Ara meminum obatnya, maka gilirannya membersihkan dirinya.
Sementara itu di ruang kerja papa Syakieb.
" Son, Janu. Panggil Rangga..." Ucap Daddy Hen.
" Baik om..."
Janu keluar ruangan dan berjalan menuju lantai dua rumah papa Syakieb.
Janu sudah tahu letak kamar Ara dan Rangga, karena kemarin dialah yang mengantarkan keduanya pulang dari rumah sakit.
Saat melintasi kamar di samping kamar Ara, Janu mendengar suara gadis yang bersarang dihatinya beberapa bulan ini.
" Akkkh...sakit bang!! Jangan resek..." Suara manja Hana mengejutkannya.
Hana?
Dia menginap di sini lagi?
Abang? Apa dia sedang bersama Ardi??. Atau kakak Ara, kak Adnan?
Tapi kenapa dalam satu kamar?
" Iihhhh, abang jangan resekhhhh, itu geli tauhhh" Desah Hana semakin menjadi.
Deghhh!!!
Deghhh!!!
Jantung Janu berdetak begitu cepat.
Otak waras pasti paham artian ******* Hana.
Tangan Janu bergetar, kewarasan nya,ntah lari kemana. Dengan berani di ketoknya pintu yang sedikit terbuka itu.
__ADS_1
Tok..tok..
" Mmmm...yahhhh" Suara Hana panik.
Gradak...gruduk...grasak..grusuk...
Suara keributan kecil terdengar dari dalam kamar.
" Ya..." Hana melongokkan kepalanya yang tertutup handuk keluar pintu, sementara tubuhnya tak terlihat.
" Kamu nggak papa Han?" Tanya Janu cemas, matanya berusaha melongok melihat dalam kamar.
" Nggak, kenapa emang?" Tanya Hana bingung.
" Kamu lagi ngapain?" Tanya Janu seakan menginterogasi.
" Lagi nonton.., kenapa sih?"
" Nggak papa..., kamu sama siapa di dalam?" Pertanyaan yang aneh bagi Hana.
" Sama yang punya kamar, kenapa sih?" Tanya Hana bingung. Sementara Adnan semakin menjadi-jadi menggelitik punggungnya dibalik pintu.
Sebelah tangan Hana berusaha mendorong wajah Adnan yang terus mendusel, sedangkan sebelah tanganya menahan pintu agar tidak terbuka.
" Janu.." Panggilan daddy Hen dari bawah mengejutkannya.
" Iya om iya!!, sorry Han salah kam---"
Brak!!
Belum juga Janu selesai bicara Hana sudah menutup pintu, karena Adnan sudah sangat rusuh dibalik pintu.
" Nggak sabar banget bang...." Bisik Hana manja.
Adnan tersenyum manis dan dengan cepat menggendong istrinya menuju kasur.
Ceklek!!
Rangga keluar kamar mandi dengan rambut basahnya.
Matanya kembali sendu saat melihat Ara mematung di depan jendela.
Dipelukya gadis itu dari belakang. Diciuminya rambut wangi Ara.
" Sayang. Tetaplah berprasangka baik pada apapun yang terjadi. Pada apapun yang datang dan pergi dari hidup kita. Jangan menyimpan dendam pada keadaan. Percayalah pada setiap ujian yang datang, itu akan semakin menguatkan kita." Bisik Rangga pada telinga Ara.
Ara meneteskan air matanya.
Dia ingin bangkit, sangat ingin malah.
Tapi itu sulit, merasakan ada keajaiban di dalam perutnya selama 3 bulan lebih itu tidak bisa dilupakan begitu saja.
Rasa kecewanya sungguh dalam, Ara bahkan telah merancang nama-nama indah untuk putrinya. Ara juga telah memimpikan hal-hal indah dengan Rangga dan anak-anak nya kelak.
Kini dia harus menguburkan semua begitu saja??.
Berat..
Ara tidak semudah itu untuk move on dari twins.
" Lili mau ke Bandung..." Ucapnya lemah.
" Bandung??, maksudnya rumah Bandung??"
Ara mengangguk.
" Iya...asal kau kembali menjadi Liliku lagi, Lili yang ceria, Lili yang imut , Lili yang mencintaiku..." Ucap Rangga dengan tangan yang terjulur menyangkutkan rambut Ara ke belakang telinga.
" Masih..., Lili masih mencintaimu kak..." Ara menatap Rangga dengan tatapan lemah.
" Kakak tidak percaya, kau mengabaikan aku..." Kata Rangga dan meninggalkan Ara untuk berpakaian, karena tentu dia sedang ditunggu oleh yang lain.
Dan benar saja. Suara Janu terdengar diluar pintu.
" Ga cepet, ditunggu yang lain.."
Sementara Ara terdiam mencerna kata-kata Rangga.
__ADS_1