
Rangga tak bisa konsentrasi saat berbincang-bincang dengan teman-temanya. Fokusnya terbagi, matanya terus-terusan menatap pada Ara yang sedang asyik berbincang dengan Gama.
Cemburu ada, dan itu sungguh menyiksa perasaan nya.
Rangga sangat tau bagaimana perasaan Gama pada Ara. Karena Adnan telah memberitahunya.
Tak mengherankan memang bila seorang Ara banyak yang mengerumuni. Bahkan mungkin dirinya kalaupun tidak datang dari masa lalu Arapun akan berjuang jungkir balik untuk mendapatkan nya.
Ara..
Gadis manis dengan sejuta pesonanya. Jangankan senyum, manyun aja cantiknya bisa bikin orang hilang akal.
" Lailia mau minum?" Tanya Gama.
" Boleh, yang warna merah itu enak kayaknya..." Ucap Ara dengan tertawa kecil.
" Husss..., nggak boleh!, kalau mau yang merah ke market yuk, kita cari F*nta.."
" He..he..tau kok itu nggak boleh, Aku cuma bercanda..." Jawab Ara sambil tertawa kecil.
" Yuk ke market, F*nta merah boleh juga, haus...., dia lupa ama aku kayaknya..." Lanjut Ara dengan dagu menunjuk pada Rangga yang sibuk berfoto dengan teman-temanya.
" Pamit dulu sana.." Ucap Gama.
Ara menatap Rangga, berusaha mencari celah untuk mengkodenya.
Saat tatapan mereka bertemu Ara segera melambai.
Rangga terlihat sedang berbisik-bisik kepada teman-temanya, sepertinya dia sedang berusaha undur diri, tak lama Rangga terlihat berlari kecil menuju pada Gama dan Ara.
" Kak Bagas.., apa kabar?" Sapa Rangga.
" Alhamdulillah kakak sehat" Jawab Gama dengan memeluk putra orang yang sangat dihormatinya itu.
Penampakan luar sehat Ga..tapi... Hatiku hancur berkeping-keping..
Gadis yang kutunggu besarnya..
Dan bahkan perasaan ku saja belum aku tunjukkan padanya..
Kini telah hilang..didepan mataku..
" Kak, Lili sama aa mau ke market beli minum, kami gak cocok minuman di bar itu.." Ucap Ara.
" Ta..tapi, kakak ikut, bentar kakak bilang ke teman kakak dulu ya.."
" Nggak usahlah..., Lili sama aa aja, kakak lanjutin acara kakak aja sana, nggak papa, Lili juga ada aa ini...." Kata Ara lagi.
Rangga melihat teman-temanya sudah pada melambaikan tangan padanya.
" Baiklah, nanti langsung tidur ya..., nggak usah kemana-mana lagi.." Rangga segera meraih kepala Ara dan mengecupnya sayang.
" Jangan minum yang nggak bener!, awas kamu!!" Ancam Ara.
" Nggak sayang, kakak janji.." Rangga kembali menciumi kepala Ara
Gama mencelos, seperti ada ribuan jarum menancap didadanya saat ini.
" Nggak usah janji-janji deh, coba aja itung sendiri, berapa yang diingkari dan berapa yang kakak tepati" Sindir Ara.
" Ha..ha..ha, gadis ini dasar.." Rangga geram dan dengan gemas mencubit kedua pipi Ara sampai memerah.
Ya, banyak janji yang dilanggar Rangga.
Buktinya penyatuan tadi pagi aja, janjinya hanya mandi berdua nyatanya???
Rangga menatap pundak Gama dan Ara yang turun dari tangga eskalator.
Tidak apa-apa, kak Bagas orang baik.
Dia bukan pagar makan tanaman.
...****...
Singapore pukul 02.00
Tok..tok..tok..
" Sayang...sayang...buka.." Suara Rangga menggema di koridor lantai tempat mereka menginap malam ini. Tanganya bergetar tak mampu memasukkan kartu akses dengan benar.
Ceklek.
Kepala Ara muncul dari balik pintu.
__ADS_1
Rangga terlihat kacau dan berantakan, matanya memerah, wajahnya terlihat kuyu.
" Baru selesai acaranya??" Tanya Ara dengan nada tak suka. Rangga hanya mengangguk lemah. Kepalanya sangat pusing.
" Kamu minum kak? kamu mabuk???" Ara mengendus aroma alkohol pada tubuh Rangga.
" Sedikit sayang...hanya menghormati teman.." Ucap Rangga dengan penuh penyesalan, matanya menatap mata Ara yang penuh kilatan amarah.
" Astaghfirullah kakak..., marah..., aku marah!!!" ucap Ara dengan dingin dan tegas.
" Masuk!!!" Suara Ara terdengar kecil, tapi menyimpan amarah besar.
Rangga sungguh ngeri melihat singa betina yang mulai mengaum.
Rangga masuk dengan wajah yang tertunduk, sebenarnya sudah dengan sekuat tenaganya dia menolak, tapi terus-terusan menolakpun rasanya tak enak.
" Sayang kakak minta maaf..." Rangga memeluk Ara dari belakang.
" Stop ihh!!, jangan pegang Ara, sana jauh-jauh, jangan pegang Ara!!" Teriak Ara sambil tanganya mengibaskan tangan Rangga yang terus-terusan mencoba memeluknya.
" Sayang ampun..., sayang..ampun.." Rangga berusaha meraih tangan Ara, tapi Ara terus menepisnya dengan geram.
" Jangan sentuh Ara!" bentak Ara.
" Ara????, sayang...." Desis Rangga, hatinya ngilu dibuatnya. Ara...
Nama itu hanya untuk kenalan biasanya saja, bukan orang istimewa.
Rangga susah menelan salivanya, dia sangat tau bagaimana singa betina ini bila sudah marah.
Mampuslah aku..
" Mandi sana, bersihkan tubuhmu itu kak..., jijik Ara..." Ara merapikan tempat tidurnya, mengindari Rangga.
Dan menaruh satu bantal di atas sofa.
Rangga tak dapat lagi berucap, dengan langkah gontai dia segera masuk kamar mandi.
Tak berapa lama Rangga keluar dengan tubuh yang segar dan rambut yang basah.
Diraihnya baju yang disediakan Ara dengan diam.
"Apa kakak tau, alkohol itu haram?" Tanya Ara pelan, dia duduk disisi ranjang.
Penyesalan yang sia-sia, semua telah terjadi, kini dia harus menuai hasil perbuatannya.
"Kakak hanya minum sedikit sayang, tidak sampai setengah gelas kok" Sanggah Rangga.
" Banyak sedikit yang haram tetaplah haram kakak..." Ucap Ara dengan penuh penekanan.
" Khamr, minuman memabukkan atau Alkohol adalah induk dari perbuatan-perbuatan tercela. Barangsiapa meminumnya, tidak akan diterima sholatnya selama 40hari. Jika kakak mati sementara air haram itu masih ada diperutmu, berarti kakak mati seperti matinya orang jahiliyah..., mau???" Ucap Ara panjang lebar.
"40hari??" Rangga ternganga tak percaya.
" Iya...., mau sholat kakak percuma selama 40hari??" Sahut Ara geram.
Rangga hanya bisa menunduk dan menggeleng.
" Kakak merasa tidak enak menolaknya.."
Elaknya berusaha membela diri
Ara menarik nafas panjang. Kepalanya menggeleng tak percaya.
"Teman-teman kakak kemana sekarang?, clubbing?..." Tanya Ara.
" Iya..." Jawab Rangga singkat.
" Sebentar tunggu sini..." Ara segera melepaskan piyama tidurnya, menyisakan tanktop dan celana sepahanya. Rambutnya yang dicepol segera dilepaskan dan tergerai begitu saja. Disisir nya asal dan menyemprot tubuhnya dengan minyak wangi.
Rangga dibuat bertanya-tanya dengan apa yang dilakukan Ara.
" Ayo..." Tarik Ara mengajak Rangga berdiri.
" Kemana?" Tanya Rangga bingung.
" Clubbing lah ikut teman-temanya kamu itu.., ayooo....."
" Tidak!!!, gila ya kamu!!!" Teriak Rangga dengan menghempaskan tanganya kecang, matanya nanar melihat penampilan istrinya seperti ini dan mengajak keluar.
" Kenapa??, kenapa kamu bisa menolak clubbing bersama Ara sedangkan kamu masih bisa menerima alkohol???, apa bedanya???, dua-duanya haram kan??" Tanya Ara sinis.
" Itu karena kakak tidak mau kamu dilih---"
__ADS_1
" Berarti kamu lebih mencintaiku daripada Tuhanmu???" Ara mulai terisak sedih.
" Apa kakak fikir aku akan bangga begitu???, kamu justru menghinaku kak " Ara mengepalkan tangannya geram.
" Kamu lebih mencintaiku yang mungkin hanya bisa bersamamu paling lama sampai usia 80th ini?, dari pada yang memberimu kehidupan???, picik sekali kamu kak..." Ara terus saja menggeleng tak percaya.
"Sayang kakak salah, ya sayang...kakak salah.., ampun sayang...." Rangga beringsut kedepan Ara
Rangga luruh ke lantai. Rangga merasa malu luar biasa. Tangisnya memilukan, tubuhnya terlihat bergetar hebat.
Ara segera membuka koper dan mengeluarkan sarung, koko dan peci Rangga.
" Minta ampunlah kepada Alloh, minta Alloh mengampuni dosa-dosa mu, menangis lah didepan Alloh, jangan menangis di depanku...."
Ara melangkah menuju pintu kamar setelah memakai kembali piyama tidurnya dan juga jilbab santainya.
" Lili akan tidur di kamar kakak, kakak disini saja, perbaiki pola pikirmu kak...." Ucapnya sambil membuka dan tak lama pun menutup pintu itu.
Sepeninggal Ara Rangga langsung berteriak-teriak frustasi.
" Ahhhhh.....Ahhhhhhhhh..Ahhhhhh, bodoh Rangga!!, bodoh Rangga!!, Ahhhhh!!!"
Rambut panjangnya habis dijambak-jambaknya.
Setelah puas menyiksa dirinya sendiri, Rangga bergegas masuk kamar mandi membasuh tubuh dengan wudhunya.
Lalu bergegas menghadap Tuhannya, memohon ampun atas segala khilaf dan dosanya.
Tubuhnya bergetar karena tangisan di atas sajadah nya...memohon ampun kepada sang pemilik hidupnya.
Flashback on.
"Kak sedingin-dinginya Kanada saat turun salju, jangan sekali-kali minum Alkohol ya.." Ucap Ara dengan senyum yang cerah saat Rangga pamit berangkat ke Kanada beberapa bulan lalu.
" Kenapa?" Tanya Rangga
"Alkohol bisa menyebabkan mabuk, dan mabuk bisa menghilangkan kontrol akan dirimu sehingga kakak bisa berbuat aneh-aneh..." Jawab Ara dengan tegas.
" Siap my sweaty..." Jawabnya.
" Apa kakak tahu?, orang yang mabuk tidak dapat menimbang-nimbang tindakannya dengan benar, tindakan mereka hanya didorong oleh naluri, sama sekali tidak memikirkan akibatnya.." Lanjut Ara.
" Ingat kak, orang waras tentu tidak memilih mabuk. Satu lagi kak, minum Alkohol walaupun tidak sampai mabuk tetap saja haram..." Pesan Ara lagi.
Flasback off.
Sejak dulu Ara selalu memberikannya pesan tentang berbahaya nya alkohol, tapi kenapa tadi Rangga bisa sampai terlena.
Rangga mengacak rambutnya lagi.
Lagi..
Lagi-lagi aku bersalah padanya..
Lagi-lagi aku menjatuhkan air matanya.
Lagi-lagi aku menyakitinya..
Lagi-lagi aku menunjukkan ketidak pantasanku bersanding denganya.
Lagi..
Rangga mengusap air matanya.
Sepi, kamar yang sepi tanpa pemilik hatinya disisinya.
Perlahan Rangga membuka kamar dan keluar, langkahnya mantap menuju pintu seberang kamarnya, diambilnya kunci di kantung celananya. Ya Rangga memang meminta dobel kunci tiap kamar.
Ceklek.
Pintu terbuka, tak nampak Ara di ranjangnya.
Rangga melangkahkan kakinya semakin kedalam.
Suara tangisan pilu membuatnya terpaku ditempat.
Ya, matanya terpaku menatap Ara yang sedang menengadahkan tanganya keatas, istrinya yang saat ini tengah terbungkus mukena mas kawin pemberiannya menangis tersedu-sedu memohon ampun untuk dosa-dosanya.
Berulangkali kata-kata 'ampunilah suamiku wahai Rabbku' menusuk-nusuk di indera dengarnya.
Membuat tubuh Rangga bergetar hebat, lemas, tubuh kekar itupun luruh dan terduduk seketika dibelakang Ara, tangisnya pecah tak terbendung lagi.
Bersambung....
__ADS_1
...*****...