
" Bagaimana ini dad?, Rangga tidak bisa mengatakannya...." Rangga meremas kepalanya yang pusing, saat menghadap daddy nya di ruang kerja.
Rangga berulang kali berusaha menyampaikan keinginannya untuk meninggalkan Ara lebih awal untuk pergi ke Amerika. Tapi nyatanya ekspetasi tak sesuai realita nya. Sulit..sangat sulit untuk menyakiti hati Ara lagi.
"Besok Rangga harus kekedutaan untuk mengurus semua berkasnya dad, beasiswa FULL lima tahun ini akan Rangga ambil.." Ucapnya lagi dengan raut wajah yang sedih.
Daddy Hen menatap putranya, meyakini dan mencari keyakinan dalam hatinya, mampukan putranya melewati semua ini.
" Bicarakan ini baik-baik, jangan ada salah paham..., bicarakan dari hati ke hati, ini keputusan yang berat, setahu Lili kau akan membawanya serta..."Daddy Hen menepuk bahu Rangga beberapa kali.
" Pertimbangkan semua masak-masak son..., jangan sampai ada penyesalan di akhir.." Lanjut daddy.
Rangga menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya pelan.
Langkah kakinya berat saat akan memasuki kamarnya.
Ceklek.
Dilihatnya Ara telah pulas dalam tidurnya, selimut selau teronggok di bawah tempat tidur, menyisakan Ara yang meringkuk dengan menggemaskan.
Gadis ini selalu manja akhir-akhir ini. Selalu minta di elus dulu baru akan terpejam.
Gadis kecilnya dulu sudah berubah menjadi gadis yang luar biasa, selain cantik dia juga berwawasan luas, saat menyusun daftar acara pembagian raport untuk esok hari, Rangga baru tahu kehebatan dan kepintaran istrinya yang luar biasa.
Gadis yang selalu dirindukan bertahun-tahun lamanya itu telah ada di hadapan nya kini, tapi kenapa rasanya justru semakin terasa jauh.
Rangga segera ikut membaringkan tubuhnya. Membelai rambut yang tergerai, mengecupi kening dan wajah teduh itu, ditatapnya wajah lelap itu lama.
Lama..., sampai kantuk menyerangnya.
...***...
Hari Kamis manis.., semanis hiruk pikuk dan hiasan gerbang pintu masuk SMU Bhakti.
Hari ini semua murid SMU Bhakti datang bersama orang tuanya masing-masing.
Dimana hari ini akan dibagikanya hasil belajar siswa selama satu semester ini.
Seluruh siswa dan orang tuanya telah berada di dalam aula yang luas.
Acara dibuka oleh Rangga sebagai ketos dan sekaligus penyerahan jabatan kepada ketos baru yang telah dipilih oleh anggota OSIS sebelumnya yaitu Yuda Pradana.
Dalam sambutannya Rangga juga menyampaikan rasa terimakasih terdalamnya selama menjadi murid di SMU Bhakti.
Ara yang tidak paham dengan maksud kata-kata Rangga menolehkan kepalanya pada daddy Hen dan papanya.
" Apa maksudnya dad?, pa?" Tiba-tiba dada Ara berdetak kencang.
Belum terjawab keterkejutan Ara, di podium Rangga juga menyampaikan pamitnya kepada para guru dan adik-adik kelasnya bahwa semester ini adalah semester terakhir dia menjadi murid SMU Bhakti. Bahkan dengan gamblang Rangga menjelaskan bahwa alasanya adalah keberangkatannya ke Boston yang dipercepat.
Selama di podium tatapan Rangga tak pernah lepas dari mata Ara.
Bahkan dari tempatnya berdiri Ranggapun dapat melihat mata Ara yang berkaca-kaca, Rangga juga dapat melihat tatapan kekecewaan dari sana.
Ara meremas roknya dengan geram, bahkan keputusan sebesar ini pun dia tidak dilibatkan.
Marah, jelas Ara marah. Papa mengusap punggung putrinya dengan sayang.
Rangga yang tatapannya terus tertuju pada Ara pun menangis dalam hati, saat mendapati raut wajah syok dari gadisnya itu.
Maaf sayang...
Ara mematung dengan pemikirannya,
sesak didadanya.
Rangga telah turun dari podium dan berjalan ke arahnya, tatapan matanya tak lepas dari wajah Ara.
Muak!!!, itu yang dirasakan Ara kini. Melihat wajah Rangga saja rasanya tak sudi.
Ranggapun sama, rasa sesak menghimpit dadanya, saat didapatinya Ara berulang kali membuang muka padanya. Nyesek...sakitnya luar biasa.
Bahkan saat nama Ara disebut sebagai murid dengan perolehan nilai tertinggi dari seluruh siswa kelas X pun gadis itu tak bergeming sama sekali.
Sakit, dan hancur itulah yang dirasakan Ara saat ini.
" Sayang..Lili, maju kedepan, terima penghargaanya sayang..." Daddy Hen menepuk pundak Lili yang sedari tadi hanya melamun.
" Ayo sayang..." Papa Syakieb mengangkat pundak putrinya.
Suara sorak sorai dari teman-temanya tak serta merta membuatnya ikut bahagia. Entah kemana lenyapnya senyum seorang Lailia Nafesaa Anara.
Karena sejak beberapa menit lalu, wajah cantik manis miliknya berubah menjadi wajah sendu yang dingin.
Rangga tak melepas tatapanya pada Ara, tapi tak sekalipun Ara membalasnya.
__ADS_1
Bahkan Ara menganggapnya tak ada.
Ara kini telah diatas panggung bersama Chandra dan Lenox yang masing-masing menempati posisi dua dan tiga.
Papa terlihat bangga dengan putri satu-satunya itu, selama ini setiap papa mengambil raport Ara, baik sejak SD sampai sekarangpun putrinya selalu saja masuk rangking dua besar.
Bu Sasti yang bertugas membawa baki trophy dan piagam penghargaan terpaku sesaat saat matanya menangkap sosok papa Syakieb.
" Syakieb...." Gumamnya.
Ya, saat klarifikasi foto Ara lalu memang bu Sasti sedang tidak ada di sekolah.
Jadi Si Ara putrinya Syakieb?
Tepuk tangan paling heboh terdengar dari penjuru kelas X IPA 1, karena dua teman mereka menempati posisi satu dan dua, apalagi ketua genknya adalah seorang Natasya.
Suit...suit....
Suara suitan dari bibir Natasya melengking memenuhi penjuru aula, membuat Denis yang ada di sampingnya gemas luar biasa. Dicubitnya pipi gadis itu sampai memerah. Sementara mommy Natasya hanya melotot heran dengan keberanian Denis, yang mommy tahu Natasya paling anti di sentuh dipipi.
Acara dilanjutkan dengan pembacaan nilai-nilai tertinggi kelas berikutnya.
Sampailah pada kelas XII, dan sudah pasti Ranggalah yang menyabet nilai tertinggi, di susul Denis.
Acara inti telah selesai, dilanjutkan dengan acara-acara hiburan. Ada puisi, tari, pantun dan beberapa pertunjukan seni lainya.
Beberapa orang tua yang sedang dikejar kerjapun, sedikit demi sedikit berangsur-angsur meninggalkan aula.
Suasana canggung dan kaku terlihat diantara pasutri muda itu.
Rangga yang kebingungan untuk menyapa karena sikap cuek dan jutek Ara. Dan Ara yang kecewa karena selalu dinomor sekiankan oleh Rangga dalam mengambil keputusan.
Tingkah laku mereka tertangkap oleh mata Denis dan Rayya.
"Mereka kenapa?" Tanya Raya dengan matanya sibuk memindai Ara yang terus-terusan menjauh dan menghindari Rangga.
" Entahlah..., tadi pagi baik-baik saja, bahkan masih sayang-sayangan di markas kok.." Jawab Denis ngasal.
" Oke guys acara bebas kali ini dilanjutkan dengan penampilan band Badas kita...'NHAV Star'..silakan menuju panggung.." Ucap Yuda yang kini berada di atas panggung.
Band NHAV Star, yang sejatinya adalah gabungan Natasya, Hana, Ara, Vera kini formasinya pincang, tanpa keyboardist karena Vera yang telah pindah ke Jawa Timur.
Mereka bertiga segera beranjak menuju ke panggung. Tepuk tangan riuh terdengar. Denis tiba-tiba berdiri mengikuti mereka bertiga. Dan dengan tenangnya duduk di posisi Vera.
Natasya membelalakan matanya, tapi justru mendapatkan kerlingan nakal dari sebelah mata Denis.
Papa Syakieb juga ikut bertepuk tangan. Beliau tau Ara suka main gitar dan sering latihan dengan sahabatnya, tapi baru kali ini beliau melihat putrinya itu tampil live di atas panggung.
Musik baru mulai berdenting saja hebohnya aula SMU Bhakti sudah sangat luar biasa apa lagi kali ini Natasya menyanyikan lagu Korea "Polaroid Love" Dari ENHYPEN
Semua siswa berjingkrak-jingkrak mengikuti alunan lagu dan nada yang luar biasa...semua berbahagia, semua penuh suka cita.
Tapi tak ada yang menyadari bahwa ada dua hati yang saat ini sedang remuk.
Ya, hati Ara sedang remuk berkeping-keping saat ini, sambutan Rangga beberapa menit lalu telah mencincang habis hatinya.
Begitupun Rangga, melihat keacuhan Ara karena rasa kecewa padanya sungguh meremat hatinya.
Dan lihatlah, gadis itu menunjukkan bahwa dia baik-baik saja tanpa dirinya.
Padahal itulah yang Rangga harapkan, tapi entah kenapa hatinya sakit melihat Ara justru tegar dan tidak merasa kehilangan akan dirinya sama sekali.
Rangga takut rasa cinta Lili padanya pergi..
Rangga takut Lilinya akan berlalu..
Tepuk tangan yang meriah dari daddy dan mertuanya mengembalikannya ke alam nyata.
Ara masih tetap tinggal di panggung, sementara yang lain telah turun.
Ara membisikan sesuatu pada Yuda, dan pemuda itupun mengangguk, semua pergerakan Ara tak lepas dari tatapan Rangga.
Kini Ara duduk di tengah panggung dengan gitar di pelukanya.
Ara meraih microphone yang ada di depanya.
" Assalamu'alaikum semua..mohon waktunya sebentar... Okey lagu ini Ara persembahkan pada DIA yang selalu memberi luka, luka menganga yang tak pernah ada obatnya..., DIA yang selalu semaunya sendiri..., dan DIA yang selalu menyakiti..."
Rangga terdiam di tempat duduknya. Sesak di dadanya, semua yang dikatakan Ara benar adanya, bahkan diapun menyadari, memang seperti itulah DIA.
Ara mulai memetik gitarnya dengan santai. Lagu dari Gita Gutawa dengan judul "Bukan Permainan" dibawakanya dengan akustik gitar dan diiringi suaranya yang merdu. Ara sebenarnya tidak pernah tampil sendiri dan menyanyi sendiri, tapi entah kenapa hari ini dia ingin menuangkan isi hatinya.
🎶🎶🎶
__ADS_1
Bila nanti aku pergi
Jangan lagi panggil ku kembali
Bila nanti aku pergi
Takkan ada cerita kita lagi
Kita bisa balik lagi, pisah lagi
Apa kau mengerti
Bahwa ini bukanlah
Bukan permainan
Kau tak bisa buatku menangis lagi...
Kau tak bisa buatku bersedih lagi..
Tanpa aku kau akan baik saja
Tanpa kamu ku akan baik saja
Kau tak bisa buatku menangis lagi..
Bila nanti kau sendiri
Jangan ingat-ingat aku lagi...
🎶🎶🎶
Rangga dari kursinya mengepalkan genggamannya kuat, tersindir dengan lagu Ara. Bait lirik lagu yang dibawakan Ara menyiksa hatinya.
Rangga segera berdiri dan naik keatas panggung.
Suara sorakan para siswa SMU Bhakti menggema memenuhi aula.
" Wah jadi lagu Ara untuk kak Rangga ya?"
" Gue pernah liat mereka jalan bersama sih, wah gue udah curiga selama ini..."
" Yah...masak belum di lounching udah mau putus aja sih.."
" Iya kayaknya putus deh..."
Bisik-bisik dibawah panggung semakin panas terdengar.
Rangga dengan tenang mendekati Ara yang tak menghiraukan nya.
Sementara para murid dibawah panggung heboh tak terkendali.
Rangga most wanted utama mereka sedang jatuh bangun memperjuangkan cintanya, setidaknya itu yang mereka tangkap.
Rangga mengulurkan tanganya meminta gitar yang ada di Ara tanpa kata-kata.
Arapun menyerahkannya begitu saja tanpa menatap Rangga sama sekali dan berlalu begitu saja.
" Maafkan aku yang selalu menyakiti..." Bisik Rangga yang masih di dengar Ara saat gadis itu berlalu di sampingnya.
Rangga berusaha menarik jemari Ara tapi gadis itu menepisnya keras.
Semua teman sekelas Ara yang melihat kejadian itu saling bertanya-tanya ada apa gerangan.
" Loh..., kok mereka?, ada apa nih?" Tanya Meta pada Hana.
Sementara Hana pun tak tau dan sama terkejutnya dengan ini semua.
Karena setahu Hana, Ara akan ikut Rangga ke Boston. Tapi kenapa suasananya seperti ini?
Natasya, Denis , Rayya dan Vino semua terkejut dengan kejadian di depan mereka saat ini.
" Nat apa yang terjadi?" Tanya Denis dengan wajah yang bingung.
" Entahlah kak" Jawab Natasha dengan mata yang masih menatap Ara dan Rangga.
" Apa ini ada hubungannya dengan sambutan Rangga tadi, Ara merajuk?" Tebak Denis.
" Nat rasa bukan kak, Ara kan ikut juga ke Boston.." Sahut Natasya.
" Lalu apa?" Tanya Denis bingung...
" Jangan-jangan...." tebak Rayya.
Bersambung......
__ADS_1
...*********...