Childhood Love Story

Childhood Love Story
Love mas Aga


__ADS_3

Vino dan Vera tertunduk setelah keduanya mengakui kesalahan mereka di depan sahabatnya.


Ara mencengkeram lengan Rangga, semua ini membuat Ara syok.


Rangga mengelus tangan istrinya dengan pelan, mencoba memberikan ketenangan di setiap gerakannya.


" Jadi untuk selanjutnya bagaimana Vin?" Tanya Rayya


" Bicaralah pada orangtua kalian tentang masalah ini.." Saran Rangga.


Sedangkan Denis masih berfikir dengan tenang baiknya bagaimana.


Vino tampak gusar dan gugup, rasa takut menggigit tubuhnya membuatnya tak bisa berfikir jernih.


" Tidak, gue nggak bisa bilang ke papa masalah ini, gue bisa mati di dicincang papa.." Ucapnya lirih.


" Tidak, jangan sampai papa dan mama tahu..hiks..hiks...hiks..." Vera terisak dalam pelukan Natasya dan Vino.


"Gue akan cari kos kosan, papa tidak menganggap gue anaknya lagi, papa udah ngusir gue, selama gue masih belum bisa buang Vera dari hati gue, gue gak ada hak dengan semua yg dimiliki keluarga gue" Ucapnya sambil menatap mata Vera.


" Kak..., Vera ikut..." Vera meremas kemeja Vino.


"Kamu dirumah saja, kakak akan cari kerja, tenang aja tabungan kakak masih ada untuk saat ini" Vino berusaha menenangkan Vera.


"Den, lo bisa cariin gue kerja kan?" Tanya Vino pada Denis.


" Coba gue tanya kak Bagas dulu.." Ucap Denis.


" Cafe kak Nathaniel butuh orang kalau mau?" Ucap Natasya.


" Nathaniel??" Tanya Denis, Rangga, Rayya dan Vino serempak.


" Iya hyung Nathan, sahabat Azura, cafenya lumayan rame, Azura juga kerja disana akhir pekan" Jawab Ara.


" Sepertinya pernah denger nama ini" Ucap Rangga sambil mengingat sesuatu.


" Ya, gue akan kesana, gue harus cari kerja agar dapat duit yang banyak buat jaga-jaga kalau-kalau Vera sampai ham---" Vera membekap mulut Vino dan menggelengkan kepalanya, air mata luruh dari pipinya.


Ara langsung ayok, Ara sangat tau kalimat apa yg akan diteruskan oleh Vino.


Lagi-lagi remasan tanganya pada lengan Rangga membuat pemuda itu tau betapa takutnya Ara pada kehamilan diusia mereka, kehamilan pada masa sekolah seperti saat ini.


"Kak kita pergi jauh saja yuk, Vera takut mama dan papa marah.." Vera nampak sangat ketakutan.


"Iya juga ya.., kakak cari kerja buat hidup kita dan sekolah kita, ide yg bagus.." ucap Vino.


" Lo pikir itu ide bagus, apa lo gak mikir perasaan orang tua kaliah hah!!!" Bentak Denis.


" Papa kami tidak seperti papamu Den, papa kami killer!!!, hanya dengan mengakui perasaan gue sama Vera aja gue udah diusir begini, apalagi kalo gue bilang gue udah memperkosa Vera, jadi apa gue ditangan papa gue..."


" APA???, Lo apa Vino???, Lo lakuin apa ke Vera!!!!" Suara ngebas yg tegas dan dingin muncul dari pintu samping gazebo.


Adnan muncul dengan Hana yg membekap mulutnya tak percaya dengan apa yg didengarnya beberapa menit lalu. Air mata jatuh berderai dari pipinya.


*


Vino, Vera dan Adnan kini masuk ke ruang kerja. Vino dan Vera seperti sedang diadili oleh Adnan kali ini.


Kedua remaja itu mendengarkan dengan baik apa yg disarankan oleh Adnan untuk keluar dari masalah ini.


Akhirnya diambil keputusan untuk mereka harus berani jujur kepada orang tua mereka.


Untuk itu Adnan akan mengajak Brian juga untuk mendampingi Vino, agar tidak terjadi sesuatu yg tidak diinginkan.

__ADS_1


" Apapun keputusan yg diberikan papamu Vino, kita akan pikirkan nanti lagi, yang penting sekarang kamu jujur dulu" tegas Adnan.


Tidak akan mungkin ada orang tua yang akan menghukum anak nya berlebihan, terlebih sampai mencincang seperti yang ditakutkan Vino kan.


"Kita tunggu Brian pulang baru menghadap papamu Vin.." Ucap Adnan


Vino tampak ragu-ragu, bagaimanapun hanya Vino yang tau bagaimana tabiat papanya yang emosional.


Pemuda berbadan kekar itu menarik nafas dalam dan menghembuskan nya perlahan, berusaha menenangkan suasana hatinya yang resah luar biasa beberapa hari ini.


**


Ara terbangun saat bunyi alarm berdering disampingnya.


Gadis itu menoleh ke sampingnya, tampak Rangga masih terlelap dengan nyenyak.


Perlahan-lahan diangkatnya tangan yg melingkar diperutnya.


Ya.., Rangga kini mulai bertindak hati-hati agar semua berjalan lancar. Dia akan berusaha menahan diri untuk tidak menyentuh Ara secara berlebihan agar dia sendiri tidak terseret oleh inginya.


Pengalamannya hidup Azura, Vino dan Vera mengajarkanya untuk bisa melindungi Ara. Rangga sangat tahu diri dalam membawa dirinya, Rangga pemuda jenius yang sangat terencana, dia selalu memikirkan dengan teliti memutuskan masalah dari sisi baik dan buruknya.


" Mau kemana..." Rangga menarik tangan Ara yang baru akan menuruni ranjang.


" Sahur.." Jawab Ara dengan mengusap wajah Rangga, merapikan rambutnya yang berantakan.


" Jangan dulu ya..." Ucap Rangga dengan wajah yang sedih.


" Kenapa?"


" Karena hari ini kakak ujian, kakak mau minta mood booster padamu"


"Baiklah..." Ucap Ara sambil menaikkan lagi kakinya ke tempat tidur.


Ara segera memejamkan matanya, semalam dia terlalu larut memikirkan masalah sahabatnya, Vera.


Rangga yang tidak mendapati suara Ara berpikiran negatif.


" Apa kau marah?"


" Marah kenapa?" Tanya Ara dengan mendongakkan kepalanya ke atas melihat pada wajah Rangga.


" Karena aku melarangmu puasa.." Jawab Rangga dengan mengelus rambut panjang Ara.


" Tidak, Lili tidak marah, menurut padamu itu lebih utama.." Ara mengeratkan pelukanya.


"Tapi kenapa kau diam saja, apa yang sedang kau pikiran sayang..."


" Vera.." Ucap Ara sedih.


" Sudahlah, bang Adnan dan b' Brian akan membantu mereka, kita doakan saja semoga ada jalan keluar yang baik" Ucap Rangga.


Rangga menangkup wajah Ara ke dalam kedua tanganya.


" Mari jalani rumah tangga kita ini dengan normal, walaupun aku masih pelajar percayalah aku bisa memenuhi kebutuhan kita berdua" Ucap Rangga.


" Tapi bukan berarti kita mandiri dan hidup sendiri kan kak.."


" Tentu saja nanti di Boston kita mandiri, daddy akan sewa apartemen buat kita."


" Hemmm, semoga saja Lili bisa?" Ara terlihat menundukkan kepalanya.


" Bisa dong InshaAllah, kan ada kakak, kita bekerja sama, lima tahun tidak lama, kakak akan selesaikan study kakak dengan cepat..."

__ADS_1


"Kakak masih search di google, Senior High School yang deket dengan kampus kakak, agar kita bisa pergi sama-sama tiap hari kan?"


"Iya, tapi kalo tetap ngga cocok, kamu di home schooling aja mau ya..?"


Ara hanya mengangguk pasrah. Karena Rangga terus mengelus rambutnya membuatnya tidur kembali.


" Kok tidur sih?, baru mau diajakin mesra-mesraan, Eetdahh...gadis ini.." Rangga tersenyum manis sembari mengecup pipi Ara.


Pemuda itu menuruni ranjang dan menuju meja belajar, hari ini ujian semester untuk kelas XII selama empat hari, dan minggu depanya untuk kelas bawah.


*


Dapur telah bising dengan Dian yang mengeksekusi tempat favorit nya itu.


Dia sengaja membuat beberapa masakan yang awet untuk dibawa ke Amerika.


Dari membuat abon, rendang, kering tempe dan beberapa masakan kesukaan Marvel yang akan susah ditemui disana.


Ara membantunya dengan telaten, karena dia juga ingin belajar masak pada Dian.


" Wangi banget...., sewangi dirimu wife..." Marvel datang dengan segala pesonanya.


Segera memeluk Dian dan mencumbunya tanpa malu ada Ara disana.


" Kebiasaan deh brothy..."


Pluk!!!


Ara melempar kain lap yang ada didekatnya tepat pada kepala Marvel.


" Ye....situ sirik aja!!, kalo mau minta sama Rangga sana..." Ucap Marvel dengan tersenyum puas mengerjai adik sepupunya itu.


" Ye...siapa yang sirik coba, ishh..." Sewot Ara sambil berlari keluar ruangan dapur dan menuju tangga, waktunya ganti seragam.


" Wah..wah...mau minta Rangga tuh dia..ha...ha..., yang hot ya beib...ha..ha.."


Teriak Marvel, membuat Ara geram tiada tara.


Urung kakinya naik ke tangga, gadis itu justru balik lagi ke dapur dan mendekati Marvel yang masih mentertawakan nya.


"Au...sakit, sakit Princess ampun..ampunn.." Ara menjewer telinga Marvel dengan geram.


Sementara Adnan yang baru masuk ke dapur ikut tertawa melihat kelakuan mereka berdua, tanganya melingkar di pundak Dian sahabatnya.


" Mereka benar-benar..." Ucap Dian dengan mengusap sudut matanya yang basah karena terus tertawa.


" Mama udah pesan ke Lili kalo brothy nggak sopan dirumah, jewer aja, so it's not my fault, I'm just doing my job"


ucap nya sambil berlari ke atas takut dibalas Marvel.


"Kabooor...." teriaknya..


**


"Kakak udah siap?" Tanya Ara saat masuk ke kamar dan mendapati Rangga yang sudah rapi dengan seragamnya.


" Iya ayo ah ganti baju..." Rangga menyeret Ara dan didudukan ke kursi riasnya.


Dengan cepat Rangga melepas ikatan rambut Ara, dan menyisirnya. Dengan telaten Rangga mengepung rambut Ara.


Ternyata kak Rangga bisa juga, kirain cuma bang Adnan dan Ardi cowok yang bisa ngepang rambut.


Ara menatap Rangga lewat pantulan cermin.

__ADS_1


Suamiku luar biasa, love mas Aga..


__ADS_2