
Ara mendorong punggung Rangga untuk masuk kamar mandi.
" Mandi yang bersih, buang bekas Jessi!!" Teriak Ara saat Rangga hendak menutup pintu.
"Bekas apa sih sayang, nggak ada! nggak pernah pegangan kami tuh, jangan fiktor deh.." Rangga melongokkan kepalanya keluar pintu.
" Ya.., siapa yang tahu sih..." Ucap Ara lagi sambil nyengir.
" Udah deh sayang, tadi katanya mau baikan..., please deh..." Ucap Rangga lagi.
" Iya deh iya, mandi buruan gih, Lili laper ini.."
" Oke..tunggu sebentar.." Rangga membuat peace dari jarinya dan mengerlingkan sebelah matanya.
Tak berselang lama, akhirnya merekapun menuruti tangga menuju ruang makan.
Dengan Rangga yang bergelayutan dibelakang Ara.
Kedua tanganya membelit perut Ara sedangkan kepalanya di letakkan di pundak Ara, satu kata manja.
Mommy Tara yang melihat itu tercengang.
Loh kok..?? Bukanya tadi mereka...
Ya Alloh, Alhamdulillah...
Teruslah Engkau melindungi putra putri kami ya Alloh...
Mommy Tara memanjatkan doa untuk anak dan menantunya .
Ibu satu putra itu tersenyum melihat begitu sabarnya Ara digelendoti oleh Rangga yang jelas-jelas berpostur jauh lebih besar darinya itu.
" Sini sayang, lihat nih..mommy buat telur puyuh cabe ijo buat kamu..."
Ara tersenyum lebar melihat masakan mertuanya yang terlihat menggiurkan itu. Saat gadis itu akan duduk dikursinya, Rangga dengan cepat menariknya hingga terduduk di pangkuan nya.
" Eeehhh.." Teriak Ara terkejut.
" Duduk sini aja sayang.., jangan jauh-jauh.." Ucap Rangga alay, sambil mengendusi bau wangi rambut Ara.
" Jauh dimana sih, orang sebelahan juga kursinya, kamu tuh modus aja.." Mommy Tara menjewer kuping putra tunggal nya itu gemes.
" Ye mommy iri ya?, nggak pernah dipangku daddy kaya gini..." Rangga malah dengan santainya menggoda mommy nya, tanganya mengerat memeluk perut Ara.
" Ishhh kakak diem ih..., maaf mom..." Ucap Ara.
Ara masih duduk dipangkuan Rangga, sesekali dia menyuapi Rangga, dan begitu sebaliknya.
Mommy Tara mengusap air mata disudut matanya.
Beberapa saat lalu saat mendengarkan pertengkaran kedua anak ini, membuat jantungnya terasa nyeri.
Dalam hati beliau terus berdoa agar semua masalah putranya itu segera beres.
" Kalian nginep disini kan?" Tanya mommy disela- sela makan mereka.
" Iya mom, tidak mom" Jawaban kedua anak ini tidak sinkron.
" Lili nggak bawa baju ganti, tadi sih kakak mendadak bawa kesini" Ucap Ara sambil jarinya mencubit kecil perut Rangga, Ara masih geram kalo mengingat dengan kelakuan Rangga tadi.
" Ahhh, aduh..pedes sayang, jangan cubit.." Rangga mengusap perutnya, padahal sih nggak sakit juga, lebay Rangga.
__ADS_1
" Ini kan ada baju kakak malah tambah seksi kok.." Kata Rangga dengan matanya menatap pada paha Ara yang ada dipangkuanya.
" Ishhh.., matanya tuh ya!!!" Ara melototkan matanya saat tau arah pandangan Rangga.
" Ha..ha..ha.., ya mata aku hanya tertuju padamu sayang, yang dilihat juga istri aku, siapa yang larang coba??" Jawab Rangga santai.
Mommy Tara sangat bersyukur melihat kebahagiaan yang tersaji di depan matanya saat ini.
Ingatannya terlempar pada sepuluh tahun yang lalu.
Dimana saat itu mereka merencanakan liburan semester di rumah kakek Al Ghifari, waktu itu Rangga masih kelas 5 SD.
Dengan wajah cerianya, Rangga dari pagi sudah mempersiapkan diri untuk pergi ke Bandung. Menjemput Lili kecil dan saudara nya untuk berangkat ke Jogjakarta bersama-sama.
Tapi saat sampai di Bandung rumah keluarga Syakieb sudah ganti pemilik. Tetangga sekitar hanya bilang kalau mereka pindah, tidak memberitahu kemana.
Rangga terlihat pucat pasi, badanya menggigil, dan terus-terusan menggigit kukunya.
Mommy Tara dan daddy Hen menenangkan putranya dengan segera meluncur ke Jogjakarta, kerumah orang tua angkatnya, tepatnya rumah kakek Al Ghifari.
Sampai disanapun rumah kakek terlihat lengang seakan tanpa penghuni, ternyata kakek pun pindah.
Rangga kecil langsung pingsan saat itu juga.
Rencananya Rangga dan orang tuanyapun akan berpamitan pada Ara dan keluarga Syakieb untuk pindah ke Singapura, tapi ternyata Rangga dan keluarganya justru mendapat kejutan yang luar biasa.
Hari-hari yang dilalui daddy Hen dan mommy Tara sangat sulit semenjak itu.
Rangga akan terus-terusan menangis karena tidak mendapatkan informasi kepindahan keluarga Ghifari saat itu.
Bahkan beberapa kali Rangga harus menginap di RS. Karena luar biasanya tekanan kehilangan teman terdekatnya.
" Mom...mom...mommy.." Panggil Rangga saat mendapati mommynya melamun di meja makan.
" Ahh..i..iya sayang, ada apa sayang?" Mommy Tara langsung tersadar dari lamunanya, menatap pada Ara dan Rangga yg sudah selesai makan.
" Kami udah selesai, mau keatas dulu ya mom...." Jawab Rangga sambil menarik tangan Ara agar mengikutinya ke atas.
" Lili tunggu dulu sayang, ke kamar mommy dulu yuk.., ada sesuatu buat kamu sayang.." Ucap mommy Tara.
" Cuma buat Lili mom?, buat Rangga nggak ada sesuatu gitu?" Tanya Rangga.
" Nggak ada buat kamu, buat menantu mommy yg istimewa dan cantik ini saja adanya.." Mommy Tara melepas tautan tangan mereka dan membawa Ara menuju kamarnya.
Rangga tersenyum manis dan segera kembali ke kamar untuk belajar.
" Ish...nggak mau pake ini..." Ara menyerahkan kembali baju yg baru dibukanya dari paper bag pemberian mommy Tara.
" Loh kenapa sayang modis kok, simpel desain nya, bahanya juga dingin.." Ucap mommy dengan merentangkan baju tipis dan seksi itu.
" Nggak mau pokoknya Lili mom..." Ucap Ara sambil bergidik.
" Bisa-bisa langsung tekdung aku pakai itu, ihhh...seremmm"
Ara segera meraih baju yang lainya, tapi semua hampir sama model dan bahanya. Tipis, nerawang dan sekseh...
Mommy Tara tersenyum simpul, sebenarnya beliau sengaja, agar menantunya cepat hamil.
Karena mommy Tara mempunyai missi untuk membuat Ara hamil.
Dengan kehamilan Ara otomatis, gadis itu akan ditinggal di Indonesia selama Rangga menuntut ilmu, dengan begitu dia tak akan kehilangan putrinya.
__ADS_1
Alasan yang klise, tapi benar, mommy Tara sangat menyayangi Ara, bahkan sampai rela Rangga pergi ke Boston sendiri tanpa Ara. Bisakah mommy Tara disebut mommy durhaka??.
Hari telah sore, Rangga dan daddy Hen pergi jamaah ke masjid. Setelah mengobrol dengan daddy nya beberapa saat membicarakan segala sesuatu tentang kepergianya ke Boston, Ranggapun beranjak ke atas.
Saat meraih gagang pintu Rangga terkejut, karena pintu tak langsung terbuka.
" Loh kok dikunci sih?" Gumamnya.
Tok...tok..tok..
" Sayang....sayang.., kok dikunci sih.." Rangga mengetuk pintu berulang-ulang tapi tak juga dibuka oleh Ara.
Mommy Tara melintas hendak ke bawah juga.
" Mom ini Lili kemana kok di kunci segala, Rangga nggak bisa masuk nih.."
" Ya gampang lah, minta bibi cadangan kuncinya, gitu aja kok repot" Ucap mommy Tara dengan senyum misterinya.
Ranggapun kembali kebawah dan meminta cadangan kunci pada bibi.
" Kenapa putramu tu.., mondar-mandir dari tadi" Tanya daddy Hen.
" Berakit-rakit kehulu berenang-renang ketepian..." Jawab mommy sambil menaik turunkan alisnya.
" Mommy pengen baby Hon...." Bisik Mommy.
" Lah..., ayook bikin!!, tunggu apa lagi.." Daddy Hen menarik tangan mommy untuk berdiri.
" Bukan dari kita Hon, tapi baby dari mereka" Tunjuknya ke kamar atas.
" Hussttt, jangan dulu lah Hon..., menantu kita masih kecil, belum bisa ngurus anak kecil.." Ucap daddy Hen bijak.
" Mommy yang ngurusnya Hon, Lili tetap sekolah dan belajar.." Mommy Tara tetap ngeyel dengan pendapatnya.
" Mom...mommy!!!" Teriak Rangga membuat dua pasutri berumur itu menoleh.
" Mommy apa-apaan sih!!!, baju apa yang mommy kasih ke Lili..., ya ampun mommy.." Wajah Rangga terlihat merah padam tak karuan.
Rambutnya acak-acakan karena berulang kali diremasnya.
Pemuda itu segera meraih gelas dan menuangkan air dengan tangan yang bergetar. Bahkan pemuda itu sampai meminum air putih hingga tiga gelas sekaligus.
Tapi wajahnya masih terlihat merah dan matanyapun terlihat nanar.
Lalu Rangga terduduk di kursi dengan mata yang dipejamkam.
" Kenapa dia, emang mommy kasih Lili baju apa?" Tanya daddy Hen penasaran.
" Lingerie seksi"bisik mommy Tara.
" Hahh!!!!, apa!!!, kau itu ya!!!, ya Tuhan kasihan kamu nak, punya ibu kelakuanya mirip ibunya Ari Hanggara..." Desah daddy Hen melihat putranya yang tepar.
" Aku ibu kandung ya Hen!!, bukan ibu tiri!!" mommy Tara mencubit lengan suaminya geram.
" Aduh sakit Hon!!"
Sebagai pria daddy Hen sangat tau apa yang di rasakan putranya sekarang.
Emang enak harus menahan terus-terusan..
Bersambung....
__ADS_1