Childhood Love Story

Childhood Love Story
Bertemu Hanum..


__ADS_3

Seperti yang telah direncanakan sebelumnya, Natasha cs pulang bersama Hanan dalam satu mobil, mereka sudah kangen dengan Hanum, adek Hanan yng juga salah satu sahabat mereka.


Sepanjang jalan riuh dan riweh itulah yang terjadi. Hana yang duduk di samping kemudi bolak balik menghadap ke belakang demi meladeni obrolan unfaedah Vera dan Natasya.


Ara sesekali terlihat menatap keluar jendela. Ara menarik pelan sweater hitam yang selalu lebih panjang dari tanganya itu.


Di tatap nya jari tengahnya yang tersemat cincin Rangga disana.


Ya.., Ara tahu bahwa cincin ini selalu melingkar di jari Rangga selama ini.



Sejatinya cincin itu adalah identitas Wijaya. Cincin yang selalu berada di tangan Rangga. Bahkan semua pengurus OSIS ataupun warga SMU Bhakti akan mudah mengenalinya. Karena cincin itu berada di tangan kanan Rangga selama ini. Sebagai ketos tentunya Rangga banyak melakukan presentasi didepan para OSIS ataupun murid lainya. Yang selalu menggunakan tangan kanan bukan.


Ara menarik kembali sweater nya untuk menyembunyikan jarinya. Kedua tangannya bersedekap di dada, matanya terpejam dan kepalanya disandarkan pada pundak Natasya.


" Dingin ya AC nya?, dikurangi atau gimana?" Tanya Hanan yang sedari tadi pandangannya fokus pada gerak -gerik Ara.


" Nggak usah lah..., hanya sedikit gak nyaman aja bang..." Jawab Ara.


***


Mobil terparkir sempurna di depan dua rumah yang tampak mirip satu sama lain.


Rumah pertama dengan cat berwarna pastel adalah rumah Hana, sedangkan rumah bernuansa Arabian style adalah rumah Hanan.


Ya..bunda Hana dan abi Hanan adalah saudara kandung.


Pintu rumah Hanan terbuka, seorang gadis manis berjilbab keluar dari sana dengan berlari kecil menghambur memeluk genknya.


Mereka saling rangkul dan cipika cipiki, bahkan Natasya sampai sedikit mengangkat tubuh Hanum dan diputar nya.


" Astaghfirullah!!!" Teriak Hana sambil menepuk keningnya.


" Kenapa? , ada apa..?" Tanya mereka kompak.


" Gue lupa ambil flashdisk di klub, mana besok sudah harus deadline lagi..." Ucapnya sambil mengigit-gigit kuku jempolnya.


" Biar gue telp kak Rayya barangkali masih disekolah, soalnya gue lihat tadi dia bawa laptop ke arah markas..." Vera segera mengeluarkan ponsel dari tasnya. Mendial nomor dan menempel kan di telinganya.


Mereka menuju taman samping rumah Hanan, disana ada sebuah gazebo dengan dinaungi pohon rambutan yg sangat lebat.


Hanan berjalan dibelakang mereka dengan tangan yg dimasukkan ke kedua kantung celananya.


" Gue ke dalem dulu ya...ganti baju dulu..., gerah.." Ucapnya, tanganya meraih kerah bajunya untuk mengipasi badanya sambil melangkah masuk ke dalam rumah lewat pintu samping.

__ADS_1


" Huffttt...dulu gak pernah begini setiap dekat dia, tapi kenapa sekarang begini rasanya, gue deg degan banget liat wajahnya doang" Gunam Hanan sambil melepas satu persatu kancing seragam nya.


Beberapa jam kemudian.


Sekitar pukul lima sore, sebuah motor Viar Vintech 200 terparkir di depan rumah Hanan.


" Assalamu'alaikum..." Sapa Rayya sopan, dia sangat tahu bagaimana keluarga yg dikunjungi nya ini. Ummi Hanan adalah seorang ustadzah terkenal, yang sering melakukan ceramah kemana-mana, bahkan ummi Hanan punya dikontrak eksklusif dengan stasiun TV.


Hanan muncul dari balik pintu.


" Waalaikumsalam..., woy bro...ada angin apa nih datang kemari??, mari masuk..." Hanan mempersilahkan Rayya masuk dengan membuka lebar pintu ruang tamu.


" Oh terimakasih, tapi nggak usah deh, gue cuma mau anter barang Hana yg tertinggal..." Ucap Rayya sambil merogoh sesuatu dalam kantung tas punggungnya.


" Oh Hana ada disamping bareng genknya, yuk kesana sekalian nunggu makan malam..." Ajak ummi Hanan yang kebetulan melintas.


" Emmmm, terimakasih tante tapi ini sudah terlalu sore...."


" Nggak usah tapi-tapi...., jangan menolak rezeki, Hanan ayuk bawa temanya ke samping, kita buka puasa bareng..."ucap ummi Hanan memaksa.


Rayya mau tak mau mengikuti langkah kaki Hanan menuju gazebo samping dimana Natasya cs ada disana.


Telah terhidang semua makanan kesukaan putri mereka yg baru pulang dari pesantren semalam. Ada nasi liwet dan teman-temannya.Yang sangat membuat Rayya ngiler adalah sambal ikan asin tomat hijau.


" Kak Rayyan, sini...sini..." Ara menepuk tempat luang disamping nya yang masih lapang.


" Han...ini flashdisk lo..." Rayya menyerah kan flashdisk pada Hana yang duduk disamping Ara.


" Makasih kak Ray, maaf ya Hana ngerepotin..."


" Nggak papa sekalian jalan juga kan.."


Mata Rayya melirik gadis yg selalu menundukkan wajahnya yg duduk diantara Natasya dan Vera.


Dari garis wajahnya, sangat mirip dengan Hanan.


" Lo liat apa bro, dia adik gue..., Hanum.." Ucap Hanan saat melihat mata Rayya yg menatap lekat adiknya.


" Oh..., i iya.., gue Rayyan.., salken Hanum.." Ucap Rayya kikuk, sambil mengatupkan kedua tanganya didada.


Hanum mengangguk dan membalas salam Rayya dengan mengatupkan kedua tanganya juga.


Tatapan mata mereka beradu beberapa detik. Rayya dapat melihat mata bulat dengan bulu mata yg lebat pada gadis itu.


Rayya memejamkan matanya sesaat, matanya terasa panas. Perlahan pemuda itu melepas kacamata nya dan disangkutkan pada kantung seragamnya. Ya..., mata gadis itu mengingatkan Rayya pada sosok adiknya yg meninggal beberapa tahun lalu. Tepatnya saat Rindu adiknya duduk dikelas satu SMP.

__ADS_1


Rindu meninggal karena kecelakaan lalu lintas.


" Kenapa kak...?" Tanya Ara yg menyadari perubahan pada raut wajah Rayya.


" Nggak papa dek, cuma melow dikit, yuk ah makan, udah maghrib tuh...udah lapar juga ini..hi..hi.."


Begitulah seorang Rayya, dia akan selalu memakai topeng, dia akan terus menampilkan wajah ceria dan bahagia, walaupun remuk redam dalam hatinya.


Hanan menyadari ketidak beresan sikap Rayya dalam hatinya.


Mereka makan malam sangat lahap, di temani candaan Rayya dan Vera yang selalu menjadi partner yg kompak dalam membanyol.


Semua masakan ummi Hanan begitu menggoyang lidah mereka, apalagi Rayya.


Dengan tidak malunya dia mencicipi semua lauk yg tersedia. Dan ternyata seleranya sama dengan Hanum, yaitu sambel ikan asin tomat hijau.


Bahkan beberapa kali jemari keduanya saling bersentuhan saat sama-sama akan mengambil sambal ikan asin tomat hijau, ataupun lauk lain.


Hanan tersenyum simpul melihat Rayya yang terlihat malu-malu. Dan adiknya yg terlihat beberapa kali mencuri pandang pada Rayya.


Walaupun tidak satu kelas, tapi Hanan mengenal baik Rayya. Hampir tiga tahun bersama di SMU Bhakti tak pernah sekalipun ada romor buruk tentang Rayya. Bahkan prestasinya sebagai dewan jurnalistik OSIS patut diapresiasi.


Kini mata Hanan menatap Ara yg menikmati nasi liwet dengan lalapan beserta sambal yg terlihat melimpah ruah.


Ya sambal bawang kesukaan Ara. Hanan bergidik melihat begitu lahapnya Ara menyuapkan nasi penuh sambal itu ke mulutnya menggunakan jari.


Bibir Ara yg terlihat sedikit jontor dan memerah membuat hati Hanan merasa bagai drum yang sedang ditabuh.


Secepat kilat pemuda itu membuang pandangannya ke segala arah.


Tapi lagi-lagi mata itu terus saja kembali ke selera asal dan itu adalah wajah cantik Ara.


Setelah menghabiskan semua yang telah terhidang dengan sangat bersih, dan sholat maghrib berjama'ah dengan Abui Hanan, kini mereka berkumpul di tepi kolam renang, kaki Ara, Vera, Hanum terayun di air kolam. Sedangkan Natasya, Rayya dan Hanan bersila dibelakang mereka.


Sepiring buah melon kupas menjadi teman ngobrol mereka.


Hana muncul dari balik rumah Hanan, saat beberapa waktu lalu dia pulang untuk berganti baju.


Melihat formasi yg bagus Hanapun berteriak dari sisi seberang kolam renang.


" Hai guy's...hadap sini..., yak!!.., satu...dua..."


Cekrek. Cekrek...


Foto dengan gambar berlatar belakang lampu taman yg indah begitu terlihat aesthetic.

__ADS_1


Dimana Hanan bersila dibelakang Ara dengan membuat dua kuping kelinci menggunakan jemarinya di atas kepala Ara.


Hanum yg tersenyum imut dengan tangan Rayya yang merentang di belakangnya. Serta Vera yg dipeluk Natasya dari belakang ditambah sedikit cipratan air kolam yang sengaja dihentak oleh kaki Vera, sungguh maha karya Hana sang fotografer yg luar biasa.


__ADS_2