Childhood Love Story

Childhood Love Story
Rangga Ngidam


__ADS_3

" Hoek...hoek...sssshhhhh" Desis Rangga dengan mengguyur wajahnya di wastafel kampus.


Hari ini sejatinya dia ada panggilan dari pihak kampus untuk melakukan wawancara. Untungnya 25pertanyaan dari rektor telah dia jawab dengan lugas walaupun sedari tadi dia sungguh sangat menahan rasa mualnya.


" Astaghfirullah, kenapa dengan perut ku..." Rangga meremas perutnya yang mual, lagi-lagi pria muda itu mengguyur wajahnya dan membasahi sebagian rambutnya.


Rangga keluar dari toilet dan segera menuju kantin fakultas kedokteran, berharap bisa bertemu kekasih hatinya.


Sepanjang koridor yang dilewatinya, Rangga benar-benar jadi pusat perhatian. Tidak hanya oleh mahasiswi cewek, tapi mahasiswa cowok pun banyak yang iri melihat ketampanannya.


Rangga jelas terlihat seperti pria kelas atas yang memiliki harga yang fantastis.


Tidak hanya ketampanan wajahnya, otaknya yang jenius, dan postur tubuh tinggi tegapnya yang atletis, semua itu menunjukkan bahwa dia adalah spesies unggul.


" Ekhemm, maaf kalau boleh tahu arah kantin fakultas kedokteran sebelah mana ya?" Tanya Rangga pada beberapa mahasiswa yang sedang nongkrong di koridor.


" Oh, anda bisa lurus saja belok kanan.." Jawab salah satunya.


" Oh oke, thanks.." Jawab Rangga.


Rangga bergegas ke arah kantin dengan sedikit berlari.


Sampai dikantin suasana begitu riuh, Rangga memindai seluruh sudut kantin, tapi tidak juga mendapati sosok yang dicarinya. Tapi dari kejauhan Rangga mengenali wajah seseorang dan dengan mantap Rangga mendekatinya.


" Hai, Anda Awan kan?.." Sapa Rangga sopan. Cukup dua kali bertemu, Rangga pasti bisa mengunci wajah-wajah yang pernah ditemuinya itu dimemory nya.


" Iya, oh anda...ada perlu apa ya ?" Awan sedikit terkejut mendapati Rangga menegurnya tiba-tiba.


" Saya mencari Ara, apa anda tau dia dimana saat ini?" Tanya Rangga to the point.


Awan sedikit mengeryit, mencoba mengingat tapi sepertinya dia memang tidak melihat Ara sehari ini.


" Lo ada liat Ara nggak guy's?" Tanya Awan pada beberapa kawannya.


" Gue ada liat mereka, maksud gue Ara dan Lenox ada di perpustakaan..." Seru seorang gadis dari ujung kantin.


" Oh oke, thanks.." Sahut Rangga. Tanganya menepuk pundak Awan dan berkata 'thanks' dengan isyarat bibirnya pada Awan.


Awan mengangguk dan tersenyum ramah.


" Siapa cowok 'mahal' itu Wan, bukan dari kampus kita kan?" Tanya salah satu cewek dengan tatapannya masih tertuju lekat pada Rangga.


" Jelas bukan, dan dia itu suaminya Ara..." Jawab Awan santai.


" Hahhhh apaaaaaa???" Teriak beberapa cewek yang ada dikantin.


" Oh jadi Ara itu sudah bersuami tho ternyata?, trus Lenox?" Tanya salah seorang gadis.


" Lenox itu sahabat baiknya.."


" Trus anak manajemen bisnis itu?" Kepo gadis itu lagi.


" Dia saudara kembarnya.."


" Ooo....."


Akhirnya mereka tahu alasan Ara begitu tertutup dan sangat menjaga dirinya dari pergaulan selama ini.


Memang tidak semua teman kampus Ara yang diundang saat resepsi pernikahan kemarin, karena selain diselenggarakan di Jogja, Arapun tidak memiliki banyak teman. Tapi yang jelas Awan dan beberapa teman genks nya diundang dan datang.


Rangga celingak- celinguk di depan pintu perpustakaan mencari sosok bidadarinya.


Matanya menangkap sosok Lenox yang serius menekuni laptopnya. Sementara Ara tidak terlihat si sekitarnya.


Puk!


Tepukan Rangga pada pundak Lenox mengagetkannya.


" Hey, kok lo ada disini?" Tanya Lenox kaget.


" Hhmm, iya. Ada urusan di atas tadi..." Jawab Rangga santai.


" Mana dia?" Rangga memutar kepalanya mencari-cari sosok Ara.


" Nyari buku referensi metodologi penelitian " Jawab Lenox dengan kembali fokus pada laptopnya, tanganya sibuk mengetik.


Rangga membetuk huruf O dari bibirnya dan berjalan menyusuri rak-rak buku, mencari keberadaan Ara.

__ADS_1



" Hai cewek cantik, godain abang dong..." Sapa Rangga genit, saat didepannya kini telah tersaji pemandangan indah yang selalu dirinduinya.


Ara menoleh dan terkejut mendapati Rangga berada di kampusnya.


" Loh.., kok disini Bi..?, katanya tadi ada wawancara.." Ucap Ara disertai matanya yang membola indah, tanganya meraih tangan Rangga untuk dikecupnya. Sebelah tanganya merayap mengusap rahang Rangga. Ntah kenapa hari ini Ara terpesona melihat Rangga yang tampan dengan rambut basahnya.


Dan beberapa yang kebetulan melihat interaksi merekapun bertanya-tanya.


" Iya sayang, wawancaranya disini juga..." Jawab Rangga dengan tersenyum manis.


" Maksudnya??"


" Ya, kakak mulai bulan depan mengajar disini.."


" Bulan depan?, berarti besok dong! ini udah tanggal 30 juga....." Ara menggantung kalimatnya. Otaknya langsung berfikir akan sesuatu, ya sesuatu yang terlewat beberapa minggu ini.


Tanggal 30 ya..


Kok aku belum datang bulan?


Tapi memang semenjak keguguran twin dulu haidnya memang nggak lancar sih...


Tapi andaikan...


"Kenapa sayang?" Tanya Rangga saat melihat Ara mematung untuk beberapa saat.


Ara menggeleng, dia hanya sedang memikirkan sesuatu, tapi baru akan membuka suaranya.


Ara melihat Rangga membekap mulutnya saat seseorang melintas di depanya.


" Emmmpppp" Rangga sekuat tenaga menahan rasa mualnya, wajahnya terlihat pias dan pucat.


" Bi..., kamu masuk angin?. Pulang aja yuk..." Ara segera mengusap punggung Rangga dan memijit pelan tengkuknya.


" Nggak sayang.., kamu masih ada dua makul kan?. Biar kakak tunggu disini lah" Jawab Rangga.


" Tapi kakak sakit?"


" Nah lo!, pasien pertama udah ada nih. Segera diperiksa bu dokter, dan di analisa suami anda ini sakit apa?" Ucap Lenox yang kini sudah menyusul mereka.


Rangga dan Ara hanya tersenyum kecil Bu dokter ya?


Istri kecilku ini akan menjadi seorang dokter?


MasyaAllah...dedek Lili ku...


" Ngelamu kak? Pulang yuk..." Ara menggosok lengan Rangga.


Beberapa cewek disana menggigit bibirnya iri melihat Ara berdekatan dengan cowok-cowok keren modelan Rangga dan Lenox.


" Lenox, lo punya permen nggak, mulutku pahit bener dari tadi.." Bisik Rangga setelah mereka kembali duduk.


" Nggak ada, kalau mulut gue pahit gue mah ada obatnya..." Sahut Lenox cepat.


" Apaan tuh?"


" Bibir Wari yang manis..." Jawab Lenox mesum.


" Sialan lo" Maki Rangga geram.


" Beliin dikantin gih!! Please Lenox.." Pinta Rangga.


" Apaan sorry gue!! Gue udah pensiun jadi babu lo" Sahut Lenox.


" Please lah..." Rengek Rangga.


Lenox dan Ara saling pandang. Mereka saling bertanya dalam hati masing-masing. Ini Rangga beneran bukan sih?. Jarang-jarang loh, Rangga bicara tanpa otot begini pada Lenox.


" Biar aku aja yang beliin, tunggu si---" Ucap Ara terhenti saat Lenox menarik ujung jilbabnya untuk kembali duduk.


" Jangan Ra, gue aja yang beli.., selain permen lo mau apa lagi?" Tanya Lenox sebelum melangkah.


" Apa aja yang seger gitu.." ucap Rangga.


" Bini lo emang kurang seger gitu?"

__ADS_1


" Lenox!!" seru Ara.


Lenox tertawa kecil dan berdiri setelah menyambar dompetnya.


...***...


Rangga setia menunggu Ara yang harus kembali ke kelas karena masih ada dua mata kuliah lagi.


Beberapa kali dia harus berlari ke toilet untuk mengeluarkan sesuatu yang membuatnya mual sedari tadi.


Padahal dua jam yang lalu Ara dan Lenox sudah memberinya obat, tetapi masih juga mual dan justru semakin pusing.


Bahkan Arapun dengan berat hati harus menguncir rambut suaminya agar tidak terus basah karena bolak-balik ke toilet.


Padahal sumpah Demi Tuhan, sebenarnya Ara tidak akan rela suaminya yang keren dengan rambut dikuncir itu terlihat oleh orang lain.


Rangga berpindah untuk duduk didepan ruangan Ara, dibawah pohon. Barangkali dengan sirkulasi udara yang bersih akan mengurangi rasa mualnya.



" Hai..., sepertinya mas bukan mahasiswa sini?, boleh kenalan?" Tanya seorang mahasiswa dengan tiga orang teman lainya.


" Mmbbb..." Rangga lagi-lagi merasa perutnya seperti diaduk-aduk saat bau parfum para gadis itu menyengat hidungnya.


" Sorry, lain kali saja. Gue lagi nungguin istri gue...emmmppp" Rangga membekap mulutnya dan berlari lagi ke toilet.


" Apa katanya? Istri??"


" Yah....ancur ati gue.... Si ganteng udah beristri ha..ha..ha.."


" Iya dan dia mabuk berat karena bau parfum lo..."


Keempat gadis itu saling toyor dan saling olok sepanjang koridor.


Dengan tangan gemetar Rangga mengeluarkan ponselnya.


" Ya Assalamu'alaikum..." Sapa Ara.


" Sayang, pulang yuk..... Kakak nggak kuat lagi ini..." Desah Rangga.


Dan selanjutnya Ara dapat mendengar suara Rangga yang terus muntah.


" Le, gue pulang duluan ya... Laki gue kayaknya masuk angin parah nih...." Bisik Ara.


" Ya udah, biar gue urus tugas lo, cepetan gih... Mumpung dosen belum masuk.."


" Terima kasih Le...." Ara bergerak cepat dengan memasukkan semua alat tulisnya ke dalam tas. Dan langsung berlari keluar kelas menuju toilet.


Rangga terlihat terduduk lemas di depan toilet.


" Bi..., pusing banget ya...?" Ara menyentuh kening Rangga dengan punggung tanganya.


" Nggak panas loh, kamu salah makan apa sih Bi...."


Ara mengalungkan tangan Rangga ke pundaknya dan dipapahnya berjalan menuju parkiran.


" Yang aku makan kan sama yang kamu makan sayang, ini sepertinya bukan karena makanan deh..." Sahut Rangga.


" Eh ngomongin makanan, kok kakak pengen rujak buah yang seger-seger ya..." Lanjut Rangga.


" Rujak?"


" Iya sayang, rujak mangga muda enak kayaknya..." Ucap Rangga dengan sedikit menghisap air liurnya.


" Kayak ada yang aneh..." Gumam Ara.


Kok..tingkah kak Rangga aneh


Kak Rangga seperti orang ngidam..


Atau.. Jangan-jangan..


Ya Allah....


Ara merasa dadanya berdebar tak karuan, sebersit fikiran tentang kehamilan terlintas dari otaknya.


Okelah, nanti pulang beli tespec..

__ADS_1


__ADS_2