
Rangga tidak terlalu fokus dengan pembicaraan nya dengan Denis dan Gama malam ini. Otaknya terisi penuh dengan Ara.
Beberapa saat lalu sebelum berangkat ke cafe untuk menui Denis dan Gama, dia meminta Ara bersiap-siap.
Gila, baru kali ini rasanya gue dag dig dug seperti ini...
Biasanya kalau pengen gue langsung sambar aja bini gue mah...
Ini....??, malam ini tadi kami merencanakannya...
Merencanakan untuk...begituan..
Gila...Gila...ya Tuhan grogi banget gue...
Rangga beberapa kali terlihat mengusap wajahnya kasar dan tersenyum-senyum sendiri, membuat kedua orang didepannya saling tatap.
" Dia kenapa?" Tanya Gama pada Denis dengan menyenggol bahu Denis.
" Kesambet kali, tuh ada batang pete lebat tuh disamping.." Jawab Denis asal.
Gama tersenyum dan menggelengkan kepala geli mendengar jawaban Denis.
" Emmm, masih ada yang perlu dibahas?, kalo nggak gue mau balik duluan bisa kan...?" Ucap Rangga terlihat terburu-buru.
" Bentaranlah, barengan napa?, gue juga mau ke RS kok..." Ucap Gama.
" Tapi gue nggak ke RS malam ini kak, Lili nggak ada temen dirumah. Mommy dan daddy ke Singapura sore tadi.."
" Oh gitu, rupanya ini alasan dia senyum-senyum dari tadi kak..." Olok Denis. Dan disambut tawa keduanya yang terkesan mengolok-olok.
Dan akhirnya mereka menyudahi pembicaraan bisnis mereka setelah satu jam.
Rangga memacu motornya dengan dada berdebar. Setiap malamnya beberapa minggu ini hanya diisinya untuk meraba-raba bagian atas Ara, tapi malam ini?.
" Akkhhhhhh, Gila!!!" Teriak Rangga dengan diiringi senyum nya.
Hampir lima bulan dia bertahan sampai titik ini.
" Huufffff..." Lagi-lagi Rangga menghembuakan nafasnya, berusaha menenangkan dirinya.
Hal yang sama pun terjadi pada Ara. Gadis itu seolah menyesali tingkah agresifnya tadi.
Ahhhhh..
Takut....
Bagaimana ini..
Bisakah aku lari...
Ya Tuhan!!!, mampus aku...
Kakak pasti membantaiku habis-habisan malam ini...
Ahhhh...
Teriakan ketakutan dalam hati Ara menjadi-jadi. Dia benar-benar takut, berbulan tak disentuh bagian bawahnya membuatnya kembali ke awal.
Ara masih terdiam di kamar mandi saat suara pintu kamar terbuka.
" Ya Tuhan....huh..huh...huh..., tenang Lili, tenang..." Ara berulangkali menghembuskan udara dari mulutnya untuk membuatnya rileks.
" Sayang...., kamu di dalam?"
Degghhhh!!!!
Ahhhh
Bagaimana ini...
" I...iya..." Jawab nya dengan suara bergetar.
Ara mondar-mandir tak karuan, bingung harus berhadapan dengan Rangga saat ini.
Hampir 20 menit, dan Ara masih juga belum membuka pintu membuat Rangga cemas.
" Sayang??, nggak papa kan?"
Rangga berdiri di depan pintu dan menempelkan telinganya di pintu kamar mandi. Sejak tadi tidak ada suara aktifitas sama sekali, jadi ngapain aja istrinya itu di dalam.
Ceklek.
Dengan mengumpulkan semua keberaniannya Ara keluar penuh kemantapan.
" Bismillah..ini wujud baktiku pada suami...." Gumamnya dalam hati.
Mendengar pintu yang terbuka, Rangga segera menoleh dan matanya terpaku pada wujud ciptaan Tuhan yang Maha Sempurna.
__ADS_1
Ara terlihat cantik dengan segala pesonanya. Tidak ada riasan yang berlebihan, hanya saja memang baju yang dikenakannya sedikit berani.
Bukan juga lingerie, hanya baju anak seusianya saja. Tapi karena pesona Ara memang luar biasa apapun tetap terlihat sempurna.
Rangga kesusahan menelan ludahnya, serasa tercekat ditenggorokan. Matanya tak mampu berkedip. Tetapi langkahnya semakin mendekat.
" Masya Allah....." Hanya itu lirih yang keluar dari bibir Rangga.
Perlahan digendongnya Ara, tatapan mereka terus beradu. Menyiratkan rasa rindu yang telah menggebu.
Mereka terus menatap tanpa bicara, sampai..
Brugh...
Dengan pelan Rangga menurunkan Ara di kasur.
Dag dug dag dug
Hati keduanya berdebar bersahutan. Rangga yang dibatas kesabarannya menanti saat ini, dan Ara yang berdiri diujung rasa takutnya.
" Kak, jangan lupa pakai ya.... Belum boleh hamil lagi..." Bisik Ara.
" Iyaaahhh..." Sahut Rangga.
Dan begitulah...
Apa yang ditakutkan Ara terjadi. Rangga benar-benar membantainya berkali-kali.
Tak peduli istrinya menjerit keenakan atau kesakitan yang penting hajar terus.
Dan begitulah rata-rata yang terjadi.
Gelora masa muda yang luar biasa.
Gelora yang membawa rasa bahagia yang membahana.
Malam ini, Rangga mereguk manisnya buah kesabaran atas malam panjangnya yang dingin tanpa Ara disisinya.
Malam panjang yang melelahkan juga melenakan.
Malam panjang penuh kebahagiaan yang haqiqi...
...***...
" Sshhhh..." Ara mendesis saat akan beranjak bangun pagi.
Suara adzan subuh sudah terdengar dari tadi.
" Masih sakit sayang hemmm ?" Tanya Rangga penuh rasa sesal.
" Iya, kamu kesurupan apa semalam? gila!!" Ara mencubit perut Rangga geram.
" Maaf sayang..., ampunnn" Rangga menjewer kedua telinganya sendiri.
" Tapi kamu suka kan?" Rangga menjulurkan lidahnya lucu, dengan alisnya yang naik turun.
Yah..., walaupun badan Ara terasa sakit semua dan seolah-olah rontok seluruh onderdilnya. Tapi Ara tak dapat membohongi rasa, Ara tak mampu berkhianat dengan kebahagian yang dirasakan.
Rangga sangat tahu caranya melambungkan istrinya sampai ke awan-awan. Walaupun Rangga itu grasak-grusuk saat di mode gilanya, tapi baginya kebahagiaan Ara adalah yang utama.
" Hei..., kok udah ngelamun pagi-pagi hemm. Sini deh kakak tiupin yang sakitnya.."
Ara melotot mendengar ucapan Rangga.
Gila apa??? mau ditiupin???
" Ck..ck..ck..., emang udah gila suamiku ini..." Gumamnya dengan menurunkan kakinya pelan.
Brugh...
" Akhhh" Teriak Ara saat Rangga kembali menariknya untuk berbaring kembali.
" Nanti aja sayang..., kelonan dulu lah.... Diluar juga hujan itu..." Rengek Rangga.
" Sholat dulu sayang, kelonan mah gampang. Kita sholat dulu yang penting..." Ara mengecup bibir Rangga sekilas.
" Yuk..." Lanjut Ara, menarik kedua tangan Rangga agar bangkit.
" Habis sholat lagi ya...." Bisik Rangga.
" Maruk amat!!!" Seru Ara.
" Ya iyalah sayang..., siapa yang kuat puasa hampir empat bulan, dan hanya berbuka satu malam...., ckk!! Kalau ada pria macam begitu udah dapat Nobel dia.." Seru Rangga tak mau kalah.
Dan dengan pelan diangkatnya Ara dalam gendongannya dan dibawanya ke kamar mandi.
...***...
__ADS_1
Waktu berlalu begitu cepat. Pagi berganti siang, dan siang berganti malam begitu seterusnya.
Keluarga Al Ghifari tetap bersabar menantikan keajaiban terjadi.
Sudah 6 bulan ini Ardi masih tetap berbaring koma.
Kehidupan berjalan sebagaimana mestinya, Rangga jelas telah kembali ke USA. Komunikasi kedua sejoli itu tetap berjalan seperti sebelumnya, hanya saja karena Rangga termasuk mahasiswa yang menonjol maka porsi kesibukannya semakin menumpuk.
Beberapa kali dia melewatkan jadwal video call mereka, dan sejauh ini Ara masih memahaminya. Karena Ara sendiri waktunya tersita untuk mendalami pembekalan olympiade matematika, menggantikan Jessica dan juga membantu mamanya mengurus Ardi.
Denis juga telah terbang ke Australia untuk melanjutkan pendidikannya.
Rayya, kuliah di salah satu kampus ternama di Jakarta bersama Vino yang akhirnya berhasil mendapatkan beasiswa full 5 tahun.
Rayya juga kini sedang magang di salah satu stasiun TV berkat sertifikasi jurnalistik yang ditekuninya sebagai siswa selama di SMU dahulu.
Sedangkan Vino, selain membantu Gama Bagaskara, dia juga masih aktif di cafe Nathaniel. Semua dilakukannya dengan semangat untuk memenuhi kebutuhannya bersama Vera dan putri mereka yang telah lahir 4 bulan yang lalu.
Sementara keluarga Al Ghifari juga kedatangan dua anggota baru. Mereka adalah putra dari Marvel dan Dian.
Mereka??
Ya mereka kembar, dan keduanya boys.
Tepat seperti yang diucapkan mama Neela dahulu, bahwa Bianca satu-satunya yang tercantik dan tidak ada saingan. Karena telah gugurnya twins girlnya Ara dan Rangga yang seharusnya menjadi penerus princess di keluarga Al Ghifari.
...***...
"Kak Janu cepetan..." Panggil Ara dari lantai bawah.
Gadis itu menenteng rantang di tangannya. Rencananya dia akan ke Rumah Sakit sebelum berangkat ikut mommy dan daddy ke bandara.
Hari ini pula adalah hari keberangkatan Janu menyusul orang tuanya.
Janu beberapa bulan ini sedang patah hati luar biasa.
Janu turun dengan kepala menunduk, wajahnya terlihat menyedihkan.
Ara paham itu, gadis itu juga terkejut mengetahui kakak sepupu dari suaminya ini ternyata diam-diam menyimpan rasa pada Hana, kakak iparnya.
Dan penantian Janu untuk bisa mengutarakan isi hatinya di hari kelulusan pun kandas dan hancur saat terkuaknya status Hana selama ini.
Flashback on.
Pagi itu di hari kelulusan SMU Bhakti enam setengah bulan yang lalu.
Seluruh siswa kelas XII hari ini datang kesekolah dengan tampilan spektakuler.
Para siswa putra terlihat gagah dengan stelan jas mereka.
Sedangkan semua siswinya menggunakan kebaya yang terlihat syantik-syantik.
Janu dan Denis cs saat ini berdiri paling depan dibarisan cogan terthebest. Adik kelas cewek mereka histeris meneriakan nama-nama mereka.
Sementara ketiganya menyunggingkan senyum manis mereka yang memabukan. Kok tiga?, bukannya 4?.
Ya, karena Vino berstatus suami Vera, tak etis baginya saat ini untuk tebar senyuman sembarangan. Karena jiwa raganya telah dipersembahkan seutuhnya untuk Maya Veranika mantan adik angkatnya, yang kini menjadi istri tercintanya.
Kembali ke Janu..
Tatapan Janu sepanjang acara hanya pada Hana. Karena Janu berusaha mencari celah untuk mendekati gadis itu.
Dan waktunya telah ada sekarang, saat Hana terlihat berjalan sendirian di lorong menuju kelas.
" Hana..." Panggil Janu.
Hana yang merasa ada yang memanggilnyapun menoleh dan menghentikan langkahnya.
" Bisa bicara sebentar Han.." Ucap Janu saat kini mereka telah berhadapan.
" Bisa, silahkan kak..." Ucap Hana dengan tangan bersedekap di dada.
" Kesana yuk duduk.." Tunjuk Janu pada kursi di sudut taman sekolah.
Hana mengangguk dan mengikutinya.
Kini mereka telah duduk berdua, Janu melirik gadis di sampingnya ini, gadis yang imut. Benar-benar menggemaskan.
" Ekkmmm, mau ngomong apa kak?" Tanya Hana yang mulai tidak nyaman karena Janu terus saja menatapnya.
" Han..., to the point saja ya. Sebenarnya gue..., emmmm gue suka sama lo.." Janu menatap Hana intens.
" Hahhh, gue..." Tunjuk Hana pada wajahnya.
Janu mengangguk dengan mantap..
" Han..., mau nggak lo jadi pacar gue..."
__ADS_1
Belum juga Hana membuka mulut suara dingin dan berat mengejutkan mereka berdua.
"NGGAK!!!!"