
" Le..ini kemana? Ini daerah Pronosultan kan?" Tanya Ara dengan menatap kiri kanan jalanan yang dilalui, persawahan yang luas.
" Iya, kita akan ke Villa.."
" Isshhh!!, nggak mau gue!!. Katamu kita ke cafe..."
" Sstttt diemlah!!" Lenox menyumpal mulut Ara dengan dua jarinya.
" Kamu berani macem-macem sama aku!! Aku pastikan kamu mati Lenox. Ingat brothy masih ada di Jogja!!!" Ancam Ara dengan rasa takut yang teramat.
" Apa kamu fikir aku akan mau gratisan menjadi babumu selama ini?, aku akan mendapatkan apa yang aku inginkan, dan aku rasa itu upah yang sepadan.." Ucap Lenox tajam dan dingin.
Ara mencoba bersikap santai dan tenang.
Dia baik...
Dia sudah berubah..
Lenox baik..
Lenox baik..
Ara berusaha membangun fikiran positifnya. Walaupun ada sedikit ketakutan menguasai hatinya.
Mobil perlahan memasuki pekarangan Villa yang sangat luas. Villa bercat putih yang mewah. Tapi terlihat sepi tanpa penghuni.
Serrrr...
Tiba-tiba bulu kuduk Ara meremang, bukan takut makhluk astral. Melaikan takut akan makhluk yang duduk santai sedang menyetir di sampingnya itu. Apalagi senyum menjijikkan kini tersungging dibibirnya yang mulai memerah karena telah lama berhenti merokok.
Professor Maha Dafran menyabut mereka, tak lama bunda Lenox juga keluar bersama Prameswari Mutiara Kalani.
Rasa lega dirasakan oleh Ara saat ini. Tiba-tiba saja bibirnya menyunggingkan senyum yang cerah.
" Memangnya apa yang telah kamu fikirkan sejak tadi hemmm?" Tanya Lenox dengan menahan tawanya.
" Nggak ada..." Jawab Ara malu-malu.
" Aku masih cinta kamu, itu aku ngaku Ra, untuk melupakanmu itu jujur aku belum bisa, tapi untuk menyentuhmu aku tidak berani. Dan dia..." Tunjuk Lenox pada Wari.
" Dia sudah mulai masuk kesini.." Lenox menepuk dadanya.
" Jadi kau jangan terlalu PD, dan jangan terlalu genit agar aku nggak terus oleng kearahmu terus....." Ucap Lenox dengan menggigit bibirnya menahan tawanya, saat melihat Ara melotot mendengarkan kata-kata nya.
" Kenapa aku nggak boleh PD? Kamu fikir cuma kamu yang naksir aku! Lagian siapa yang genitin kamu??. Aku???"
" Sorry dorry strawberry lah yau...." Lanjut Ara.
" Bwa ha..ha..ha..ha.." Lenox tak mampu menahan gelak tawanya tiap kali melihat Ara bertingkah imut seperti ini.
Gila!! Yang kayak gini udah jadi milik Rangga
Sialan Rangga itu
Beruntung sekali dia..
Ya udahlah..
Nggak ada Ara, Waripun jadilah...
Cantik juga, polos juga, imut juga..
Sebelas duabelas lah..
Lenox menatap Himawarinya yang cantik di samping bundanya.
Gadis imut yang berhasil mencuri hatinya, gadis yang baru duduk di bangku kelas X SMU ini membuatnya tergila-gila.
__ADS_1
Aku berjanji padamu Ra, aku akan menyanyanginya sepenuh hatiku...
Wari..
Himawari ku....
" Selamat datang sayang...." Sapa ayah dan bunda Lenox. Sementara Wari tersenyum melihat kakak angkatnya datang.
" Terimakasih bunda, ayah...." Ara menyalami kedua orang yang dihormatinya itu.
" Wari sejak kapan sampai sini?" Tanya Ara sembari menciumi pipi adiknya.
" Dari kemarin, pulang undangan langsung kesini..." Jawab Wari menunduk.
" Udah ijin papa?"
" Sudah sayang, ayah yang ijinin..." Sahut ayah Lenox.
" Ayo masuk kita piknik di taman belakang..., Ara suka mancing kan sayang?"
" Dia mah suka mancingin Rangga pasti..." Sahut Lenox cepat, tangannya sudah memeluk Wari tanpa malu pada mereka sedikitpun.
" Cckk, kau itu!!" Ara hendak menjewer telinga Lenox, tapi begitu mengingat pesan Rangga dia mengurungkan niatnya.
" Kenapa?, nggak jadi jewer?, malu sama ayah dan ibu?" Tanya Lenox.
" Nggak tuh, malas.... Kamu dijewer juga nggak pernah jera.."
" Yuk sayang kita tanding mancing, kamu lawan ayah kalau bisa..." Ucap ayah Lenox sembari menyerahkan kail pancing pada Ara.
" Boleh...dengan senang hati..." Jawab Ara optimis.
Mereka menuju ke halaman belakang, dimana telah dipersiapkan semua oleh orang tua Lenox dan Wari
Mereka duduk di atas tikar piknik yang telah digelar.
" Yeahhh gacha!!!" Seru Lenox saat mendapatkan kesempatan emasnya.
Jeprett...jeprett...jeprrett...
" Woi...!!!. Maling kamu!! Hapusss.." Teriak Ara.
" Sssttt berisik!!. Diam dan lihat saja apa yang terjadi...." Lenox tertawa penuh kelicikan.
Dan mengetik sesuatu dalam ponselnya.
Suasana halaman belakang Villa yang sejuk asri membuat Ara merasa nyaman. Apalagi ayah dan bunda Lenox terus-menerus memanjakannya.
Bagaimana tidak, berkat Aralah hubungan ayah dan anak itu kembali membaik setelah bertahun panjang retak. Mereka menyayangi Ara seperti putri mereka sendiri, tak masalah tidak menjadi menantu. Yang penting hubungan mereka terus akrab seperti ini. Mereka sungguh sangat berhutang budi atas jasa-jasa Ara selama ini. Yang dengan kesabaran dan ketelatenanya bisa membimbing kembali Lenox ke jalan yang benar.
Pelan tapi pasti kedekatan Lenox dan Ara banyak memberikan pengaruh positif pada sifat Lenox.
Yang awalnya Lenox suka berkata kasar, ngerokok, nongkrong di bar, mabuk-mabukan dan jalan dengan beberapa wanita malam. Semua kini lenyap. Bahkan lebih dari itu, Lenoxpun sudah mulai istiqomah menjalankan tugasnya sebagai seorang muslim.
Jangankan perintah wajib, yang sunnah pun sudah sangat ringan dia kerjakan
Bagaimana ayah dan bunda Lenox bisa melupakan jasa Ara yang seperti itu?. Bahkan menganggap Ara sebagai putri mereka pun rasanya belum cukup.
Sementara itu Rangga yang mendapatkan pesan gambar dari Lenox segera membukanya.
Sebuah gambar dengan caption yang membuat dadanya nyeri luar dalam.
The flowers from me will always be close to your heart. π myara π
Brakkk!!!
Rangga melemparkan hpnya dengan emosi.
__ADS_1
Papa Syakieb yang melintas segera menundukkan tubuhnya memungut ponsel yang tergeletak di bawah kakinya.
Ponsel canggih Rangga jelas tak akan hancur dengan sekali banting.
Marvel yang melihat wajah Rangga yang suram pun mendekati omnya. Diraihnya ponsel Rangga yang berada ditangan papa Syakieb dan langsung membuka chat dari Lenox.
Papa Syakieb dan Marvel saling pandang, keduanya saling membuang muka dan mengulum senyum mereka.
Rupanya Rangga sedang dilanda cemburu nasional!!!.
Marvel baru akan meletakkan ponsel Rangga ke atas meja, tapi satu pesan gambar lagi masuk dan itu lagi-lagi dari Lenox.
Lagi-lagi Lenox membuat caption yang membuat hati Rangga ngilu sengilu ngilunya.
Look at her!!, she's always happy with me...
There will never be a tears...πmyaraπ
Marvel tersenyum smirk saat melihat pesan Lenox.
" Nih..., sepertinya mereka tidak ke cafe, ini seperti di Villa..." Gumamnya dengan sedikit keras agar Rangga yang sedang menutup wajahnya itu mendengar.
Benar saja, Rangga dengan cepat menyambar ponselnya dari tangan Marvel.
" Sshhhhh, brengsek Lenox!!! " Rangga dengan penuh kemarahan berlari menuju kamarnya.
Sementara papa Syakieb menggelengkan kepalanya gemas melihat tingkah menantunya yang super posesif itu.
" Mampus kamu!!. Emang enak dikerjain Lenox!!" Dengus Marvel.
" Kamu itu sampai kapan seperti itu pada Rangga..." Mama Neela mengusap punggung keponakannya itu sayang.
" Sampai dia sadar, bahwa yang ada ditanganya itu berlian..tante..." Jawab Marvel tegas.
" Betul-betul-betul..." Jawab papa Syakieb.
" Jadi kamu ikut-ikutan juga sayang?" Tanya mama Neela terkejut.
"Ya iyalah, enak aja anak Hen itu pulang-pulang langsung seneng!!, hajar dulu, baru seru..." Sahut papa Syakieb.
" Astaghfirullah yang..., kau ini!!" Mama Neela mencubit gemas perut papa Syakieb.
Sementara itu Ara menunjukkan skill memancingnya yang hebat.
Belum-belum dia udah mendapatkan 3 ikan bawal yang memang ditabur oleh penjaga Villa. Sementara ayah Lenox belum mendapatkan satupun. Jangankan dapat, jorangnya saja tidak bergerak sama sekali.
" Yeaaaa..., kak Ara dapat lagi..." Seru Wari saat melihat kail pancing Ara bergerak dan dengan cepat dia menyambarnya.
Begitulah, mereka asyik bercengkrama di halaman belakang Villa sementara Rangga harus menanggung rasa sesak didadanya.
" Himawari sayang..., kita ke mall sebentar yuk..ada bumbu yang belum lengkap nih.." Lenox memeluk Wari dan membawanya pergi.
" Le, tolong titip beliin saos xxx juga ya..." Ucap Ara cepat.
" Okey, siap nyonya besar" Ucap Lenox dengan gaya berhormat bendera.
Wari berlari-lari kecil demi menyamai langkah kaki Lenox yang lebar-lebar. Kadang-kadang Lenox berhenti untuk menunggunya, kadang justru dia berlari agar Wari mengejarnya.
Ara sungguh-sungguh bahagia melihat itu semua. Hatinya merasa lega, karena dia sangat takut Lenox tidak bisa move on seperti Marvel.
Jangan kalian kira Ara tidak pernah peduli dengan mereka.
Diam-diam Ara selalu berdoa untuk kebaikan siapapun yang pernah menaruh hati padanya.
Marvel, Hanan, Zeehan maupun Lenox. Mereka berhak bahagia dengan pasangan yang telah Allah sediakan untuk mereka. Tapi ntah kapan datangnya, jelas tidak ada yang tahu.
Karena rezeki, jodoh dan maut itu Allah yang urus. Kita tinggal menunggu.
__ADS_1