Childhood Love Story

Childhood Love Story
Libur telah usai..


__ADS_3

Selesai makan siang bersama, mereka ngobrol di ruang keluarga. Tepatnya hanya ayah, ibu dan Ara yang mengobrol sementara Lenox hanya usil dengan menarik-narik ujung jilbab Ara.


" Usil banget kamu" Geram Ara dengan menepuk tangan Lenox.


Lenox malah tertawa-tawa tanpa dosa dan malah mengulangi lagi menarik-narik ujung jilbab Ara.


" Lele!! Dasar kamu!!" Teriak Ara kesal, karena Lenox menarik terlalu kuat hingga kepalanya sampai mendongak keatas.


" Bun jewerlah dia tuh!!, resek amat..." Adunya pada bunda yang hanya tertawa melihat kelakuan mereka. Sementara Lenox menutup wajahnya dengan koran menyembunyikan tawanya.


Ayah masih tak percaya melihat putranya yang bisa tertawa-tawa seperti ini padahal selama umur Lenox yang sudah 17tahun jarang sekali ayah melihatnya tertawa.


Dan itu karena kesalahannya, putranya membencinya karena kesalahan masa lalunya.


Drrtt...drttt..drrtt


Ponsel Ara bergetar, gadis itu segera meraih ponselnya dimeja dan senyuman indah merekah dari bibirnya yang merah. Ara segera mengangkat dan meletakkan ponsel itu di telinganya dengan santai.


" Assalamu'alaikum sayang.." Sapanya pada seseorang di seberang, sontak membuat ayah dan ibu Lenox terkejut. Apalagi Lenox,


pemuda itu langsung berdehem dengan kencang.


" Waalaikumsalam sayang, lagi dimana sayang?"


" Di rumah Lenox sayang, tadi Lili udah kirim pesan, tapi belum kakak buka, Lili fikir kakak udah tidur..."


Degghh!!!


Jantung Rangga bagai ditusuk belati.


Bersama Lenox?


Sayangku bersama Lenox?


Gencar sekali usahamu Lenox!!, Gila kau..


" Video call sayang.." Ucap Rangga dingin dan segera mengganti panggilannya.


Rangga langsung bisa melihat wajah Ara saat Ara telah mensweap layar ponselnya.


Rangga tampak melihat ruang keluarga yang luas, dan yang lebih membuatnya tenang adalah adanya orang lain selain Ara dan Lenox disana.


Arapun juga menunjukkan keberadaan ayah dan ibu Lenox, serta Lenox sendiri yang ada di belakangnya.


"Boleh minta waktu untuk bicara dengan Lenox sayang.." Ucap Rangga yang masih bisa di dengar orangtua Lenox.


Rangga pemuda yang tenang dan dingin, dia tidak ingin gegabah dengan marah-marah pada Lenox ataupun Ara disaat seperti ini.


" Le, kak Rangga mau ngomong sama kamu nih.." Ara menyodorkan ponselnya.


" Mau ngomong ya ngomong aja" Ucap Lenox tanpa mau menerima ponsel itu.


" Lenox, aku sangat berterimakasih untuk semua pertolongan yang telah kau berikan pada Araku, tapi aku harap kau tau posisimu, ingat Lenox!! Lailia Nafeesa Anara, dia milikku!" Ucap Rangga tegas.


"Aku tidak butuh terimakasih!, apalagi darimu!" Sahut Lenox dingin.


" Dan aku sangat tahu posisiku, tapi ingat juga bahwa gue, seorang Lenox Maha Dafran pantang menyerah!!" Lanjutnya dengan mematap mata Rangga tajam.


Ara merasa pembicaraan ini sudah kearah yang tidak enak.


Ara mengalihkan kamera hanya fokus padanya. Gadis itupun menatap Rangga dengan penuh permohonan agar tidak melanjutkan obrolan ini.


" Pulang sayang..., sekarang!. Kakak hubungi Denis untuk jemput kamu.." Ucap Rangga masih dengan menatap Ara. Dan Ara mengangguk patuh.


Lenox mendengus kesal mendengar kata-kata Rangga.


Sementara tuan Maha Dafran hanya menatap istrinya dengan tatapan penuh pertanyaan.


" Jadi Ara sudah bertunangan bun?" Tanya ayah Lenox saat kini mereka tinggal berdua saja. Karena Ara langsung pamit pulang, sesaat setelah suaminya memintanya pulang. Lenox mau tak mau harus mengantarkan Ara pulang, padahal Denis sudah menjemput Ara. Tapi Lenox yang keras memaksa.


" Iya yah, dan sialnya hanya Ara yang mampu merubah Lenox " Jawab bunda.


" Iya bunda benar, ayah sudah melihatnya tadi. Bagaimana Lenox berubah jadi lebih hidup saat bersama gadis itu.."


" Apa bunda egois ya yah, jika bunda berharap gagalnya pertunangan Ara dan Rangga yah.... Bunda sangat berharap menantu seperti Ara yah, cantik, sopan, ramah dan kau juga pasti setuju bahwa masakanya sangat enak.."


" Yang utama dari itu semua bun, gadis itu satu-satunya yang dipilih oleh putramu..." Sahut ayah.


***

__ADS_1


Waktu bergulir begitu cepat, semua berjalan normal seperti biasanya.


Rangga dan Ara masih berkomunikasi dengan lancar sampai saat ini.


Hari ini, hari pertama masuk sekolah setelah seminggu libur semester ganjil.


Seperti biasa Ara membuat sarapan untuk mertuanya sebelum berangkat sekolah.


Dan semenjak Ara tinggal dikediaman Wijaya, daddy Hen selalu membawa bekal untuk makan siangnya.


Memiliki putri adalah hal yang sangat diidam-idamkan oleh daddy dan mommy. Saat ini mereka sangat bahagia untuk karunia Tuhan yang luar biasa ini.


" Sayang ayo..., daddy ada meeting pagi.." teriak daddy Hen dari bawah.


Sementara Ara kebingungan untuk memasang dasinya.


" Iya dad..." Ara segera berlari turun dengan hanya menggengam dasi itu ditangannya.


" Maaf dad..." Ucap Ara setelah berada di depan daddy.


" Iya sayang nggak papa, takutnya kena macet aja sayang, yuk.... Lah mommy kemana lagi. Mom..ayuk..." Teriak daddy lagi sambil melirik jam tanganya.


*


" Dad untuk selanjutnya Lili bisa pakai motor saja ke sekolah, Lili lihat ada scoopy di garasi--"


" Oh itu punya mommy, kalau Lili bisa pakai, pakai saja sayang..." Sahut mommy.


" Lili bisa bawa motor sayang?" Tanya daddy.


" Bisa dad.."


" Kalau mobil sayang?" Serobot mommy cepat.


" Bisa juga.."


" Nah bagus itu sayang, jadi kamu bisa pakai mobil Rangga mulai besok, ya kan Hon.." Mommy Tara terlihat senang dan bahkan sampai bertepuk tangan.


Daddy mengangguk dan mengacungkan jempolnya.


Lima belas menit berikutnya mereka telah sampai di depan gerbang SMU Bhakti.


" Sayang ini..." Daddy Hen menyodorkan kartu gold keluaran bank terkenal padanya.


" Tidak usah dad, udah ada dari kak Rangga" Tolak Ara sopan.


" Ini dari daddy sayang, kamu menantu daddy, kamu berhak atas ini.." Ucap daddy Hen dengan terus menyodorkan kartu itu ke tangan menantunya.


" Tapi dad..."


" Sayang...terima ya, atau mommy marah nih" Ujar mommy Tara dengan menegakkan telunjuknya.


Mengingat daddy Hen yang sedang diburu oleh waktu meeting, akhirnya Arapun menerimanya.


Dan mobilpun berlalu setelah Ara berterima kasih dan mencium kedua tangan mertuanya itu.


" Lailia..." Suara hangat dan sejuk memanggilnya.


" Aa..." Seru Ara melihat Gama turun dari mobilnya dan disusul Chandra, keluar dari pintu samping kemudi.


Ara berlari untuk menyalami sahabat kecilnya dulu.


" Assalamu'alaikum a..."


" Waalaikumsalam neng.., apa kabar? Jablay kayaknya nih...ha..ha.." Olok Gama saat Ara telah dalam rangkulan Chandra.


"Ck, jablay sih jablay, yang penting hati happy.." Sahut Ara dengan tawanya yang lucu.


" Happy apanya, pasti suka menangis dalam hati" Sindir Chandra dengan sedikit tersenyum.


" Kau tau ini apa Chand?" Tanya Ara dengan mengacungkan kepalan tinjunya di depan Chandra.


" Kalau kangen sama suami peluk aku aja, jangan disalurkan dengan ninjuin orang Ra, gak bagus itu..." Olok Chandra lagi.


" Kamu ya..." Ara mencoba menabok Chandra, tapi dengan cepat ditangkis oleh pemuda itu.


" Sudah! Sudah, kebiasaan kalian ini!. Dari kecil nggak berubah" Gama melerai mereka berdua.


" Pulang sekolah aa jemput ya.., ada berkas yang perlu ditanda tangani. Rangga bilang kamu aja yang wakilin"

__ADS_1


" Kok??" Tanya Ara bingung.


" Nanti pulang sekolah aja aa jelasin, sekarang aa harus ke kantor dulu.." Ucapnya dengan tangan kanannya mengelus kepala Ara dan juga kepala Chanda dengan tangan kirinya.


" Assalamu'alaikum.."


" Waalaikumsalam" Jawab Ara dan Chandra kompak.


Mereka berjalan ke kelas bersama- sama dengan terus saling olok.


"Sini tasnya! Aku yang bawa" Sambar Lenox pada tas dipunggung Ara.


" Akhh, astaghfirullah..kamu ya!. Bener deh kata kak Rangga, kamu ini Jailangkung " Seru Ara kaget.


" Iya nih, orang kok dateng-dateng nyerobot aja, nggak pake intro sama sekali langsung nyelonong!, selamat pagi kek minimal" Celetuk Raya dan Denis yang berada dibelakang mereka.


Sementara Lenox tak peduli sama sekali.


" Araaaa..., miss you so much babe.." Teriak Natasya di ujung koridor.


Denis menatap gadis di depanya dengan penuh kerinduan. Matanya menelusuri semua bagian dari Natasya dari atas sampai bawah. Dan Rayya memperhatikan itu.


" Kau tunggu apa lagi bro, ungkapkan segera.." Bisik Rayya


" Sudah bro, dan dia terus menolakknya" Jawab Denis sendu.


" Derita lo bro, masa lalu lo terlalu hitam mencekam.." Rayya menepuk pundak Denis, memberikan semangat.


Seminggu liburan digunakan Natasya untuk mengunjungi omanya di Australia.


Ara dan Natasya berpelukan dan saling mengangkat tubuh masing-masing dengan tawa canda mereka yang tak peduli sekitar.


" Hana mana?" Tanya Natasya.


" Baru nyampe tadi subuh, jadi besok baru sekolah" Ucap Ara dengan mengecup kening Natasya karena sangat kangen sahabatnya itu.


" Lo ditinggal kak Rangga nggak papa kan Ra?, sorry gue nggak bisa nemenin lo liburan ini, tiba-tiba bokap gue jemput saat pulang dari kemping kemarin itu Ra.." Jelas Natasya.


" Iya tahu, Meta udah cerita kok" Sahut Ara.


Tapi tiba-tiba Denis yang sejak tadi memperhatikan mereka, langsung menarik lengan Natasya.


" Akh.., kak Denis apaan sih!!" Jerit Natasya terkejut.


Denis tidak perduli dan terus menyeret Natasya, membawanya ke markas.


Chandra dan Lenox saling menatap melihat perilaku Denis.


Sementara Raya menarik sedikit ujung kain seragam Ara dan membisikkan sesuatu ditelinga Ara.


" Vino ada kabar dari Vera, ayo kita temui dia dulu Ra..." Bisik Rayya, dan Ara mengangguk.


" Oh iya, Le...siniin tas aku.." Ara mengulurkan tanganya pada Lenox.


" Aku yang bawa ke kelas" Lenox berlalu begitu saja sambil membawa tas Ara.


" Emang dia tahu meja aku dimana?" Gumam Ara dengan menggaruk lehernya heran.


" Dia tahu, dan dia pindah ke kelas kita mulai semester ini..." Chandra mencondongkan badanya untuk berbisik ke telinga Ara.


" Hahh!!, dia kan anak IPS??"


" Tapi dia mampu di IPA, dia udah ikut test.."


" Gila tuh anak!!"


" Iya Gila!!, dan itu karena lo Ra..." Jawab Chandra dengan berlalu menyusul Lenox.


Tak lupa Chandra menutupkan tudung hoodie nya ke kepalanya. Benar-benar style seorang Chandra tak pernah berubah.


" Maksud Chandra apa tadi kak?" Tanya Ara pada Rayya akan maksud perkataan Chandra barusan.


" Huffftt...., Rangga memilih gadis yang pasaranya tinggi. Walaupun sekond saja masih banyak yang minat..."


" Apaan sih jahat amat!!" Ara menabok punggung Ara dengan sedikit keras.


Membuat Rayya tertawa-tawa sampai terpingkal-pingkal.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2