Childhood Love Story

Childhood Love Story
Brian dan Numa


__ADS_3

Masih Flashback.


Kericuhan di kamar Azura terdengar karena tangisan Bianca yang melihat Ardiansyah menangis di bawah kaki Brian. Keluarga dekat pun berlarian ke kamar Azura.


" Ada apa ini?" Tanya Adnan yang lebih dulu sampai.


Brian terlihat meremat kepalanya, melihat kondisi Ardi dia tidak mungkin egois untuk melanjutkan acaranya saat ini.


Apalagi dia juga bisa melihat dengan jelas tatapan penuh cinta Azura pada Ardi saat ini.


Brian tidak pernah mencintai seseorang sebelum ini, hanya Azura. Tapi itupun harus direlakanya untuk sepupunya. Jelas Brian tahu bagaimana dulu seorang Ardi jatuh cinta dalam diam kepada Hana. Akan lebih menyakitkan bagi Ardiansyah untuk menanggung ini semua dari pada dirinya.


" Ada apa?" Tanya Marvel dibelakang Adnan.


" Bang, Brothy...aku udah ingat semua sekarang...." Ucap Ardi, masih terduduk di lantai.


" Alhamdulilah..., lalu---"


" Aku juga ingat bahwa aku sangat-sangat mencintai Azura...." Ucap Ardiansyah dengan menekan rasa malunya sedemikian rupa.


Duarrr!!!!


" Hahh..ap...ap apa?" Tanya Marvel dengan mata tajam menatap pada reaksi Brian yg hanya diam dan memejamkan matanya.


Flashback off.


Brian meremas kepalanya yang begitu pusing. Kenyataan masa lalu yang pahit telah dilaluinya dengan susah payah. Hampir satu tahun Brian menarik diri dari keluarga, sembunyi di sudut kota untuk menenangkan diri. Rasa cinta pada Azura yang sudah tumbuh takkan mungkin bisa langsung dicabut begitu saja.


Untung saja hadir gadis sederhana yang dia kenal sebagai sahabat Azura, mereka sama-sama bekerja di cafe Nathaniel saat malam tiba. Gadis yang hanya tinggal berdua dengan seorang neneknya, karena harus ditinggalkan ibunya bekerja sebagai TKW di luar negeri. Bahkan sejak kepergian ibunya dari dia masih kelas 6SD sampai sekarang, tak sekalipun ibunya memberikan kabar sama sekali.


Numa Diana, gadis yang begitu tenang. Tidak banyak bicara, tidak neko-neko dan apa adanya telah mencuri perhatiannya disaat Brian berusaha menata hati.


Diawali dari usahanya menjauh dari keluarga dengan kembali menempati apartemen yang sebelumnya ditempati oleh Vino yang kini telah tinggal menetap di rumah kecil Dian dan Marvel.


Brian yang pagi itu sedang berjalan diantara sesaknya manusia yang hilir mudik di pasar tradisional.


Flashback on.


Saat itu masih, subuh..


Udara begitu bersih dan sejuk. Setelah pulang dari masjid, Brian melangkahkan kakinya menuju pasar tradisional yang terletak tak jauh dari apartemennya.


" Jamur...jamur...jamur bu..."


Suara seorang gadis yang pernah dikenalinya membawa langkah kaki Brian menuju arah suara.


Benar saja, diujung pasar terlihat gadis bercadar tengah menawarkan aneka macam jamur kepada para pengunjung pasar.


" Jamur pak...jamur bu..., masih segar, baru diputik..." Tawarnya lagi pada setiap yang melintas di depannya.


Brian mendekat, jamur tiram yang terlihat masih fresh itu begitu membuatnya tertarik dan ingin mendekat.


" Jamur tu....tuan Brian?" Numa terlihat salah tingkah melihat keberadaan Brian di depannya.


" Hemmm panggil Brothy Brian Numa, bukan tuan..." Brian tersenyum manis dan memilih beberapa jamur untuknya.

__ADS_1


" Sudah lama jualan di sini?" Tanya Brian.


" Sudah, sejak Numa SD tuan..." Jawab Numa lagi.


" Tuan lagi?, apa aku begitu tua?" Brian menutup mulutnya ingin tertawa.


" Iya..eh...tidak..." Jawab Numa kikuk.


" Iya dan tidak?, jadi yang benernya yang mana nih?, aku tua? " tanya Brian lagi dengan menahan tawanya.


"Belum tua, tapi iya lebih tua dari saya..." Jawab Numa masih menunduk.


" Ada apa dibawah situ sih?" Brian berpura-pura mencari sesuatu dibawah kaki Numa.


" Ehh..it.itu..nggak ada apa-apa kok.." sahut Numa.


" Terus?, kok nunduk terus dari tadi, kirain ada emas jatuh gitu..., padahal kan mas nya ada gede di depan nih..." ucap Brian lagi.


Numa semaki menunduk malu. Tanpa sadar mereka banyak ngobrol mulai dari saat itu.


Dan semenjak saat itu Brian selalu menyempatkan diri ke pasar setiap pagi, walaupun tidak melulu membeli jamur. Berbincang dengan Numa membuatnya sedikit melupakan kepedihan hatinya. Apalagi rupanya mereka sama-sama memiliki latar belakang yang sama, yaitu anak dari orang tua yang sama-sama bercerai. Selain orang tuanya bercerai Numa juga ditinggalkan ibunya sejak kecil. Masih beruntung juga Brian, walaupun orang tuanya bercerai dia masih bisa ikut bersama bundanya, dan juga masih bisa bertemu ayah dan saudaranya tanpa halangan apa-apa.


Entah kapan awal mulanya, namun akhirnya dari rasa nyaman itu keduanya merasa cocok. Dan Brian yang memang sudah dewasa tidak lagi memperdulikan dan menjujung tinggi cinta diatas segala bentuk hubungan. Baginya rasa nyaman dan saling membutuhkan adalah utamanya.


Brian selalu merasa nyaman saat bersama Numa, begitupun sebaliknya. Brian membutuhkan Numa untuk menghapus jejak rasa sakit dihatinya, dan Numa membutuhkan Brian untuk melindunginya dari fitnah yang ada.


Dari situ mereka memutuskan untuk bersama, memang awalnya belum ada cinta dihati keduanya.


Setelah satu tahun sembunyi dan menguatkan hubungannya dengan Numa, Brian kembali dengan wajah tegaknya mengenalkan calon istrinya kepada bu Sasti, istri baru ayahnya saat itu, karena bunda Lana kembali ke luar negeri mengikuti ayah sambungnya.


Flasback off.


Brian memasuki apartemennya yang terletak tidak jauh dari kantornya.


Suara teriakan bahagia Aryan putranya menyambutnya saat pintu terbuka. Pria kecil berusia hampir satu tahunan itu tertatih-tatih melangkah mendekati daddynya.


" Ddy...o..homm..." Seru Aryan dengan bersemangat.


" Iya boy.., daddy go home..." Brian menyambar putranya dan mengangkatnya tinggi-tinggi, diciuminya perut Aryan gemas sampai pria kecil itu menjerit meronta-ronta.


" Mas..., nanti nggak doyan makan Aryannya, turunin ihhhh..." Numa mengelus lengan Brian yang begitu tegap itu lembut.


Dari penampilannya, sepertinya Numa baru selesai sholat Isya.


Brian menoleh menatap wajah manis disampingnya. Gadis yang menyembuhkan rasa sakitnya, gadis yang sabar menanti cintanya, gadis yang lembut dan begitu menghormatinya.



" Tidurin Aryan sayang..." Bisik Brian pada telinga Numa.


" Bagaimana bisa?, matanya aja masih terang begitu..." Jawab Numa.


" Duhhh, diayun gitu kek biar cepet tidur...." Rengek Brian lagi, matanya tak lepas menatap penampilan istrinya yang begitu imut setiap hari.


Numa menatap Brian dengan heran, biasanya dia paling senang jika pulang kerja anaknya masih terjaga, bahkan saat Aryan sudah tidur pun selalu digangguin agar bangun.

__ADS_1


" Kamu aneh mas, biasanya juga seneng Aryan masih melek saat kamu pulang, bisa diajakin main.." Numa membatu melepaskan jas Brian.


" Tapi saat ini mas maunya main sama kamu..." Brian mengendus belakang telinga Numa, membuat ibu satu anak itu kaget dan melotot gemas.


" Haisshhh, ngeri ihhh...kabur..." Numa bergidik ngeri melihat tatapan mata Brian yang seolah-olah mengeluarkan laser itu.


Dengan imutnya Numa segera berlari sambil membawa jas dan tas kerja Brian untuk diletakkannya di ruang kerja suaminya. Brian masih menatap tajam istrinya itu saat Numa hendak menutup pintu ruang kerjanya.


" Persiapkan dirimu sayang..." Goda Brian lagi.


Brian tertawa terbahak-bahak melihat Numa yang menjulurkan lidahnya dan terlihat salah tingkah.


" Boy, come go to sleep.." Brian membawa putranya ke kamar anak, untuk membacakan buku cerita pada putranya itu.


Hampir satu jam Brian berada di kamar Aryan, dan terlihat pria kecil itu nyenyak dalam tidurnya.


" Love you so much boy, tumbuhlah menjadi pria hebat yang jujur.." Brian mengecup kening Aryan penuh kasih sayang.


Dengan tubuh tegapnya Brian melangkahkan kaki menuju kamar utama di apartemen itu, kancing baju kemejnya telah terlepas semua, menampakkan dada bidang dan perut sixpack yang menggiurkan mata wanita.


Ceklek.


Pintu terbuka sempurna, membuat Numa menggigil ketakutan, dia terus menggigit bibirnya karena grogi.


Brian itu begitu lembut casingnya, manis dan tenang, tapi dia begitu ganas diranjang, jelas Numa suka. Tapi dia juga takut tidak mampu mengimbangi keganasan Brian yang luar biasa.


" Mas, I..itu..ma..mau mandi dulu...?"


Brian mengulum senyumnya, dari dulu Numa selalu begini. Selalu salah tingkah dan canggung jika mereka akan melakukan ritual mereka. Usia pernikahan mereka sudah hampir tiga tahun, tapi Numa selalu sama, selalu menjadi Numa yang malu-malu tapi mau.


" Kamu ini sampai kapan selalu begitu sayang hemm?" Brian mendekati istrinya yang justru semakin mundur dan malah berlari ke sofa.


Brian sengaja melepas kemejanya dan melemparkan begitu saja.


" Kesini sayang...?" Panggil Brian.


Numa menggeleng dengan cepat dan menunduk.


" Mas yang kesitu ya?" Dengan sigap Brian melompati sandaran sofa dan langsung tepat berada didepan Numa.


" Ehh..i..itu..itu..." Numa gugup seperti biasanya.


" Eh itu apa? Coba lihat ini, tubuh suamimu ini bagus loh yang..." Bisik Brian.


" I..iya...sih..." Jawab Numa nggak jelas.


" Kalau iya pegang dong..." Ucap Brian lagi semakin mendekat. Meraih tangan Numa untuk menyentuh dadanya.


" Ini semua punyamu, ini semua milikmu, kenapa kamu masih malu sayang..." Ucap Brian lagi.


" Iya nggak malu kok..." Jawab Numa memberanikan diri.


" Kalau benar-benar nggak malu, come!!. Mandiin masmu ini sayang...." Brian mengulurkan tanganya meraih jemari Numa.


__ADS_1


Dan dengan cepat di tariknya istrinya yang pemalu itu ke dalam kamar mandi.


" Ahhhh...maass.." Teriak Numa.


__ADS_2