
---Happy Reading---
Seorang pria muda sudah berdiri di depan pintu penjemputan seperti apa yang ia dapatkan kabarnya. Sesekali ia mengintip keponsel yang berada dikantung celananya siapa tau saja ada notif untuknya. Tak lama dua orang seperti sepasang kekasih muda menghampirinya menggunakan pakaian seperti anak remaja.
"Nunggu lama ya?" tanya wanita yang sedang memakai kaca mata hitam membuat pria itu mengernyit heran. "Siapa?" tanyanya membuat wanita itu tersenyum manis membuat pria itu mengingat senyuman itu persis senyuman gadisnya. "Mama Anzel?"
"Yes! This is me! Hey, little boy why can you forget your own mother?" ujarnya lalu memeluk tubuh pria muda ini dengan erat membuat papa rnaz yang berada disampingnya merasa cemburu. Dengan sekali deheman mereka yang sedang berpelukkan langsung segera melepaskan dan menatap papa ranz dengan cengiran tak berdosa.
"Hey boy, ternyata kau sudah sebesar ini ya? Kapan melamar putri kecilku?" tanyanya dengan santai sesudah memeluk tubuh pria muda dihadapannya dengan sekilas.
"Hai pa, nanti kalau urusan disini sudah kelar. Padahal mama papa tidak perlu datang kemari, aku bisa kesana bulan depan."
"Kami berdua ingin bertemu dengan bundamu sayang, jadi jangan menghalangi kami untuk kemari. Ayo tunjukkan dimana mobilmu, kita langsung saja kerumah bundamu ya." Ajak mama anzel dengan semangat lalu menggandeng kedua lengan pria yang berbeda umur ini.
Dan kedua pria itu dengan senang hati menggenggamnya dengan lembut dan pelan seakan lengan mungil yang menangkring dilengan keduanya ini sangat rentan seperti kayu.
❣❣
Sesampai rumah adam, mama dan papa disambut oleh seorang kakek yang sudah diceritakan oleh adam bahwa bunda adel masih memiliki ayah kandung dinegara ini. Maka dari itu ia tinggal berdua bersama kakeknya sembari menjaga tempat tinggal bundanya yang terakhir.
"Jadi anda adalah ayah dari adel?" tanya Anzel dengan sopan, tanpa diundang air matanya sudah menetes. Kakek mengangguk lalu tersenyum, mama Anzel pun langsung memeluk ayah dari bunda adel dengan lembut nan erat. "Mengapa anda baru mencarinya? Apa anda tau adel sangat terpuruk oleh suaminya." bisik mama anzel ditelinga kakek. Kakek pun membalas pelukkannya dengan menepuk punggung mama Anzel dengan pelan, beliau menangis mengenang pelukkan hangat dari putri kandungnya.
"Maafkan saya yang baru mencarinya, saya menyesal."
Mama Anzel menarik tubuhnya lalu menghapus air mata dari ayah sang adik yang ia anggap. "Panggil aku Anzel saja, aku sudah menganggap adel seperti adikku sendiri." Kakek mengangguk lalu menarik anzel dengan erat. "Bolehkah aku menganggapmu putriku?" Anzel mengangguk, "Anda juga boleh menganggap suamiku sebagai putramu."
Kakek melepaskan pelukkannya lalu berjalan kearah Ranz seraya ingin memeluknya. Ranz yang mengerti langsung mendekat dan memeluk pria paruh baya ini dengan erat juga. "Terima kasih sudah datang, ayah yakin adel sangat bahagia dikunjungi oleh keluarga lamanya." Anzel tersenyum begitupun dengan ranz, "Terima kasih ayah."
Adam yang sedari tadi menonton terharu oleh keramahan mama Anzel dan papa Ranz. Lalu adam mengajak ketiga orang tua itu untuk kehalaman belakang yang terdapat taman yang dibuat sengaja oleh bundanya sendiri. "Mama papa, ayo kita ketaman belakang sepertinya bunda sudah menunggu."
__ADS_1
Anzel mengangguk lalu menggandeng lengan ayah barunya, "Ayo yah, ayah juga ikut bersama kami." ajakk Anzel disampainya dirumah terakhir adel, Anzel langsung terduduk ditanah dengan nangis tersedu sedu ia tidak menyangka akhir hayat adiknya cukup sampai disini. Ia menangis dipelukan ranz, yang reflek menangkap tubuh mungil istrinya yang sudah melemas.
"Adel pa, kenapa adel cepet banget perginya. Mama belum berterima kasih kepadanya, sudah hadir dikehidupan luna dan aksa. Dia yang selalu berjasa kepada kedua anak kita pa." bisik anzel dengan suara serak.
Kakek berdiri disamping cucunya, lalu berbisik. "Lebih baik kamu beritahu saja, apa yang sebenarnya terjadi kepada bundamu, kepada mama papamu ini."
Adam bimbang, antara memberitahu dan menceritakan yang sebenarnya atau masih disembunyikan dan menunggu waktu yang tepat. "Adam belum yakin kek, masalahnya masih ada mata mata dari si wanita itu dirumah kita. Adam mau mengusir semua pelayan dirumah kita bisa tidak kek?"
Kakek mengangguk. "Tentu saja bisa. Kakek akan melakukannya segera."
*
Dinegara lain, luna mengambil nafas lalu membuangnya dengan kasar. Kemudian dihempaskannya tubuh mungilnya diatas kasurnya yang empuk. Didalam rumah minimalis ini hanya ia seorang, kedua orang tuanya sudah pergi dan hanya meninggalkan notes di pintu kulkas. 'Jaga rumah ya sayang, mama dan papa sudah berangkat untuk membuat adikmu. ^3^.'
Sedangkan abangnya hari ini lembur lagi karena menggantikan papanya yang sedang berlibur santai bersama mamanya. Abangnya juga hanya meninggalkan pesan dinote lalu menempelkannya diatas buku yang ia baca terakhir dimeja belajarnya.
Sejujurnya aluna orangnya sangat penakut. Ditinggal sendirian dirumah yang termasuk luas baginya membuatnya parno. Agar bisa menghilangkan rasa parnonya ia menyalakan lampu diseluruh ruangan, kemudian ia mendengarkan lagu kesukaanya dengan volume yang lumayan kencang.
Namun sebelum itu pintu depan dan belakang ia kunci terlebih dahulu lalu menutup pintu kamar abangnya yang selalu terbuka setengah lebar seperti seseorang iseng membukanya. Sesudah itu ia merapalkan doa agar tidak diganggu oleh makhluk iseng yang tidak terlihat.
Aluna yang sedang asik memandang langit kamarnya dengan banyak pikiran didalam otak dikagetkan oleh suara ringtone dibenda pipihnya diatas meja nakas samping kasurnya. "Dasar benda mati, kau mengagetkanku." dumelnya kepada benda itu lalu mengambilnya dengan segera ia membuka siapa yang mengganggunya.
Dan ternyata Rizka sahabatnya yang katanya sudah berada didepan rumahnya yang berniat ingin menginap dirumahnya disuruh oleh abangnya. "Aluna dimana kau? Aku sudah berdiri didepan rumahmu sejak lima menit yang lalu."
"Tunggu sebentar, aku turun dulu." Ujarnya disambungan telepon lalu berlari keluar kamar dengan menggunakan baju kaos kebesaran dengan leging hitam yang sangat ketat dikakinya. Aluna membuka pintu rumahnya dan ternyata yang datang bukan Rizka saja melainkan ketiga sahabatnya yang lain. "Kok gak bilang kalau yang menginap sebanyak ini?" tanya aluna.
"Jika kita bilang apa yang akan kau lakukan?" tanya rizka dengan santai berjalan kearah sofa rumah luna.
"Menyiapkan makanan buat kalian, karen dirumah tidak ada cemilan." ucapnya setelah menutup pintu rumahnya dengan menguncinya dengan dua kali. Lalu ikutan duduk disamping rizka yang sudah duduk santai didalam ruang keluarga. "Tenang saja tuan putri, kami tamu yang tau diri kok yang selalu menyiapkan apa yang kita butuhkan selalu." jawab stefan yang membantu karel merapihkan belanjaan didalam lemari dapur milik mama Anzel.
"Syukur deh, lalu kalian disuruh oleh abangku atau inisiatif sendiri ingin menginap dirumahku?"
__ADS_1
"Kami semua disuruh oleh abangmu kok, lun." balas citra membuat luna mengangguk paham. Lalu Rizka meledekkinya. "Tidak mungkin abangmu lembur dikantor meninggalkanmu didalam rumah seorang diri. Maka dari itu abangmu tiba tiba menelponku yang sedang mandi bersiap untuk tidur."
"Aku kira, hanya diriku saja yang disuruh ternyata mereka bertiga juga termasuk diajak oleh abangmu." lanjut rizka.
"Oh begitu, ya sudah kalian sudah makan? Kalian beli bahan masakkan kan?" tanya aluna yang diangguki oleh karel. "Iya, kami semua membelinya karena kami tau bahwa kamu menyukai masakkan sendiri dibandingkan beli dengan orang lain."
"Baiklah, kalian berdua nanti tidurnya diruangan ini tidak apa apa? Karena kamar tamu tiba tiba pintunya rusak karena jarang dipakai." ucap aluna kepada dua pria sahabatnya kemudian diangguki paham oleh keduanya.
❣❣
"Aksa bagaimana disana aman? Adikmu bagaimana?"
"Kamu lembur lalu adikmu?"
"Oh syukurlah, yasudah mama matikan telponnya, fokus kerja boleh tapi jangan sampai melupakan makan malammu, nak. Ya, sayang dadah."
Sambungan mati, anzel menghela nafas. Tak lama sebuah tangan besar memeluknya dari belakang seraya menenangkan dirinya. Dielusnya lengan besar itu dengan lembut. "Tadi aksa?" tanya Ranz, yang langsung diangguki olehnya. "Bagaimana dengan luna jika aksa berada dikantor?" tanya ranz dengan nada khawatir mengingat sang putri kecil selalu takut jika ditinggal sendiri.
"Tenang, dirumah sudah ada sahabatnya yang menemaninya, aksa yang menyuruh mereka untuk menemani putri kita selama dua hari ini."
"Aksa akan lembur dua hari dikantor? Untuk apa?"
"Katanya ada pertemuan bersama klien luar menggantikan sang papanya yang tidak bisa ditinggalkan sendiri oleh istrinya ini."
"Tentu sayang, aku tidak ingin kau pergi kesini sendirian dan jauh dari pengawasku."
"Aku sudah besar sayang, malah aku sudah menjadi ibu dua anak." gerutu anzel. Ranz membalikkan tubuh istrinya dengan lembut ia mengelus pipi tembam istrinya dengan lembut. "Aku hanya ingin kamu tidak dalam bahaya sayang, kamu tau kan bagaimana paniknya aku mencarimu yang sedang sibuk mengejar pencopet?"
Anzel tersenyum lalu tertawa merdu dengan cepat ia mengecup bibir tebal suaminya. "Maaf ya sayang, sudah membuatmu panik. Baiklah aku tidak akan kemana mana lagi dan aku akan pergi berdua denganmu selamanya." Ranz tersenyum lalu dikecupnya bibir ranum istrinya awalnya hanya kecupan namun berakhir satu dua hal yang membuat suasana menjadi semakin panas.
---Bersambung---
__ADS_1
Jangan lupa like ceritaku ini dan mampir kecerita yang lain.
Terima kasih..