
---Happy Reading---
"Kenapa?" tanya aksa yang duduk disebrangnya. Aluna tidak menjawabnya begitupun dengan adam yang juga terlihat syok melihat barang yang didalam kotak tersebut. Aksa penasaran langsung berdiri dan melangkah dekat kearah kedua orang itu.
Aksa mengambil beberapa kertas ditangan luna dan saat itu juga ia ikutan terkejut dengan semua yang berada didalam kertas itu semua. "Masa? Gak mungkin kakek..." ucapannya tertahan ditenggerokkannya. Ia tidak bisa berkata kata apapun lagi.
Aluna mengerjapkan matanya seakan menyadarkan diri dari terkejutnya ia langsung menaruh kertas kertas itu diatas meja dihadapan kakeknya. Begitu pun dengan aksa. "Kakek,... Kakek beneran bukan ayah kandung bunda?" pertanyaan luna membuat semua orang kaget, syok lalu menatap kakek yang terdiam mematung.
Adam menggeleng membantah tidak mungkin kakeknya bukanlah kakek kandungnya, "Tidak mungkin! Ini semua pasti-" ucapannya terpotong oleh kakeknya. "Iya, benar. Kakek bukanlah kakek kandungmu, adam." Tubuh adam melemas namun dikuatkan oleh tangan kirinya aluna yang sedang menggenggamnya dengan erat. Adampun membalasnya tak kalah erat, ia bisa melihat senyuman manis diwajah luna seakan mengatakan kalimat penenang untuknya. 'Semua akan baik baik saja, tenanglah aku ada disini.'
"Lalu siapa kakek kandung adam sebenarnya, maksudnya siapa ayah kandung bunda?"
"Apa adam mengingat nama lengkap kakek? Jika ingat coba katakan."
"Alexandre Iskandar, bukan? Lalu kenapa?" kakek tersenyum, "Kakekmu yang sebenarnya adalah abang kandung dariku. Namanya Mikael Iskandar, dia adalah ayah dari bundamu, adel."
"Lalu dimana dia sekarang?"
"Mau langsung ketemu atau mendengarkan ceritanya dulu?" aluna dengan semangat menarik lengan adam dan menduduk dihadapan kakek alex dengan lesehan diikuti aksa yang penasaran dengan kisah kakek alex. "Baiklah, kakek akan menceritakannya sesingkat mungkin."
"Awal cerita, gadis yangku cintai dijodohkan kepada abangku yaitu Mika. Padahal sebelum itu aku berniat untuk melamarnya dikemudian hari namun tidak lancar karena dikemudian harinya itu adalah hari pernikahannya dengan abangku sendiri. Kakek marah kepada orang tua kakek yang dengan seenaknya mengambil apa yang kumiliki dan berharap bahwa mereka bukanlah orang tua kandungku."
"Abangku sebelumnya sudah murka karena kisah cintanya dicampur tangan ditambah lagi masalah aku, yaitu adik tersayangnya diusir untuk kembali kenegara A beralasan untuk kembali fokus kepada dunia perkuliahan, padahal saat itu kuliah kakek sedang libur, tapi kakek dipaksa untuk pergi dari rumah itu agar kakek tidak membawa kabur pengantin perempuannya. Dan kakek pun mengiyakan paksaan mereka."
"Sampai empat tahun lamanya kakek baru bisa pulang karena sudah menyelesaikan kuliah dinegara orang, sebelum kakek berniat pulang kerumah abang, kakek ingin berkunjung sebentar kerumah orang tua namun sesampai rumah itu hawanya berbeda tidak sehangat dulu seperti disapa oleh satpam atau pelayan. Rumah itu berubah menjadi rumah terangker dikomplek itu. Sampai kakek melangkah masuk dan melihat.."
"Melihat apa kek?" tanya luna penasaran. Diikuti aksa, "Melihat aksi penjahat?" "Atau melihat banyaknya darah?" lanjut adam membuat Alex terhenyak bagaimana mereka bisa menebaknya dengan tepat? "Bagaimana kalian tau? Bahwa apa yang kakek lihat adalah seluruh penjuru dalam rumah banyak sekali darah berceceran, dan ternyata abang kakek lah yang ternyata pelakunya."
"Awalnya kakek syok, mendapati abang sendiri membunuh orang tua sendiri. Dan ternyata selama ini kami sudah ditipu oleh orang tua itu yang sudah mengasuh kami sejak kecil. Kenyataannya mereka bukanlah orang tua kandung kami berdua."
"Kok bisa?" tanya Anzel, "Kakek tidak tau bagaimana abang kakek mengetahui fakta yang sengaja disembunyikan oleh mereka namun abang mengatakan bahwa orang tua kandung kami telah direngutnya oleh mereka. Maka dari itu abangku membunuh mereka persis apa yang mereka lakukan kepada orang tua kami."
"Dan apakah, kakek mika ditangkap?" kakek menggeleng. "Tidak ada yang tau dengan kejadian mengerikan ini selain diriku dan dirinya."
"Lalu mengapa kakek bisa membawa bunda kemari?"
"Kakek mika dulu belum siap memiliki keturunan karena ia masih sibuk dengan dunia gelapnya, namun dela, nenekmu sudah mengandung berusia empat bulan dan abangku belum mengetahuinya sampai istrinya melahirkan bundamu ditemani olehku. Karena kakek tau bahwa abang belum siap punya anak aku sebagai adiknya menawarkan diri untuk menjaganya dan membawanya jauh dari rumah kepada dela, nenekmu ini mengiyakan walaupun ia tidak ingin berpisah dengan putrinya tapi ia juga tidak ingin suaminya murka karena ia hamil tiba tiba tanpa memberitahunya."
__ADS_1
"Disitulah kakek merawat bunda dimari dan meninggalkan orang tua kandung bunda adel didalam rumah itu?" tanya adam yang sudah merasa paham. Kakek mengangguk. "Lima tahun lamanya, kakek mendapatkan kabar bahwa nenekmu bunuh diri karena tekanan didalam rumah itu, yang ternyata abangku membawa seorang wanita yang sedang mengandung tapi untungnya itu bukan anak abangku. Tapi wanita itu mengaku bahwa ia mengandung darah daging mika. Itulah membuat dela tertekan dan stres karena memikirkan hal negatif yang belum tau penjelasan yang sebenarnya."
"Kakek mika, abang kakek dimana dia sekarang?" tanya aksa.
"Ada, dia sedang beristirahat."
"Dia sudah meninggal?!" pekik kaget luna, membuat aksa dan adam reflek menutup telinganya yang terasa panas. Kakek alex tertawa lalu menggelengkan kepalanya sembari mengacak rambut luna. "Tidak, dia sedang.."
"Aku tidak mungkin meninggal disaat tikus kecil sedang berkeliaran diluar sana mengincar nyawa adikku dan cucuku." ucap seorang pria paruh baya, aluna terjatuh kedalam pesona pria paruh itu begitupun dengan anzel yang langsung ditatap tak suka oleh suaminya, dengan cemburu ia menyubit pinggang istrinya membuat istrinya tersadar dan menyengir.
"Hai bang, kau sudah selesai rupanya. Ternyata pesonamu tidak kalah saat dirimu masih remaja." ujarnya saat melihat luna yang mata dan mulutnya langsung ditutup oleh tangan kanan dan kiri adam dan aksa. Mikael tertawa lalu melangkah mendekat kearah adiknya yang sudah berdiri. "Tentu saja diriku masih tampan, sudah dari lahir walaupun diriku sudah berusia lebih dari 60 tahun."
"Kakek umurnya 60 tahun? Tua sekali, tapi bagaimana caranya awet muda seperti ini?" tanya luna yang masih terpesona karena mika. Mika tertawa lalu menyubit pipi gadis itu dengan gemas. "Kamu akan tau saat melihat adam sudah tua seperti ku, pasti dia sama tampannya denganku."
"By the way, kamu siapanya adam?" tanya mika dengan sedikit menggoda. Membuat luna terdiam dengan pipinya yang memerah.
"Dia calon istri adam dimasa depan kek. Perkenalkan namaku Aksara Bintang, abang dari Aluna Nada, gadis disampingku dan bolehkah diriku memanggil mu dengan sebutan kakek?" Mika mengangguk senang. "Tentu saja, aku merasa senang jika dipanggil kakek oleh pria muda sepertimu aksa, adam kamu juga jangan bersikap canggung seperti itu. Santai saja, panggillah diriku kakek seperti kamu memanggil alex kakek."
Adam mengangguk paham. "Iya kek, tapi adam mau tanya satu hal lagi." ucap adam saat kakek mika sedang sibuk berbicara dengan mama papa luna.
Mika menoleh menatap adam dengan tatapan tegas namun lembut. "Bagaimana kakek tau tentang kematian orang tua kakek?"
Alex mengangguk. "Rumah mungil yang mereka bilang gudang dibalik halaman belakang?"
Mika mengangguk. "Disana ternyata sudah ada kuburan orang tua asli kita, pernah malam malam diriku mengikuti pria itu diam diam dan ternyata kuburan bunda kandung kita dibongkar dan tubuhnya diangkat diawetkan lagi. Dan melakukan hal yang benar benar membuatku jijik, sampai aku mendengar apa yang dia katakan."
'Aku sedari dulu mencintaimu tapi mengapa kamu memilih pria lain dibandingku dan memiliki anak anak yang sangat tampan? Aku akan menciummu seperti ini dan membantumu tidur dengan tenang tapi kau harus tidur bersama denganku.'
"Itulah perkataan nya kepada orang yang sudah mati terbujur kaku. Sepertinya bunda diberi obat racun agar tubuhnya tidak rusak dan sampai sekarang tubuh bunda masih bagus seperti terakhir kulihat difotonya."
"Sadis sekali mereka. Dan kakek luna masih bertanya tanya siapa sebenarnya yang sedang mengincar nyawa adam dan kakek alex sampai harus dikejar?" tanya luna yang sudah diceritakan bahwa adam dan papanya pernah dikejar oleh beberapa orang.
"Mereka semua suruhan anak tidak tau diri itu. Saat ia masih remaja, aku menemukan fakta yang ternyata itu adalah ucapan yang dikatakan oleh ibunya kepada dela sampai ia stres.. Aku baru mengetahuinya saat mereka ingin mengganggu adel disekolahnya."
Flashback on
"Mama?! Mama dimana?" teriak sang putri sampingan. Membuat mika terganggu tidurnya karena teriakan tersebut. Tak lama wanita paruh baya datang menghampiri gadis itu, Lara. "Nadin! Kamu apa apaan sih teriak teriak segala, jangan sampai papa kamu terbangun oleh mu."
__ADS_1
"Memang papa sedang apa?" tanyanya bingung mengapa mamanya begitu marah karenanya. "Mama beri obat tidur agar tidak menyakiti mama lagi." Gadis itu mengangguk dengan membulatkan mulutnya, seraya mengerti karena memang semenjak papa ditinggal istri terdahulunya sampai sekarang jika sedang marah selalu memukul atau melukai mereka berdua.
"Mama sangat pintar, sekarang balik ke tujuanku datang kepadamu.. Aku ingin mama membantuku menghilangkan nyawa atau mencelakai seorang gadis yang bernama Adelia El Iskandar, nama belakang yang sama dengan ku."
"Apa?! Dia satu sekolah denganmu? Untuk apa anak wanita jal**** itu sekolah di elite seperti itu?? Ibu dan anak sama saja\, sama sama menyusahkan!" kesalnya membuat Mika yang baru saja ingin menghampiri langsung menyembunyikan tubuhnya. Ia merasa amarahnya sudah diujung ubun setelah wanita tak tau diri itu mengatakan wanita yang ia cintai dengan kata Jal***.
"Maksud mama apa? Jadi gadis itu putri pertama papa?" mamanya mengangguk lemah, "Mama juga baru tau tapi saat mama mencari informasi tentangnya ternyata anak itu dibawa oleh omnya sendiri agar bisa jauh dari dunia gelap papamu itu."
"Demi apa? Demi om melakukan itu untuknya?"
"Demi kehidupannya yang lebih lagi, dibandingkan kehidupan kita yang seperti ini. Hidupnya lebih aman, jika musuh papa mu datang mungkin saja kita berdua yang diincar."
"Mama ngebunuh ibunya dari gadis itu?" Mama mengangguk. "Iya mama yang ngebunuh dirinya dengan kata kata mama. Karena saat itu mama berpikir bahwa dia mandul tidak punya anak maka dari itu mama menyombongkan diri dengan mengaku mama mengandung darah daging suaminya sendiri padahal bukan."
"APA?! Jadi aku bukan?" mulutnya langsung disekap oleh tangan mamanya. "Sstt! Jangan teriak, nanti papamu mengetahuinya." Nadin syok karena mengetahui bahwa dia bukan putri kandung dari papanya. Selama ini mamanya selalu menyembunyikan ini darinya jadi benar mengapa papanya lebih perhatian kepada gadis itu dibandingkan dia yang bukan anak kandungnya.
"Mama, apa pekerjaanmu dulu wanita panggilan?" Mama tersenyum, "Tentu mama dari sana sampai mama mendapatkan mangsa seperti papamu lalu tidur dengannya dan mengaku bahwa yang kukandung adalah anaknya."
"DASAR WANITA TIDAK BERGUNA!!!" Bentak Mika yang sudah berdiri dibelakang Lara yang langsung terkejut dengan muka piasny begitupun dengan Nadin yang kaget karena bentakkan papanya. "Kamu, sejak kapan disana sayang?"
"Sayang? Masih punya keberanian berapa hah? Untuk memanggilku sayang? Kau dengan tidak tau dirinya membunuh istriku dan ingin membunuhku juga dengan obat sialan itu?"
"Kau memang pantas untukku bunuh dan menjadi santapan ikan ikan kecilku." Lara menggeleng. "Ngga, kamu bicara apa sih? Aku tidak mengerti." Mika melangkah semakin mendekat dengan seringainya yang menyeramkan, "Kau ingin bukti, aku akan membuktikannya."
"PAPA! Ku mohon jangan bunuh mamaku!" pinta nadin dengan histeris namun lengannya dihempaskan oleh mika dengan kasar didorongnya nadin sampai terjatuh didekat meja. "Diam kau! Kau bukan anakku jadi pergilah dari rumah ini aku tidak membutuhkanmu, anak tidak tau diri yang hanya bisa iri dengan putriku!"
Mika langsung menjambak rambut lara dengan kencang sampai lara memberontak dan menangis meminta tolong dan sedikit keringanan kepada mika. Pelayan bekerja dirumah itu hanya menatap lara dengan datar karena memang semua orang yang tinggal disana sangat membenci kedatangan lara sampai membuat nyonya mereka bunuh diri. "Kau memang sudah tidak takut mati lebih baik kamu mati saja dimakan oleh ikan ikan manisku ya, sayang."
Byur!! "Selamat bersenang senang." ujarnya tanpa memedulikan teriakan kesakitan lara saat ikan ikan itu mencabik dan mengoyakkan tubuhnya. Sedangkan Nadin yang melihat tubuh mamanya sudah tidak berbentuk langsung mengatakan dirinya untuk balas dendam kepada Adel putri kesayangan papanya itu.
'Aku akan balas dendam untukmu mama, tenanglah aku akan menghabisi mereka.'
Flashback off.
---Bersambung---
Jangan lupa like ceritaku dan mampir keceritaku yang lain.
__ADS_1
Terima kasih..