
Jika sekarang Hana happy karena dipuji akan karya spektakuler nya , justru berbanding terbalik dengan keadaan Rangga saat ini.
Setelah mendapatkan kiriman foto lewat grub chat genk somplak, bawaanya Rangga uring-uringan terus.
Wajah Hanan yng terlihat bahagia sungguh tampan dan terlihat bercahaya, sungguh membuatnya mual. Apalagi posisinya yang mepet dibelakang Ara membuat dada Rangga benar-benar butuh pemadam kebakaran.
Rangga berbaring di ranjangnya, matanya terpejam. Jemarinya mengurut keningnya yang terus berdenyut.
Jadi begini yang dirasakan Marvel selama ini?, dan Rangga menyadarinya kini.
Sifat proteksionis, posesif dan cemburu buta membuat Marvel berulang kali gelap mata.
Bahkan beberapa kali dia harus berurusan dengan LP anak juga karena bentuk perlindungan nya pada Ara.
Rangga menghembuskan nafasnya perlahan.
Menempatkan gadis istimewa seperti Ara dalam hatinya, memang harus penuh perjuangan.
Ara gadis sholehah yang berakhlak mulia.
Bahkan dalam waktu kurang dari satu minggu kembalinya gadis itu ke sekolah, banyak sekali anak yang ingin berteman dengannya.
Tak hanya mulia akhlaknya, Ara juga terlihat cantik alami, tidak neko-neko.
Tak ada riasan berlebih di wajahnya.
Wajah cantik Ara terlihat segar hanya dengan taburan bedak bayi dan lipbalm tipis di bibirnya.
Bahkan tak jarang Rangga mendapati tatapan suka beberapa siswa SMU Bhakti pada gadisnya.
****
Pagi itu Ara menggaruk kepala nya bingung. Gadis itu menatap cincin yang melingkar di jarinya.
" Kalo sampai fansgirl kak Rangga melihat ini akan menjadi masalah yang besar..." Gumamnya sambil mengetuk-ngetukan jari telunjuk di dagunya.
" Ah...ya...!!!" Teriaknya sambil berlari menuju kamar mamanya.
Tok..tok...
" Ma..., mama di dalam...?"
" Ya sayang..., masuk lah..."
Ara membuka pintu kamar orang tuanya perlahan.
Tampak mama Neela sedang memasang kan dasi pada leher papa Syakieb.
__ADS_1
" Ma...pinjam handsock nya ya...." Ucap Ara dengan tangan yang melingkar memeluk perut papa Syakieb.
Papa Syakieb segera memeluk putri bungsunya dan mengecupi puncuk kepala putrinya yang belum terbungkus jilbab itu.
Mama Neela membuka lemari dan memberikan beberapa handsock ketangan putrinya.
" Beb...cepetan dong!!!, gue ada kultum di sekolah!!!" Teriak Ardi dari bawah membuat Ara langsung berlari kembali ke kamarnya.
Tak sampai sepuluh menit Ara sudah ada di parkiran dengan mulut yang penuh roti.
Sejatinya Ara berencana untuk sarapan di kantin saja, tapi Adnan terus saja menjejalkan roti ke mulut nya.
Ardi menunjukkan skillnya sebagai pembalap sejati pagi ini.
Bukan apa-apa, Ardi tak mau terlambat lagi. Bosan rasanya selalu dijemur dibawah tiang bendera setiap hari.
Dan alasan malu sekarang mulai menyusup ke hatinya semenjak datangnya murid baru yg mulai menggetarkan hatinya.
***
Setiap hari Jum'at, tepatnya hari ini OSIS rohis SMU Bhakti ada gawe.
Siang ini beberapa pengurus rohis berkumpul di masjid SMU untuk mempersiapkan sholat jum'at. Beberapa anak cowok sedang menyedot debu karpet dan yg lainya menyapu mengepel.
Ara dan beberapa teman perempuan nya mempersiapkan kotak sedekah jum'at yg diusulkan oleh Ara, dan tentu saja disambut oleh Hanan sebagai ketua seksi rohis pun pak Lukman, penanggung jawab rohis.
Dan akhirnya kotak-kotak hidangan makan siang itupun sudah tersusun rapi di area depan musholla.
Nasi kotak tersebut tentu saja tak hanya ditujukan untuk para jamaah sholat jum'at saja, melaikan untuk seluruh masyarakat SMU Bhakti. Baik murid ataupun dewan pengajar semua.
Waktu sholat jum'at pun telah tiba, beberapa siswa SMU Bhakti berbondong-bondong menuju loker untuk berganti sarung dan mengambil peci mereka. Walaupun beberapa masih setia dengan seragam pramukanya.
Dan jangan lupakan siapa yg mengusulkan agar siswa putra SMU Bhakti menyimpan sarung dan peci di loker?.
Betul!!, tentu saja Lailia Nafeesa Anara. Gadis pendobrak aturan baru yang menuju kemaslahatan. Gadis yg dicintai guru-guru dan teman-temannya.
Ara hanya menundukkan kepalanya disamping Hanan dan anggota seksi rohis lainya saat memberikan penyambutan pada jamaah di halaman musholla.
Bapak kepala sekolah dan beberapa guru bahkan mengusap kepala Ara bangga.
Karena motto baru rohis setiap hari Jum'at adalah menyambut tamu Allah dengan kemuliaan.
Denis cs muncul dengan sarung dan peci masing-masing. Benar memang, jika cewek akan terlihat berkali-kali cantik dengan jilbab, maka cowokpun akan terlihat tampan berkali-kali dengan koko, sarung dan peci.
Rangga tersenyum saat matanya menatap Ara. Ada rasa bangga akan kecerdasaan Ara dan kelebihan yg dimiliki gadis ini. Sungguh setiap waktu Ara membuat dia berkali-kali jatuh cinta dengannya.
__ADS_1
**
" Bapak sangat mengapresiasi kerja kalian, dan bapak berharap yang seperti ini terus dipertahankan dan di lestarikan..." Ucap bapak kepala Sekolah saat ini di ruang OSIS.
" Untuk melestarikan sedekah jum'at seperti ini tentu membutuhkan dana tetap pak, dan sekolah kita tidak mempunyai itu.." Balas bu Sasti.
Denis dan Rangga baru akan mengangkat tanganya. Tapi suara Ara menghentikan nya.
" Kami dari rohis sudah mengirimkan beberapa proposal kepada dermawan dan perusahaan besar bu..., dan beberapa dari mereka sangat menyabut baik " Ucap Ara tenang.
" Bahkan beberapa dana sudah masuk ke rekening Rohis saat ini bu..." Lanjut Hanan.
Bu Sasti terbelalak.
" Terus siapa yg bertanggungjawab atas keuangan itu, bukankah harus dikelola oleh yg berkompeten.., kenapa bukan bendahara OSIS saja yg pegang, Jessica orang yg tepat ..." Lanjut bu Sasti lagi.
" Maaf Bu.., ini dana umat, dana ini amanah yang harus dikelola dengan benar. Di rohis kami membuat pembukuan keuangan yg berlapis. Kami punya 4 orang bendahara dengan tugas terpisah agar tidak terjadi penyalahgunaan dana.." Setiap kata dan ucapan Ara terlihat tenang dan meyakinkan.
" Maksudnya." Tanya ibu Ayu, Wakepsek.
Hanan mengangguk hormat dan menuju ke papan tulis.
" Jadi saya selaku pemegang rekening, Ara selaku pengawasan alur transaksi, Ridho sebagai pengawasan pembelanjaan, dan Lona sebagai petugas acc. Jadi semua dana yg diajukan Ridho harus lewat Lona dulu.
Lona mengajukan pada Ara, dan Ara mengambil bugjet yg di ajukan pada saya..., bukti transaksi harus dicopy dan dimiliki kami berempat..." Hanan menjelaskan dengan menggambar alur bagan di papan tulis.
Semua tersenyum dengan penjelasan yg diberikan Hanan. Keamanan proses keuangan yg berlapis tentu akan mengurangi resiko kecurangan.
Dan rapatpun ditutup dengan di lestarikannya sedekah jum'at di SMU Bhakti, dan ditambah dengan pemberian santunan berupa sembako untuk beberapa siswa yatim piatu dan kurang mampu pada hari itu juga.
Siang ini sepulang sekolah Rangga menunggu Ara di depan gerbang sekolah.
Mengingat seksi Rohis harus membersihkan bungkus nasi kotak disekitar musholla dan dikelas- kelas membuat Ara terlambat pulang. Dan tentu saja dia sudah memberitahukan Ardi agar tidak menjemputnya.
Hanan masih berada di ruang OSIS untuk membuat jurnal saat Ara keluar bersama Lona untuk pulang.
Ridho sudah pulang semenjak menyelesaikan tugasnya membakar sampah dibelakang.
Sampai di depan satpam Lona telah dijemput oleh pacarnya.
Ara berinisiatif untuk menghubungi taxi online. Tapi saat tanganya merogoh kantung tasnya, motor Rangga sudah terparkir tepat didepannya.
" Pulang bareng yuk sayang...." Bisik Rangga dari balik helm fullfacenya.
Ara menggeleng sambil mengulum senyum. Dengan menarik tali ransel Rangga, Ara naik ke motor tersebut.
Tentu saja Ara duduk menyamping karena rok panjangnya tidak mungkin disingkap bukan?.
__ADS_1
Mereka melesat meninggal sekolah menuju rumah Ara. Dari balik gerbang terlihat Hanan sedang mencengkram kuat stang motornya. Melihat punggung Ara menjauh bersama motor Rangga.